Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 96. Apa? Tidak Mungkin!


__ADS_3

"Iya, ya, bu. Kok aku gak kepikiran kesana." Budiman menyahut pertanyaan istrinya.


"Kalau gitu istirahat di hotel, yang dekat sama rumah Naya saja ya, Pak."


"Wah, aku nggak mau nginep di hotel, kita tunggu Naya di depan rumahnya saja." kata Budiman.


Tanpa meminta persetujuan mereka berdua, Ares pun membelokkan mobilnya menuju apartemennya. Ia berinisiatif memberikan tempat beristirahat untuk kedua orang tua Naya, di apartemen. Mereka berdua tidak ingin merepotkan Ares kalau harus menginap di hotel.


Sesampainya di apartemen, Ares mengajak Budiman dan Nuriya masuk untuk beristirahat, ia mempersilakan dua orang itu tidur di kamar Raya dan Yoni yang terlihat rapi. Selama Yoni sakit, Raya tidak mau tinggal di rumah neneknya.


"Jadi ini rumah nak Ares? Tanya Nuriya sambil menurunkan anak batitanya yang sudah bangun di sofa.


"Iya, bu. Sementara Yoni anak saya di rumah sakit, tempat ini kosong, tidak ada yang tidur di sini," Jawab Ares sambil menyimpan koper yang dibawa Budiman ke dalam kamar.


"Jadi, apartemen ini bakal jadi rumah Naya juga?"


"Iya, insyaallah, bu."


Ares mengeluarkan beberapa makanan yang ada dalam lemari simpanannya, kebanyakan makanan anak-anak, tapi karena hanya itu yang ada, maka Ares pun tetap menyajikannya. Ia menunjukkan dimana dapur, dan beberapa hal lain yang mungkin Niriya dan Budiman butuhkan, di rumah itu, lalu menunggu pesanan makan malam datang.


Setelah memastikan kedua calon mertuanya itu bisa menikmati tempat istirahat mereka, Ares pergi ke rumah sakit, ia akan menggantikan Naya menjaga anaknya.


Saat ini Ares berdiri berhadapan dengan Naya di kamar perawatan Yoni, Ares tersenyum simpul sambil mengucapkan salam. Naya menjawab salamnya dengan datar.


'Kenapa dia tersenyum seperti itu?'


"Pak,"


"Hmm.. ada apa ... Gimana Yoni hari ini?" Ares bertanya sambil melangkah mendekati Yoni yang tertidur.


"Hari ini Yoni rewel, maunya infusnya di lepas, sakit katanya."


"Kamu bilang apa?"


"Ya, bilang apa sajalah yang penting dia bisa tenang,"


Saat Naya berkata ia sudah membereskan beberapa barang bawaannya dan ia masukkan kembali ke dalam tas ranselnya.


"Kamu gak marah, kan? Aku percaya sama kamu."


Naya hanya menggeleng, merapikan tas dan berjalan keluar sambil meletakkan tas di pundaknya.


"Kamu mau pulang sekarang?"


"Ya, iya lah. Kan bapak sudah datang?"


"Tunggu, saya antar." Ares mengambil kunci mobilnya.


Naya tertawa kecil, menanggapi ucapan Ares. Mana mungkin Yoni di tinggal sendiri. Dinda tidak datang, ia sudah mengatakan pada Naya bahwa ia tidak bisa ke rumah sakit, karena akan ada barang yang datang di ruko sore itu.


"Sudah, pak. Jaga saja anak bapak. Gak usah mikirin saya. Saya bisa pulang sendiri. Mobil saya banyak, pak" kata Naya, ia masih berdiri di dekat pintu.


Ares mengernyit mendengar ucapan Naya, lalu ia menyelipkan sejumlah uang pada tas Naya.


"Eh eh, apa itu maksudnya pak. Bapak mau bayar tenaga saya gitu? Gak usah pak."


Naya tidak bisa menerima hal seperti ini, diberi uang oleh orang yang tidak mempunyai hubungan apapun dengannya, bahkan ia mengurus Yoni atas kemauan sendiri, seakan melukai harga diri.


"Bukan buat kamu, besok beli lagi makanan buat Yoni, bikin sarapan yang agak banyak ya ... sekalian buat empat orang. Sama kamu juga."


"Buat siapa?" Tanya Naya sambil memasukkan uang dari Ares ke bagian tas yang lain.


"Ada tamu istimewa di rumah, jadi aku minta tolong sama kamu, buat sarapan besok pagi sekalian buat tamuku. Kalau kamu mau, si ... Soalnya aku jadi ketagihan makanan buatanmu."


'Enak saja nyuruh'


"Ya, insyaallah." sahut Naya sambil melangkah.


"Naya!"


Naya sudah berada di koridor saat ia menoleh, dan melihat Ares mendekatinya. Laki-laki itu tampak penuh harap dan keyakinan dalam menatap Naya, seolah melarangnya pergi, memintanya untuk tetap di sini. Hatinya sudah lelah untuk kembali mengucapkan selamat tinggal. Ia sudah menemukan titik terang untuk tidak lagi menjadikan harapan hanya sebatas angan dalam genggaman.


'Jika memang kita ditakdirkan bersama, walau kau berlari sekencang-kencangnya menjauhiku, tetap akan ada jalan yang menuntunmu kembali padaku. Aku akan mengajakmu berjalan pada pijakan yang sama, menuju kepastian dalam mewujudkan hal indah yang berakhir kebahagiaan'


"Ada apa lagi, Pak?"


"Kamu masih sedih dan ingat masalalumu, kalau ketemu aku?"


Naya berdiri kaku, seolah sesuatu memagari badannya agar tidak bergerak. Ia mendengar pertanyaan Ares seperti genderang yang ditabuh di sebuah parade terbuka. Berisik!


"Kenapa, bapak tanya soal itu?"

__ADS_1


"Aku hanya perlu memastikannya. Aku gak mau kalau nanti kita tinggal bersama, kamu sedih terus kan repot."


'Siapa yang mau tinggal bersama, bereskan dulu soal Caca!'


"Makanya, kalau gak mau repot itu gak usah mikirin nikah. Namanya ngurusin orang lain, apalagi ngurus istri, pasti repot, pak!"


"Bukan itu maksudku. Kalau kamu sedih setiap kali lihat aku, gimana kamu bisa bahagianya?"


"Gak usah repot-repot mikir kebahagiaan saya. Bahagia itu gampang, pak. Tinggal bersyukur saja. Saya bisa cari kebahagiaan saya sendiri. Terimakasih." Hendak menghindar.


"Jadi intinya kamu gak masalah, kan kalau kita nikah secepatnya?" Berkata sambil maju satu langkah kedepan, sedangkan Naya mundur satu langkah ke belakang.


Naya diam tidak menjawab.


'Akankah kali ini Allah mengizinkan? aku tidak akan mengorbankan masa depan hanya karena perasaan. Menjaga dan menahan diri juga ajaran pokok dalam agama. Jadi buat apa menikah secepatnya, kalau akan ada orang yang terluka?'


"Pak. Caca itu suka sama bapak. Dia siap jadi istri bapak, menggantikan kakaknya, Nindy"


Berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Jangan panggil aku bapak, mulai sekarang." Malas rasanya membicarakan orang lain.


'Dih, memang harus manggil apa, anda memang bapak-bapak!'


"Saya harus panggil apa?" Naya bingung.


"Terserah asal bukan, bapak"


"Iya, papa..."


"Kok papa, si?"


"Kan biar sama manggilnya sama Yoni dan Raya."


Ares merasa tidak berdaya, akhirnya ia membiarkan Naya dengan kemauannya sendiri memanggilnya apa saja. Ia hanya merasa geli Naya memanggilnya begitu, walau dirinya memang sudah jadi bapak-bapak.


"Oh, iya. Saya sudah telepon ayah, Pak Budiman. Beliau juga setuju kalau kita menikah secepatnya."


"Apa? Tidak mungkin. Kan ayah bilang aku harus hati-hati. Kenapa secepatnya?"


Naya bergumam dengan gumam yang keras hingga Ares masih bisa mendengarnya. Ia maklum kalau Naya masih saja ragu, padanya. Mereka sama-sama pernah ditinggalkan, pernah terluka, hingga ke-engganan untuk menjalin sebuah hubungan, lebih besar dari pada keinginan untuk hidup bersama.


Percakapan mereka terhenti, karena terdengar suara tangisan Yoni dari kamarnya. Naya menguatkan hati untuk tidak berbalik dan menemui anak itu kembali. Naya meneruskan langkahnya, ia harus pulang.


Tapi saat ia mulai menjauh, tiba-tiba ada sedikit sesal di hatinya, seandainya mereka sudah menjadi sebuah keluarga, ia tidak perlu pergi ketika anak itu menangis membutuhkan kasih sayang darinya.


-


Semua orang tua berkumpul di rumah Ares, Budiman dan Nuriya sarapan bersama, dengan orang tua Ares, Hendra dan Rasti. Ares sengaja mempertemukan semua orang tua, untuk membicarakan tentang pernikahan dan kesepakatan dalam mencari jalan terbaik, mengenai rencananya.


Setelah Naya datang ke rumah sakit tadi pagi, Ares bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia segera membawa pulang makanan, yang sudah dibuat oleh Naya untuk sarapan kedua orang tuanya. Tanpa curiga atau bertanya, Naya pun memberikan semua makanan yang telah dibuatnya.


Para orang tua sudah memperkenalkan diri masing-masing, sekedar berbasa-basi tentang keadaan, kabar, cuaca dan musim, yang terjadi di daerah tempat tinggal mereka. Tentu saja mereka pun membicarakan tentang, perjalanan Budiman hingga berakhir di apartemen Ares. Apartemen sederhana yang cukup nyaman.


Ares menyimak pembicaraan antar orang tua itu sambil membereskan meja makan, dibantu oleh Rasti. Ia juga turut menimpali ucapan mereka yang menyinggung masalah dan keadaan anak-anaknya. Hari ini, ia meliburkan asisten rumah tangga sejak Yoni sakit, dan Raya tinggal dengan neneknya.


Hingga obrolan mereka sampai pada cerita bagaimana Yoni bisa mendapatkan musibah, terjatuh dilokasi proyek.


Sebagai orang tua, Budiman dan Hendra memulai obrolan yang memasuki inti dari pertemuan pagi itu.


"Semua sudah kehendak Allah, apa yang nak Ares alami, adalah ujian kesabaran, agar lebih hati-hati kalau harus mengajak anak bekerja... Mungkin juga, menjadi jalan jodoh buat nak Ares dan Naya," kata Budiman.


"Ya, pak. Saya juga berpikir begitu. Memang Naya itu datang pada kami seperti kebetulan, saat kami butuh perempuan yang bisa mengurus cucu saya," kata Hendra.


Budiman mengomentari kejadian itu dengan bijak dan Hendra yang duduk di kursi roda menimpali dengan bijak juga. Semua mengangguk sebagai tanda setuju. Sedangkan Ares hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua orang tua itu.


"Tapi begini, pak. Waktu Naya cerita tentang nak Ares, saya menyimpulkan kalau Naya masih ragu tentang hubungan pernikahan ini. Anak saya itu seperti trauma dengan pernikahan yang dulu." kata Budiman.


"Pak, Budiman jangan khawatir. Naya perempuan yang baik, saya yakin Ares akan menjaga Naya dengan baik juga," kata Hendra.


Semua komentar itu keluar, karena mereka sudah tahu masalalu Naya.


"Nah jadi begini, pak. Saya kesini memang mendadak, bahkan Naya sendiri tidak tahu." kata Budiman.


"Nah, saya juga penasaran soal itu, kenapa mendadak seperti ini. Padahal kalau kami tahu jauh-jauh hari, pasti kami akan mengadakan persiapan," kata Hendra.


"Persiapan seperti apa, pak Hendra? Yang kami terima ini sudah sangat baik, terimakasih atas penyambutannya."


"Pak Budiman tidak perlu berterima kasih, besok harus mampir ke rumah kami, kalau anak-anak kita sudah menikah."


"Baik, insyaallah kami akan mampir ke sana. Jadi, kembali soal Naya, anak saya ini susah di suruh nikah lagi."

__ADS_1


"Wah saya maklum, Naya hanya bermaksud hati-hati, iya kan Ar?" tanya Hendra pada anaknya yang sejak tadi hanya diam. Dan Ares mengangguk.


"Saya hanya bermaksud baik, ingin menikahkan anak saya secepatnya dengan Ares, sekarang juga," kata Budiman.


"Oh, begitu. Tapi Naya belum tahu, apa tidak masalah?" Tanya Hendra.


"Tidak, tidak masalah. Kalau akad nikah secara agama, cukup seperti ini saja. Yang penting sah. Naya tidak harus hadir tidak apa." kata Budiman.


"Kok, begitu, Pak? Kasihan Naya kalau tidak tahu dia sudah dinikahkan," kata Nuriya angkat bicara.


Siapa yang rela, bahwa dirinya sudah mengalami perubahan status tanpa tahu sebelumnya.


"Saya juga gak setuju kalau begitu, pak. Itu namanya tidak menghargai Naya sebagai perempuan. Dia berhak tahu dia dinikahkan dengan siapa, dan kapan dia dinikahkan, kok seenaknya saja nikahin anak orang nggak bilang-bilang." Rasti ikut menyahut.


"Bu, tidak masalah kalau perempuan tidak harus hadir di saat akad nikahnya," jawab Hendra.


"Iya, Ibu juga tahu soal itu, tapi tidak-tidaknya bilang dulu, jadi Naya siap-siap, kan yang mau menjalani pernikahan itu dia, bukan kita."


"Iya, Pak. Gak enak kan sebagai perempuan, tau-tau sudah jadi istri orang." kata Nuriya menyatakan keberatannya.


"Naya jadi istri saya, bu. Bukan orang." Ares menimpali sambil tersenyum.


"Hus, kamu juga orang, kan?" sahut Rasti sambil memukul pundak anaknya yang duduk di sampingnya.


"Jadi, kita nikahkan saja di rumah sakit." kata Budiman.


Laki-laki itu hanya ingin yang terbaik buat anaknya, ingin Naya tetap terjaga martabatnya dalam sebuah hubungan rumah tangga, karena akan lebih menjamin kehidupan dan masa depannya. Apalagi ia melihat Ares dan keluarganya adalah orang yang baik. Hingga ia khawatir kalau setelah Yoni sembuh, maka Naya akan memiliki alasan lain untuk menghindari pernikahan. Lagipula, Naya tahu, Ares disukai oleh wanita lain, yang kemungkinan akan membuat Naya menghindar lebih jauh lagi.


"Kenapa di rumah sakit, Pak? Cari tempat yang lain yang lebih baik, jangan di tempat seperti itu. Pernikahan anak sendiri kok, bukan seperti difilm-film, yang menikah di rumah sakit karena bapaknya sekarat sakit jantung," kata Rasti.


"Bu, ini kemauan Pak Budiman sendiri," sahut Hendra.


"Pak, jangan di rumah sakit." kata Nuriya. Para wanita sepaham. Karena mereka menganggap pernikahan haruslah bermakna.


"Ya, tapi gimana Yoni, siapa nanti yang jaga di sana." kata Hendra.


"Biar Dinda nanti yang jaga," sahut Rasti.


Akhirnya pembicaraan pun berakhir. Mereka sepakat untuk melakukan akad nikah antara Naya dan Ares, keesokan harinya. Mereka melakukan beberapa persiapan, seperti menyiapkan pakaian, menghubungi seorang penghulu sebagai pencatat pernikahan, untuk mempermudah bila mereka hendak mendaftarkan pernikahan secara resmi, sesui hukum negara.


-


Rapat bersama antara dua mitra perusahaan, yang menjalin kerjasama, baru saja selesai. Ares bergegas menuju mobilnya untuk pergi mengurus beberapa keperluan. Secara tak sengaja ia bertemu dengan Rama yang juga mengikuti rapat. Ia menyapa Ares seperlunya, biar bagaimanapun juga ia adalah mitra kerja. Namun saat ia hendak melangkah mengikuti bosnya, Ares memanggilnya.


"Ada apa, pak?" Tanya Rama.


"Saya cuma mau tanya. Apa kamu masih sering makan siang di kantin kantormu?"


"Oh, masihlah, pak. Apa bapak mau tanya soal Naya? Dia cuti, Pak. Sudah beberapa hari terakhir ini tidak masuk kerja."


"Siapa yang bilang?" Ares bertanya lagi.


"Bu Min. Pemilik kantin, siapa lagi?"


"Kalau soal itu saya tahu. Naya itu jaga anak saya di rumah sakit."


"Apa? Tapi kenapa harus Naya, Pak?" Rama Heran, karena ia tahu, tidak ada hubungan apa-apa antara Naya dan Ares.


"Naya sendiri yang mau, kok. Dan ingat, sebentar lagi saya mau nikah sama Naya. Jadi jangan coba cari perhatian lagi sama Naya. Dia sudah punya calon suami. Mungkin dia tidak akan kerja di kantin itu lagi.".


Deg. Deg. Deg. Jantung Rama berdegup semakin kuat. Apakah itu artinya dia tidak punya kesempatan lagi? Ahk...


"Bapak tidak maksa Naya kan, Pak?"


Rama tahu bahwa Naya bertekad untuk tidak menikah lagi, karena pernikahannya dulu sangat menyakitkan, bahkan memaksa Naya berulang kali merasakan kehilangan.


"Tidak. Buat apa saya maksa orang jadi istri saya ... ?"


Menikah untuk kedua kali memang tidak mudah, seseorang akan membawa traumanya sendiri-sendiri, apalagi harus membina kembali dengan orang yang sudah memiliki buah hati, yang menjadi tantangan tersendiri.


Status baru, membutuhkan semangat baru, harus benar-benar bisa menjadikan masalalu sebagai pelajaran, dan masa depan bukan sebagai pelarian. Jangan jadikan pernikahan kedua sebagai balasan pada masalalu atau hanya ingin terlihat lebih bahagia, karena itu menunjukkan sikap orang, yang belum bisa bangkit atau move on, dari pernikahan masalalunya. Kebahagiaan bukanlah kepura-puraan, karena orang yang menjalanilah yang merasakannya.


Saat itu Rama termenung sejenak, berusaha mempercayai ucapan Ares, ia harus benar-benar mengikhlaskan Naya. Usahanya bersabar menghadapi Naya ternyata cukup ia jadikan pelajaran saja, bahwa tidak semua keinginan harus terwujud.


"Kapan Naya mau nikah sama bapak?"


"Besok."


"Apa?!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2