
* Jangan lupa like, rate, komen dan vote ya. Terimakasih atas dukungannya *
Lama tidak ada jawaban. Naya kembali melihat pada ponselnya dan tidak mendapatkan balasan apapun dari Ares. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah dan tetap tidak menemukan pria itu di sana. Naya jadi sangat malu dengan tingkahnya sendiri yang seperti orang lingling. Akhirnya ia mengabaikan ponselnya.
'Terserah mau dijawab apa'
Naya duduk di samping Raya dan menepuk bahunya sambil berkata, "ayo, mandi sayang, ganti baju, terus makan."
"Tante gak usah perduli sama aku" jawab Raya ketus.
"Hmm... Kenapa si... Anak manis ini ngambek?"
Raya diam, ia tidak menanggapi ucapan Naya dan kembali aaik dengan ponselnya.
"Kamu lihat gak, papa di mana?" kata Naya, karena melihat Raya diam seperti tidak perduli dengan yang ada di sekitar.
"Buat apa tante nanya soal papa. Mendingan gak usah ketemu lagi sama papa. Dari pada nanti Tente sedih lagi." Raya masih berkata dengan ketus. Naya memperhatikan anak remaja itu dari samping dan tersenyum, walaupun hatinya terasa miris.
"Kenapa ngomong begitu. Siapa yang sedih?"
"Tente Naya kan, yang bilang ke papa, kalau lihat papa Tante jadi sedih. Memangnya papa salah apa sama tante?!" kata Raya terus terang menohok perasaan Naya.
'Haruskah aku jujur tentang semuanya pada anak kecil ini. Tapi apa maksud pak Ares mengatakan semua pada anaknya, si?'
"Raya, waktu itu Tante memang bilang begitu, tapi _ _ " ucapan Naya terputus.
"Ya sudah. Tante gak usah cari papa lagi."
Deg. 'Kenapa bisa jadi begini, maasyaa Allah. Apa yang harus aku katakan pada anak ini?'
Naya tetap duduk di tempatnya, sedang Raya masuk ke dalam rumah sambil memalingkan wajahnya dari Naya. Naya dibuat bingung hingga ia memutuskan untuk pulang. Tapi ketika ia hendak berpamitan, Dinda datang. Gadis tomboy yang kini berjilbab itu masuk ke dalam rumah setelah memarkir kendaraannya.
Naya dan Dinda saling berpelukan setelah berbalas ucapan salam. Dinda tampak lebih cantik dan anggun, dengan pakaian muslimah rapi yang ia gunakan sebagai pengganti celana jeans-nya dan pakaian mirip lelaki yang sering digunakannya.
"Apa kabar?" tanya Dinda dan Naya menjawab dengan ucapan syukur.
Setelah mereka duduk berdua di sofa. Naya menceritakan semua yang ia lihat dan ia dengar dirumah itu, namun belum sempat ceritanya usai, ia berhenti bicara, karena Mala tampak berjalan melewati mereka berdua dan pamit undur diri, karena ia akan pulang.
"Mama Mala mau pulang sekarang?" tanya Dinda. "Saya baru pulang belum sempat ngobrol. Nginap dong, mama..." kata Dinda sambil memeluk Mala hangat.
"Kapan-kapan ya, kita ketemu lagi, insyaa Allah. Tadi sudah lama ngobrol sama mamamu. Kamu dong, kapan ke rumah mama?"
"Kapan-kapan, maa..." jawab Dinda, sedang Naya hanya tersenyum.
Akhirnya Mala pun pergi setelah ia juga memeluk Nauya dan berpesan agar ia menjaga diri baik-baik. Naya hanya mengangguk, dan berterimakasih atas nasehat dan do'anya.
Setelah kepergian Mala, Naya juga ingin pamitt karena ia tidak biasa pulang malam, ia belum pernah berada di luar rumah, setelah Maghrib tiba jika hanya sendirian. Tapi Dinda masih ingin membahas semua yang ia dengar dari Naya tentang perjodohan Ares dan wanita lain yang tidak disetujui Naya.
"Kenapa kamu gak suka, kalau kamu gak mau ketemu sama kakakku?" tanya Dinda dengan wajah serius. Naya belum memberikan jawaban karena ia malu dan ia hanya mau mengatakannya pada Ares.
Mereka berbicara di kamar, sambil mengasuh Yoni dan mengajaknya bermain. Sementara Raya merebahkan diri dan istirahat di kamar papanya, ia enggan bersama Naya. Gadis itu tampak diam menatap langit kamar.
Raya ingat beberapa pekan yang lalu, ketika ia mencoba menghubungi Naya melalui ponsel seperti biasanya, karena mereka sering bicara hanya melalui chat., tapi Ares melarangnya.
Saat itu Ares hanya berkata pada Raya, 'kita akan baik-baik saja walaupun tanpa tante Naya."
"Tapi kenapa, pa?" Raya heran waktu itu karena yang ia tahu selama ini papanya sangat mendukung hubungan mereka.
"Raya, dengarkan papa. Sebenarnya Tante Naya itu gak suka sama papa. Dia sedih kalau lihat papa. Jadi papa gak mau kita jadi lebih dekat. Karena itu akan menyakitkan tante Naya."
Kata-kata Ares membuat Raya kecewa. Ia tidak berpikir logis karena ia masih remaja. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Hingga ia pun mengikuti saran Ares untuk tidak berhubungan lagi dengan Naya. Karena kegelian, Raya akhirnya mencurahkan isi hatinya pada Dinda, hingga akhirnya ketiga orang itu kompak mencoba mengurangi kedekatan dengan Naya.
Gadis seusia Raya biasanya akan lebih senang bila ayah atau ibunya yang sudah sendiri, atau berpisah dengan pasangannya, tidak menikah lagi. Tapi Raya berpikir berbeda, karena melihat keadaan adiknya. Namun kini ia tahu bahwa papanya tidak lagi mengharapkan Naya.
Ares mencoba membatasi hubungan antara Naya dan Raya, agar tidak menjadi lebih dekat lagi, sebab ia merasa tidak berguna apabila hubungan itu terus berlanjut, sedangkan Naya tidak bisa bersamanya. Hubungan mereka seperti mengambang dan tidak jelas, dan itu menyesakkan dadanya.
Ares mencoba mematahkan harapannya sendiri, ia mencoba melupakan Naya tapi anehnya, semakin ia berusaha melupakan semakin besar keinginannya untuk bertemu kembali, semakin besar keinginannya menghindari semakin besar rasa berat untuk membiarkan Naya pergi.
Berulang kali ia mencoba meyakinkan diri, bahwa ia harus bisa mengikhlaskan untuk benar-benar melepaskan Naya, dan menjadikan kisah diantara mereka hanya sebatas kenangan. Untuk apa diteruskan, bila setiap pertemuan akan menyakitkan? Hubungan yang seperti memeluk duri semakin didekati semakin menyakiti. Ahk..
__ADS_1
Tapi dimana dia saat ini?
Semua orang yang di rumah mencarinya, tapi Ares dicari di manapun tidak ada. Saat Yoni menangis karena Naya pamit akan pergi. Rasti yang masih lemah tidak bisa berbuat banyak. Lalu siapa yang akan mengurusnya?
Saat itu Naya menghentikan obrolan dengan Dinda, dan akan mereka teruskan di lain waktu melalui chatting, karena hari sudah hampir maghrib. Ia tidak mungkin menginap karena hari ini bukan akhir pekan. Tapi kemudian Yoni menangis dan mencari Papanya. Akhirnya Naya mengalah dan ia memutuskan untuk pergi setelah Yoni tidur.
Kini mereka semua tengah berkumpul di meja makan, setelah selesai melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Raya makan dengan gelisah, Naya makan sambil mengurus Yoni, ia sebenarnya sangat malu makan bersama keluarga itu. Padahal ia hanya seorang teman dari Dinda.
Raya menyelesaikan makan malamnya lebih cepat, ia mengambil ponsel dan keluar rumah, ia menelpon Ares sambil melihat kedalam mobil dan ia melihat ponsel Ares yang berada di sana.
"Nenek, gak taunya hp papa ada di mobil. Pantas saja dari tadi di telpon gak diangkat." gerutu Raya.
'Pantas saja pesanku gak di balas' Naya.
"Kunci mobilnya mana?" tanya Dinda.
"Gak ada, dibawa papa biasanya." jawab Raya. "Terus aku gimana buat besok, buku sama seragam sekolah kan ada di apartemen?"
Mereka tidak berniat menginap, karena tadi Ares datang hanya untuk menjemput Yoni dan kembali ke apartemen. Ares tidak ingin hidup bersama dengan kedua orang tuanya sejak dulu, dengan alasan ingin mandiri, ia membeli apartemen itu sejak Raya masih kecil.
"Besok saja, pulang sama tante Dinda, terus kesekolah. Atau bolos sekolah saja!" sahut Dinda.
"Hus, kamu ini ngajari gak bagus!" kata Rasti.
"Memangnya kemana anak itu?" kata Hendra sambil menjalankan kursi rodanya sendiri.
"Biarlah, sudah gede ini. Gak mungkin kan papa nyasar?" kata Raya berkelakar.
'Pak Ares pasti menghindar dari aku, kalau aku gak pulang, ya, dia juga gak akan pulang juga'
Hari sudah memasuki waktu malam ketika Yoni sudah bisa ditidurkan oleh Naya di kamarnya. Naya menghampiri Rasti untuk pamit. Ia berjongkok di sisi tempat tidur sambil memegang tangan wanita itu.
"Mama, saya minta maaf sebelumnya kalau saya lancang." kata Naya perlahan.
"Kamu ini ngomong apa, Naya..." jawab Rasti sambil tersenyum.
"Mama, mau cari jodoh buat pak Ares, kan?"
'Dia kakakmu bukan kakakku, kan dia juga punya anak, apa salahnya dipanggil bapak?'
"Eh, Dinda..." ujar Naya.
"He, jangan ganggu orang bicara, keluar sana." kata Rasti. "Ayo, Nay, kamu mau ngomong apa?" kata Rasti.
"Mama kalau tidak keberatan, saya harap mama membatalkan soal perjodohan Pak Ares. Maaf ma, sebenarnya saya mau jadi ibunya anak-anak." kata Naya perlahan dengan wajah malu-malu.
'Jadi ibunya anak-anak, lho'
Rasti Resti tersenyum lebar ia langsung meraih tangan Naya, dan menggenggamnya sambil berkata,
"Bener Naya, kamu mau? Alhamdulillah ... Kalau kamu mau, mama bersyukur sekali. Mama tidak usah repot lagi nyari orang yang bisa ngurusin Yoni."
"Jadi mama mau nerima ssya?" tanya Naya.
"Iya, tentu Naya, tentu. Mama senang!"
"Tapi mah, saya mohon, jangan bilang apa-apa sama Pak Ares, biar saya yang bilang sendiri. Anggap saja Mama belum tahu kalau saya ngomong seperti ini."
"Tenang saja... Nanti mama pura-pura gak tau."
"Jadi ma, saya permisi dulu. Kapan-kapan saya kesini lagi, ya?" kata Naya sambil mencium tangan Rasti.
Dinda tersenyum sambil bernafas lega.
Pak Hendra yang melihat semua itu tersenyum simpul. Ia berkata,
"Kadang jodoh itu seperti itu, ada orang yang pacaran atau jadi teman lama tapi nikahnya sama orang yang baru dikenalnya. Ada yang dijodohkan sama banyak orang jauh, tapi nikahnya sama yang sama yang dekat saja."
Jodoh juga bagian dari takdir kehidupan.
__ADS_1
"Kakak sekarang sudah dapat jodoh, kalau aku gimana dong?" kata Dinda ikut berjongkok di sisi tempat tidur ibunya, seperti Naya.
Naya tertawa kecil melihat tingkah Dinda yang kekanakan. Lalu pergi setelah menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
"Benar, kamu nggak mau saya antar?" kata Dinda setelah berada di luar rumah, mereka berdua berdiri di sisi jalan untuk menunggu taksi online, pesanan Naya.
"Gak, gak usah, aku sudah pesen taksi online kok."
"Nay. Kenapa kamu nggak mau mau dari dulu jadi istri kakakku?"
"Hehe, aku mau jadi ibunya anak-anak."
"Ya, itu sama ajalah."
"Banyak deh, alasannya. Yang utamanya aku mau hubungan kita tetap jadi keluarga."
"Duuh...so sweet. Jadi sekarang gak benci lagi, ya?"
"Nah, itu yang mau aku tanyakan kenapa Raya sama kamu bisa bilang seperti itu?"
"Aku tahunya dari Raya, dia dilarang sama papanya, nggak boleh telepon kamu, nggak boleh chating lagi sama kamu, nggak boleh ketemu lagi sama kamu."
"Kenapa?"
"Katanya kamu sedih kalau lihat kakakku, makanya aku juga ga begitu, jaga jarak dari kamu. Aku heran, sebenarnya salah apa kakak sama kamu?" Kata Dinda terlihat kesal.
"Oh, enggak dia nggak salah kok, yang salah itu aku, panjang deh ceritanya. Kapan-kapan ya aku cerita. Eh, iya gimana hubungan kamu sama Rama?"
"Aku gak berharap banyak, Nay. sekarang aku Aku gak sering ketemu sama Rama. Kita biasa saja, aku nganggap dia teman, karena dia enggak ngasih aku kepastian. Padahal aku aku sudah bilang sama dia, nggak usah kuatir kalau memang nanti jodoh, terus jadi nikah, aku bakalan ngikutin kemauan dia lah. Aku juga nggak keberatan kok kalau dia mau gabung sama perusahaan aku ngurusin ruko aku."
"Hmm..terus dia juga gak mau?"
"Dia plin-plan, sama aja kayak laki-laki lain yang aku kenal. Aku kasih dia harapan, aku kasih perhatian bahkan aku sudah terus terang, bilang kalau aku suka. Tapi mereka sama saja kayak gitu. Sekarang aku sudah mantap sama perubahan aku, walaupun awalnya ada sedikit keinginan biar Rama lebih suka, karena aku berubah. Tapi sekarang aku terus memperbaiki niat, aku akan terus menutup aurat karena Allah. Aku masih harus banyak belajar, aku belum bisa baik kayak kamu, Nay."
"Aku juga belum baik,, Dinda. Aku juga masih harus memperbaiki diri. Dan itu kewajiban semua orang, kewajiban semua muslim, bukan cuma orang yang pakai jilbab saja."
"Iya, makasih lho kamu sudah ngasih semangat terus buat aku." Dinda memeluk Naya.
"Iya, sama-sama, aku juga terimakasih sudah mau jadi sahabat. Sekarang taksinya sudah datang." Naya kembali menepuk bahu Dinda, lalu mendekati mobil yang berhenti di depan mereka.
"Daa, assalamualaikum!" kata Naya sambil membuka pintu taksi, dan menutup pintunya kembali, sambil melambai pada Dinda.
Dinda hanya menggelengkan kepala sambil menjawab salam dan tersenyum melihat taksi yang ditumpangi Naya semakin menjauh pergi.
-
Di tempat lain.
Seorang laki-laki merebahkan diri di sudut masjid. Ia tampak menghela nafas dalam berulang kali sambil menatap langit-langit masjid yang tinggi. Ia seperti mencoba menenangkan dirinya sendiri dan tidak ingin pulang, karena berusaha menghindar dari seseorang yang akan terluka bila melihatnya.
Untuk sejenak, ia tidak peduli pada anaknya, ia mencari ponsel di saku baju dan celananya tapi kemudian ia sadar bahwa ia sudah meninggalkan ponsel itu di mobilnya. Akhirnya ia pun berusaha untuk memejamkan matanya menyelimuti tubuhnya dengan sajadah.
Ia masih ingat terakhir kali melihat wajah Naya, yang sulit diartikan. Apa arti tatapannya? Tapi ia melihat tatapan Naya yang berbeda.
Saat itu ingin sekali ia berteriak,
"Kalau memang aku bersalah padamu maka hukum lah aku, dan menikahlah denganku. Aku tidak peduli masa lalumu, tidak peduli apa yang telah kau alami diwaktu yang lalu, jadi kau tidak perlu malu!"
"Naya, cinta memang butuh keikhlasan, dan karena kesalahan seseorang, bukan berarti ia berhak untuk direndahkan. Setiap orang pernah bersalah, aku pun begitu, tapi kali ini aku tidak akan keliru!"
Teriakan itu hanya keluar dari hatinya, ia laki-laki dewasa yang tidak akan gegabah dalam bersikap dan bertindak, apalagi ia sudah banyak urusan dengan pekerjaan, anak-anak dan rumah, semua ia kerjakan sendiri jadi ia tidak akan memperbayak urusan lain lagi.
"Hidup sudah sulit, kadang manusia sendiri yang membuat hidup semakin rumit, ahk.." desahnya sambil meringkuk.
Dinginnya lantai masjid tak seperti dinginnya sikap Naya ketika menjauhinya. Ia mendapatkan jawaban atas sikapnya beberapa pekan yang lalu mengapa Naya selalu bersikap dingin kepadanya, karena ia adalah orang yang tidak diharapkan Naya. Kesepian yang ada di masjid itu, tidak lebih sepi dari hatinya yang selalu ia selimuti dengan harapan, rindu tak ada jawaban. Merasakan dirinya sangat naif karena memberi Naya ketulusan hingga tidak pernah berniat untuk melupakan, bahkan tetap bertahan.
Mungkin seperti itukah cinta yang ikhlas, ia memilih tetap bertahan meskipun hatinya penuh luka dan kesakitan.
Laki-laki itu mendesah kuat seiring hembusan nafasnya, mengikhlaskan perjuangan untuk dilepaskan. Ia sudah pasrah dengan takdir Tuhan yang tidak meng-iya-kan.
__ADS_1
Bersambung