Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 90. Ibu Untuk Anakku 2


__ADS_3

Dinda menghubungi Ares sambil mengoceh ke sana ke mari. Walaupun kesal, Ares tidak marah, ia hanya membalas seperlunya saja, biar bagaimanapun Dinda adalah adik perempuannya. Ares yang sedang gelisah menunggu Naya di depan rumahnya kini mengalah pada adiknya, mengalahkan egonya, dan mengalahkan amarah pada kebodohannya sendiri.


Sekali lagi ia dibawa dalam keanehan takdir, yang mengikuti, seperti bayangan. Ketika ia benar-benar mengikhlaskan, mencoba melepaskan segala harapan, justru ia menghampiri dan menghadang langkahnya yang nyaris pergi. Disaat ia sudah tidak lagi perduli, justru ia kembali memperlihatkan diri.


Naya duduk di kursi dan menaruh kepalanya di sisi tempat tidur dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal, posisi itu membuat tubuhnya melengkung kedepan.


"Pengorbanan adalah kata yang besar, walau kau ingin mencintai seseorang dengan segala yang kau miliki dan tidak ingin berpisah dengannya, tapi bila sang pemilik jiwa tidak menghendakinya, maka kau harus berkorban dengan merelakannya. Jadi jangan menyerah dengan apa yang baru saja kau mulai lakukan. Jangan mengalah tanpa alasan. Karena bila kau sudah menyerah, bahkan sebelum kau berjuang. Itu lucu!"


Sebuah suara bergema di kepala Naya saat ia sempat tertidur sejenak di samping tubuh Yoni. Yoni juga tampak tertidur pulas. Karena pengaruh obat yang ia minum, membuat anak kecil itu terus tertidur seperti itu untuk membantu mempercepat proses penyembuhan.


Dinda masih asik dengan gadgate-nya, ketika Ares muncul di ambang pintu. Ia cemberut melihatnya dan semakin kesal saat laki-laki itu hanya membawa seporsi nasi makan malam untuk dirinya.


Pandangan Ares waktu itu langsung tertuju pada sosok wanita yang tidur di sisi tempat tidur anaknya, ia bernafas lega. Ekspresi wajahnya seperti orang yang baru saja menemukan berlian yang hilang.


'Alhamdulillah. Naya! Kamu di sini? Aku cari-cari kamu, aku tunggu di rumah kamu, gak taunya kamu di sini, Nay. Naya! Dimana rumah orang tuamu!'


"Naya...?" gumamnya sambil menunjuk Naya pada Dinda. Dan Dinda mengngguk lalu beranjak membangunkan Naya.


"Nay, Naya. Ayo kita makan. Kamu tadi bilang lapar, kan?" kata Dinda sambil menggoyangkan tubuh Naya.


Naya bangun sambil mengusap wajah dan merapikan jilbabnya, lalu beranjak sambil mengambil tasnya di meja pasien. Saat ia membalikkan tubuhnya, ia melihat Ares ada berhadapannya. Ares tengah menatap Naya dan pandangan mereka saling mengunci, tapi hanya sejenak.


Deg. Tiba-tiba jantung Naya berpacu lebih cepat.


'Sejak kapan dia ada di sini, dan dia melihatku seperti itu. Hais, Pak! jaga pandangan anda itu. Seorang laki-laki boleh memandang seorang wanita itu kalau ia benar-benar berniat menikahinya. Saya sudah tidak berharap banyak pada anda'


Naya melihat sekotak makanan yang ada di meja pasien yang di sisi tempat tidur.


"Kita mau makan di mana. Di sini?" tanya Naya.


"Kita makan di luar saja ya. Soalnya kak Ares bawa makanannya cuma sedikit gak akan cukup buat kita berdua." sahut Dinda.


Naya melirik pada Ares lagi sekilas. Laki-laki itu masih diam. Naya meraih tangan Dinda sambil melangkah, melewati Ares begitu saja tanpa saling menyapa, tanpa saling berkata. Mereka berdua meninggalkan Ares yang masih terpaku di sana.


Setelah Naya dan Dinda keluar dari kamar Yoni, mereka berdua mulai saling bercakap-cakap.


"Dinda, nanti, aku sekalian pulang, ya. Besok aku pagi-pagi ke sini lagi jagain Yoni."


"Benaran, kamu gak apa cuti kerja, Nay?"


"Gak apa, aku selama kerja di sana belum pernah ambil cuti atau libur. Tadi aku sudah telepon, dan boleh saja, aku sudah ambil cuti seminggu."


"Kamu sudah ngomong sama kakakku belum soal keputusan kamu, Nay?" Dinda sepertinya mulai tidak sabar, mendengar kabar hubungan antara Naya dan kakaknya. Yang ditanya menggeleng.


Dinda terlihat kesal. Apalagi ia melihat reaksi Naya dan Ares yang tadi terlihat tidak biasa. Mereka canggung. Mereka berdua terkesan kaku sekali. Bahkan Dinda gemas melihat kakaknya yang hanya diam tidak melakukan apa-apa. Padahal Dinda berharap saat itu Ares bisa memeluk Naya atau setidak-tidaknya bicara dan menegurnya. Sikap kakaknya itu benar-benar mengecewakannya. Tidak jantan. Uh!


Kedua wanita itu tidak tahu, kalau Ares juga, tidak tahu harus berbuat apa. Kalau bukan orang yang mengerti agama, mungkin ia akan memeluk atau mencium Naya, saat itu juga. Tapi ia memilih menjaga diri, karena menjaga diri adalah salah satu ajaran penting agama.


"Kenapa belum? Aku sudah gemas banget sama kalian, tau? Tadi ketemu, kenapa cuma diam saja bukannya langsung ngomong."


"Sabar, Dinda. Nanti juga kami bicara. Ayo ah, makan dulu. Kamu mau pesan apa?" tanya Naya ketika sudah sampai di kantin rumah sakit.


"Sekarang bukan waktunya makan berat, jadi aku pesan soto saja. Kamu?"


"Ya, sudah. Sama, aku juga soto tanpa nasi, tanpa lontong."


"Siip. No karbo, ya?"

__ADS_1


Mereka setuju makan tanpa karbo, meski mereka berdua bukan tipe perempuan yang gendut dan makan dalam porsi besar. Tubuh Dinda tinggi, bahkan tinggi tubuhnya menyamai tinggi badan Ares kakaknya, dan bila ia berpakaian yang siple seperti kaos atau celana panjang, maka ia akan sangat mirip seorang laki-laki. Hanya saja wajahnya manis dan pipinya agak tembam, itu model wajah yang terlalu imut untuk jadi seorang wanita yang tomboy. Tapi untungnya sekarang gadis tomboy itu memakai pakaian muslimah, hingga kesan tomboy sedikit berkurang dari dirinya.


Perempuan yang menyerupai laki-laki atau laki-laki yang menyerupai perempuan, dilarang dalam agama.


Sedangkan Naya, ukuran tubuhnya biasa saja, ia tidak terlalu tinggi atau pendek, juga tidak terlalu kurus atau gemuk. Penampilannya tidak pernah berubah dari dulu. Jika ia bekerja, ia senang memakai setelan pakaian tunik yang dipadukan dengan kullot atau celana panjang. Jika berada di rumahnya ia lebih sering memakai gamis dan kerudung instan. Walaupun ia bekerja di restoran dan di kantin seperti sekarang, tidak membuat ia banyak makan karena ia juga senang menjaga berat badan.


"Kenapa kamu gak mau pakai nasi, Nay, takut gemuk?"


Mendengar pertanyaan Dinda ini Naya menggelengkan kepalanya, sambil menyantap makanan pesanan yang sudah ada dihadapannya.


"Aku jaga berat badan saja."


"Nay, kalau kamu gemuk juga, kakakku tetap suka sama kamu, aku jamin itu." sahut Dinda sambil menikmati soto di mangkuknya.


"Aku jaga berat badan bukan karena biar disukai orang. Tapi karena kalau aku jadi gemuk, aku gak punya uang untuk beli banyak baju. Soalnya kalau gemuk, pakaianku yang ada pasti gak cukup. Hehe."


"Oh, iya. Soal tadi, kenapa aku atau mama gak boleh ngomong langsung sama kakak, soal niat kamu."


"Eumm... sebenarnya cerita antara aku sama pak Ares itu panjang. Dulu aku pernah ketemu sama pak Ares waktu hubunganku sama suamiku gak bagus."


"Cuma karena itu, Aneh, kamu Nay!"


"Aneh, ya? Memang si, agak aneh. Tapi aku cuma mau tahu reaksi pak Ares seperti apa. Kamu tahu sendiri kan, aku pernah bilang sakit kalau ketemu sama pak Ares? Jadi aku perlu ngomong sendiri sama dia."


"Aku saja ya, yang bilang sama kakak?" Dinda berkelakar.


"Jangan... tolong, jangan ya, Dinda sayang."


"Haha, aku bercanda."


Hal seperti ini, tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. Ia harus mengatakan terus terang kepada orang yang bersangkutan, bila orang yang bersangkutan mengetahuinya dari orang lain, maka hal itu akan menjadi sesuatu yang tidak afdol saja untuk dikatakan kembali. Seperti ia mengulangi kata-kata orang lain.


Dulu, ketika Naya mendengar ucapan dari Rudian, saat mereka masih sama-sama bekerja, dan Rudian mengatakan bahwa ia menyukainya, Naya sangat bahagia, karena ia pun menyukai dan mencintai Rudian, bahkan berharap Rudian benar-benar menjadi suaminya. Maka, ketika Rudiyan menyatakan rasa cintanya, saat itu juga Naya meminta Rudian agar melamar dirinya kepada kedua orangtuanya. Ia mengatakan terus terang, apa yang diinginkannya dan apa yang tidak diinginkannya.


Sebab, bila seseorang benar-benar mencintai dan ingin menunjukkan rasa cintanya, maka orang itu akan melakukan apapun yang membuat orang yang dicintainya itu bahagia. Bahkan tidak sedikit orang yang menuntut orang lain menghargai, dan memaklumi apapun yang dilakukannya pada orang yang dicintainya, meskipun itu hal yang tidak masuk akal.


Naya saat itu mengatakan bahwa dirinya tidak ingin berpacaran, tapi ia siap langsung menjadi pengantin bagi Rudian, laki-laki yang dicintainya. Sebagai seorang wanita, bila laki-laki yang dicintainya bersedia menjadi suaminya, maka kebahagiaan yang tidak terkira akan dirasakan olehnya. Naya terus berkhusnuzdan bahwa, rumah tangganya akan berjalan baik-baik saja seperti kebanyakan rumah tangga teman-temannya dan orang lainnya. Tidak ada yang menduga akan terjadi ujian yang begitu berat di dalam pernikahannya, bahkan sebelum pernikahannya menginjak usia sepuluh tahun.


Setelah selesai makan malam, Naya langsung berpamitan pada Dinda untuk pulang, dengan mengendarai taksi online. Sedangkan Dinda kembali ke kamar perawatan Yoni untuk mengambil kunci mobilnya, dan ia akan pulang juga.


Begitu Dinda sampai di pintu bangsal kamar Yoni, Ares langsung berdiri terperanjat, ia celingukan mencari seseorang dan ia bertanya seperti kebingungan, pada Dinda.


"Kok kamu sendiri, mana Naya?"


Dinda mengerutkan alisnya, lalu menjawab, "ya, pulanglah, memangnya mau kemana?"


"Tapi, kenapa kamu nggak nganter dia, kenapa kamu nggak bilang kalau dia mau langsung pulang, kenapa kamu biarin dia pulang sendiria?!"


Ares nampak menghawatirkan Naya, karena memang sekarang sudah malam. Dinda melangkah sambil mengambil kunci mobilnya.


Dan Dinda menjawab, "Naya nggak mau diantar, dia nggak mau aku repot dan capek, jadi dia pakai taksi online, udah nggak usah kuatir."


Ck!


Ares berdecak kesal, karena ia mengharap Dinda kembali bersama Naya, dan ia bisa berbicara saat itu juga dengannya. Ia berusaha menelpon Naya, tetapi panggilannya selalu diabaikan walaupun, ia sudah mencoba sebanyak puluhan kali menghubunginya.


"Aneh, kenapa Kakak kesel seperti itu? Bukannya kemarin kakak cuek? Kakak bilang nggak mau ketemu dia lagi, kok sekarang Kakak jadi aneh begini?" kata Dinda sambil memainkan kunci mobilnya.

__ADS_1


Ares memegang bahu adiknya, sambil berkata, "dengar ya, sekarang Naya itu mau jadi ibunya anak-anakku."


"Oh ya?" jawab Dinda tidak percaya.


"Iya. Kemarin, aku nggak sengaja ketemu Naya, di makam Nindy, aku tadinya enggak tahu maksud Naya. Tapi sekarang aku sudah tahu, maksud dia ngomong seperti itu, karena dia mau jadi ibunya Raya dan Yoni."


"Ya sudah, kalau gitu ngomong, sana. Kakak mau terima dia. Terima dia apa adanya, kak, jangan cuma mau manfaatin dia buat ngurusin Yoni!"


"Aku nggak manfaatin dia buat ngurusin Yoni, aku juga sayang sama dia."


"Oh, gitu.l ... jadi kakak juga suka sama dia? kalau sayang, kok kakak cuek banget. Kakak pernah ngasih apa sama dia?"


Mendengar perkataan Dinda Ares pun seperti tersadar, ia memang tidak pernah memberikan apapun yang berarti untuk Naya, selain pertolongan dan juga melakukan apa yang bisa dilakukan untuknya.


Semua itu sudah cukup bukan?


Dinda hampir tertawa melihat sikap kakaknya yang tiba-tiba mematung Ia berpikir bahwa mungkin kakaknya itu tengah menyadari sesuatu hingga kemudian ia menepuk bahu Ares, sambil berkata,


"Tenang kak, besok pagi dia kesini lagi, dia siap jaga Yoni, sampai beberapa hari dan sampai keponakanku itu ssmbuh, dia sudah ambil cuti, dan sanggup untuk bantu kita kak."


Dinda berkata sambil berlalu pergi, dan menyembunyikan senyumnya. Ia berharap bahwa dua orang yang ia sayangi itu bisa hidup bersama, rukun dan bahagia. Terlepas dari semua harapannya itu, ia juga mengharapkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri juga.


Dinda juga ingin hidup bahagia dengan suami dan rumah tangganya sendiri.


Bukankah segala sesuatu yang kita berikan atau kita doakan untuk orang lain, maka akan kembali pada diri kita sendiri. Untuk itu lah seburuk apapun orang bersikap pada kita, sebaiknya kita mendoakan kebaikan untuknya. Sebab, do'a yang kita panjatkan untuk orang lain itu, membuat kita akan mendapatkan pahala atau setidaknya kebaikan yang sama dengan orang lain yang kita mendo'akannya.


Karena setiap kali kita berdoa kebaikan ataupun keburukan untuk orang lain, maka malaikat yang ada di sekitar, yang mendengarnya, akan kembali mendoakan kita dengan doa yang sama.


Para malaikat itu akan berkata, "dan engkau juga."


Mengingat kembali kata pepatah. Siapa yang menanam maka ia jugalah yang akan menuainya.


-


Keesokan harinya.


Naya bersiap berangkat ke rumah sakit, ia sengaja memasak beberapa makanan yang cukup banyak, selain untuk dirinya sendiri ia juga memasak sarapan untuk orang yang menjaga Yoni semalam. Siapapun yang menjaganya, maka ia akan memberikan sarapan yang sudah ia masak di rumah sebelumnya.


Semalam, sepulang dari rumah sakit, ia sengaja membeli beberapa bahan mentah, di toserba. Dan pagi ini, ia sudah mengolahnya menjadi makanan yang membuat makanan yang cukup mengundang selera. Ia juga membawa sedikit kerajinan gerabahnya sekedar untuk mengisi waktu luang. Ia akan menggunakan lukisan itu untuk menghibur dan bermain dengan Yoni, agar anak itu terhibur dan bisa cepat sembuh karena perasaan bahagia.


"Assalamualaikum." kata Naya sambil membuka pintu kamar. Ia mendengar suara rengekan Yoni diwaktu yang bersamaan.


Begitu pintu terbuka, tampak Ares sedang berdiri di sisi tempat tidur Yoni sambil menggendongnya. Ia melihat ke arah pintu, Naya berdiri di sana dengan canggung. Tatapan mata keduanya sejenak saling beradu.


'Astaghfirullahal'adziim. Ini masih pagi, jangan bikin aku keringetan begini, pak! Tolong jangan lihat aku dengan tatapan mata seperti itu!'


"waalaikumsalam." jawab Ares sambil tersenyum.


"Kenapa Yoni, nangis?" tanya Naya sambil menyimpan tas besar di atas sofa, lalu mendekati tempat tidur, ia bersikap sebiasa mungkin, bahkan mencoba berbicara dengan cukup tenang.


"Kamu, kesini sendiri?"


"Nggak, Pak, ada yang bareng sama saya kesini."


"Siapa?!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2