
Naya mendengarkan semua cerita dari Dinda tentang bagaimana keadaan ibu dan kakaknya. Lagi - lagi Naya teringat dengan Aras yang dulu pekerjaannya berpindah-pindah, sehingga ibunya harus ikut dengannya untuk menjaga anaknya yang memiliki phobia.
'Apakah ini hanya cerita yang mirip atau memang Pak Ares adalah kakak Dinda?'
Naya mengerutkan alis karena berpikir, seingatnya ketika Naya dulu sering bermain dengan Dinda di rumahnya, ia tidak pernah melihat ada seorang anak laki-laki yang hidup bersama keluarga itu. Naya bernapas lega kemudian bergumam, "tidak, bukan dia, ini hanya cerita yang mirip."
Setelah mengakhiri obrolan mereka, Naya melepas kepergian Dinda dengan melambaikan tangannya. Ia kembali ke rumah setelah mobil Dinda sudah menjauh dari sana. Ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat sambil mengecek beberapa pesan atau apapun dari ponselnya. Sambil menunggu waktu maghrib tiba.
Benar saja, ia menerima banyak pesan masuk, dari Farah sahabatnya yang menanyakan dimana dia sekarang, dari ayah dan Nuriya yang menanyakan tentang usahanya, dari bu Nha, bahkan dari Nia dan Sarita juga ada.
Naya tersenyum melihat semua pesan yang ia terima dari orang-orang yang menyayanginya. Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya lebih dari kedua orang tua mereka, pikir Naya. Dan orang-orang yang mengirim pesan padanya mungkin mewakili rasa sayang padanya.
'Subhannallah. Alhamdulillah'
Naya menjawab pesan itu satu persatu dengan hati gembira bahkan ia tersenyum sendiri saat mendapat jawaban yang lucu dari mereka. Tentu saja diantara mereka ada yang bertanya tentang hati dan perasaannya. Naya hanya menjawab secara puitis yang belum tentu di mengerti oleh mereka.
"Ada yang begitu takut untuk memulai karena pernah terluka begitu dalam, ada yang tidak pernah lelah berdo'a meski ia tidak tahu kapan do'a-do'anya akan dikabulkan, ada yang tak pernah bosan merindu walau ia tak tahu kapan akan dipertemukan. Jadi intinya semua akan datang kalau sudah pada waktunya."
Kadang Allah sudah menyiapkan sesuatu yang terbaik bagi seorang hamba-Nya, dengan cara dan di waktu yang tepat menurut-Nya. Bahkan semua sudah tertulis, sebelum seseorang dilahirkan. Allah sudah membuat perjanjian dengan manusia, bahwa seseorang akan mengalami kehidupan yang begini dan begitu, akan diberi rezeki yang seperti ini dan Itu, akan menikah dan mempunyai pasangan yang begini dan begitu, lalu meninggal dengan usia segini dan segitu, lalu manusia itu menyanggupi dan kemudian dilahirkan.
Karena itulah setiap manusia beriman dianjurkan untuk banyak berdo'a sebagai jalan untuk membantu kebaikan hidup yang harus dijalaninya.
Baru saja Naya mengirim jawaban pesannya pada Farah, ia menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Ketika Naya mendengar suara diseberang telepon adalah suara seorang wanita, barulah Naya merasa lega.
"Apa benar ini pemilik kamar kos yang ada di jalan Kenangan?"
"Benar, apa mbak berminat?" sahut Naya.
"Iya, saya sudah ada di sini, di halaman rumah," kata suara itu lagi.
'Apa, sudah di sini? Astagfirullah, kukira cuma nego'
Mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan yang ada di seberang teleponnya, Naya mematikan ponsel dan segera mengambil kerudungnya. Ia dengan langkah cepat membuka pintu dan keluar rumah.
Di halaman rumah, ia melihat seorang wanita dewasa dengan penampilan yang cukup mempesona dan cantik, rambut ikal sebahu yang ditata rapi, wanita itu terkesan anggun dengan dress yang melekat sangat pas di badannya, warna pakaian yang mencolok serta riasan wajah yang cukup menarik. Wanita itu membawa dua buah koper dan satu buah tas berukuran besar dan satu tas kecil dengan warna senada dislempangkan di pundaknya.
Naya tersenyum, ia segera bergegas menghampiri wanita itu dan mengulurkan tangannya, menyambut wanita itu ramah.
"Maaf, dengan mbak siapa ya?" kata Naya lembut.
Wanita itu menyambut uluran tangan Naya, sambil berkata, "saya Farida, panggil saja Ida." diam sejenak, ia mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling rumah Naya.
"Saya, Naya." sahut Naya sambil melepaskan jabatan tangannya.
Kemudian wanita itu kembali bertanya, "apa mbak Naya pemilik rumah ini?"
"Iya," jawab Naya sambil mengangguk.
Naya mempersilahkan Ida masuk. Naya meminta Ida untuk melihat-lihat dulu, melihat kamar yang disewakan.
"Kalau mbak berminat untuk tinggal di sini, silahkan pilih mau kamar yang mana saja. Kebetulan mbak Ida adalah orang yang pertama," kata Naya.
Perempuan itu pun mengikuti Naya dengan membawa tas dan koper nya sedangkan Naya membawa satu koper yang lainnya. kemudian wanita itu melihat sekeliling dan Ia pun memilih kamar yang bersebelahan dengan kamar Naya. Ia memasukkan semua tas dan kopernya di sana. Setelah itu mereka membicarakan tentang harga dan kesepakatan lainnya dan juga peraturan yang diinginkan oleh Naya, termasuk tidak boleh menerima laki-laki yang bukan muhrim ke dalam ruang tamunya. Hanya boleh di teras saja. Setelah menyepakati semuanya, Naya memberikan kunci kamarnya.
__ADS_1
"Mabak Ida, saya gak punya kunci duplikatnya lho, jadi semua urusan soal kamar saya gak tanggung jawab." kata Naya.
Ida mengangguk tanda setuju, kemudian wanita itupun memutuskan untuk beristirahat dan mengucapkan terima kasih kepada Naya. Sepertinya ia sangat lelah.
Naya sangat bersyukur, ia sekarang sudah memiliki seorang teman di rumahnya. Walaupun Naya bukan orang yang penakut, tetapi tetap saja memiliki seorang teman di rumahnya, akan jauh lebih baik daripada tinggal sendirian saja. Selain itu ia bisa menjaga diri dari hal yang tidak diinginkan.
Naya sempat ragu melihat penghuni baru dari kamar kosnya, ia menilai bahwa Ida bukanlah wanita biasa saja. Dari pakaian, perhiasan dan barang-barang yang dibawanya ia terlihat seperti seorang wanita yang mapan dan juga berada. Naya tidak bertanya tentang urusan pribadi Ida, dengan mempertanyakan hal seperti, kenapa dia harus tinggal di tempat kosnya, apakah mungkin dia hanya bekerja sementara atau pegawai kontrak seperti Rama?
Naya tidak berprasangka buruk karena prasangka buruk itu memang buruk dan prasangka baik akan selalu baik. Dimanapun yang namanya suuzdon (berprasangka buruk) dan khusnudzon (berprasangka baik) akan selalu berbeda. Prasangka buruk akan membawa perasaan yang suram, sedangkan prasangka baik akan membawa perasaan tenang.
Hingga malampun tiba, Naya sempat terbangun mendengar suara yang asing baginya ada diluar kamarnya. Dengan mata yang masih mengantuk karena baru terbangun dari tidur, Naya membuka pintunya perlahan untuk melihat apa yang terjadi. Naya sempat heran sejenak melihat Ida sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Dari caranya berbicara, Ida terkesan akrab, bahkan intim. Wanita itu berbicara sambil berjalan mondar-mandir antara ruang tamu dan kamarnya.
Naya melihat jam dinding yang ada di kamarnya dan ia mengerutkan alisnya.
'Ya Allah, ini sudah hampir tengah malam tapi Ida masih melakukan panggilan'
Namun karena mengantuk Naya melanjutkan tidurnya, besok pagi-pagi sekali ia harus segera memulai aktivitasnya seperti biasa.
-
Naya bertemu dengan Rama ketika Rama sedang makan siang di kantin kantornya. Waktu yang mereka gunakan untuk berbicara tidak banyak, yaitu selama Rama menunggu pesanannya saja, saat itu suasana di kantin sangat Ramai ssperti biasanya.
Naya hanya berkata, " Rama, sekarang aku sudah punya teman lo, ada yang menyewa kamarku. Terima kasih ya, semua karena bantuanmu. Alhamdulillah, jadi aku punya teman sekarang."
Rama menatap Naya sekilas, lalu melihat makanannya sambil berkata, "Oh ya, siapa dia cantik nggak?"
Naya menghela nafas dalam mendengar pertanyaan Rama. Dan menjawabnya jujur, "cantik, cantik banget."
Naya memberikan minuman yang dipesan Rama sambil berkata, "gak usah maksa kan diri kalau sibuk, enggak usah ke sana juga enggak apa-apa. Apalagi cuma mau tahu orangnya cantik apa nggak." jawab Naya ketus dan cemberut.
Melihat Naya cemberut Rama tertawa lalu meninggalkan Naya dan menikmati makanannya, bersama dengan teman - temannya dalam satu meja.
"gua, cewek itu, siapanya elo? Kayaknya lo akrab banget sama tuh cewek" kata salah satu teman Rama.
"Heh, awas ya kalo lo pada godain dia. Dia itu janda gebetan gue.. Tau gak lo!" jawab Rama tenang.
"Cih, mana gue tau. Itu urusan elo! Lagian ngapain hari gini lo mau macarin janda. He, Rama.. buka mata lo, yang belum kawin aja bejibun!"
"Emang perasaan orang bisa diatur-atur, gitu? Enak aja lo ngatur perasaan gua. Nah gua demennya ama dia mau apa lo, ha?"
Mereka semua yang berada dalam satu meja itu tertawa sambil menikmati makanannya.
"Lo mau gak taruhan, Rama bisa gak dapetin tuh cewek?" kata salah satu teman Rama yang lain.
"Buat apa maen taruhan segala. Dia gak mau cari suami lagi, apalagi pacar. Pusing gue juga. Padahal gue tuh udah lama gak pernah suka sama cewek, giliran sekarang ada cewek yang gue suka, eh, dianya gak suka sama gue!"
"Huu...!" terdengar suara riuh dari beberapa laki-laki dalam satu meja itu, mereka berseru dengan keras.
"Cinta bertepuk sebelah tangan nih ye? Sakit nya tuh di sini, kasian...makan ati lo, Ram!" kata teman Rama sambil menunjuk dadanya.
"Bukan cuma makan ati, jantung sama ampelanya juga udah gua abisin!"
"Hahaha.." terdengar suara tawa yang keras lagi dari beberapa pria itu.
__ADS_1
"Lo pada nertawain teman sendiri, kacau! tertawa diatas penolakan cinta gue, lo?" kata Rama kesal ia segera beranjak pergi. Menyesal sudah bicara penjang lebar pada teman-temannya, "gue cabut dulu!"
"Eh, Rama marah, tuh. elo si!" kata temannya yang lain.
"Biarin. Anggap aja kentut."
"Hahaha...!" kembali terdengar suara riuh tawa. Tapi semua yang ada di sekitar tidak begitu perduli karena candaan dan tertawa sudah sangat biasa terdengar saat makan siang seperti ini.
Rama menyukai Naya sejak perjumpaan mereka di kereta. Ssat melihat Naya menangis begitu kereta mulai berjalan, seperti membangkitkan keinginan melindungi dan menyayanginya. Apalagi setelah melihat wajah Naya yang begitu menyejukkan mata, membuat ia semakin jatuh cinta. Ia tidak tahu apakah ini cinta karena ***** atau bukan. Yang ia tahu perasaan berbeda itu muncul begitu saja setelah sekian lama.
Tapi ia tidak menyangka kalau ternyata Naya adalah wanita yang berpisah dari suaminya dan ia tidak tahu mengapa Naya menjadi tidak ingin menikah lagi, bahkan terkesan sangat menjaga diri dari laki-laki. Hingga sampai saat ini Rama tetap menjaga perasaannya dan tidak memaksakan kehendaknya. Ia menghargai Naya apa adanya. Menjadi teman dan bisa menolong Naya itu sudah cukup baginya. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tidak egois bukan?
"Cinta seorang laki-laki itu akan hilang separuhnya jika ia sudah berhasil memiliki wanita yang disukainya. Itu fakta, berdasarkan penelitian seorang ahli rumah tangga luar negeri sana," kata Naya suatu ketika saat mereka mengobrol.
"Ahk, aku akan mempertahankan cintaku tetap utuh kalau aku ketemu sama wanita pilihanku." sahut Rama.
"Aamiin," jawab Naya, sambil tersenyum, "biasanya Kalau perempuan begitu, mereka cenderung merawat dan mempertahankan cinta mereka."
"Tapi biasanya juga, laki-laki akan lebih pandai untuk mengabaikan kekurangan pasangan dari pada wanita yang selalu melihat kekurangan dari pasangannya."
Itulah sedikit dari Perbedaan rasa cinta pada pria dan wanita. Intinya Allah menciptakan manusia untuk saling melengkapi. Allah melebihkan segolongan manusia untuk menutupi kekurangan manusia lainnya.
"Eh, sudah pernah pengalaman ya. Katanya belum menikah?"
"Dulu pernah pengalaman pacaran, haha."
"He, pacaran itu tidak boleh."
"Iya, sekarang aku sudah tau. Makanya aku mau langsung nikah sama kamu."
"Cari wanita yang lebih baik dari aku. Aku belum siap untuk itu."
'Dan gak akan pernah siap'
-
Hari sudah menjelang sore ketika Naya menunggu angkutan umum yang akan membawanya ke pasar, Naya berniat belanja hari ini sepulang kerja. Saat ia berdiri di trotoar, ia mendengar suara tangisan anak kecil tidak jauh dari tempatnya berdiri, Naya menoleh kearah lahan parkir depan gedung kantor tempat Naya bekerja.
Naya hendak melangkah memastikan suara yang didengarnya adalah suara manusia atau mungkin saja seseorang yang membutuhkan pertolongan. Sampai di sana, Naya melihat seorang anak kecil yang tengah berjongkok sambil menangis ia tengah merajuk. Ada kedua orang tuanya di sana tengah membujuknya. Saat itu wajah keluarga kecil itu tidak terlihat karena mereka dalam posisi membelakangi Naya.
Deg. Jantung Naya berdegup lebih kencang ketika ia melihat seorang anak yang ia kenal selama ini dan tak disengaja selalu melintasi pikiran Naya.
'Yoni? Kenapa anak itu mirip Yoni? Kalau memang benar itu Yoni dan pak Ares, berarti pak Ares sudah menikah. Alhamdulillah. Tapi kenapa dia ada di sini. Apa kantor ini juga kantor barunya?'
Naya kembali ketempatnya semula, berdiri sebentar dan menghentikan angkutan umum yang Kebetulan melintas. Ia membawa semua rasa penasaran bersamanya ke pasar.
Sementara seseorang melihat sekelebat bayangan Naya dengan alis berkerut tajam dari jendela kaca mobilnya. Naya baru saja masuk kedalam angkutan umum itu ketika pria dibalik kemudi itu melihatnya.
"Jadilah anak baik kalau kau mau bertemu dengan tantemu yang dulu!" kata laki-laki itu pada anak kecil yang duduk dibelakangnya.
"Siapa maksudmu?" kata seorang wanita cantik yang duduk disampingnya.
"Kau tidak perlu tahu!"
__ADS_1