Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 86. Dia Ibu Raya Dan Yoni


__ADS_3

Naya berada di mushola kantor, setelah selesai bekerja. Ia senang bekerja dengan Bu Min di sana, karena bu Min, sama baiknya dengan bu Nha, wanita itu sangat peduli pada Naya. Ketika ia tahu bahwa Naya akan menengok orang yang sakit, ia membawakan beberapa makanan sebagai oleh-oleh untuk dibawa.


Naya sudah menyelesaikan salat ashar terlebih dahulu, sebelum ia mengunjungi Rasti yang sedang sakit, ia menelepon Dinda untuk memastikan bahwa Rasti berada di rumahnya. Saat itu, Naya menangkap sesuatu yang aneh dari nada bicara Dinda, yang terkesan seperti membatasi diri, tidak terlihat seceria dulu lagi.


'ada apa sebenarnya ini? Apa sakitnya tante sangat mengkhawatirkan?'


Naya mencoba menenangkan diri dengan bermunajat pada Allah, banyak berdzikir menyebut nama-Nya, dan mengucap "la haula wala quwwata illa Billah" kalimat itu adalah kalimat hiburan untuknya, karena memang tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini kecuali atas kehendak-Nya.


Ketika keluar dari mushola, Naya melihat sekelebat bayangan dari Ares yang memasuki mushola di sisi pintu bagian pria. Kalau memang benar itu adalah Ares, maka ia ingin menanyakan sesuatu tentang penyakit Rasti, tapi ternyata siluet bayangan itu sudah hilang.


Naya pun mengurungkan niatnya untuk mencari Ares, lalu ia pergi untuk mencari tumpangan menuju ke rumah Rasti.


Di sisi yang lain Ares menatap kepergian Naya dengan menghela napas dalam. Ia tampak lega karena berhasil menghindarinya. Ia khawatir kalau Naya akan kembali bersedih bila melihat dirinya, hingga ia berpikir lebih baik dirinya yang menghindari bertemu dengan Naya.


Sampai di rumah Dinda, rumah besar itu terlihat lengang, karena Dinda masih belum pulang dari pekerjaannya. Hanya ada asisten rumah tangga yang mengantarkan Naya, ke kamar Rasti.


Naya melihat wanita setengah baya itu tengah berbaring lemah, di tempat tidur. Ia ditemani suaminya, Hendra, yang duduk di kursi roda di sebelahnya. Sskitnya tidak parah, hanya tensi darahnya yang meningkat disertai masuk angin, membuat wanita itu butuh istirahat lebih banyak.


"Apa kabar Om, Tante?" kata Naya menyapa mereka, setelah mengucapkan salam. Ia masuk sambil menyimpan kotak makanan di meja yang ada di sana.


"Oh, Naya. Ayo sini duduk." jawab Rasti dengan suaranya yang lemah. Naya pun duduk sambil menjabat tangannya, dan memeluknya.


"Om, baik-baik saja." kata Hendra sambil menggerakkan kursi roda otomatis itu dengan tangannya.


"Aku keluar dulu, kan ada Naya di sini. Naya temani mamamu ya?" kata Hendra lagi, ketika sudah di luar pintu kamar.


Naya mengangguk dan kembali tersenyum pada Rasti, ia berkata, "tante maafkan aku ya, baru nengok sekarang. Soalnya aku enggak tahu sih, kalau Tante sakit."


"Hus, kamu ini ngomong apa, kan sudah mama bilang, jangan panggil tante, panggil mama saja."


"Iya, ma. Maaf."


"Aku sengaja kok, pesan sama anak-anak, jangan bilang siapa-siapa kalau aku sakit, aku nggak pengen ngerepotin orang."


"Mama, seharusnya Mama tidak perlu merasa merepotkan, karena orang yang menengok orang sakit itu justru akan dapat pahala, dan bisa saling mendoakan. Bukankah berdoa juga ibadah? Bahkan kalau menengok orang sakit sama seperti melihat wajah Allah? Jadi kalau mama tidak mau di tengok, sama saja mama tidak mau didoakan kesembuhannya."


"Apa iya begitu? Alhamdulillah sekarang sudah mendingan. Kamu tahu dari siapa mama sakit?"


"Naya tahu dari Rama, kalau Rama nggak bilang, mungkin Naya nggak bisa ngelihat mama, maaf... oh ya ma, Yoni ada di sini nggak?" kata Naya.


"Ada, tadi masih tidur. Kalau papanya sibuk ya dia pasti dititipkan di sini, tapi kalau nggak sibuk Yoni dibawa ke kantor."


'Oh jadi masih sama seperti dulu ya'


"Alhamdulillah, sekarang papanya Yoni nggak harus pindah-pindah kerja." kata Naya sambil memijit kaki Rasti.


"Oh, itu juga kerena Ares dipaksa sama papanya, disuruh kerja di perusahaan temannya, kalau enggak gitu, nanti Yoni gimana sekolahnya, sekarang aja Yoni masih susah mau nyari sekolahan yang cocok sama dia. Mama sudah tua, sudah gak sanggup ikut kerja kesana kemari." kata Rasti berkeluh kesah.


"Mama, maaf, aku gak bisa membantu, cuma bisa mendo'akan yang terbaik buat kita semua." sahut Naya.


"Naya... apa kamu _ _ " kalimat Rasti terjeda karena mereka mendengar suara Yoni yang menangis dari dalam kamarnya.


"Ma, itu suara Yoni. Dia sudah bangun ma, di sebelah mana kamarnya?"

__ADS_1


"Di kamar Ares, sebelah kamar Dinda." jawab Rasti, wanita itu tampak memejamkan matanya kembali.


Naya segera menuju ke kamar yang ditunjukkan oleh Rasti. Ia melihat pintu kamar yang terbuka, kamar itu itu dicat dengan warna yang berbeda dari ruangan lainnya, kamar itu dicat biru muda yang terkesan maskulin. Perabot yang ada di dalam kamar juga terkesan manly, seperti sengaja dirancang sedemikian rupa oleh pemiliknya. Naya melihat Yoni terbaring di tempat tidurnya sambil menggosok-gosok mata dengan kedua tangannya. Naya merasa sedikit leluasa karena berpikir kalau si pemilik kamar belum pulang.


"Assalamualaikum..., halo sayang apa kabar? baru bangun tidur ya?" kata Naya sambil memeluk Yoni. Anak kecil itu membelalakkan matanya dan tersenyum, kemudian melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Naya.


"Yoni udah bangun, kok. Yoni gak tau ada Umma. Yoni tidulnya lama jadi gak tau Yoni kalau ada umma." kata Yuni dengan suara khas anak kecil, dan celotehan lucunya itu membuat Naya tertawa, ia gemas melihat gaya polos Yoni hingga ia mencubit pipi gembil nya.


'Ya Allah, bisakah aku menjadi ibu bagi anak ini tanpa harus menjadi istri dari papanya'


Naya dan Yoni bermain bersama di kamar itu beberapa saat lamanya, hingga Yoni ingin minum. Naya pun menggendong nya untuk turun bersama kebawah. Saat itu ia melihat liontin yang tergeletak di atas meja kecil. Naya mengambilnya dan berniat memakaikan kalung itu kembali di leher Yoni. Yoni membuka bandul liontin miliknya, dan memperlihatkan pada Naya sebuah wajah yang manis berkerudung putih, dan wajah manis lainnya.


Anak kecil itu berkata, "Ini, Mama ini Yoni."


Liontin itu berbentuk hati yang terbelah, disebelah ada gambar Yoni dan ada gambar mamanya dibelahan yang lain.


Naya mengerutkan alis merasa ia pernah melihat wajah wanita yang diakui Yoni sebagai mamanya tapi siapa, ia kemudian mengingat bahwa Ares pernah menyebutkan namanya adalah Nindy.


'Nindy, ya namanya Nindy, apakah ini Nindy yang sama yang pernah aku kenal, apa dia Nindy yang pernah mengambilkan bunga kenanga sampai tasku penuh, sampai dia jatuh waktu itu?'


Itu adalah wajah yang pernah terlintas di benak Naya. Ia pernah mengenal seorang anak remaja yang sama-sama menyukai bunga kenanga. Walaupun dalam foto itu terlihat berbeda, tapi ia ingat cara berkerudung wanita itu yang sedikit unik. Nindy senang memakai kerudung segi empat yang dibentuk lancip di bagian keningnya.


Dulu, Naya masih sama-sama remaja, dan ia hanya beberapa kali saja bertemu dengan Nindy dalam acara tabligh akbar di Masjid Jami di Desa tetangga.


Kejadian yang berkesan adalah saat mereka bersama hendak mengambil beberapa bunga kenanga yang tumbuh dihalaman masjid Jami, karena dahan yang tinggi membuat Naya sulit meraihnya. Usia mereka tidak terpaut terlalu jauh, usia Nindy lebih tua beberapa tahun dari Naya. Nindy yang mempunyai tubuh lebih tinggi mengambilkan bunga untuk Naya, dengan cara meloncat, hingga kemudian ia terjatuh, walaupun begitu, ia berhasil mengambil bunga yang sangat banyak untuk Naya, dan memenuhi isi tasnya.


Naya menghela nafas dalam setelah mengusir lamunannya.


"Wah cantik sekali mamamu, sama, Yoni juga cantik sekali." Saat berkata demikian, mereka sudah ada di tangga.


Naya mendekat dan memberi salam padanya, dan kemudian Rasti pun mengenalkan Naya pada wanita yang bernama Mala. Hingga pertanyaan seputar Naya pun keluar dari bibir wanita itu dan Naya hanya menjelaskan sedikit tentang asal-usul dan juga sekelumit tentang keadaannya sekarang.


"Oh, kamu ini anak Dasima, istrinya pak Budiman?" wanita itu bertanya pada Naya, dan Naya menjawab dengan anggukan kepala, sambil mengusap-usap tangan Yoni yang ada dalam pangkuannya.


"Sekarang dimana ayah dan ibumu? Pantas saja kamu mirip sama Dashima."


"Bu, Mala kenal dengan ayah dan ibu saya?"


"Ya, kenal soalnya dulu aku sama ibumu suka jadi panitia kalau ada pengajian, tabligh akbar di kecamatan."


"Oh." Naya akhirnya menjelaskan kalau mereka sudah lama pindah di Pesisir Barat, kota Hujan, sekarang ibunya sudah meninggal dan ayahnya sudah menikah dengan perempuan lain, dan menetap di sana.


"Kalau begitu kita senasib ya, kamu kehilangan ibumu dan aku kehilangan anakku." kata Mala.


Rasti mengusap-usap punggung Mala. Mereka berdua saling pandang dan terlihat mata mereka berembun.


Mendengar ucapan Mala, Naya mengerutkan alis kemudian ia berkata, 'Oh maaf bu, saya juga turut bela sungkawa atas meninggalnya anak ibu."


"Gak apa, itu sudah lima tahun yang lalu, sudah lam. Oh iya. Kamu kenal Nindy? Itu anakku yang sudah meninggal, dulu dia juga suka ikut kalau tabligh akbar di kecamatan." kata Mala sambil mengusap-usap kepala Yoni.


Yoni diam saja, tidak tantrum seperti biasanya. Wanita itu terlihat dekat dan biasa dengan Yoni, tapi Yoni terkesan cuek pada wanita itu. Reaksi Yoni itu juga membuat Naya kembali mengerutkan keningnya.


'Apa. Apa itu Nindy yang aku kenal dulu? Dan ia sudah meninggal dan itu artinya... maasyaa Allah...'

__ADS_1


Merasa dunia begitu sempit, mempertemukan dirinya dengan takdir, yang seperti memutarnya dalam sebuah putaran, yang tidak pernah berakhir dan hanya kematian lah yang membuat takdir seseorang, tidak lagi berlaku pada dirinya, tapi tetap berlaku pada orang-orang yang masih hidup di sekitarnya.


Naya kemudian mengambil nafas panjang, bahkan ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh saat itu juga.


"Iya, bu saya kenal Nindy ... " menghembuskan nafas perlahan.


"Ah, aku tahu kamu pasti kenal anakku, dia itu ibunya Raya dan Yoni." kata Mala kemudian dan kedua wanita paruh baya itu saling berpelukan.


Deg. Pengakuan malah membuat jantung Naya yang tadi sudah berdebar, kini debaran jantungnya semakin kencang


'Maasyaa Allah... jadi benarkah?'


Naya bereaksi meluapkan emosinya, dengan memeluk Yoni erat, dan menciumi wajahnya sambil berurai air mata.


Rasti sebenarnya sudah menceritakan tentang Naya pada Mala, beberapa waktu yang lalu, tapi ketika Mala melihat bagaimana Naya memperlakukan Yoni, secara langsung, Ia pun tersenyum kemudian tersenyum pada Rasti.


Mala mengeluarkan sebuah dompet dari dalam saku gamisnya dan mengambil sebuah foto seorang wanita.


Ia pun berkata, "jaadi gimana jeng, kalau sekarang kita kenalkan Ares, sama perempuan ini, dia masih gadis, dia juga baik."


"Jeng Mala sudah tahu asal-usul, dan latar belakang gadis itu kan?" kata Rasti sambil melirik Naya.


Naya yang saat itu duduk di karpet diantara Rasti dan Mala, terlihat mengerutkan keningnya, dan mendongak pada kedua wanita paruh baya, yang ada ada di dekatnya.


'Apa? Jadi pak Ares masih terus dijodohkan sampai sekarang? Ya Allah... Apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin anak ini diurus oleh wanita lain. Aku ingin mengurus mereka, ya Allah..., tapi haruskah aku menjadi istrinya'


"Oh, kalau soal itu, percaya saja sama saya, jeng. Saya sudah ketemu langsung sama anaknya, saya nilai dia baik, lembut dan pantas jadi ibunya anak-anak," kata Mala sambil menepuk-nepuk tangan Rasti.


"Kalau begitu kapan kita janjian ketemu lagi, jeng. Bawa anak itu sekalian. Saya sudah cape ngurus Yoni." kata Rasti sambil mengusap air matanya yang tanpa terasa jatuh di pipinya.


"Ya, secepatnya jeng, mungkin semingguan lagi lah, saya ke sini bawa anak itu." kata Mala, sambil memasukkan foto wanita itu kembali ke dalam dompetnya.


Mendengar percakapan kedua wanita paruh baya itu, Naya beeusaha menenangkan debaran jantungnya. Ia menyimpan Yoni duduk di karpet bersama mainan dan makanannya. Ia kemudian melangkah keluar sambil mengambil ponsel dari tasnya, hendak menelpon seseorang.


Saat berada di luar kamar, ia melihat Ares berdiri di pintu rumah, ia baru saja pulang. Mereka sempat berdiri berhadapan, walaupun jarak mereka cukup jauh, tapi mereka sempat saling menatap sejenak. Kemudianlaki-laki itu berbalik menghindari Naya. Ingin sekali Naya waktu itu memanggilnya, atau menepuk bahu bidangnya, agar melihat ke arahnya.


Seketika itu juga saya sadar bahwa sikap Ares seperti ini adalah karena perkataannya, karena perbuatannya sendiri. Sehingga wajar apabila Ares menghindarinya. Ternyata melihat Ares pergi dengan cara seperti itu, terasa lebih menyakitkan dari saat ia bertemu dan seolah kembali ke masalalu.


'Ya Allah, kenapa ini, kenapa perasaanku seperti ini. Dinamakan apa perasaanku ini?'


Naya keluar rumah, dia memeriksa tempat dimana Ares menghilang, tapi ia tidak menemukan laki-laki itu. Ia hanya melihat Raya yang duduk di teras sambil melihat layar ponselnya. Gadis remaja itu melihat pada Naya sekilas, ia terlihat acuh, dan kembali sibuk dengan layar ponselnya.


Raya hanya menyapa Naya sekedarnya, dengan berkata, "assalamualaikum Tante Naya ."


Naya mengerutkan alisnya, ia heran juga kenapa Raya pun bersikap sama, seolah-olah menjauhinya.


"Raya, waalaikumsalam, apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik tante." Raya kembali memanggil Naya dengan sebutan tante. Naya menghampirinya mengusap-usap kepalanya.


Ia lalu mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Ares.


Naya

__ADS_1


"Pak, mau tahu dimana rumah orang tua saya?"


Bersambung


__ADS_2