
Naya berjalan ke pasar tradisional yang sering ia datangi, ia membeli perlengkapan untuk membungkus barang-barang, seperti koran bekas dan kantung plastik untuk membungkua barang.
Ia juga berinisiatif menitipkan beberapa barang yang sudah ia lukis dengan indah ke beberapa toko yang kemungkinan bisa menjual barang dagangannya.
Ia tidak berharap banyak, hanya berpikir untuk mendapatkan beberapa peluang saja. Barang dagangan bibinya yang ditinggalkan cukup banyak. Ia hanya ingin barang-baranng itu berguna, tidak rusak begitu saja.
"Lukisannya memang beda sih, mbak. Tapi barang yang lain juga banyak yang model dan bentuknya sama." kata salah satu pemilik toko souvenir yang tersebar di beberapa tempat. Toko di dekat pasar ini menjadi pilihan Naya.
"Gak apa mas. Ini kan cuma nitip. Ada yang beli syukur, gak ya sudah." kata Naya.
Hari ini akhir pekan yang kesekian kalinya bagi Naya menitipkan beberapa barang dagangannya. Tapi belum menuai hasil. Ia mengambil barang lama dan menyimpan barang baru. Begitu seterusnya.
Naya sedang menyusun beberapa kendi air di etalase, bersama pemilik toko ketika terdengar suara ramai di luar toko.
"Ada apa ya ko rame?" tanya Naya.
"Namanya juga pasar, mbak. Ya rame lah." jawab pemilik toko.
Saat itu terlihat seorang wanita yang tengah dikerumuni beberapa wanita lain yang begitu emosi dan tampak mereka berkata kasar dan melakukan kekerasan, memukul, menjambak rambutnya dan menendang dengan sangat keras.
Wanita yang berada di tengah kerumunan itu hanya bisa menangis sambil melindungi wajahnya dari amukan wanita lainnya.
"Saya bukan pelakor!!" teriak wanita itu berulang-ulang membela diri. Tapi percuma saja.
"Bohong! Kamu menggoda suami saya!!" kata wanita lainnya.
"Ampuni saya, bu.. saya tidak tahu kalau laki-laki itu suami ibu..huu.." kata perempuan itu sambil menangis.
"Dasar, kamu pelakor! Tau rasa kamu ya!' kata salah satu wanita dan, plakk! Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Bertubi-tubi beberapa orang itu memukuli wanita yang ada ditengah.
" Maaf, ampun! saya tidak tahu..!!"
"Bohong kalau tidak tahu!!"
Sementara ramai orang lain hanya menyaksikan dan menjadi kan semua itu sebagai tontonan. Bahkan ada yang membuat videonya! Maasyaallah.
" Ayo. Telanjangi saja!"
"Iyaa, telanjangi dia di sini. Biar kapok!'
"Pelakor gak akan kapok kalo gak mati!" seorang berteriak sambil menendang.
Naya terus menghampiri kerumunan itu, dengan rasa gelisah, juga takut. Tapi kedzoliman ini tidak bisa ia biarkan. Ia berjalan awalnya ragu, tapi setelah mendengar kata 'telanjangi' maka naluri kemanusiaannya muncul. Diperlihatkan aurot wanita secara paksa adalah sebuah aib diatas aib. Allah sebagai pemilik manusia saja meminta untuk menutup nya, bagaimana mungkin seorang manusia lainnya memaksa menelanjanginya?
"Ayoo!!" kata yang lain hingga terdengar suara, breek! Suara kain yang koyak.
"Jangaan!!!" teriak Naya sambil membungkuk melindungi wanita malang itu dengan tubuhnya.
Wanita yang lain panik langsung menarik tubuh Naya, lalu berteriak, "Kamu temannya, ya??!!"
"Wah, dia pasti pelakor juga!!"
"Bukan, saya bukan temannya!! Ibu-ibu, gak boleh seperti ini. Ini bukan tradisi negara kita!" kata Naya sambil tetap berusaha menutupi tubuh wanita yang meringkuk di sisi jalan.
"Haalllaa...kamu ngapain belain dia kalau bukan temannya!!"
"'Iya nih, pelakor juga kamu ya!!"
Para wanita itu terlihat lebih emosi, ketika Naya hanya diam tidak menggubris kata-kata kasar mereka dan memberikan baju cadangan yang selalu ia bawa dalam tasnya kepada wanita malang itu.
"Ni, mbak. Pake saja." kata Naya sambil menghalau pukulan demi pukulan. Pakaian wanita yang dituduh pelakor itu sudah koyak memperlihatkan aurat bagaian dadanya. Beberapa pria yang menonton semakin bersemangat tanpa ada yang berani menolong dari amukan ibu-ibu seperjuangan itu.
Tiba-tiba datang seorang ibu yang membawa sebuah bungkusan ditangannya dan melemparkan isinya pada Naya dan wanita malang itu, sambil berteriak,
"Nih, makan. Pelakor!!!"
Dan, byuurr!!!
Cairan yang terdiri dari minyak, telur, cuka dan cairan lainnya semua mengenai Naya dan juga wanita itu. Seketika baju pakaian dan wajah dua wanita itu dipenuhi cairan berbau tidak sedap itu.
"Berhenti!!" terdengar suara yang membuat suasana hening dalam sekejab.
__ADS_1
Seketika suara teriakan, tangisan dan makian kasar serta tingkah ibu-ibu yang emosi, terhenti karena suara keras dan berwibawa di belakang mereka. Semua perhatian kini tertuju pada seorang laki-laki bertubuh tunggi dan tegap dengan pakaian rapi, yang biasa dipakai pegawai kantoran. Wajahnya bersih dan tampan dengan rambut di sisir rapi kebelakang.
"Hentikan perbuatan kalian! Bubar!!" kata laki-laki itu mendorong beberapa wanita dengan sopan agar semua menyingkir dan ia bisa melihat dua wanita yang tidak berdaya dihadapannya.
'Ya Allaahh...kenapa dia bisa ada di sini, dan sekarang kondisiku...maasyaallah'
"Naya?!" kata Ares melihat wanita yang terjebak dalam kerumunan itu adalah Naya.
'Iya, aku Naya. Kenapa?'
"Pak Ares?" jawab Naya kikuk. Ia benar-benar malu semalu malunya. Ingin lari kelubang semut, kalau bisa.
Bayangin deh, dituduh pelakor, mak! Terus ketemu sama orang yang dihindari karena pengalaman masa lalu yang tidak enak, setiap ketemu selalu dalam keadaan yang menyedihkan. Tapi dia selalu jadi Iron man seperti di film Marvel. Ahk.. Naya.
"Kalian ini, komplotan pelakor ya! Lihat tuh para pelakor!!" kata seorang ibu sambil melemparkan sandalnya yang berhak tinggi tapi, happ!
Sandal itu ditangkap Ares tepat waktu hingga tidak sampai mengenai Naya. Padahal Naya sudah membungkukkan badannya paarah bila sandal itu mengenainya.
"Ada apa ini, ada apa ini...!" teriak seorang polisi.
Kini kerumunan itu bubar, karena beberapa pihak keamanan sudah datang, wanita itu dan beberapa ibu-ibu seperjuangan anti pelakor di giring ke pos penjaga menunggu penanganan selanjutnya. Apakah mereka akan melanjutkan ke pengadilan melalui jalur hukum, atau diselesaikan secara kekeluargaan.
Wanita yang malang itu menjelaskan kronologi kejadian bahwa ia memang berhubungan dengan seorang laki-laki yang mengaku bujangan, ia tidak tahu kalau ternyata ia adalah laki-laki bersuami. Hingga kemudian hubungannya diketahui pihak istrinya lalu secara tidak sengaja mereka bertemu di pasar itu dan terjadilah insiden penyerangan itu. Perempuan itu berterimakasih pada Naya yang meminjamkan baju padanya hingga ia tidak malu, aurotnya terbuka.
Tidak lama, seorang laki-laki yang menjadi inti persoalanpun didatangkan. Keributan terjadi lagi, tapi tidak lama. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan perdamaian demi dunia pernikahan mereka tetap berjalan sesuai yang diharapkan.
Kadang semua berawal dari mata yang tidak terjaga, hati yang tidak mengira-ngira, hingga kata terlanjur cinta menjadi alasan perbuatan dosa.
"Selamat ya, kamu jadi pahlawan!" kata Ares begitu keluar dari pos keamanan, mereka dihadirkan di sana hanya sebagai saksi.
Naya tersenyum lalu beranjak meninggalkan Ares yang masih bicara. Ia merasa harus mengganti pakaiannya. Ia akan kembali ke pasar, membeli pakaian lalu mengambil barang yang ia tinggal di toko perabot rumah tangga tadi.
"Eeiit, kamu mau kemana?" kata Ares sambil menghadang langkah Naya dengan merentangkan tangannya. Ia menatap Naya dengan wajah ditekuk.
Ia ingat beberapa pesan Naya malam itu yang secara terus terang mengatakan tidak ingin bertemu dengan dirinya, karena malu. Semua pesannya sudah ia hapus, tapi kata-kata Naya masih ada dalam ingatannya. Apalagi saat ini ketika ia melihat Naya dengan pakaian yang kotor dan bau.
Naya malas menanggapi, ia mengambil jalan lain sambil berkata, "Mau ngambil barang saya, tadi ketinggalan."
Naya mengerutkan alisnya, lalu berkata, "Iyaa.. kalau bapak sudah tau ya sudah, jangan dekat-dekat sama saya."
"Kalau saya mau dekat sama kamu. Kamu mau lari?" kembali menatap Naya lekat.
Naya tidak menjawab, ia hanya berjalan memutar menghindari Ares.Namun belum juga satu langkah Naya berjalan, terdengar suara menyadarkannya,
"Memangnya kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu!" Ares berkata tegas, "ayo saya antar!"
Naya melihat lagi dirinya hingga ke ujung sepatunya koror dan bau. Ia berpikir tidak mungkin ia berjalan sampai ke pasar dan mengambil barang lalu pulang dalam keadaan seperti ini. Maka kalau ada orang yang meu mengantarnya itu jauh lebih baik.
'Tidak...aku bukan pelakor. Aku harus bagaimana ya Allah'
Menolak bantuan akan merepotkan, menerima bantuan takut ada yang menuduhnya pelakor seperti wanita itu.
"Gak usah, pak. Nanti ada yang cemburu. Saya dituduh pelakor lagi."
Tiba-tiba Ares tertawa keras, ia tahu siapa yang dimaksud Naya akan cemburu.
"Kamu pikir siapa yang cemburu sama kamu. Ayo, sini..." kata Ares sambil melangkah mwndekati mobilnya yang ia parkir tak jauh dari kejadian.
Ares hendak survey bulanan harga-harga matrial konstruksi, ke beberapa lokasi, ketika ia melihat kerumunan yang membuat hatinya miris, ia tidak tahu kalau yang menjadi korban pengeroyokan itu adalah Naya. Ia hanya tergerak saja untuk menolong mereka hingga ia berinisiatif menghubungi polisi lalu mendekati kerumunan itu.
Naya mengikuti dengan ragu, menatap mobil dan Ares secara bergantian.
"Masuk! Aku jamin aman. Gak ada pelakor!" kata Ares berkelakar.
'Aku yang dituduh jadi pelakornya!'
Sebelum duduk di mobil, Naya melapisi kursinya dengan tissu dari tasnya. Ia khawatir kursinya kotor dan bau. Tape menurut Ares, Naya berlebihan. Semua kan bisa di cuci. Gitu saja kok repot.
Naya menunjukkan sebuah toko tempat ia meninggalkan barangnya. Ares yang turun untuk mengambilnya. Lalu Naya meminta berhenti di sebuah toko baju yang terdekat. Ares mengikuti kemauannya tapi kemudian ia menghentikan mobilnya dan berkata,
"Kamu mau beli baju?"
__ADS_1
"Iya. Gak enak ini lengket semua."
"Mau ganti baju tapi gak mandi?"
"Ya mau mandi di mana di pasar. Yang penting ganti."
"Rumah kamu masih jauh dari sini?"
"Masih, bapak gak usah nganter saya sampe rumah." Naya tidak ingin Ares tahu dimana tempat tinggalnya.
"Kenapa? Kamu takut aku tahu rumah kamu, terus aku datang melamar kamu, gitu?"
Deg. Jantung Naya berdebar.
'Apa dia sudah tahu aku janda? Astaghfirullah...astaggirullah
"Itu..."
"Tenang, aku gak buru-buru kalau mau melamar. Tunggu kamu siap dulu jadi istriku."
Duaar!! Naya merasa seperti mendengar suara petir di siang hari.
'Aku gak mau jadi pelakor. Waktu pertama nikah jadi istri pertama dan nanti kalau nikah sama pak Ares jadi istri kedua? Aku gak mau ya Allah'
"Pak, saya turun si aini saja." kata Naya ketika ia mendengar kata-kata sakral itu, melamar!
"Kamu sudah makan siang?" kata Ares tenang, seolah ia tidak merasa sudah menjatuhkan sebuah bom.
Naya tidak menjawab. Lidahnya kelu. Laki-laki itu sangat dominan kali ini. Ia mengunci pintunya otomatis dari kemudi, hingga Naya tidak bisa kabur bahkan ketika mobil ia jalankan kembali, menuju kesebuah area yang asing baginya. Itu lingkungan apartemen biasa.
"Aku tinggal di sini. Biar kamu tau rumahku dulu," Ares berkata sambil membukakan pintu untuk Naya dan berjalan menuju lift. Hanya ada mereka berdua disana. Mereka hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga bunyi lift terdengar dan pintu lift terbuka.
Ares membuka pintu apartemen, kini mereka berdua ada di dalam sebuah ruang yang cukup luas dengan dua kamar yang berukuran sedang, dilengkapi sebuah ruang keluarga, dapur dan dua kamar mandi.
Ares meminta Naya memilih sendiri pakaiannya. Dengan berkata, "Sini, masuk. Pilih sendiri bajunya." menunjukkan sebuah kamar.
"Tante Naya!" kata sebuah suara dari atas tempat tidur. Raya segera bangkit dan hendak menghampiri Naya, ketika ia mencium bau yang tidak enak dari Naya.
Naya tersenyum dan berkata, "Assalamu'alaikum Raya, apa kabar?"
"Bau apa ini tante! Ih...!" kata Raya segera bergegas menuju lemari besarnya dan memberi Naya beberapa potong pakaian.
Naya bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri sebersih-bersihnya lalu mengganti pakaian. Ia masih mengeringkan rambutnya ketika Raya masuk dan menutup pintu kamarnya.
"Jadi...Seperti itu?" kata Raya sambil terswnyum
"Apa nya? Pasti papa sudah cerita, ya?"
"Sudah. Tadi sebelum pergi."
"Oh. Terimakasih ya sudah pinjemin tante baju lagi..."
"Buat tante saja. Di sini gak ada yang pakai."
"Kalo gitu, tante pulang saja ya? Sebentar lagi sore."
"Tante di sini saja, papa gak ada, Yoni gak ada. Raya sendiri."
"Tapi keburu sore."
"Tunggu papa saja biar nanti diantar sama papa, biasanya papa pulang bawa Yoni juga. Biar Yoni ketemu sama tante lagi."
Raya menjelaskan kalau Yoni selalu dititipkan di rumah neneknya, sebab papa sangat sibuk, harus bekerja dua kali lipat karena membantu tante Caca.
Raya bercerita kalau tante Caca masih mengerjakan desertasi untuk gelar strata duanya. Wanita itu adalah adik dari mamanya yang meminta bantuan pada Ares karena penelitiannya berhubungan dengan konstruksi dan bangunan. Raya tidak begitu menyukainya karena menurutnya, wanita itu terlalu menja pada papanya. Raya sempat berpikir kalau Caca berniat menggoda Ares dan menjadi pengganti kakak perempuannya yang sudah tiada enam tahun yang lalu.
Mereka berdua mengobrol sambil makan, saat ponsel Naya berdering. Ia tidak sadar kalau tas nya juga terkena kotoran. Hingga ia berniat mindahkan semu barang bawaannya ke dalam kantung keresek saja.
"Tante, ini apa? Ini bunga kenanga, kan? Tante suka sama bunga ini? Kenapa tante bawa-bawa di tas, tante?"
"Eh, kalo tanya satu-satu. Tante bingung jawabnya."
__ADS_1
Tiba-tiba Raya menangis sambil memeluk Naya erat.