
'Apa aku menyukainya? Aku menyukalinya, tapi dia tidak menyukaiku'
"Mama... Jangan bahas soal jodoh lagi."
"Mama gak bahas jodohmu. Cuma tanya, kamu suka sama Naya, gak?"
Ck!
Ares tidak menjawab pertanyaan ibunya. Memangnya ia harus menjawab apa? Ia mersakan sendiri sikap dingin Naya selama ini padanya. Ia menarik nafas dalam, dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ia sempat melirik Naya sekilas, di saat yang sama Naya pun tengah menatapnya sebentar, kemudian menyibukkan diri dengan anak-anaknya kembali.
Rasti mengikuti langkah Ares ke lantai bawah dan mereka berbincang-bincang di ruang keluarga di mana televisi yang cukup besar berada. Ares menyalakan televisi, tapi sebentar kemudian Rasti mematikannya lalu duduk di sebelahnya. Ares melirik ibunya dengan malas, saat Rasti berkata,
"Ares, dengar. Kau harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Naya itu janda, suaminya sudah meninggal sekarang." Rasti berkata sambil menepuk-nepuk bahu anaknya.
"Dari mana mama tahu?
"Dinda yang cerita."
"Kita tidak boleh memanfaatkan orang lain yang sedang ditimpa musibah, ma..."
"Bicara apa kamu, suaminya sudah meninggal cukup lama, katanya sekarang sudah hampir satu tahun."
"Siapa tahu dia belum bisa lupa sama suaminya."
"Semua orang gak sama. Memangnya kamu? Makanya, ini kesempatan bagus buat kamu bisa punya istri yang cocok buat anak-anakmu."
"Ma.. Aku gak mau nikah bukan karna belum bisa lupa sama almarhum Nindi. Tapi karena Yoni."
Ares seorang laki-laki yang tidak akan mudah terbawa emosi hanya karena ibunya atau anaknya. Kecuali sebatas kewajaran saja. Biar bagaimanapun kedewasaan pribadinya sudah sangat baik, mengalami lika-liku hidup hanya seorang diri tanpa pendamping tidak mudah. Jadi ia tidak akan mengagungkan harapan yang belum tentu tersampaikan karena ternyata hanya sebatas angan dalam genggaman.
Ia pernah berharap besar pada kecanggihan alat medis, saat ia melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya menghadapi maut di depan matanya, tapi ternyata semua harapannya sirna karena Allah ternyata justru memanggilnya.
Karena itu saat ini Ares tak ingin berharap terlalu banyak, dan ia juga ingin ibunya pun tidak terlalu besar pula mengharapkan Naya mau menjadi menantunya. Khawatir ibunya kecawa.
"Dan sekarang kamu lihat sendiri, kan. Naya sudah seperti ibunya? Lalu kamu masih menutup hatimu, begitu?"
"Ma, aku gak nutup pintu hati untuk siapapun."
"Apa kau suka sama Caca? Mama gak suka perempuan itu. Dia terlalu genit buat kamu. Wajahnya memang mirip Nindi. Tapi kelakuan jauh beda. Dia gak bisa jadi ganti kakaknya, gak bisa!" kata Rasti sambil mencebik.
"Gak. Aku sama Caca cuma rekan kerja."
"Kamu tahu pepatah jawa yang bilang tresno jalaran soko kulino? Awas nanti kamu jadi suka sama Caca, terus Naya juga diambil sama Rama. Kamu tahu nggak ada laki-laki yang senang juga sama Naya? Gimana kalau nanti Naya senang sama dia."
"Apa mama kenal Rama?"
"Kenal. Dinda suka sama dia," kata Rasti sambil cemberut.
"Apa. Kok biss?"
Rasti menceritakan beberapa kejadian yang sempat dilihatnya saat mereka makan bersama di cafe, antara Dinda dan Rama, juga Naya. Rasti menilai bahwa sebenarnya Rama menyukai Naya dan bukan anaknya. Ia maklum karena karakter tomboy Dinda menjadi faktor utama susahnya gadis itu menemukan pasangan hidupnya.
Ares mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, lalu tersenyum. Ia menggelengkan kepala, sambil melangkah pergi ke kamarnya meninggalkan ibunya yang termenung sejenak. Kemudian Rasti pun pergi ke kamarnya menyusul suaminya yang sudah sedari tadi di berada di sana.
Di dalam kamar Dinda.
__ADS_1
"Sstt!" desis Naya, sambil menyimpan satu jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar Dinda tidak terlalu keras bicara.
Gadis itu sedang menelpon Rama, mereka berdua bicara di telepon dengan suasana yang sangat intim. Dinda memelankan suaranya sambil menoleh ke tempat tidur, dan melihat dua keponakannya sudah tertidur pulas, Selama Dinda berbicara dengan Rama, ia melihat bagaimana Naya menidurkan Yoni dengan penuh kasih sayang, seperti mereka adalah dua orang yang memiliki ikatan antara ibu dan anak.
Dinda hanya diam dan melihat takjub, ketika melihat Naya memperlakukan Yoni dan dan Raya seperti anaknya sendiri, ia membimbing dua keponakannya itu untuk membersihkan diri dan menunaikan rutinutas ibadah, sambil terus mengobrol dan akhirnya mereka tidur.
Tak lama, Dinda pun selesai berbicara dengan Rama ditelepon, ia menutup ponselnya bersamaan dengan Naya yang juga sudah selesai dengan hajatnya di kamar mandi. Ia keluar sudah dengan mengganti pakaiannya.
"Kamu bawa ganti baju sendiri, Nay?" tanya Dinda.
"Iya. Sudah biasa aku kalau pergi selalu bawa baju ganti." kata Naya sambil memasukkan baju kotornya ke dalam.kantung plastik.
"Mending kamu sekarang pakai bajuku, besok baru kamu pakai baju kamu sendiri."
Naya mengikuti saran Dinda dan ia menerima pakaian yang diberikan Dinda padanya. Mereka pun tidur di kamar itu secara berjajar dalam satu tempat tidur, hingga tempat tidur itu terlihat penuh. Naya tidur di samping Yoni dan Dinda tidur disamping Raya.
"Ini rezeki, punya banyak teman di tempat tidur, biasanya aku sendiri, rezeki bukan soal uang saja kan?" tanya Dinda.
"He em, Iya, kamu benar." jawab Naya.
"Kamu sempit nggak, tidurnya? Kalau sempit kita pindahin saja bocil sama papanya."
"Nggak apa..." jawabnya sambil memejamkan matanya, lalu berkata lagi, " kamu Ngobrol apa sama Rama, lama banget nelponnya?"
"Apa saja lah. Yang penting bisa dengar suaranya."
"Dinda, cari tahu dia senang dengan tipe perempuan yang seperti apa?"
"Haha, Kok Aku justru merasa dia suka sama kamu, Nay."
'Aku harap, kamu sukanya sama kakak aku, Nay'
"Hmm. Gitu." gumam Dinda sambil melihat ke langut-langit kamar.
"Dinda, cobalah kamu berhijrah dari sekarang berusaha jadi lebih baik, nggak boleh mengikuti gaya seperti gaya laki-laki, kamu harus belajar menjadi perempuan muslimah yang menutup aurat, belajar agama dan juga merubah gaya bicara jangan lagi bicara lo gue lagi. Inget, bukan aku yang nyuruh semua itu, tapi agama kita." kata Naya.
"Aku males ikut pengajian di sini, rata-rata ibu-ibu semua." kata Dinda.
Mendengar itu Naya kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia berkata, "Cari ilmu kan gak harus dari pengajian secara langsung."
Ia mengetikkan sesuatu dan mengirim pesan pada seseorang dan juga mengirim pesan ke ponsel Dinda, lalu berkata,
"Gimana kalau aku kenalin sama Ustadzah Hanifah?"
Ustadah Hanifah adalah seorang ustadzah yang dikenalkan oleh Farah, teman Naya di kota Hujan. Farah dan Naya, suka komunikasi dengan Ustadzah Hanifa.
"Selama ini, kalau aku ada masalah sering konsultasi sama dia, orangnya enak diajak bicara. Menasehati dengan cara beda. Jadi kalau kamu butuh seseorang, coba saja curhat sama dia."
Naya hanya berharap, mungkin melalui Ustazah Ini Dinda bisa mendapatkan hidayah dari Allah. Sebab tidak semua orang mendapatkan hidayah. Allah memberikan hidayah-Nya hanya kepada orang yang dikehendaki-Nya. Sedangkan setiap orang harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mempelajari agamanya sendiri.
Naya menyadari bahwa dirinya adalah orang yang belum memahami agama secara sempurna, sehingga ia tidak merasa berhak untuk menasehati Dinda, ia khawatir apabila ia salah dalam berbicara justru Dinda akan menghindarinya.
Bukankah banyak kejadian seperti ini, di mana seseorang yang merasa dirinya bersalah, dan ia mengutarakan keluh kesahnya kepada seseorang yang ia percaya, (biasanya orang yang dipercaya adalah orang yang memiliki pengetahuan agama yang baik, atau religius) tapi seseorang yang ia percaya itu bersikap menyalahkan dan menghakimi, bukannya menasehati. Bahkan bersikap seolah-olah dirinya tidak pernah berbuat salah sekalipun.
"Baik, akan aku coba. Tapi aku masih begini orangnya, masa mau pakai jilbab?"
__ADS_1
"Pakai jilbab adalah untuk menutupi aurat, Dinda... Bukan untuk menyulap sikap dan akhlak manusia. Jadi memperbaiki diri itu, harus terus mengiringi langkah kita sepanjang hidup, bukan hanya karena menutup aurat saja," kata Naya.
Menutup aurot, adalah cerminan seorang wanita muslimah menjaga dirinya, sedang memperbaiki diri adalah kewajiban seluruh umat Islam di dunia. Bukankah Rasul diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia?
"Jadi, Dinda sayang... tutuplah aurat kita, kemudian perbaikilah selalu sikap kita sampai semua tugas kita di dunia selesai, yaitu mati."
Semua nama manusia yang hidup di dunia tertulis dalam satu lembar diswbuah pohon yang ada ada di Lauh Mahfudz dan saat satu lembar bernama seorang itu gugur, maka saat itulah usia manusia itu mencapai batasnya, tugasnya sudah selesai, dan rezekinya yang menjadi haknya sudah habis.
"Ahk, jadi seperti itu ya..., Nay, istri kak Ares itu mirip kamu loh, pakai jilbab, cantik, lembut, mungkin karena itu, Yoni bisa dekat sama kamu."
Mendengar perkataan Dinda, Naya hanya mengedikkan bahu. Lalu berbalik membelakangi Dinda memperlihatkan sikap malas membahas soal Ares.
"Kamu tahu gak, gimana dulu Yoni bisa lahir, padahal belum waktunya lahir?"
"Tidur...sudah malam...aku ngantuk?"
"Kamu gak penasaran?"
"Kapan-kapan saja ceritanya.., sekarang aku harus istirahat, besok aku harus kerja."
"Ck! Besok kan libur. Banyak orang pada penasaran."
Hening tak ada jawaban. Seolah Naya sudah tertidur. Tanpa Dinda sadari, Naya menitikkan airmata.
'Ya Allah, aku berprasangka baik pada-Mu ya Allah. Engkau sengaja menitipkan anak-anak ini padaku...Bisakah aku menjadi ibu sambung bagi mereka tanpa harus menjadi istrinya?'
Sebenarnya yang dirasakan Naya adalah kegamangan. Dilain sisi ia sangat senang dengan anak-anak ini, tapi di lain sisi ia tidak ingin bertemu dengan Ares. Ia bukanjya benci dengan Ares, tapi menyukai juga tidak...
Dinamakan dengan apakah perasaan seperti ini, antara enggan dan malu, antara suka dan tidak, antara menyingkirkan kenangan atau membuat kenangan baru bersamanya. Naya meringkuk menggigit bibirnya agar tangisannya tak keluar. Apakah ia belum sepenuhnya ikhlas? Bisa jadi.
Ikhlas itu sulit, bahkan apabila seseorang memendam kebaikannya selama puluhan tahun, dan suatu saat ia mengungkitnya, maka pahala keikhlasa yang sudah ada sejak puluhan tahun itu akan sirna begitu saja. Apalagi mengikhlaskan rasa sakit saat terluka. Sebaik apapun mengobatinya, bila luka itu terlalu dalam, tetap akan ada bekasnya.
-
Keesokan paginya, saat waktu soholat subuh sudah tiba, Naya sudah bangun terlebih dahulu. Ia membangunkan Dinda dan Raya, kemudian mengajak mereka sholat berjamaah. Sedangkan para lelaki di rumah itu pergi berjamaah ke masjid.
Setelah sholat subuh, Raya dan Dinda, tidur kembali.
"Hei, kenapa kalian tidur lagi?" tanya Naya sambil memberes kan alat sholat mereka. Ia sendiri masih hendak mengaji.
"Ini kesempatan tidur pagi. Biasanya sekolah." kata Raya. Dan Dinda mengacungkan jempolnya lalu mengijuti Raya tidur sambil berpelukan.
"Jangan berisik, awas Yoni bangun," kata Naya kali ini ia mengambil Al Qur'an dari nakas kamar Dinda. Dua anak manusia yang ada di atas kasur itu kembali mengacungkan jempol mereka. Membuat Naya tersenyum.
"Kalau aku juga biasanya harus pergi kerja habis subuh. Tapi kalau libur aku ngaji. Jarang ada kesempatan ngaji habis subuh, jadi ayi ngaji mumpung ada aku!" kata Naya menarik baju tidur Dinda.
"Haus..." tiba-tiba terdengar suara Yoni dari tempat tidur.
Naya melihat sebentar ke arahnya, anak itu masih memejamkan matanya. Lucu. Pikir Naya sambil bergegas keluar menuju meja makan untuk menganbil air minum untuk Yoni, mungkin memang dia sedang haus. Naya masih memakai mukenanya saat ia turun. Sesaat ia menoleh ke kanan dan ke kiri sambil melangkah ke dapur dan mengambil sebuah gelas. Tidak ada siapapun di sana, mungkin mereka kembali tidur karena berpikir hal yang sama dengan Dinda dan Raya.
Naya mengisi penuh air dalam gelas dari dispancer yang ada di ruang makan. Ada Ares berdiri tertegun melihatnya, ia baru pulang dari masjid sambil mendorong kursi roda ayahnya ke kamar. Naya hanya menganggukan kepala saja saat mereka saling melihat.
Hanya sekejab Naya sudah selesai dan ia beranjak dari sana hendak kembali ke kamar, saat ada suara yang tertangkap telinganya,
"Tunggu."
__ADS_1
'Ya Allah, ini adalah diujung waktu aku sudah lelah berharap. Bolehkah aku kembali berharap?'