
Walau terkejut, Naya melewati Yola begitu saja menganggapnya hanya orang lain yang tidak dikenal. Ia segera mengambil air wudhu. Mengapa dunia terasa sempit bisa bertemu wanita ini dimana saja, kebetulan demi kebetulan. Lalu apalagi setelah ini?
"Apa kamu mau belanja juga?" tanya Yola dengan suara agak keras di belakang Naya.
'Mau apalagi memangnya. Bukankah ini mall, tempat orang berbelanja?'
"Saya mau sholat." jawab Naya singkat. Tidak menghiraukan Yola, lalu menyelesaikan rangkaian ibadahnya.
Setelah selesai, Naya duduk bersandar didinding dekat ia melaksanakan sholat, memanjangkan kaki dan memejamkan mata. Ia melakukan relaksasi. Menghirup udara pelan dan dihembuskan perlahan, begitu berulang-ulang.
Beberapa hari Naya sudah dikejutkan dengan aneka kejadian yang mengusik ketenangan hati, membuat pikirkan terganggu dan gelisah. Bahkan menangis setiap malam mencari kelegaan. Membuat Naya merasa perlu memanjakan diri sejenak. Mungkin kalau saat ini ada yang mengajak Naya pergi, maka ia akan ikut seperti saat Farah mengajaknya. Kegamangan benar-benar sudah menjalarinya saat ini.
Tapi ia masih bersyukur dengan apa yang ia dapatkan hari ini, Allah Robb penguasa alam seolah sedang menghiburnya, ia mendapatkan bonus dan hadiah kecil. Sesuatu yang tidak pernah ia sangka seblumnya.
Hanya dengan mengingat-Nya maka hati akan tenang. Hanya dengan bersykur, maka hati akan bahagia.
Apakah ini hal dibalik makna sebuah ayat bahwa dibalik kesusahan ada kemudahan. Dibalik keaedihan ada kesenangan. Naya hanya berprasangka baik. Menghibur dirinya sendiri.
Naya melangkah menuju stand yang menjual berbagai jenis pakaian wanita dan segala perlengkapan serta aksesories lainnya. Tangannya memegang sebuah baju tidur motif batik yang menarik minatnya, saat itu juga sebuah tangan lain menyentuh barang yang sama.
Naya menoleh untuk melihat siapa orang yang mempunyai minat sama dengan dirinya.
"Kamu, lagi?" tanya Yola yang berdiri tepat di samping Naya.
Ah... Naya mendesah pelan, ia melepas tangannya dari baju itu dan berniat berlalu dari tempat itu, ketika Yola berkata lagi. Dia seperti ingin membuat suasana tidak mudah.
"Apa kamu mau baju yang sama?" Naya diam. Ia hanya melirik Yola sekilas.
"Ternyata memang kita punya selera yang sama, ya? Suami kita juga sama."
Mendengar ucapan Yola itu, Naya tidak bergeming, ia menganggap kata-katanya hanya angin yang bahkan belum bertiup. Terserahlah. Tapi memang benar, mereka memiliki suami yang sama.
Menyesakkan sekali, mendengar kalimatnya ini. Yola seperti hendak menelanjangi diri di depan umum. Apakah ada orang lain yang mendengar? Poligami memang bukan aib dan bukan dosa. Tapi berterus terang seperti itu maksudnya apa?
__ADS_1
"Kamu punya banyak uang ya, sampai bisa belanja di sini?"
'Hei, apakah tidak boleh? Apakah hanya orang yang punya banyak uang yang bisa belanja di sini? Yang benar saja.'
"Tidak, ini karena lagi butuh sesuatu saja." jawab Naya malas.
"Benarkah? Kasian sekali."
'Maksud dia apa si. Apa dia menyembunyikan sesuatu?'
"Kasian kenapa? Aku bukan orang yang beli sesuai keinginan, tapi membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan." jawab Naya tegas.
"Oh, ya sudah. Kupikir kamu tahu kalau Bang Rudi dapat bonus bulan ini, lalu memberimu kamu juga dari bonusnya. Jadi bisa beli sesuai keinginan. Bukan cuma kebutuhan saja." jawab Yola sambil berlalu, setelah mengambil baju tidur motif batik yang tadi sudah menjadi pilihannya.
Yola berjalan kearah kasir, dia sudah membawa beberapa barang yang dipilihnya. Naya mengernyikan dahinya, ia seperti disadarkan oleh lamunannya sendiri.
'Bagaimana bisa karyawan rendah dipabrik seperti Kanda, bisa dapat bonus diluar THRnya? Apa sekarang undang-undang sudah berubah? Atau aku saja yang tidak tahu apa-apa. Tapi tidak. Kanda tidak mungkin akan membohongi aku lagi kali ini, kan?'
Naya melirik pada Yola dari kejauhan dan kemudian mencari pakaian untuk kebutuhan dirinya sendiri.
"Abang!" katanya membuat Naya mengalihkan atensinya secara spontan. Ia melihat Rudian datang dan tersenyum pada Yola yang langsung bergelayut manja dilengan Rudian.
Naya dibuat speachless melihatnya. Tapi kakinya tak bergerak seolah jutaan paku menahannya. Suara petir bersahutan didalam otaknya, petir kecemburuan.
"Ayo. Sudah selesai kan?" kata Rudian.
Dua manusia berbeda jenis itu melangkah, menjauh dari kasir, membuat Naya terduduk lemas di tempat itu dan ia tak bisa menahan air matanya.
Beberapa menit ia butuh kan untuk menenangkan dirinya dan menghapus jejak air mata yang tidak bisa ia hentikan keluar begitu saja. Air mata ini seperti hujan yang menyusul suara petir dari otaknya.
Naya memutuskan tidak membeli sesuatu, ia sudah tidak ingin berbelanja, ia memutuskan untuk pulang karena hari juga sudah sore dan ia harus memasak untuk makan malam. Rudian akan pulang malam ini.
Tapi sampai di halaman parkir, ia kembali melihat hal yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Rudian masih di sana dengan Yola yang memakan es krim!
__ADS_1
Deg. Jantung Naya berdegup kencang. Apa ia harus menunjukkan diri dan melewati mereka begitu saja? Ia diam sejenak lalu berjalan dengan terpaksa melewati pasangan yang sedang menikmati es krim. Ia pura-pura tidak tahu saja. Dari pada nanti malah terpancing emosi dan bersikap childis.
"Naya!" tiba-tiba Yola kembali berteriak seperti sengaja terkejut.
'Ah, yang benar saja, Yola. Apa kamu sengaja? Memamerkan kemesraan sedang aku tidak mendapatkan seperti apa yang kamu dapatkan padahal aku punya hak yang sama? Aku tidak akan terpancing. Jangan kekanakan'
Rudian menoleh pada Naya yang berjalan melewati tempat parkir menuju tempat ngetem beberapa angkutan umum. Naya hanya melihatnya sekilas lalu melanjutkan langkahnya.
"Kamu di sini?" tanya Rudian tanpa disadari Naya sudah berdiri di sampingnya dan memegang tangannya.
"Iya. Tadinya mau beli baju tidur. Soalnya bajuku sudah jelek. Tapi sudah kesoren, aku belum masak buat kanda. Nanti mau pulang ke rumah kan?" tanya Naya bersikap tenang. Padahal gemuruh dihatinya seperti suara genderang perang.
Rudian menatapnya dengan perasaan bersalah. Laki-laki itu tidak tahu harus bagaimana dalam menyikapi kejadian yang sama sekali diluar kendalinya.
"Eh, i iya. Nanti aku pulang." sahut Rudian gugup.
"Ya sudah sana. Anter dulu Yola. Aku mau pulang dulu. Kasihan dia tadi belanjanya banyak, maklum baru dapet bonus. Lumayan, ya kan? Bisa punya uang lebih." kata Naya menyindir.
"Itu...aku..." kata Rudian terputus saat Yola kembali beeteriak,
"Bang, Rudi...!" katanya, "mau nganter aku pulang, gak. Kalau gak mau aku mau pesan taxi saja!"
"Pergilah, antarkan dia." kata Naya dan kaki jenjangnya menaiki salah satu angkutan yang kebetulan melintas di depannya.
Rudian diam tak berdaya, ia melihat kearah Yola dan Naya bergantian. Lalu memutuskan menghampiri Yola. Naya yang melihat suaminya memilih Yola, memejamkan mata, hatinya seperti berlubang karenanya.
'Bukankah aku yang menyuruhnya untuk mengantarkan wanita itu, tapi tetap saja sakit dan cemburu. Sabar...Naya...sabar. Kan kamu yang sudah mengizinkannya. Jadi sudah resikonya akan seperti apa. Kamu harus tahu.' Naya bermonolog.
Saat Naya hampir saja naik angkutan umum iya, merasa sebelah tangannya ada yang menarik, hingga ia membatalkan gerakannya dan menoleh pada orang yang menarik tangannya dengan kuat. Naya mencoba melepaskan cengkraman tangan itu, tapi...
"Kau iatriku, kan!?" kata suara itu terdengar centil dan ceria.
Naya membelalakkan mata dengan sempurna demi melihat orang yang dihadapannya dan kemudian memeluknya erat.
__ADS_1
"Istruku...benarkah ini dirimu? Apa kabar?" kata orang yang memeluk Naya hingga dadanya sesak.
"Suamiku...!"