Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 56. Biarkan Aku Pergi


__ADS_3

*jangan lupa like, vote dan rate ya*


"Naya!" kata Rudian sambil berjalan ke arah pintu kamar yang tertutup.


"Apa maksudmu bercerai? Kau harus menjaga bicaramu. Aku tidak akan menceraikanmu," kata Rudyan sambil mengetuk pintu berulang-ulang.


Rudian terlihat menyesal dengan apa yang tadi sudah ia lakukan karena terpengaruh oleh ucapan Yola.


Jangan mengecewakan orang yang menyerahkan seluruh hatinya untukmu sebab bila dia sudah pergi sekeras apapun kamu meminta dia tidak akan pernah kembali.


Naya tidak menjawab dia menangis di dalam kamar. Sambil menangis Ia berpikir, apakah keputusan yang ia ambil ini adalah jalan yang benar atau bukan. Sebenarnya dia masih ragu tetapi karena melihat dan merasakan sendiri perlakuan suaminya yang menurutnya tidak adil membuatnya ingin tetap pergi esok hari.


Hingga waktu berlalu, lama tidak terdengar suara ketukan lagi atau suara Rudian yang memanggil-manggil namanya atau mengatakan sesuatu sehingga Naya berpikir bahwa suaminya itu sudah tidur dengan istri barunya.


Naya bergegas menghampiri lemarinya kemudian membereskan beberapa pakaian dan juga peralatannya ke dalam sebuah koper.


Meski tekadnya kini sudah bulat untuk bercerai dari suaminya tapi ia masih tidak tahu ia harus pergi ke mana. Ia tidak mempunyai tempat tinggal lain selain rumah yang ditinggali dirinya dan Rudian.


Naya kembali menangis, menangisi keadaannya, menangisi dirinya, menangisi keputusannya, menangisi semuanya yang ia rasakan dan ia alami selama ini.


Begitu suara adzan Isya terdengar, Naya keluar dari kamarnya. Ia tidak menyangka kalau ternyata suaminya Rudian masih duduk di sofa seperti merenungi apa yang baru saja mereka alami.


"Kau mau salat Isya? Ayo kita berjamaah," kata Rudian mengajak Naya Sholat berjamaah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Tidak usah aku mau salat sendiri saja," katanya Naya sambil pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


"Yola ayo ke sini kamu, cepat salat berjamaah, keluar!" kata Rudian dengan kesal.


" Iya Iya. ini aku juga mau salat nggak usah teriak-teriak Kenapa sih, Berisik," kata Yola kesal. Ia langsung memakai alat salatnya karena merasa dia belum batal.


" Ayo cepet salat," kata Yola ketika dia sudah selesai menggunakan alat salatnya, tetapi Rudian tidak segera memulai salat karena menunggu Naya.


" Kenapa diam, memang Nunggu siapa?" Yola bertanya heran.


" Naya..." jawab Rudian tenang.


" Untuk apa menunggu wanita ****** itu? Tinggalkan saja dia," kata Yola bersungut-sungut.


"Jaga bicaramu, kau tidak pantas menuduh orang lain dengan sebutan kotor seperti itu. kau tahu bukan kekuatan kata-kata itu bisa berbalik pada dirimu sendiri maka perhatikan yang kamu ucapkan," kata Rudian, Iya sedikit kesal karena Naya tidak juga keluar dari tempatnya berwudhu.


"Aku tidak menuduh nya sembarangan, kan kita sudah melihat buktinya, dia pernah jalan dengan laki-laki lain?" kata Yola ketus.


"Kadang apa yang kita lihat, tidak seperti yang sesungguhnya terjadi" kata Rudian.


"Kenapa Abang masih membelanya? Padahal dia jelas-jelas jadi wanita yang tidak menurut pada suaminya," kata Yola lagi.


"Kamu juga selalu berprasangka buruk pada Naya. Kau kira itu baik?" kata Rudian lagi yang membuat Yola semakin panas karena merasa tidak lagi dibela.


" Abang ayo cepat salat jangan lagi menunggu wanita ****** itu!" Yola terlihat tidak sabar, hingga kemudian,


Plakk! Terdengar suara tamparan dipipi.


Naya menampar pipi Yola dengan keras, entah sejak kapan ia berada di sana dan mendengar semua yang Yola ucapkan tentang dirinya.


" Siapa yang kau sebut wanita ******? Bukannya itu dirimu sendiri, jelas-jelas kau menggoda suami orang!" kata Naya, ia menatap Yola dengan kesal.


"Kau tega menamparku? Padahal aku sedang hamil?" kata Yola sambil memegang pipinya.


Tapi tak lama, wanita itu menarik rambut Naya dan ahk...Naya terjatuh.


Bukk! ia terpeleset dilantai yang licin, karena panik, tangannya secara tak sengaja menggapai baju Yola dan,


Bukk!! Yola juga terjatuh menimpa tubuh Naya.


"Yola!" jerit Rudian.

__ADS_1


"Abang...! Sakit. Aduh!" pekik Yola sambil memegang perutnya. Rudian dengan cepat membantu Yola berdiri.


'Apa, apa yang terjadi aku tidak menyentuhnya ssecara sengaja. Kenapa dia bisa jatuh sekeras itu?'


"Naya! Kamu sengaja ya? Apa kamu iri karena aku hamil biar aku keguguran?!" kata Yola sambil menangis, menahan sakit dibagian perutnya.


" A, aku tidak menyentuhmu aku tidak melakukan apapun padamu, kau hanya jatuh diatas tubuhku. Itu tidak sakit, kenapa aku yang kau salahkan?"


"jelas-jelas kau yang salah kau yang menarik bajuku, kau juga lebih dulu menamparku." Yola kembali ketitik awal.


"Aku tidak akan menamparmu kalau mulutmu itu tidak bicara sembarangan," sahut Naya sambil bangkit sendiri.


" Aku tidak sembarangan, kau memang wanita ******," kata Yola tak mau kalah.


Hingga kemudian,


Plakk!


Terdengar lagi suara tamparan yang dilakukan oleh Naya di pipi Yola.


"Naya Apa yang kau lakukan?!" Rudian menjadi emosi dan menarik lengan Naya dengan sekuat tenaga, hingga Naya mendekat.


"Aku? aku sudah menamparnya. Apa yang akan Kanda lakukan. Apakah kanda mau membalas menamparku? Lakukan saja," kata Naya


"Kau? kau sudah melawanku?" kata Rudian kesal, ia bicara dengan nada rendah penuh penekanan.


"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Yola dan janinnya, apa kamu bisa menanggung resikonya?!"


"Aku tidak melawanmu, Nda. Aku hanya pasrah kalau kanda mau membalasku. dan Yola tidak apa-apa, kan?" kata Naya membela dirinya.


"Nay...aku pikir kau memang tidak bisa bersama dengan Yola, kalau begitu, aku pemenuhi keinginanmu, kita bercerai sekarang..." kata Rudian sambil melepaskan Cekalan tangannya pada Naya.


Mereka pergi ke kamar mereka masing-masing. Rudian menarik tangan Yola ke kamar mereka dan Naya melangkah gontai ke kamarnya sendiri.


Naya masuk dan menutup pintunya sambil menangis, ia menyadari bahwa dia sudah kehilangan suaminya mulai detik itu juga.


Naya benar-benar terluka, luka yang tidak berdarah. Ada beberapa luka di dunia ini yang salah satunya tidak akan bisa dirasakan kecuali oleh orang yang mengalaminya sendiri.


Disaat Naya sudah selesai melakukan salat Isya, ia kembali menangis menumpahkan semua keluh kesah dan isi hatinya dihadapan Allah. Ia menangis sampai akhirnya ia tertidur, dan terbangun dipagi harinya, ketika waktu subuh sudah hampir terlewat begitu saja.


-


Naya memutuskan untuk pergi, dia membereskan semua isi lemarinya, memasukkan semua pakaiannya kedalam koper dan juga semua alat-alat pribadinya ke dalam tasnya. Meski ia tidak tahu dia harus tinggal di mana tapi ia tetap saja membereskan semua barang-barangnya.


Dipagi hari itu Naya melakukan kegiatannya seperti biasanya. Ia membereskan rumah mencuci piring dan membuat sarapan untuk semua orang.


Ketika Rudian serta Yola keluar dari kamar, terjadilah kecanggungan yang luar biasa di antara mereka mereka, mereka saling diam tidak bertegur sapa, bahkan seolah-olah mereka adalah orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.


Setelah semua pekerjaan Naya selesai, ia membersihkan diri. Setelah beberapa waktu, ia keluar dari kamar dengan membawa semua koper dan juga tasnya. Sementara Rudian dan Yola sedang sarapan berdua, mereka menikmati saraoan hasil masakan Naya di meja makan.


Sebelum pergi, Naya duduk di salah satu sofa diantara mereka berdua lalu berkata,


" Kanda Maafkan aku, kalau selama ini aku tidak bisa menjadi istri yang baik bagimu," ia diam, menghela nafas sebentar lalu berkata lagi.


"Maaf aku kemarin terlalu emosi hingga menuntut perceraian darimu, sebenarnya aku hanya merasa bahwa aku harus tahu diri, menjadi seorang istri yang tidak bisa menyenangkan dirimu dan dan tidak memuaskan dihadapanmu. Maaf sekali lagi aku sudah mengecewakanmu," kata Naya dengan menghela nafas berat, tak terasa air mata pun menetes di pipinya.


"Kau mau pergi kemana. Apa kau sudah punya tempat tinggal lain selain rumah ini, apakah di tempat laki-laki itu?" tanya Rudian sambil menyandarkan tubuhnya disandaran sofa. Ia menarik nafas berat sambil menatap Naya.


Mendengar ucapan Rudian, Naya tertawa kecil seperti mengejek dirinya sendiri. Iya sama sekali tak menyangka kalau suaminya sudah menilainya begitu rendah dan berprasangka buruk padanya.


" Kanda, kita sudah bercerai jadi dimanapun aku dan apapun yang aku lakukan bukan lagi urusanmu." kata Naya dengan tersenyum kecut.


" Siapa bilang bukan urusanku? Sekarang masa iddah mu mulai berlaku. Jadi kau masih menjadi tanggung jawab ku maka, jaga dirimu baik-baik kalau kau tidak ingin menambah dosa untukku," kata Rudian, lugas si yang ia katakan.


Masa iddah adalah masa tenggang antara waktu, bagi seorang wanita untuk bisa menikah lagi dengan pria lain setelah ia diceraikan oleh suaminya yang terdahulu. Biasanya masa iddah itu biasa berlangsung selama tiga kali haidnya seorang wanita. Masa iddah diperuntukan bagi wanita yang bercerai dengan alasan yang realistis secara medis adalah menghilangkan sidik jari seorang laki-laki pada tubuh wanita atau istri yang pernah disentuh. Dan sesudah masa tiga bulan itu lewat, maka sidik jari laki-laki pada tubuh wanita sudah hilang. Selain itu masa iddah berguna untuk mengetahui apakah wanita yang sudah dicerai itu hamil atau tidak. Apabila wanita itu hamil, maka ia boleh menikah lagi Sesudah ia melahirkan.

__ADS_1


"Aku memang tidak punya tempat tinggal, jadi apa menurutmu aku harus tetap tinggal di sini sampai masa iddah ku berakhir?" kata Naya menjadi penasaran.


"Tentu saja, kenapa tidak?" kata Rudian enteng.


"Jadi maksud Kanda, aku harus tetap disini membereskan rumah, memasak untuk kalian dan melihat kalian bermesraan setiap hari sedangkan aku tidak bisa menyentuhmu, begitu?" kata Naya sambil terkekeh, ia merasa geli memikirkan nasibnya sendiri.


'Ah yang benar saja'


" Kenapa... apa kau masih menginginkan ku, masih ingin menyentuhku? kita bisa rujuk sekarang juga kalau kau mau," kata Rudian masih dengan ekspresi yang sama, seolah tanpa beban membuat hati istrinya terluka.


'Aku memang masih mencintaimu. Aku masih menyayangimu tapi aku sepertinya tidak lagi menginginkanmu'


"Tidak, bukan seperti itu. Maaf mengecewakanmu. Jadi biarkan aku pergi," kata Naya sambil berdiri.


Bukan perkara yang mudah untuk menghilangkan semua yang sudah tertanam menjadi kristal dan sudah menjadi terbiasa dengannya. Mungkin butuh waktu untuk berpisah dan melupakan sesuatu yang selama ini membuat seseorang yang merasa tergantung padanya.


Tapi cepat atau lambat semua harus ia lakukan, perpisahan adalah salah satu ujian. Bukankah sebuah ikhtiar harus dilakukan kan bukan hanya untuk usaha dan masa depan, tetapi juga untuk sesuatu yang ditinggalkan? ikhtiarnya perpisahan itu adalah mengikhlaskan.


" Apa kau tidak menginginkan apapun dariku, bagian dari rumah ini misalnya?" kata Rudian mengikuti Naya berdiri di dekat pintu.


"Mut'ah maksudmu? kalau soal itu dalam Alquran juga dijelaskan kan bahwa salah satu pihak boleh memberi tapi lebih baik mengikhlaskan bila ia tidak mendapatkan apa-apa. Itu sesuai kemampuan saja. Ini soal Izzah, atau harga diri. jadi aku tidak minta apapun darimu, semua yang sudah kanda berikan padaku sudah lebih dari cukup,"


"Aku akan menjual rumah ini dan hasilnya akan aku bagi dua denganmu," kata Rudian sungguh-sungguh.


" Abang, bagaimana kalau kau menjual rumah ini? nanti kalau untuk membeli rumah Lagi tidak akan cukup, bukankah kita akan punya anak?" kata Yola, tiba-tiba menyala dan dia ikut berdiri diantara Naya dan Rudian.


"Tidak perlu menjualnya... Kanda kan mau punya anak, jadi aku berikan bagianku untuk anak yang sangat anda inginkan. Anggap saja Itu hadiah dariku," kata Naya sambil menarik kopernya keluar.


Melihat hal itu Yola tersenyum puas, lalu dia berkata,


"Hati-hati Jaga dirimu baik-baik!"


"Jangan kuatirkan aku salam buat ibu." sahut Naya tanpa menoleh.


"Akan aku sampaikan, jangan kuatir," kata Yola lagi, ia menyembunyikan tawa.


Sementara Rudian melihat punggung Naya yang menjauh dengan perasaan menciut ia merasakan kehilangan.


'Benarkah secepat ini cinta itu pergi? Pergilah kalau memang kau ingin pergi. Namun bila suatu saat kau kembali jangan cari aku, sebab jawabannya adalah masih adakah aku dihatimu mu? kalau memang masih ada rasa cintamu untukku, maka tinggal di sisiku adalah sebuah pilihan dan bukan meninggalkan'


-


Naya sampai di musholla tempat biasa ia beristirahat dan melakukan salat zuhur di restoran bu Nha. Ia manghenyakkan tubuhnya di lantai musala dan membiarkan koper serta tasnya tergeletak begitu saja.


'Kemana aku harus pergi? Ya Allah... tolong aku. Takdirmu benar-benar sudah menghisap seluruh energiku hingga aku tidak bisa memarahi apapun keadaanku.Bahkan aku hanya mengharapkan belas kasihan darimu. Aku memang hamba yang lemah dan mungkin sudah kalah dalam ujianmu, tapi aku akan menghadapi ujianmu yang lain setelah ini. ujianmu mungkinkah akan berakhir sampai disini, atau masih ada lagi yang harus aku lalui?'


Naya masih melamun ketika ia dikagetkan oleh suara seseorang yang memanggil namanya,


"Naya kamu di sini, ini tas mu, apa kau kabur atau kau ingin pindah? aah...aku tahu, Kau pasti diusir dari kontrakan mu, iya?" kata rekan kerjanya ketika mereka bertemu di musala.


" Iya aku kabur... aku diusir dari kontrakan ku," jawab Naya asal.


"Ah. Aku tidak percaya, kau kan punya suami lalu di mana suamimu?" tanya rekan kerja itu penasaran.


" Suamiku, ada. Kami sama-sama cari kontrakan, kau mau membantuku mencari tempat kost yang murah dan dekat dengan restoran ini?" Katana Ya sambil tersenyum.


"Ada...kebetulan tempat kos itu baru ditinggal dua hari yang lalu, tapi namanya saja murah jadi tempatnya seperti...ya, begitulah, kau bisa melihatnya mudah-mudahan kau betah,"


"Ttidak masalah soal tempat, biasakan kalau uang itu selalu tahu barang bagus. Bisakah kita melihatnya sekarang?"


"Sekarang?" rekan kerja Naya tampak ragu. Ia sedikit berpikir, sejenak melihat jam di pergelangan tangannya kemudian dia berkata,


" baiklah. Ayo,"


Sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


Memang tempat kos itu sangat dekat dengan restoran, Naya terlihat tertarik karena menurutnya tempat itu tidak begitu buruk dan harganya sesuai dengan kondisi keuangannya saat ini.


" Naya..? Kenapa kau ada disini?" kata sebuah suara mengagetkan Naya. Ia menoleh dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


__ADS_2