Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 92. Aku Buru-buru


__ADS_3

* jangan lupa like, comment, rate, dan votenya. terima kasih atas dukungannya *


"Belum, Pak," jawab Naya sambil tersenyum malu-malu, menyadari kebodohannya.


Naya merasa dirinya jadi sangat canggung dengan laki-laki di hadapannya ini. Ia wanita dewasa yang sudah pernah menikah, tapi ia bertindak seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Eh, benarkah ia kembali merasakan jatuh cinta? Padahal diusianya adalah usia tanggung, bahkan tidak termasuk yang dikatakan orang dengan istilah puber kedua.


"Kalau belum, aku mau bilang apa sama ayahmu?"


'Ya mana saya tahu?'


"Belum kepikiran saya pak mau bilang apa sama ayah, soal Pak Ares." jawab Naya sambil mengalihkan kecanggungan dengan menelusuri media sosial pada ponselnya.


"Bilang saja aku calon suamimu."


Bum! Suara Ares terdengar seperti bom yang meledak ditelinga Naya. Ia menoleh pada Ares kembali, laki-laki itu masih berdiri dengan posisinya semula dan masih menggenggam ponselnya.


'Ya Allah. Orang ini blak-blakan sekali'


Naya diam ia tidak bisa membantah Ares lagi. Ia mengakui satu bentuk kelemahan perempuan sebagai mahkluk, yang fitrohnya di pimpin oleh laki-laki. Perbedaan itu akan tetap terlihat, sehebat apapun seorang wanita, ia tetap membutuhkan laki-laki yang bisa mengayomi dirinya. Sering sekali terjadi sebuah dilema, dimana seorang i8i8Im yang hebat luar biasa, memiliki segalanya, seolah tidak membutuhkan laki-laki dalam hidupnya. Tapi tetap saja ada fase


wanita seperti itu merasa lelah, bahkan membutuhkan bahu, untuk sekedar bersandar meringankan bebannya.


Setelah cukup lama Naya terdiam, Ares berkata lagi. "Kalau kamu sudah bilang sama ayahmu, nanti aku telepon ayah. Jadi kita bisa enak ngobrolnya. Atau nanti kita video call bareng. Ya?"


"Baik, Pak. Nanti saya bilang dulu sama ayah. Tapi tidak sekarang, menurut saya jangan buru-buru. Lebih baik menunggu kalau Yoni sudah sembuh," kata Naya mulai mengalah.


"Oh, jadi begitu... Tapi menurutku, kalau demi Yoni justru kita harus sekarang."


'Apa? anda ini tidak sabaran sekali. Egois, mikirin diri sendiri, na*su saja yang di dahulukan. Laki-laki di manapun sama, mementingkan kemauan sendiri'


"Kenapa kamu diam, kamu mikir apa? Jangan bilang aku buru-buru karena na*su."


'Ya Allah kok dia bisa tahu, apa yang ada di otakku?'


"Gini, dengar Naya..." kata Ares sambil menyimpan ponsel di meja kecil, ia melihat sekilas makanan yang Naya bawa. Ia sebenarnya ingin makan makanan itu, tapi ia ingin menyelesaikan pembicaraan, yang tertunda sejak dua hari yang lalu.


Ia biasa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, dan tidak pernah menunda kewajiban yang menjadi pekerjaannya. Tugas yang harus ia kerjakan hari itu, maka akan ia selelaikan hari itu juga, kecuali seperti hari ini, di mana keadaan memaksanya menunda semua tugas yang sudah dibebankan padanya.


Ares menatap Naya sejurus sambil menyelipkan kedua telapak tangan dalam saku celana.


'Pasti dia belum makan juga. Maaf. Aku egois memang'


"Aku mau kamu ngerti apa yang aku maksud. Kalau memang pertimbangan kamu, anak-anakku, maka lebih cepat melakukan pernikahan akan lebih baik. Aku gak maksa kamu, karena kamu yang mau duluan, kan?"


'Maasyaa Allah. Jadi aku yang salah gini. Tapi memang aku yang nawarin dia, ahh...'


"Ya sudah, anggap saja saya gak pernah kirim pesan chat apa-apa, saya juga gak akan menganggap bapak pernah bilang suka sama saya dan mau tahu rumah orang tua saya," jawab Naya sedikit kesal karena ia merasa sudah disalahkan.


Ares tersenyum samar, ia mulai sedikit mengerti karakter perempuan yang secara terus terang menawarkan diri untuk jadi istrinya. Hanya saja sekarang ia terlihat malu untuk mengakuinya.


Ares tidak berpikir untuk melangsungkan pernikahan untuk dirinya sendiri tapi untuk anaknya juga.


"Kenapa? Menurutmu aku buru-buru karena memperturutkan hawa na*su dan keinginanku, begitu?"


'Biasanya begitu, apalagi orang laki-laki dewasa, dan sudah pengalaman seperti anda'


"Mana saya tau, keinginan bapak itu apa?"


'Ya aku ingin kamu lah, Nay!'


"Menurutku begini, kalau nanti Yoni sudah sembuh dan boleh pulang, dan kamu sudah jadi istriku, kamu bisa jadi teman Yoni di rumah. Gak akan ada fitnah diantara kita, jadilah ibunya anak-anak, aku cukupi semua kebutuhan kamu, aku turuti keinginan kamu selama aku mampu. Jadi aku gak berpikir untuk diriku sendiri, Nay."


Deg. Jantung Naya kembali berdegup kencang. Ia tidak berpikir sejauh itu. Hingga ia tertegun dan kembali memikirkan semua yang Ares katakan.


"Kita nikah biasa saja, yang penting sah, sekarang. Nanti kalau Yoni sudah sembuh, baru kita resmikan secara hukum negara dan kita pesta. Kamu mau pesta seperti apa, atau mau pesta besar-besaran? Aku usahakan sesuai kemauan kamu, Nay."

__ADS_1


Gleg. Naya menelan salivanya kasar.


'Eh, aku malu kalau harus pesta besar-besaran, ini kan pernikahan kedua, buat apa pesta seperti itu'


"Gak, saya gak suka pesta. Sederhana saja."


'Ya aku bisa menebak seleramu, apalagi ini pernikahan kedua, kan'


"Terus kamu mau mas kawin apa? Biar aku siap kan sekarang."


'Belum kepikiran soal mas kawin'


"Terserah bapak saja."


"Aku kasih pilihan, emas atau berlian berapa krat. Uang berapa ratus juta, asal jangan lebih dari satu milyar. Aku bisa."


'Ck! Anda ini belum tahu soal apa itu mahar? Bukan seperti itu'


"Mahar itu gak harus perhiasan, atau alat sholat, karena mahar itu bukan cindera mata."


"Iya aku tahu. Mahar itu kewajiban dari Allah yang harus diberikan oleh laki-laki yang akan menikahi wanita. Kalau gak ada mahar ya gak sah."


"Terus?" Tanya Naya.


"Apalagi memangnya. Biasanya juga seperti itu kan?"


Rangkaian dalam sebuah pernikahan, antara laki-laki dan perempuan, berurutan yang diawali dengan melamar, kemudian menentukan mas kawin dan akad nikah atau Ijab Kabul.


Seorang pria yang akan menikah, harus melamar wanita yang akan menjadi istrinya, kepada orang tuanya. Maksud lamaran ini adalah untuk meminta izin bahwa ia akan menikahi anaknya. Setiap orang tua adalah penanggung jawab, dan pemegang amanah dari Allah, atas diri si wanita. Dan maksud lain dari lamaran adalah, sebagai bentuk dari kesiapan dan kesediaan laki-laki untuk menggantikan tanggung jawab orang tuanya.


Mahar atau mas kawin bukan cindera mata, kewajiban ini adalah bentuk dari penghargaan yang tinggi dari masing-masing manusia pada manusia lainnya. Tentu saja harus laki-laki yang memberikan, karena sebagai penebus dari kenikmatan, yang akan diperoleh dari menikahi wanita pilihannya.


Wanita di tuntut untuk taat pada laki-laki yang sudah menafkahi dan memberinya mahar. Jadi semakin baik mahar yang diberikan laki-laki, menunjukkan semakin tingginya laki-laki tersebut dalam menghargai istrinya juga menghargai dirinya sendiri. Hal ini dijelaskan dalam sebuah ayat Al Qur'an bahwa, laki-laki adalah pemimpin bagi wanita.


Ada lagi sebuah kata bijak ini, bahwa hanya orang yang mulia lah yang bisa memuliakan manusia lainnya. Contoh Rosulullah dalam memuliakan intri-istrinya.


Bahwa orang yang menghargai orang lain dengan baik, sama saja ia menghargai dirinya sendiri. Jadi, orang yang berharga bukan lah orang, yang memaksa orang lain untuk menghargai dirinya, karena akhlak seseorang tidak dinilai dari banyaknya ia sholat dan puasa, melainkan dilihat bagaimana ia bersikap kepada orang disekitarnya, terutama orang yang terdekat dengannya.


Dan tahap terakhir dalam urutan pernikahan yaitu ijab qobul atau akad nikah. Maksud dari ijab qobul adalah sebagai sarana pelimpahan amanah, pengalihan tanggung jawab dan pengurusan atas diri wanita, secara resmi telah berpindah dari orang tuanya, kepada laki-laki yang melamarnya. Dengan ijab qobul ini berarti hubungan suami istri antara si pria dan wanita sudah sah.


"Ya, terserah bapak saja."


"Baik kalau begitu, ayo kita sarapan." kata Ares sambil melangkah menuju meja kecil dan mengambil sarapan yang sudah Naya siapkan. Ia melirik Yoni yang sudah tertidur pulas.


'Ya. Sarapan sekaligus makan siang'


Naya mengambil sarapan juga dan ia membawa makanannya keluar kamar, duduk di kursi panjang yang ada dikoridor rumah sakit. Ia mulai menyantap makanannya. Ia sengaja membagi makanan yang ia buat, menjadi beberapa kotak, hingga mudah menikmatinya.


Ares tiba-tiba mengikuti Naya keluar kamar perawatan. Ia membawa kotak makanannya dan segelas air minum, ia duduk di sebelah Naya. Sontak saja Naya beringsut menggeser duduknya menjauh dari Ares.


Laki-laki itu tersenyum sambil berkata, "nih, minumnya."


"Terimakasih."


"Gak usah sungkan. Aku kan calon suamimu."


"Bilang terimakasih juga gak salah. Bukan berarti sungkan."


Ucapan Naya itu membuat Ares memalingkan wajah, menyembunyikan tawa. Gemas.


"Kamu ini cerewet juga, ya?" komentarnya, sambil menyantap makanannya.


'Kenapa memangnya kalau cerewet? Memang fitrohnya begitu, perempuan itu akan lebih banyak bicara dari pada pria'


Naya tidak menjawab, ia meneruskan makan dengan hati-hati. Tak lama ia melihat Ares membuang kotak makanannya yang sudah kosong.

__ADS_1


"Bapak sudah selesai makannya?" Mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, sudah habis, terimakasih ya. Masakanmu enak."


"Sama-sama."


Ares masuk kembali ke ruang perawatan, ia membersihkan diri dan berganti pakaian kerja di dalam, sementara Naya masih duduk di luar ruang perawatan, ia menyibukkan diri dengan menjelajahi berita di internet.


Setelah beberapa lama, ia keluar dan berdiri dihadapan Naya sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku.


Ia berkata, "Naya." Panggil Ares, dan Naya mendongak sambil menegakkan punggungnya.


"Jangan pulang kalau aku belum datang, nanti aku antar, oke?"


'Ck! Belum juga jadi suami, sudah sok ngatur. Terserah aku lah'


"Insyaallah" jawab Naya cuek tanpa melihat Ares.


Ares mengerutkan alisnya, ia sedikit menyadari kalau Naya termasuk wanita yang menurutnya keras kepala. Jadi kemungkinan ia tidak akan menurutinya lagi. Dulu juga begitu, kan?


"Aku titip Yoni, jaga dia baik-baik, aku berangkat dulu ya?" kata Ares sambil menggenggam kunci mobilnya.


Baru saja Naya hendak menjawab, hati-hati di jalan, sudah ada suara keras yang memanggil Ares.


"Kak Ares!"


Deg. Hati Naya berdebar-debar.


Ia melihat seorang wanita cantik yang berpakaian sangat seksi dan memakai barang-barang bagus, berjalan mendekat ke arah mereka.


'Astaghfirullahaladzim. Gimana aku bisa lupa sama perempuan ini? Dia ini sebenarnya istri Pak Ares apa bukan. Kalau misalnya dia istri Pak Ares, kenapa Pak Ares mau nerima aku, bahkan kita baru aja ngomongin tadi di soal lamaran dan mas kawin. Ya Allah gimana ini. Aku gak bakal jadi istri kedua pak Ares kan?'


Ares menoleh dan menghentikan langkahnya, raut wajahnya tiba-tiba terlihat keruh.


"Caca?!"


"Iya, ini aku, kak..."


"Kenapa kamu bisa kesini?" tanya Ares ketika wanita itu sudah berada di sisinya.


"Kak, aku sengaja pulang. Dimana Yoni? Kenapa kakak gak bilang sama aku?" tanya wanita cantik itu sambil bergelayut manja di lengan Ares, tapi Ares segera menepis dan menjauhi gadis itu.


"Yoni ada di dalam." kata Ares sambil menunjuk kamar dengan dagunya.


"Yoni gak apa-apa kan? Aku khawatir banget kak waktu tahu kabarnya dari Dinda."


"Dia masih harus dirawat?" kata Ares yang disambut anggukan oleh Caca.


"Kak Ares mau kerja?" Tanya Caca dan Ares mengangguk. Ia kembali berkata, "Tenang kak. Biar aku yang jagain Yoni. kakak gak usah kuatir. Selama ada aku, urusan Yoni biar aku yang tanggung jawab."


"Gak perlu, kamu kan sibuk." Ares berkata sambil melirik Naya yang sedari tadi cuek seolah tidak ada siapapun di dekatnya.


'Kenapa kamu selalu seperti itu, Naya. Seolah kamu gak perduli siapa wanita ini dan gak perduli sama aku, apa kamu gak penasaran'


Naya merasa jengah dengan percakapan dua orang yang memenuhi udara disekitarnya, hingga ia memutuskan untuk masuk, kembali ke ruangan. Siapa wanita ini bukan urusan Naya sebab bagi dirinya Ares belum menjadi suaminya, hingga ia tidak berhak mengurusi urusan pribadinya. Ia terlalu cuek dengan urusan orang lain.


Dimasa lalunya ia sudah hidup dipenuhi dengan mengurus semua urusan orang lain yang membuatnya terjebak dalam kesedihan, dulu ia begitu perduli pada orang lain yang justru membuat dirinya justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri selain pasrah.


'Siapapun wanita itu, bukan urusanku. Kalau ternyata dia orang yang menyukai pak Ares, seperti Yola menyukai Rudian. Lebih baik aku mundur!'


Ketika Naya beranjak memasuki ruangan Yoni, Caca meliriknya.


"Siapa dia, kak?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2