Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 24. Cinta Itu Kata Kerja


__ADS_3

Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan, Naya menutup kembali telepon genggamnya. Ia masuk ke kamar dan membereskan tasnya. Ia merapikan jilbab dan penampilannya lalu melangkah keluar mencari sebuah taxi.


Dalam perjalanan, Naya hanya melemparkan pandangan keluar jendela, menikmati suasana sepi, suasana yang kini terasa akrab dihatinya, bersua dengan keriuhan sedih dan rasa putus asa. Putus dari asa mencintai suami seorang dan membalas cinta tulusnya hanya untuk Naya.


Ia ingat, semua karena dipicu keinginan ibu mertuanya yang kemungkinan membuat Rudian punya peluang membagi cinta. Naya sebenarnya tahu tidak boleh menyalahkan orang lain atas nasib yang menimpanya.


"Sudah, sampai nona." kata sopir taxi yang terlihat sudah berumur. Ia menoleh Naya yang duduk di kursi belakang.


"Oh, i iya." sahut Naya tergagap. Ia melamun sepanjang jalan.


Setelah membayar ongkos taxi itu, Naya memaauki sebuah halaman rumah yang asri dan sejuk. Ada beberapa pakaian nampak sedang dijemur dihalamannya. Itu rumah Farah temannya yang masih setia menghubunginya, lewat telepon. Mereka sudah sama-sama tidak bekerja sebagai buruh pabrik sejak dua tahun yang lalu.


Naya mengetuk pintu dan mereka berpelukan begitu pintu terbuka. Farah mempersilahkan masuk setelah menjawab salam dari Naya. Anak Farah yang baru berumur tiga tahun berkarian kearah mereka berdua.


Suami Farah bekerja sebagai Guru disalah satu sekolah negeri, sedang Farah memutuskan untuk tidak lagi bekerja setelah melahirkan dan memilih menjadi pebisnis MLM sebagai pekerjaan sampingan.


"Farah, kamu apa kabar? Sehat ya, anakmu?"


"Alhamdulillah, Nay. Kamu sendiri gimana, masih betah ya jadi tukang masak?"


"Masih, sekarang saja aku sengaja ambil libur, mau ketemu sama kamu. Kangen." kata Naya kembali memeluk Farah.


"Aku betah, kerja direstoran soalnya selalu makan gratisan" kata Naya lagi.


Mereka berdua tertawa sejenak, lalu memutuskan untuk membuat teh di dapur. Karena tak mau merepotkan, Naya menyiapkan minumannya sendiri. Ia merasa sedikit leluasa karena suami Farah sedang bekerja.


"Maaf, ya Nay. Kamu bikin minuman sendiri." kata Farah sambil mengurus sang buah hati.

__ADS_1


"Tidak apa. Malah aku yang minta maaf soalnya udah ganggu kamu. padahal masih pagi."


"Ah, gak juga. Aku seneng kok. Ada teman ngobrol."


"Far. Apa kira-kira yang mau kamu lakukan kalau kamu tahu ternyata suamimu nikah lagi...?"


Mendengar ucapan Naya, Farah tertegun dan menautkan kedua alisnya. Ia sempat curiga tentang pertanyaan Naya, sebab secara kebetulan ia pernah melihat Rudian suami Naya tengah menggandeng mesra tangan seorang wanita, saat itu disebuah mall yang tak jauh dari lokasi Perusahaan tempat Rudian bekerja.


"Ada apa memangnya Nay? Kamu harus jujur sama aku. Soalnya..." kata Farah ragu, sebab ia melihat raut wajah Naya tiba-tiba berubah sendu.


'Apa perempuan yang aku lihat dulu itu istri kedua Rudian?'


"Rudian nikah lagi, Far. Bahkan istrinya sekarang sudah hamil. Kasian deh aku!" kata Naya sambil tertawa sinis.


"Sabar, Naya... belum bisa hamil bukan kesalahanmu. Kita sebagai manusia, mana bisa memaksakan hal seperti itu."


Farah mendekati Naya dan memeluk Naya kembali, hingga Naya menangis tersesu-sedu dalam pelukannya. Farah membiarkan sahabatnya itu menumpahkan segala kesal dan galau dihatinya dengan memberi ketenangan. Sebagai sahabatnya hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Farah, menurutmu aku harus bagaimana? Sampai sekarang aku si menerima dia"


"Naya, kamu maafin dia? Kamu luar biasa. Mudah-mudahan amal kebaikan kamu diterima, Naya.... Soalnya memaafkan hal semacam itu tidak mudah. Mengijinkan suami menikah lagi itu ujian terberat bagi wanita. Makanya bila ia bisa menjalaninya dengan ikhlas, ia bisa mendapatkan gelar bidadari surga di dunia."


"Farah, aku tidak setuju Rudian nikah lagi. Aku hanya membiarkan karena wanita itu sudah hamil dan aku tak mau kalau mereka terus menerus dangan perbuatan keji itu.."


"Naya, yang kamu lakukan Sudah benar. Mana ada wanita yang mau suaminya berbagi cinta. Mungkin kalau aku jadi kamu, aku akan meminta cerai saja."


"Ah, kamu ini. Masa kamu mau bercerai dengan suamimu padahal kamu memiliki anak. Biasanya kebanyakan wanita memilih untuk bertahan karena demi anak-anak."

__ADS_1


"Iya juga si. Tapi aku hanya membayangkan kalau jadii dirimu, Nay. Kamu harus bekerja untuk mengimbangi pengeluaran rumah tangga, dan Rudian menurutmu Rudian tidak banyak memberi nafkah karena masih punya cicilan rumah, bahkan kamu belum hamil. Tapi kamu memutuskan tetap bertahan. Kalau itu aku, maka aku tidak akan kuat."


"Ujian hidup kita mungkin berbeda, tapi Allah tahu mana ujian yang pantas diberikan pada siapa yang Dia kehendaki. Mungkin Allah menilaiku kuat, tapi rasanya... Farah....sakit banget...sakit...." Naya kembali terisak-isak.


"Naya, kalau memang sudah menjadi keputusan kamu untuk bertahan, maka kuatkan dirimu. Sabari semuanya dengan ikhlas."


"Hehe...ikhlaa itu juga tidak gampang ya, rasanya aku ingin mengumpat sepanjang waktu. Mengapa harus aku yang mengalami ini? Mengapa? Tapi kita kan gak mungkin protes dengan takdir."


"Sebenarnya kalau yang benar si, suami itu tidak boleh memaksa kan kehendak. Yang bagusnya si dia harus minta izin dulu pada istri pertamanya. Karena dalam rumah tangga kan harus ada kejujuran, kalau tidak ingin terus berbohong dan berdosa selama poligami ya dia harus jujur."


"Iya, kebanyakan mereka tidak mengerti, tapi terus saja mengatakan itu adalah hak laki-laki, agama membolehkan, dan sebagainya. Padahal kan ada beberapa syaratnya. Terutama harus adil. Apa mereka bisa dikatakan adil kalau selalu menuntut istrinya selalu mengerti...?"


"Wah, berarti kamu istri yang pengertian sekali..." kata Farah sambil mencubit kecil pipi Naya.


"Ah. Sakit, tahu?"


Farah tersenyum sambil memangku anak kecil di kursinya. Lalu menikmati makanan cemilan di meja.


"Rasanya aku harus menghibur kamu deh, Nay. Mau gak ikut aku ke Anyelir? kita naik motorku aja kesana, gimana? Buat hiburan." kata Farah mengajak sahabatnya untuk menghiburnya.


"Boleh. Sekarang?"


"Iya. Kapan lagi. Ayo. Aku beresin dulu bekal anakku ya?"


Sementara Farah membereskan beberapa hal, Naya mengajak anak perempuan Farah bermain. Tiba-tiba ingatannya membawanya pada Yoni. Akh, anak manis itu seperti gantungan kunci yang menggantung di otak Naya dan menguncinya.


'Kira-kira dia ke restoran gak, ya? Aku heran, kenapa aku ingat terus sama anak itu. Hei, dia gak punya hubungan apapun dengan ku kan?'

__ADS_1


Setelah beberapa lama menunggu, Farah sudah selesai dengan persiapannya, ia membawa tas yang cukup besar yang ia simpan dalam bagasi motor maticknya. Lalu melajukannya di jalanan menuju sebuah tempat yang Farah harap bisa sedikit memberikan kesegaran pada benak Naya.


Motor melaju dengan kecepatan sedang, mereka melaluinya dengan sedikit canda tawa dan obrolan ringan khas perempuan. Hingga akhirnya sampailah mereka disebuah pantai Anyeir.


__ADS_2