Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 32. Tentang Dia


__ADS_3

Rudian kembali mengetuk pintu kamar mandi lebih keras. Tapi tak juga ada jawaban. Hingga ia berkata,


"Naya, apa kamu baik-baik saja? Akan aku dobrak pintunya sekarang!" rasa khawatir memenuhi benaknya.


Tapi sebelum Rudian sempat mendobrak pintu kamar mandinya, terdengar suara ceklek! Tanda pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Rudian tampak lega dengan menghela nafasnya.


"Kamu kenapa?" tanya Rudian sontak menarik tubuh Naya dalam pelukannya.


Naya tidak merespon, ia membiarkan dirinya dalam pelukan suaminya. Ia hanya mengusap sisa air mata yang tidak bisa ia hentikan. Air mata menganak sungai di pipinya meski tanpa suara. Niat Naya mendinginkan badannya dengan membersihkan diri, mengguyur tubuh dengan air dingin sambil menangis ternyata membuat suaminya gusar.


Naya tak menjawab pertanyaan Rudian. Ia enggan bicara. Bagi wanita-wanita seperti dirinya itu mungkin diam bukan berarti emas, tapi diam itu kalau sudah marah betul. Karena dengan diam akan mengurangi keributan. Apalagi kalau bicara apapun tidak akan didengar. Percuma, bukan?


"Kamu marah sama aku?" tanya Rudian lagi sambil mengiringi langkah Naya ke kamar. Naya menggeleng.


'Udah tahu pake tanya'


"Atau kesal karena Yola mau tinggal di sini?"


'Kalau iya, apa kanda akan berubah pikiran. Tidak kan? Pasti akan ada alasan yang lebih banyak lagi agar aku mau mengerti.'


Naya menggeleng lagi sambil memakai pakaiannya. Rudian yang melihat Naya hanya diam dan menggelengkan kepala, mencebikkan bibirnya sambil menatap istrinya mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran Naya.


"Ya sudah kalau kamu tidak masalah dengan itu. Berarti jadi Yola pindah ke sini." kata Rudian tenang.


"Aku ke masjid dulu." kata Rudian lagi.


Rudian berlalu pergi meninggalkan Naya, yang kembali menangis dengan mencengkeram kerah bajunya kuat-kuat seolah berpegangan padanya, sementara tubuhnya melorot kebawah dan terduduk dilantai. Kepala tertunduk bertopang pada kedua lututnya yang tertekuk.


Naya sedang mendapatkan haidnya, kemungkinan hal inilah yang menyebabkan ia mudah menangis, selain karena perubahan hormon yang biasa terjadi pada wanita yang mengalami menstruasi, hingga menjadi sangat sensitif, keadaan Naya sekarang yang membuat suasana hatinya semakin runyam.

__ADS_1


'Benarkah cobaan ini untuk diriku, ya Allah? Ternyata sesakit ini rasanya. Kuatkan aku. Ampuni dosa-dosaku, kalau memang ini adalah akibat dari perbuatanku dimasa lalu.' jerit hati Naya.


Samudra yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang tangguh. Jalan yang lurus tidak akan menghasilkan pengemudi yang handal. Demikian cobaab hidup itu menguji manusia untuk menjadi lebih baik.


-


Rudian kembali ke rumah dengan hati bimbang, apakah ia akan kembali ke rumah Yola atau tidak. Tapi ia berpikir kalau Naya akan lebih marah kalau ia meninggalkannya. Jadi, demi kelancaran rencana yang sudah ia atur sedemikian rupa, ia memutuskan untuk tetap menemani Naya, walau istrinya itu hanya mendiamkannya.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya Rudian saat dilihatnya Naya meringkuk di tempat tidur. Naya diam, hanya menutup mata.


"Ingat, mendiamkan orang lain itu tidak boleh, apalagi lebih dari tiga hari. Kamu tahu kan, bunyi hadis nabi ini?" kata Rudian.


'Kamu bukan orang lain, kamu suamiku. Dan sekarang belum tiga hari.'


Rudian kembali tidak mendapatkan jawaban. Ia hanya menatap Naya dari sebelahnya.


Ia melirik Naya sekilas, yang terlihat menarik nafas panjang. Lalu sibuk dengan ponselnya melakukan chat dengan Yola. Ada senyum terukir dibibirnya. Sejenak ia mengingat pertemuan dengan Yola yang dianggapnya sebagai pembawa keberuntungan.


Rudian yang hanya karyawan pabrik rendahan itu berteman baik dengan Yola yang bekerja sebagai karyawan dibagian administrasi. Mereka berkenalan Setelah Rudian dipindahkan pada bagian kyushi atau pelable-an dalam proses rangkaian pembuatan sepatu. Ia tidak menyangka kalau ternyata Yola adalah saudara angkat dari manager di perusahaan itu.


Tanpa di duga, belum sampai satu bulan ia menjalani pekerjaannya, ia sudah diangkat menjadi leader atau mandor dibagian itu. Dan saat itu lah pertemanan Rudian dan Yola semakin dekat.


Yola sering memberikan banyak perhatian baik secara langsung atau melalui chat di ponselnya. Yola juga sering memberikan makanan ringan untuk Rudian. Bahkan sering mentraktir Rudian makan siang. Tentu saja Rudian sangat senyum karena ia bisa menghemat pengeluaran lebih banyak.


Rudian senang karena semua yang dilakukan Yola seperti angin segar baginya. Semua tentang dia, tentang Yola, selalu membuat Rudian bahagia. Istrinya sudah jarang memperhatikannya melalui pesan atau menelponnya. Menurut Rudian, Naya sudah tidak perhatian lagi apalagi ibunya memintanya untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan.


Saat itu Rudian masih berpikir kalau Naya dan dirinya pasangan yang sehat, tidak ada masalah dalam reproduksi mereka. Tapi Yola mengatakan kalau biasanya wanita bisa dilihat ia mandul atau tidak setelah batas waktu lima tahun setelah pernikahannya.


'Apakah benar seperti itu? Kalau itu benar, maka Naya termasuk wanita yang mandul. Ini sudah enam tahun pernikahan mereka.' pikir Rudian waktu itu, dan ia kemudian mempercayai Yola.

__ADS_1


Hingga beberapa waktu mereka semakin dekat saja bahkan banyak yang mulai bergosip kalau mereka punya hubungan lain. Tapi karena banyak teman Rudian tahu kalau Rudian sudah menikah, maka ia selalu membantah dan mereka melakukan hubungan dengan sembunyi-sembunyi.


Rudian senang juga pada satu hal kalau Naya sangat mempercayai dirinya, istrinya itu tidak pernah membuka atau memeriksa ponselnya. Hingga ia puas dan bebas menjalani kedekatannya dengan Yola.


Pada suatu hari, mereka berdua berjanji untuk makan malam berdua lalu menghabiskan malam dengan menonton dan jalan-jalan. Entah setan mana yang memasuki mereka hingga mereka terpedaya dan melakukan hubungan intim dalam kamar kost Yola.


Yola tinggal berdua dengan adik laki-lakinya yang juga bekerja sebagai karyawan di perusahaan lain. Saat semua itu terjadi, adik laki-laki Yola sedang tidak ada hingga mereka bebas melakukan hal terkutuk itu, dengan penuh hasrat.


"Yola, apakah kamu sudah pernah menikah?" tanya Rudian saat selesai melakukan hubungan itu dan mengetahui Yola tidak mengeluhkan rasa sakit. Dengan tersenyum malu, Yola mengatakan kalau ia adalah seorang janda tanpa anak.


Bagi Rudian hal itu tidak masalah dan wajar karena melihat kelihaian permainan Yola dalam hubungan mereka. Bagi Rudian ia bisa membuktikan kalau ia tidak mandul dan bisa memiliki anak darinya.


Begitu pula bagi Yola, ia tahu tentang rumah tangga Rudian hingga ia bisa menjadikan perbuatannya sebagai bentuk kasih sayang juga untuk membuktikan kalau ia bisa mengandung anaknya.


"Bang Rudi. Aku ingin kamu mengakui aku sebagai istri bila nanti aku hamil karena perbuatan kita ini." kata Yola suatu saat setelah mereka kembali melakukan hubungan hina itu.


Rudian mengangguk tanda ia tidak keberatan dengan permintaan Yola. Ia tahu kalau Naya istri yang baik dan tidak akan marah kalau ia mengakui semua kesalahannya. Kalau pun Naya marah, maka ia tahu akan mudah membujuknya karena selama pernikahan mereka, Naya sangat lembut dan manis.


Benar saja dugaan Rudian, bahwa Naya menerima semua dengan lapang dada. Walau ia awalnya ragu untuk berterus terang, tapi kemudian Naya memergoki mereka berdua yang membuat Rudian terpaksa berterus terang.


Apalagi atas dukungan dari ibu hingga Yola di terima tanpa banyak masalah. Mungkin sudah begitu jalan takdirnya. Rudian bangga ia bisa punya istri dua tanpa melalui berbagai rintangan berarti. Cicilan rumah tetap bisa ia bayar, ia tetap bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan sehari-harinya juga terpenuhi dengan gaji Naya. Sedang untuk Yola, ia memberikan uang bonus bulanan saja sudah cukup selama Naya tidak tahu. Kalau Naya tahu. maka ia harus berbuat adil, kan?


"Kenapa? Apa sudah kenyang karena makan direstoran dari uang bonus perusahaan. Iya?!" kata-kata Naya waktu itu sempat membuat Rudian kaget.


Deg! 'Apa ini artinya Naya sudah tahu kalau aku punya bonus bulanan dan tahu aku naik jabatan?'


Rudian sempat khawatir karena ia pernah menjanjikan sesuatu pada Naya dulu, bila ia punya gaji lebih banyak maka Naya tak perlu bekerja sebagai ikhtiar agar bisa hamil. Tapi, setelah ia menikah dengan Yola. Rasanya tidak mungkin. Apalagi ia masih butuh uang untuk dirinya sendiri.


'Kalau aku tidak memberi uang pada Naya, itu biasa karena dia sudah menyepakatinya, tapi kalau tidak memberi uang pada Yola, aku malu. Seolah aku hanya memanfaatkan dirinya, ahk...'

__ADS_1


__ADS_2