Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 80. Ternyata Dia Adalah


__ADS_3

Rama segera membereskan pekerjaannya hari ini agar ia bisa lebih cepat menemui Naya. Ia kembali berharap punya kesempatan untuk jalan berdua lagi dengan Naya. Jarang ada kesempatan jalan bareng sekaligus makan gratis di tempat dan suasana berbeda.


"Nih, bantu saya." kata Ares tiba-tiba sambil menyimpan segulung kertas gambar yang lumayan besar, di atas meja Rama. Mereka berada di kantor, sehingga berbicara dengan bahasa formil.


Rama mendongak pada Ares yang berdiri di depannya. Ia berdecak pelan, padahal pakerjaannya hampir selesai.


"Apa ini, pak?"


"Corection draw. interior design,"


"Lho, itu kan tugas bapak?" Rama menukas perkataan Ares.


"Saya lihat kemampuan kamu bagus, jadi kamu layak mendapatkan kesempatan. Spesifikasi kamu di interior, kan?" Kata Ares.


Ia sebenarnya ingin menghambat agar Rama tidak bisa menemui Naya. Ia tak ingin Rama punya kesempatan untuk bersama Naya lagi. Sementara dirinya tidak memiliki kesempatan yang sama. Ia seperti tidak rela Naya bisa bahagia dengan pria lain selain dirinya.


"Pak, terimakasih atas kesempatan yang bapak berikan. Tapi pak, bisa saya kerjakan besok?"


"Tidak, harus hari ini, karena sekarang saya akan rapat dengan divisi pelaksana."


"Pak, saya mau ada acara. Tolong, pak."


"Acara sama Naya?"


Mendengar pertanyaan Ares, kening Rama berkerut.


"Kok, bapak tahu?"


"Saya tahu semua tentang Naya, termaauk masa lalunya."


"Oh, jadi seperti itu. Sekarang saya tahu kenapa Bapak kasih tugas ini sama saya."


Masa lalu, memang hanya masalalu. Tapi ada sebagian orang yang membanggakan masalalunya, ada juga ssbagian orang yang masalalunya menyakitkan hingga akan dikuburnya dalam-dalam. Mungkin inilah yang terjadi pada Naya dimana ia tidak bisa mengatakan masa lalunya, yang mungkin terlalu pahit baginya. Begitu yang ada dalam pikiran Rama.


"Kamu tahu, Naya gak suka pergi berdua dengan orang yang bukan muhrim."


"Pak, saya pergi sama Naya gak pernah berdua, selalu ada orang lain. Kami juga selalu naik bis, di bis juga banyak orang, jadi bukan berdua."


"Mau kemana kalian?"


Rama merasa feustasi dengan laki-laki ini, ia sudah menyerah dengan perasaannya pada Naya. Ia hanya berharap Naya bahagia, ia juga sadar kalau ia tidak akan lama berada di sana. Belum tentu saat masa kontraknya habis, hati Naya bisa ditahklukannya. Apalagi saingannya adalah seorang Ares. Berat.


"Mau ke Cafe, Naya sudah ada janji sama temannya"


"Siapa temannya, laki-laki atau perempuan? Cafe mana janjinya?"


"Pak, tanya saja sama Naya. Saya juga tidak tau." kata Rama sedikit kesal.


Rama berdiri, untuk membuka dan melihat kertas besar yang di bawa Ares tadi. Ia melirik Ares yang masih berdiri di sana, sambil menatapnya. Sepertinya laki-laki itu. masih penasaran dengan Naya.


"Pak." kata Rama. Orang yang dipanggil menoleh pada Rama.


"Kenapa gak ikut saja nanti, kalau bapak penasaran." Mendengar perkataan Rama, Ares beranjak pergi.


Tidak seharusnya ia masih ada di ruang orang lain, rapat sudah selesai dari tadi, seharusnya ia sudah kembali. Ia merasa seperti orang yang kalah dalam main tabak-tebakkan. Sekali lagi hanya karena Naya yang membuatnya seperti ini.


Sikap Ares pada Naya adalah mempertahankan, walau ia sulit untuk melangkah lagi, tapi tidak pernah berniat meninggalkannya pergi.


Rama tersenyum miring melihat kepergian Ares. Ia berfikir bahwa menawari Ares untuk bisa pergi bersama adalah cara yang tepat untuk membungkam rasa penasarannya. Apalagi kalau Ares benar-benar mengikuti sarannya untuk pergi bersama, maka mereka pasti akan mendapatkan tumpangan gratis.


Kalau saja Naya bertemu dengan sosok seperti Rama dimasa lalu, mungkin ia akan jatuh cinta padanya. Ia sosok tampan yang ramah, murah senyum dan tidak pendendam, murah hati dan penyayang. Sebab ia mempunyai peinsip, ambillah cinta sebanyak-banyaknya di langit, dari sang Mahapemilik Cinta, lalu berikan pada siapapun yang mebutuhkannya, oleh karena itu, teman dan sahabatnya banyak dimana-mana. Mereka akan mengenalnya sebagai pribadi humble dan hangat. Tapi bukan berarti dia playboy. Karena untuk soal pendamping hidup ia cukup selektif.


Sementara itu Naya sudah siap untuk pergi ke tempat yang sudah ia janjikan dengan Rama dan Dinda. Ia menunggu Rama di depan kantor, begitu jam pulang kantor sudah tiba.


"Ayo," kata Rama yang menghampiri Naya sambil berlari. ia membawa tas ransel yang begitu besar dipunggungnya.


Naya mengangguk, sambil berkata, "Gak usah buri-buru kenapa?" lalau berjalan ke pinggir jalan untuk mencari bis kota.


"Kasian kalau kamu nunggu lama nanti." jawab Rama. Mereka berjalan bersama dengan beberapa pegawai lainnya yang juga mencari kendaraan yang lainnya.


Din!


Terdengar suara klakson mobil yang tiba-tiba berhenti di depan mereka. Kaca jendelanya turun perlahan dan terdengar suara dari dalamnya.


"Ayo saya antar!" Itu Ares!

__ADS_1


Rama dan Naya berpandangan, sejenak kemudian Rama mengendikkan bahu sambil melangkah masuk mobil.


"Ayo, Nay!" Kata Rama setelah berada di dalam. Ia duduk di samping Ares hingga Naya bisa duduk di kursi penumpang belakang.


'Astaghfirullah...maasyaallah..'


Naya duduk di kursi belakang, mobil itu tidak berubah, bahkan interiornya masih sama bahkan sejak ia pertama kali naik mobil itu. Beberapa bagian sudah mulai usang. Ia melihat kesekeliling mobil, ada foto keluarga kecil mereka, ada sepatu kecil di kaki Naya, ia tahu itu milik Yoni, ada baju dan buku mewarnai juga yang terserak di sana.


Ini sudah lama sekali sejak ia tidak mendapati mobil itu dengan keadaan yang mengingatkannya akan kenangan.


Naya, terahkir kali ia menumpang di mobil itu, adalah saat ia berada di kota Hujan. Saat itu, Ares mengantar Naya dari rumah sakit dengan Rudian. Dan saat ia berada di Kota Batu, terakhir ia menumpang di mobil itu adalah saat ia dituduh pelakor.


Benar kan kalau kenangan itu tidak ada bentuknya bulat atau kotak tapi ia tajam, seperti sebilah pisau yang bisa melukai.


'Airmata...kumohon jangan menetes, jangan..'


Mobil mulai berjalan, membawa mereka ke tempat tujuan setelah Rama mengatakan tujuan mereka. Sementara, Naya membungkuk untuk merapikan beberapa barang yang terserak juga membuang sisa makanan yang sepertinya belum sempat Ares bersihkan.


"Maaf ya, mobilnya berantakan, itu bekas kemarin Yoni tantrum, belum sempat aku bereskan," kata Ares sambil melirik Naya dari kaca spion depan.


'Tantrum? Apa dia masih seing kambuh sampai sekarang?'


Mendengar Ares bicara, Naya diam, sedangkan Rama mengerutkan alis, ia heran dengan kata-kata asing yang di dengarnya.


"Kalian sering ke Cafe?" Tanya Ares mengalihkan perhatian, ia sempat melihat sekilaa wajah Naya yang pias. Ia juga tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.


"Gak sering, tapi pernah beberapa kali. Ini hanya kebetulan, teman kami Dinda ngajak makan bareng," Rama yang menjawab.


Mereka memang pernah beberapa kali makan bersama, agar Dinda bisa bertemu Rama.


"Dinda? Dinda siapa?" Tanya Ares, heran.


"Dinda siapa, Nay?" Rama memiringkan tubuhnya kebelakang untuk menanyai Naya.


"Dinda _ _" jawaban Naya terputus, karena ada suara dering telepon dari ponsel Ares.


Ares melambatkan laju mobilnya lalu menerima panggilan melalui earphon bluetooth-nya. Ia menerima panggilan. Terdengar ia hanya menjawab seperlunya saja,. Dari cara Ares berbicara, Naya sempat menduga, kalau panggilan itu berasal dari Raya.


Setelah selesai menerima panggilan, Ares melajukan mobilnya lebih kenncang hingga sampai depan Cafe tujuan mereka.


"Maaf, ya. Sampai di sini saja," kata Ares sambil menepikan mobilnya.


"Sudah. Kalian saja. Anak saya sudah minta jemput ke sekolah," kata Ares.


"Jemput Raya?" tanya Rama.


"Iya, kok kamu tahu. Kamu kenal anak saya?" Kata Ares tiba-tiba mematikan mesin mobilnya dan menatap Rama serius.


"Kenal dong, Pak. Kan pernah nginap di rumah Naya?'


"Apa. Menginap di rumah kamu, Nay. Kapan?!" Suara Area terdengar emosi, lalu melanjutkan ucapannya lagi, "Jadi, rumah kalian juga berdekatan?"


"Iya," kata Rama singkat. Ares semakin mengerutkan alis.


Naya sudah bersiap turun, bahkan ia sudah membuka pintu mobil. Tanpa bersuara ia mengangguk, sambil menatap Ares sekilas. Sepanjang perjalanan ia hanya diam.


"Kapan? Jadi Raya sudah tahu rumah kamu?" Tanya Ares lagi sekarang ia menghadap kebelakang, serius dengan yang ia bicara kan.


"Maaf, itu sudah lama. Saya lupa?" Jawab Naya.


"Kenapa kamu gak bilang sama saya?" Tanya Ares. Entah kenapa pembicaraan ini terkesan seperti pembicaraan antar suami istri yang menangani masalah anaknya.


"Saya kira dia sudah bicara sama bapak."


"Siapa tahu dia bohong, kenapa kamu percaya gitu saja." kata Ares terkesan kesal dan menyalahkan Naya.


Naya menarik nafas dalam menekan hatinya yang tiba-tiba terasa seperti sedang dilubangi dengan ujung kaca yang runcing. Ia berkata,


"Pak, waktu itu Raya bilang kalau ia sudah izin sama papanya."


"Berarti anak itu bahong, kamu jadi saksinya nanti." kata Ares.


Naya ingin protes, sebenarnya semua itu bukan urusannya. Tapi karena ia tidak mau urusan saat ini semakin panjang, maka ia mengangguk.


"Baik," katanya, sambil turun dari mobil.

__ADS_1


Rama juga turun dan mereka sama-sama mengucapkan terimakasih. Ares hanya menanggapi dengan anggukan, dan segera berlalu dengan mobilnya.


Sampai di dalam, Ternyata Dinda sudah menunggu mereka, dan ada mamanya juga yang menyambut mereka dengan senyum manis. Mereja duduk setelah saling mengucapkan salam.dan menanyakan kabar. Duduk dalam satu meja seperti sebuah keluarga.


Seperti biasa Naya dan Dinda menggunakan panggilan akrab mereka sebagai suami dan istri, selama berbincang-bincang, hingga Rama menertawakan mereka cukup keras. Bahkan ia tertawa sambil mengunyah makanan, hingga tersedak.


Dinda mengasongkan minuman pada Rama, dengan lembut.


"Hati-hati makanya kalau tertawa." kata Dinda.


"Ciee mesranya." kata Naya sambil menutup mukanya. "Duh, gak tahan."


"Ck. Kalian ini mamalukan sekali manggil suami istri." kata Rama setelah tenang kembali.


"Suami! kalau gitu jangan panggil aku istri. Ada yang cemburu!" Naya berkelakar.


"Baik istriku..." sahut Dinda sambil tertawa.


"Eh, baru saja bilang mau berhenti manggil suami istri, tapi masih manggil begitu..." kata mama Dinda.


"Iya, ma. Ini yang terakhir," kata Dinda.


"Iya, tante. Maaf..." kata Naya sambil menghabiskan suapan terakhirnya.


"Terimakasih ya, Tante. Saya sampai kenyang. Sudah gak perlu makan malam," kata Rama setelah menghabiskan minuman.


"Nay, nginep ya di rumah?" Ajak Dinda pada Naya yang terlihat sudah selesai dengan makanannya.


"Nginap? Gimana ya?"


"Ayo dong. Besok kan akhir pekan. Nanti pulang nya aku antarin deh."


"Akh, modus kamu, biar bisa ketemu sama Rama lagi besok. Hayo ngaku!" kata Naya. Mendengar ucapan Naya, Dinda tertawa kecil, lalu mengangguk.


"Kalau mau ketemu aku, tinggal bilang, lewat telepon," sahut Rama, "Gampang, kan?"


Dinda tersipu malu mendengar ucapan Rama, ia berpikir memang ini adalah kesempatan baginya untuk memiliki seorang suami yang akan menjaganya. Ia tak mungkin melajang selamanya.


"Naya, nginap saja, sekali-kali. Gak ada laki-laki juga di rumah, cuma papanya Dinda, audah tua, gak mungkin ganggu kamu," kata mama Dinda.


"Akh, tante ini bisa saja bercanda," sahut Naya.


"Kamu terakhir tidur di rumah itu kita SMA, iya kan?" kata Dinda.


"Iya. Baik. Aku tidur di rumah tante malam ini. Maaf ya, Rama. Kamu pulang sendiri," kata Naya.


"Gak, apa. Aku bukan anak TK yang harus diantar jemput." kata Rama. Kemudian ia pamit untuk pergi.


***


Mereka sudah sampai disebuah rumah yang cukup besar, yang ditempati keluarga Hando Nasution, ayah Dinda. Kini Naya berada di ruang tamunya, ia sedang duduk di sofa. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


Dulu, di ruangan inilah mereka sering menghabiskan waktu dengan mengobrol atau menonton televisi. Masa-masa mereka menikmati waktu remaja.


"Kamar kamu masih di kamar yang dulu?" kata Naya ketika mereka mengobrol.


"Gak. Sudah beda lah. Rumah ini sudah banyak direnofasi. Maklum rumah sudah tua." kata Dinda. Ia membawa beberapa cemilan yang bisa ia makan selama mengobrol.


Kedua wanita itu terus mengobrol sampai akhirnya, waktu magrib sudah tiba. Mereka bertiga, aholat dengan cara berjama'ah. Sebab, selain banyak pahala, maka sholat dengan cara berjamaah akan lebih memudahkan, mereka tidak harus bergantian dan mereka bisa melakukan aktifitas lainnya dengan lebih cepat. Menghemat waktu dan tenaga.


Papa Dinda hanya duduk di kursi Roda, kalau hendak sholatpun, akan tetap duduk di sana. walau demikian, ia laki-laki tua yang rajin ke masjid. Saat Naya diperkenalkan, maka ia sudah hampir lupa, karena ia dimasa muda menjadi orang yang sibuk, sehingga jarang bertemu anak-anaknya.


Setelah melewati waktu makan malam, Naya dan Dinda tidak ikut makan, karena mereka maaih kenyang, hanya papa Dinda yang makam ditemani mama seorang.


Dinda dan Naya masih sibuk mengobrol di lantai dua kamarnya, ketika terdengar suara teriakan dari pintu ruang tamu, seorang anak kecil berlari dengan lincah menuju mama Dinda.


"Nenek..!"


"Ahk, cucu nenek! Kalian mau menginap malam ini?" tanya mama Dinda.


"Iya, nek!" jawab anak kecil itu.


Tiba-tiba datang lagi seorang anak remaja yang memeluk mama Dinda sambil menangis.


"Kenapa kamu nangis?" tanya mama Dinda.

__ADS_1


"Papa galak!" jawab anak temaja itu.


"Dia sudah belajar berbohong!"


__ADS_2