Diujung Harapan

Diujung Harapan
TAMAT


__ADS_3

"Simpan saja uang kamu, kalau niat beli motor buat keperluan anakku. Ya aku saja yang beli."


"Ya, terus uangku mau dipake apa, dong. Nanti bulukan."


"Hais, mana ada, uang bulukan? Sedekahkan dua setengah persen, itu jadi pahala buat kamu. Gak usah repot-repot beli motor, selama aku mampu, aku beli apa saja yang kamu mau ...!"


Naya tiba-tiba saja melepas sabuk pengamannya dan bergeser sedikit dari duduknya untuk mendekati suaminya.


Cup. Tiba-tiba Naya mencium pipi sebelah kiri Ares, membuat pria itu menoleh dan tersenyum lebar.


Naya mengatakan 'i love You' dengan gerak bibirnya tanpa suara, Ares menanggapinya, dengan mengerucutkan bibirnya seperti sebuah kecupan dari jauh.


Ahh, manisnya.


Tak terasa, mereka sudah sampai di rumah, Ares mengantarkan Naya dan Yoni sampai di pintu apartemen. Setelah memberi kecupan di pipi dua wanita yang ia cintai, Ares pun kembali pergi bekerja.


Naya terharu melihat suasana rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Ia sujud syukur dengan berurai air mata, setelah menutup pintunya rapat-rapat. Suaminya tidak ada, yang artinya ia harus menjaga diri dan hartanya.


Ares bukan sosok yang religius, atau laki-laki yang berwawasan luas dalam agama, tapi dalam bergaul dan bersikap, ia mempunyai akhlaq dan prilaku yang baik.


Sebelum pergi, Ia melarang Naya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, apalagi kalau ia enggan melakukannya. Ada pembantu yang siap mengerjakannya dan Ares juga terbiasa melakukan semuanya sendiri.


Naya sangat bersyukur dengan apa yang ia dapatkan. Setelah ia menjalani kehidupan yang tidak mudah. Ia mulai berani berharap lagi, berani menatap masa depan, setelah sekian lama harapan dan keyakinan nya seperti hancur ditelan bumi.


Setelah selesai membereskan pakaian, Naya duduk di sofa ruang tamu, sambil memangku Yoni. Ia mengisahkan pada anak kecil itu, tentang kehidupan Amirul mukminin Umar bin Khattab, ketika didatangi oleh seorang laki-laki yang akan mengadukan rumah tangganya.


Laki-laki itu hendak mengetuk pintu, ketika ia mendengar suara gaduh dari dalam rumah beliau. Suara ribut yang ia dengar, adalah suara istri Umar bin Khattab, yang sedang marah dan kesal dengan keadaan rumah, dan menginginkan perhatian, dari Amirul mukminin. Mengetahui hal ini, laki-laki itu pun mengurungkan niatnya, dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun sebelum ia pergi menjauh, Umar keluar dari rumahnya dan memanggilnya.


Amirul mukminin menanyakan perihal keperluannya datang menemuinya. Laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa ia akan mengadu tentang istrinya. Menurutnya, istrinya cerewet dan sering marah, serta selalu mengharapkan perhatian lebih darinya.


Laki-laki itu berkata, "ya Amirul mukminin, aku membatalkan pengaduanku, karena aku melihat bahwa engkau pun mengalami nasib yang sama denganku. Tapi, kenapa Anda hanya diam saja?"


Umar bin Khattab menjelaskan, bahwa wajar sebagai seorang suami diam kalau menghadapi istrinya yang sedang kesal.


Beliau berkata, "Jangan memarahinya, seorang istri sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, memikul semua beban sendirian, mengurus anak-anak, melahirkan, menyusui dan mengurus suaminya, sedangkan suaminya sibuk di luar, tidak memperhatikan dirinya, jadi wajar kalau seorang istri membutuhkan perhatian suaminya, dan ia akan kesal bila suaminya tidak memahami diri mereka!"


"Jadi, aku membiarkan istriku melampiaskan kekesalannya, sampai dia puas, karena aku pun bertanggung jawab atas semua yang sudah dia lakukan untukku," kata Umar diakhir penjelasannya, yang membuat laki-laki itu mengerti. Naya mengakhiri ceritanya.


Saat itu Naya berkata seolah pada orang yang sudah dewasa, "Sekuat apapun seorang wanita, ia tetap membutuhkan seorang laki-laki sebagai sandaran hidupnya, ketika ia kesal atau menjadi cerewet, bukan berarti tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya, ia hanya membutuhkan sedikit perhatian dari orang yang sudah mengaku mencintainya!"

__ADS_1


Naya jadi melamun dan mengingat sebuah nasehat seorang ulama, yang mengatakan bahwa, tabi'at wanita yang harus dimaklumi para pria, yaitu, 'apabila engkau berbuat baik selama 1000 tahun, dan engkau berbuat kesalahan satu kali saja, maka yang ia ingat adalah satu kali kesalahanmu, dan hilanglah semua kebaikan yang sudah kau lakukan selama 1000 tahun itu.'


'Allah menciptakan manusia, saling berpasangan untuk saling melengkapi, kekurangan dan kelebihannya. Disinilah letak tantangan dan kerjasama dalam membina rumah tangga, sehingga terwujud keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah dengan keimanan yang baik dan akhlak yang mulia.'


Hal ini sama halnya dengan salah satu ucapan baginda Rasulullah yang mengatakan bahwa 'laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bersikap baik kepada istri-istri dan keluarganya, dan sesungguhnya aku adalah yang paling baik di antara kalian, terhadap keluargaku'


"Semoga aku bisa menjadi istri yang baik buat Kak Fanan!" gumam Nawa.


-


Sebulan kemudian.


Menjelang akhir pekan, Ares dan Naya bekerja sama membereskan rumah karena asistant, yang biasa membantu Naya mengerjakan urusan rumah tangga diliburkan. Mereka akan menginap di rumah nenek Rasti, karena di akhir pekan besok, akan ada acara penting bagi seluruh anggota keluarga.


"Sudah, Kak, biar aku saja yang ngepel lantainya," kata Naya ketika melihat Ares sedang mengepel lantai, ia berniat mengambil alat pengepel lantai itu dari tangan suaminya.


"Aku juga bisa. Kenapa memangnya?"


"Gak enak saja."


"Kamu kerjakan yang lain saja. Biar kamu gak cape."


"Semua sudah beres."


"Ih, itu lebih gak enak lagi, masa suami kerja istrinya diam saja?"


"Kamu mah kerja sama aku nanti malam saja."


"Sstt, awas di dengar anak-anak?"


Ares tertawa kecil, ia melanjutkan pekerjaannya, dengan lebih cepat. Mereka akan segera berangkat, setelah Ares selesai mengepel lantai dan semua sudah makan siang.


'Aku khawatir ketika seorang istri tidak ikhlas, dengan pekerjaan rumahnya, maka beban yang dipikul istrinya di dunia, akan Allah timpakan pada suaminya di akherat, semua ini sudah menjadi tanggung jawab bersama, sebagai sebuah keluarga, tapi aku hanya laki-laki biasa, yang tidak pandai dalam agama, tidak pandai dalam mendidik istrinya' batin Ares sambil menyelesaikan makan siang.


'Aku tidak ingin menjadi suami yang hanya memberikan amanah, tanpa mengajarkan bagaimana caranya ikhlas dan qonaah ... aku tidak ingin menjadi suami yang hanya meminta istrinya mengerjakan urusan rumah, tapi lupa mengajarkan bagaimana caranya sabar dalam mengerjakannya'


Setelah selesai makan siang, keluarga kecil itu pun berangkat menuju rumah Rasti dan Hendra.


Berita yang membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga. Karena saat yang sudah lama mereka nantikan akan segera tiba. Dinda akan membina rumah tangga, dan sekarang adalah hari lamarannya.

__ADS_1


Hari ini Danuaza akan melamar Dinda untuk menjadi istrinya. Semua bersiap dengan kesibukan masing-masing. Naya pun sibuk menyiapkan aneka hidangan.


Tiba-tiba Naya merasa pusing dan tidak karuan yang aneh dalam dirinya, ia segera ke kamar mandi, ingin muntah karena mual yang tidak terkira.


"Naya, kamu kenapa, Sayang?" tanya Ares dari luar kamar mandi sambil mengetuk-ngetuk pintunya, ia terlihat sangat khawatir. Sementara Naya terus saja memuntahkan semua isi perutnya di dalam sana.


"Ar, coba kamu beli tespack. Siapa tahu istrimu hamil." Rasti berkata sambil menepuk pundak anak laki-lakinya.


Tanpa pikir panjang, Ares bergegas membeli alat tes kehamilan yang dimaksud oleh ibunya di toserba dekat rumah. Tak lama ia tiba kembali di kamar dan memberikan alat itu pada Naya, yang sudah duduk di tempat tidur dengan wajah pucat serta jilbab yang kusut.


Naya melihat benda yang diberikan Ares, dengan jengah.


'Apa itu mungkin?' batinnya. Dulu, ia tidak kunjung hamil saat pernikahan pertamanya, bahkan hal itulah yang memicu keretakan rumah tangganya.


Lalu, Nawa menatap Ares yang tersenyum lebar sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Walaupun malas, Naya menuruti kemauan suaminya. Ia segera masuk kembali ke kamar mandi.


Beberapa kerabat wanita yang tahu cerita tentang Naya, menunggu dengan harap-harap cemas, diluar kamar itu.


"Kalau memang Naya hamil, kita sekalian syukuran mau punya cucu baru, ya, Pah?" kata Rasti pada Hendra yang diangguki oleh semua orang.


Tak lama, Naya pun keluar dengan wajah yang bersinar, semua orang tahu arti dari senyuman diwajahnya. Naya menunjukkan hasil tes itu pada suaminya dan Ares langsung memeluk istrinya itu dengan erat, ia menghujani ciuman di seluruh wajah Nawa tanpa terlewat satu inci pun.


"Nah, milikku hebat, kan? Sudah kubilang kamu pasti hamil!" kata Ares penuh semangat.


"Ya, Kak! Alhamdulillah, Allah akhirnya mempercayai aku buat punya anak! terima kasih!" Nawa berkata lirih dalam pelukan hangat Ares dan pria itu mengusap lelehan air mata di pipi istrinya dengan lembut.


"Iya, terima kasih juga sudah mau percaya padaku!" kata Ares sambil melepaskan pelukannya.


Lalu, ia melangkah ke luar kamar untuk menunjukkan hasil tes itu pada Rasti, Dinda dan Raya, dan saat itu juga, semua orang tersenyum lega, mereka serentak berkata.


"Alhamdulillah, Nawa positif, aku mau punya anak lagi!" pekik Ares berlebihan.


"Alhamdulillah!" seru semua orang penuh rasa syukur.


TAMAT


Hikmah dari cerita ini adalah, bahwa masa depan akan selalu menjadi rahasia Allah bagi manusia, yang terpenting untuk kita adalah melakukan yang terbaik, soal pertolongan dari Allah, hanya soal waktu, Dia yang paling tahu, kapan waktu yang paling tepat untuk kita mendapatkannya!"

__ADS_1


*Semoga kalian suka akhir ceritanya, mohon maaf atas segala kekurangan, dan jangan lupa, mampir di karyaku yang lain, terimakasih atas dukungannya*


Salam manis dari El Geisya Tin ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2