
Rudian dan Dinda sama-sama diam, masih ingin mengutarakan cara pandang masing-masing dengan kenyataan yang terjadi. Rudian tidak menyangka kalau teman istrinya ini akan berani mengatakan hal negatif tentang dirinya. Sedangkan Dinda masih tidak menyangka kalau ternyata pria yang sudah ia anggap berselingkuh ini adalah suami Naya.
"Siapa yang kau sebut suami, Naya?" kata Rudian dan Dinda bersamaan.
Mendengar ucapan suami dan teman SMAnya itu Naya tertawa. Lalu meluruskan kalimatnya dengan berkata,
"Ah, iya.. kalian suamiku semua. Dinda, suami imajinasi SMAku. Kanda suamiku sekarang."
Naya menarik nafasnya panjang. Masih ada sisa senyum dibibirnya. Lalu menata makanan dimeja.
"Kalian jangan bertengkar ya. Dinda. sekarang aku sudah menikah, jadi kita berteman saja, Haha" kata Naya lagi dan duduk di sebelah Rudian.
Sementara Rudian dan Dinda masih saling menatap, seperti ada jutaan mesiu yang siap mereka ledakkan pada sorot matanya. Nyata kedua orang itu sama-sama ingin melindungi orang yang disayang.
"Kanda, lebih baik sholat dulu di masjid." kata Naya sambil melepas jilbabnya, ia siap untuk berwudhu dan melaksanakan ibadah maghrib.
"Haruskah aku akui kalau aku melihatmu berselingkuh tadi di mall?" kata Dinda pada Rudian, sepeninggal Naya.
"Sudah kubilang, katakan saja. Karena Naya sudah tahu semuanya" kata Rudian tenang. Itulah kenyataannya.
"Apa?" ujar Dinda tak percaya, "Lalu dia masih memperlakukan kamu dengan sebaik ini? Yang benar saja." kata Dinda sampai berdiri dari kursinya.
"Iya, aku menikah lagi." jawab Rudian akhirnya berterus terang. Ia terlihat kesal.
'Oh, pantas saja dari tadi Naya selalu bilang aku poligami, aku poligami. Jadi ini maksudnya?'
"Kau, poligami?" tanya Dinda heran.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Rudian dengan sedikit bangga.
"Kau pikir dirimu pantas melakukannya pada Naya?" kata Dinda sambil menyapukan pandangan kesekeliling bagian rumah.
'Aaahk...Apakah karena mereka belum memiliki anak? Laki-laki memang egois...'
"Ini, urusanku. Dia istriku. ini rumah tanggaku." jawab Rudian ketus.
"Ck, ck, ck, kasihan sekali istriku." kata Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
Naya sudah selesai membersihkan diri, dengan berwudhu. Ia mendengar semua obrolan suami dan temannya itu. Sebenarnya ia sendiri miris dengan nasibnya. Tapi ia berusaha tegar, menjalaninya dengan sabar dan tenang.
"Ya Allah, biarlah dunia dan kesenangan didapatkan suamiku, dan cukup berikanlah kepadaku ketenangan dan hati yang tidak pernah terkejut." kata Naya lirih.
__ADS_1
Sebenarnya yang membuat manusia memandang sesuatu hingga mereka bisa menilai sesuatu itu, pantas atau tidak pantas adalah dari segi dunianya saja. Sedang tolok ukur sebuah kebaikan bukan dinilai hanya dari kebaikan materi, kan?
Naya akhirnya keluar dari balik pintu dapur dimana kamar mandinya berada, dan berkata.
"Apanya yang membuat kamu menilaiku kasihan?"
"Naya, kamu benar-benar tahu suamimu melakukan harm?" tanya Dinda dengan dahi berkerut.
"Iya. Poligami. Sudahlah ayo kita sholat dulu." kata Naya sambil mwnggamit tangan Dinda. Sedangkan Rudian menatap Dinda sekilas lalu pergi ke masjid.
Naya dan Dinda sholat berjama'ah berdua. Begitu selesai, Dinda memegang bahunya, menatap Naya lurus seolah tidak sabar ingin berkata.
"Mengapa kamu membiarkan semua ini, Nay? Apa kamu tidak sadar dengan keadaan kamu sekarang?"
"Dinda, semua sudah terjadi. Aku sebelumnya tidak tahu. Ini sebuah kecelakaan. Kamu pikir apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak bisa selain menerima."
"Naya... Aku melihat keadaanmu masih sederhana sekali, tapi kamu rela dipoligami."
"Do'akan saja biar aku bisa sabar."
'Soal janji selama tiga bulan Dinda tidak perlu tahu, kan?'
"Kamu terlalu baik." kata Dinda pelan.
"Hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu. Aku pasti membantumu semampuku." itu kata-kata Dinda yang terakhir sebelum pergi.
Kebaikan itu tergantung bagaiman seseorang itu menilai, tergantung motivasi dan kebutuhan. Sebaiknya manusia bisa melihat pada apa yang memang seharusnya dilihat. Dan bukan hanya mau melihat pada apa yang ingin dilihat saja.
Naya berpikir satu hal, bahwa ketika ia merasa sedih, ada orang lain yang perduli padanya. Ketika ia merasa tak berarti, ada orang lain yang memberi hadiah padanya. Dan saat suaminya sendiri mengantarkan wanita lain, ada orang yang mengantarkannya dengan kendaraan yang lebih bagus.
Ia sangat merasa bersyukur karena merasa Allah sudah menggerakkan hati orang lain untuk menolongnya.
Jangan pernah lelah berbuat baik, jangan pernah menunggu orang lain membalas kebaikan. Karena kebaikan itu akan tetap datang walau dari orang yang tidak disangka, dengan cara yang tidak diduga, dan pada waktu yang tak tahu kapan....
-
Rudian pulang ketika Dinda sudah pergi. Ia kemudian menikmati makan yang sudah tersaji.
"Jangan lagi berhubungan dengan orang seperti temanmu yang tadi." kata Rudian setelah ia selesai makan. Ia berkata sambil menyandarkan badannya di sandaran sofa.
"Kenapa, memangnya. Dia sudah baik mengantarkan aku pulang padahal suamiku sendiri mengantarkan wanita lain." kata Naya sambil membereskan meja makan.
__ADS_1
"Kamu sendiri yang suruh aku, kan?"
"Iya, itu untuk memudahkan kanda biar gak harus milih. Jadi aku yang ngalah." jawab Naya.
'Dari awal juga aku sudah mengalah. Dan memang kalau gak ada yang mau ngalah, mana bisa poligami. Selalu harus begitu agar semua baik-baik saja.'
"Kamu ini, jangan sok baik kalau akhirnya gak ikhlas." kata Rudian lagi.
"Ya kalau aku gak ikhlas, ajarin dong aku biar ikhlas gimana? Kan sudah kewajiban suami mendidik istri?"
"Ahk, sudahlah aku cape. Jangan cari gara-gara . Aku gak mau bertengkar."
'Siapa yang ngajak bertengkar, si?'
"Ini, buat kamu. Katanya tadi butuh baju tidur." kata Rudian sambil menyerahkan bungkusan yang tadi ia bawa.
Naya membukanya dan melihat sebuah daster warna kuning dengan motif batik yang manis. Berbeda dari pakaian yang tadi ia minati, tapi ini juga hadiah yang cukup membuat Naya senang. Membahagiakan orang lain itu sama saja membahagiakan diri sendiri.
"Wah, bagus, Nda. Terimakasih ya." kata Naya. Lalu ia mencoba baju barunya di depan cermin, sambil berkata lagi pada Rudian yang duduk di tepi tempat tidur.
"Kata Yola, kanda dapat bonus. Bonus apa?"
"Kapan kamu bicara sama Yola?"
"Tadi, di mall. Gak sengaja. Apa kanda naik jabatan, atau pindah bagian?" tanya Naya yang tidak dijawab oleh Rudian.
"Kalau Kanda masih diposisi yang dulu cuma buruh biasa, mana ada bonus-bonusan." Naya menimpali kata-katanya sendiri. Kini ia berbalik menatap suaminya dan duduk di sampingnya.
"Beli baju ini juga dari uang bonus ya?" tanyanya lagi.
Rudian tetap diam, ia berpikir bagaimana mungkin Yola mengatakan sesuatu yang ia sendiri sebenarnya ingin merahasiakannya. Ia ingat dulu pernah bilang pada Naya, seandainya penghasilannya naik, Naya tidak perlu bekerja agar ia bisa banyak istirahat dan bisa cepat hamil.
Tapi itu dulu sebelum hadir Yola dalam hidupnya. Bahkan ibunya yang berjanji akan memberikan tambahan modal usaha juga belum memberi mereka apa-apa.
"Kamu gak perlu dengerin berita gak jelas dari Yola seperti itu. Kalau aku punya uang lebih pasti akan kasih kamu." kata Rudian sambil meraih ponselnya dan pergi keluar rumah, ia menghubungi Yola dan berkata dengan nada sedikit membentak pada Yola dari ponselnya.
'Sebenarnya ada apa, kenapa Kanda gak mau ngaku kalau naik gaji. Gak mungkin Yola bohong. Atau hanya mau membuatku panas. karena karena cuma dia yang tahu?'
Perasaan Naya seperti kembali dicubit, ia merasa tak berarti dengan sikap Rudian yang seperti ini.
-
__ADS_1
Keesokan harinya, Naya mencoba menghubungi beberapa temannya dulu di perusahaan, yang nomor ponselnya masih Naya miliki. Ia mencoba mencari informasi apa sebenarnya yang terjadi, karena ia yakin kalau Rudian tidak akan berkata jujur soal ini.
"Halo,... Iya. Gimana beritanya?" tanya Naya ketika ia mulai bicara di telepon.