Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 35. Cinta Tidak Salah


__ADS_3

"Kanda...!" teriak Naya di depan pintu kamar yang kini ditempati Yola.


Lama tak ada sahutan apapun dari kamar itu. Naya sedikit kesal. Ia menduga kalau suaminya dan Yola sedang bermesraan dalam kamar itu. Tapi, bukankah tadi Yola lemas dan mual-mual. Rasanya tidak mungkin kalau melakukan hubungan itu disaat kondisi tubuh yang kacau.


'Yang benar saja.'


Biar bagaimanapun, suaminya dan istri barunya itu punya hak untuk melakukannya kapanpun mereka ingin. Ia sebagai seorang wanita muslim yang tahu adab dan kesopanan, tentu tidak akan mengganggu mereka berdua. Apalagi mereka sudah sah secara agama.


Walau sakit dan sesak rasa hati karena cemburu yang seperti menumbuk dadanya, membayangakan kalau bukan hanya dirinya yang dicumbui Rudian. Naya membiarkan apa yang mereka lakukan, kalau benar mereka bercinta dipagi hari di kamar itu. Mereka benar-benar tidak kenal situasi.


Menghargai orang lain sama saja dengan menghargai dirinya sendiri, kan?


Naya kembali ke dapur, memisahkan pakaian Yola kedalam wadah yang berbeda. Lalu mulai mencuci pakaiannya dan suaminya sendiri. Sambil mencuci, ia menyalakan murottal bacaan Al Qur'an yang biasa ia lakukan setiap hari kalau melakukan aktifitas di rumah.


Suara murottal yang keluar dari ponselnya itu adalah hiburan juga sebagai teman yang seolah membantu melakukan pekerjaan. Tidak hanya itu, bacaan ayat-ayat suci itu adalah sumber ketenangan baginya.


Naya menyelesaikan mencuci dan memasak, setelah semua masakan ia letakkan di atas meja, ia menjemur pakaian. Sambil bersenandung lirih entah senandung apa yang di lagamkan Naya sama sekali tak beraturan. Lagunya lebih mirip asal-asalan saja, sebab disertai beberapa bulir air mata yang ikut menetes. Ia terlihat sesekali menghapusnya kasar.


"Ayo, makan." kata Rudian saat Naya berjalan dari halaman depan menuju dapaur. Ia sudah selesai menjemur baju dan hendak membersihkan diri.


"Kanda, aku bikin nasi gorengnya cuma dua piring." kata Naya sambil menghentikan langkahnya, lalu berkata lagi, "Itu cuma cukup buat Kanda sama aku. Seperti biasanya..." Naya berdiri di samping sofa seraya melirik Yola yang kini sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Kenapa cuma bikin dua piring. Kan kamu tahu, sekarang ada Yola di sini...?" kata Rudian tanpa rasa bersalah dan duduk disalah satu sofa. Matanya menatap Naya seperti mencari penjelasan. Mungkin Rudian adalah tipe laki-laki yang tidak peka dengan perasaan orang lain. Banyak kan manusia seperti ini di dunia?


'Oh, jadi seperti ini rencananya?'


Naya menggeleng dan tersenyum, lalu berkata.


"Dia bisa masak sendiri, kan? Aku tidak harus menjadi kokinya juga. Sudah cukup dia tinggal dirumah ini dengan gratisan!" sahut Naya sambil duduk di samping Rudian.


"Biar, bang. Gak apa nanti aku sarapan di kantor saja, biasanya juga begitu, kan?" kata Yola seraya melirik Naya, lalu mengambil segelas air minum.


"Bagus, kalau sadar." kata Naya sambil menyendok sarapannya.


"Naya, Kamu seharusnya kasihan dong sama Yola. Dia kan lagi hamil. Apalagi sekarang dia tinggal sama kita. Kamu juga akan dapatkan pahala kan?"

__ADS_1


'Yaa gak begini jugalah. Lihat dia, jadi besar kepala karena dibela suaminya.'


"Tidak perlu, bang. Aku bisa beli diluar saja. Nanti kapan-kapan aku bisa masak buat abang, buat Naya juga." kata Yola sedikit tidak enak yang dibuat-buat.


Yola masih duduk di sofa menunggu Rudian selesai sarapan. Tapi Rudian mendekatinya dan membagi dua makanan di piringnya. Melihat itu, Naya berkata,


"Baik, aku sekarang bisa masak karena ship sore. Tapi lain kali gak bisa. Dan jangan lupa, uang tambahannya buat beli beras, dan kebutuhan dapur lainnya." sambil menahan geram, melihat cemburu itu nyata dihadapannya Rudian makan berdua dengan wanita lain selain dirinya.


Ayolah, memang kalian sudah sah secara agama, tapi ada hati yang lain disini yang tentu ingin diperlakukan sama.


"Kalau begitu, namanya kamu gak ikhlas, Nay. Gak akan dapat pahala." kata Rudian masih sambil makan.


'Gak dapat pahala, kenapa jadi serba salah gini ya? Sama saja mau dikasih uang nafkah lebih atau tidak, ikhlas mah harus.'


"Gak apa, gak dapat pahala juga dari pada cape ngurusin orang yang seharusnya punya kewajiban yang sama." kata Naya. Ia melayani Rudian seperti biasanya.


'Ujung-ujungnya gak dapat pahala juga kalau gak ikhlas'


Yola melihat semua aktifitas yang ada dihadapannya, ia menghela nafas berat. Ia sebenarnya juga malas menghadapi semua ini. Ia ingin Rudian bisa membuat Naya mematuhinya, dengan demikian ia tak perlu repot mengurus rumah dan semacamnya.


'Tapi kayaknya aku deh yang bakal lebih banyak ngurusin dia. Tidak akan. Lalu apakah karena satu istrimu hamil hingga kamu bisa semaunya berbuat tidak adil?'


"Kanda, lebih baik kita urus sendiri kebutuhan masing-masing. Karena kalau bekerja sama akan banyak ke tidak cocokan dianyara kita. Oke?" kata Naya mengakhiri sarapan dan berdiri untuk menuju ke kamar mandi.


"Naya!" kata Rudian setengah berteriak.


Naya berbalik, menatap Yola dan suaminya secara bergantian. Ia tidak memperdulikan Rudian yang memanggilnya.


"Kamu boleh pake semua fasilitas di sini, kok. Asal hati-hati saja jangan sampai rusak. Aku sudah membeli semua perabotan di sini walau dulu belinya nyicil. Tapi lumayanlah. Kalau soal nyuci, kamu bisa pake mesin cuci. Jadi gak harus aku yang cuci baju kamu, kan?" kata Naya menjelaskan posisinya di rumah ini sebagai siapa.


Ia hanya bisa berharap suaminya akan mengerti dirinya dan bijak dalam mengayomi istrinya. Mereka sudah hidup bersama tanpa bisa dihindari. Ia memilih bertahan, karena ia masih memiliki rasa cinta pada suaminya.


Cinta? Mungkin itu adalah alasan yang cukup naif bagi sebagian orang tapi, itulah yang terjadi pada Naya. Apalagi soal janji yang ia buat sendiri, tentang waktunya menunggu kehamilan selama dua bulan, ya kini tinggal dua bulan lagi.


Kalau masih ada cinta dihati seseorang, maka tetap bersama adalah sebuah pilihan dan bukan meninggalkan.

__ADS_1


-


Naya duduk dihadapan bu Nha, mereka berada di sofa yang biasa digunakan untuk beristirahat sore itu. Naya membicarakan sesuatu, ia meminta bu Nha agar tidak menjadwalkan ship sore padanya. Ia ingin berangkat bekerja dipagi hari dan akan pulang larut malam walau tidak ada jadwal sore.


"Bu, gimana?"


"Tapi, Naya. Aku cuma kuatir kalau kamu nanti sakit karena terlalu lelah."


"Bu, mulai hari ini. Biar saya bekerja sampai restoran tutup." kata Naya teguh, ia ingin mengisi waktunya dengan bekerja dan bekerja.


"Naya, apa kamu sudah izin suamimu?"


'Tidak perlu izinnya kan?'


"Belum, bu. Tapi saya yakin kalau dia akan mengijinkan. Soalnya saya gak mau pusing kalau lebih bamyak waktu luang di rumah."


Naya berpikir kalau ternyata lebih baik ia bekerja saja, menghabiskan waktu dan menghasilkan uang. Kalau ia punya usaha seperti yang ia harapkan dulu dengan uang modal dari ibu mertuanya, tentu ia akan sering bersitegang dengan suaminya atau Yola. Naya berpikir ternyata inilah yang terbaik, ia tidak perlu banyak dirumah.


''Malas rasanya kalau banyak dirumah seperti ada alasan untuk mengurusi wanita itu.'


"Bagaimana, bu? Saya janji saya tidak akan membuat masalah."


"Tapi, Nay. Gimana kalau ada masalah dengan pelayan yang lain?"


"Bu, saya cukup digaji seperti biasa saja. Boleh ya, bu?" kata Naya lagi memohon.


Bu Nha melihat Naya dengan enggan, ia benar-benar khawatir. Wanita dihadapannya ini terlihat putus asa karena masalah kehidupan dengan suaminya dan menjadi kan pekerjaan sebagai pelariannya. Banyak manusia yang mengambil jalan ini sebagai jembatan yang bagus untuk melarikan diri dari masalah.


Karena kegigihan Naya, akhirnya bu Nha mengalah. Ia hanya berkata pada Naya diakhir kesepakatan mereka,


"Kalau ada sesuatu yang terjadi padamu karena pekerjaan ini yang diluar peraturanku, aku tidak akan ikut beetanggung jawab."


Naya melanjutkan pekerjaan dan kebiasaannya di restoran seperti biasanya. Tiba-tiba dari arah dapur ada suara yang cukup keras membuat semua orang juga pelanggan yang sedang makan terkejut.


"Aaa... Api..! Api...."

__ADS_1


__ADS_2