
Mendengar kata-kata Rudian, wajah Ares berubah masam, rahangnya mengeras. Ia maju selangkah lebih dulu dari Naya dan tangannya maju menghalangi Rudian yang hendak mendekati Naya dengan kemarahannya.
'Astagfirullah'
"Tunggu, tunggu. Apa maksud anda...? Sebaiknya anda tenang," kata Ares terdengar bijaksana.
"Apa si, Nda. Jangan asal nuduh. Siapa yang selingkuh?" sahut Naya gusar.
"Iya. Kami di sini tidak melakukan apa-apa dan kami tidak punya hubungan apa-apa," kata Ares tenang.
Rudian tidak menggubris ucapan mereka berdua, ia meringsek mendekati Ares. Naya tak berdaya karena Yoni menempel dibadannya.
"Saya suami Naya. Kamu siapa? Berani sekali kamu melarangku mendekati istriku sendiri?" kata Rudian sambil menepis tangan Ares.
"Pak, ini suami saya, Rudian. Kanda, ini pak Ares," kata Naya memperkenalkan mereka, ia berharap dengan begitu mereka bisa bicara baik-baik.
"Ah, gak usah basa-basi. Kamu pulang sekarang, Nay!" bentak Rudian lagi.
"Ini juga aku mau pulang, Nda. Nanti aku jelasin dirumah," kata Naya sambil melangkah mejauhi dua lelaki yang tampak saling tatap dengan wajah yang sama-sama menyiratkan ketidaksukaan.
"Jelaskan di sini. Kamu bisa saja bohong kalau di rumah," sahut Rudian berdiri dengan sikap tubuh yang siap berkelahi.
Ares hanya menanggapinya tenang, ia memasukkan kedua telapak tangan dalam saku celana.
"Bang, Rudi... kita sudah lihat sendiri kan, Naya gak kerja tapi malah pergi sama laki-laki lain. Itu jelas artinya apa. Siapa tahu dia sering berbuat seperti ini diluar rumah, iya kan?" kata Yola, menyiram bensin pada kobaran api yang masih menyala dengan sangat panas. Ahk...
'Astagfirullah'
"Apa maksud kamu, Yola! Jangan bicara macam-macam tanpa bukti!" Naya yang mendengar ucapan Yola yang sengaja dengan jelas memancing kemarahan suaminya menjadi lebih besar.
"Heuh," Yola mendesah kasar, ia memalingkan muka, "Yang sekarang aku lihat, kalau bukan bukti, lalu apa?!"
Ares sempat heran, sebenarnya siapa wanita yang bersama suami Naya ini. Tapi ia bukan orang yang suka mengurusi urusan orang lain, jadi ia tak begitu memperdulikan kata-katanya, meski kata itu mengandung unsur tuduhan secara serampangan.
"Bang Rudi," kata Ares, "saya rasa ini hanya salah faham. Bu Naya menolong anak saya, itu saja. Dan sekarang saya mau mengantar bu Naya pulang. Ternyata anda suaminya sudah ada di sini. Jadi saya rasa saya tidak perlu mengantarnya. Benar begitu, bu?" Ares menatap Naya lekat, mencoba mendinginkan suasana.
Ia memanggil Naya dengan sebutan ibu agar terkesan tidak akrab. Ini hanya sebuah usaha agar semua baik-baik saja, menghindari pertikaian dan masalah tidak berkepanjangan. Bagi Ares, Naya tidak terlibat masalah karena dirinya itu sangat penting.
Rudian bahkan tidak tahu kalau Naya sudah pernah menginap dirumahnya. Tapi dari kata-kata Ares membuat Rudian berpikir bahwa Naya dan Ares tidak begitu dekat. Dan ia tidak seharusnya cemburu.
"Iya, tidak usah diantar. Kamu gak perlu repot," sahut Rudian tegas.
Naya sudah menidurkan Yola di baby car sheatnya. Ia tertidur karena anastesi ringan yang dokter berikan saat lukanya harus dijahit. Sebenarnya tidak perlu anastesi total seperti itu tapi mengingat alergi Yoni yang diinformasikan oleh Naya, membuat dokter memutuskan anastesi total dengan dosis rendah.
Ia lalu menutup pintu mobil dan menghampiri dua lelaki yang masih saling berhadapan.
"Tante, makasih ya udah mau nolongin Yoni," kata Raya yang sedari tadi hanya diam. Ia bergelayut manja dilengan Naya, ia justru bersikap sebaliknya dengan papanya. Raya menunjukkan bahwa ia sangat dekat dan sayang dengan Naya. Raya bersikap seperti ini sambil melirik Rudian.
'Ah, anak ini...'
"Iya, Raya. Sama-sama. Ini hanya kebetulan saja, tante juga minta maaf, ya karena gak hati-hati waktu jaga Yoni," kata Naya sangat merasa bersalah.
"Terimakasih, bu Naya. Saya tidak bisa balas kebaikan ibu. Saya pergi dulu," kata Ares seraya masuk ke mobil bersamaan dengan Raya.
Sebenarnya Ares sangat menyesalkan kemunculan suami Naya, sebab ia masih ingin tahu tentang kejadian tadi secara detil. Dan juga mengantar Naya pulang, sekalian mengajaknya makan malam.
"Sama-sama, pak" jawab Naya sambil melambai pada Raya.
Mobilpun pergi menjauh.
Tatapan Naya langsung tertuju pada Rudian yang datang dengan cara yang sangat memalukan dirinya. Suaminya itu kembali menampakkan emosi jiwanya, setelah beberapa hari yang lalu juga ai begitu emosi menghadapi mantan suami Yola.
Harusnya laki-laki itu bisa mengerti dan bersikap tenang, setelah apa yang ia lakukan pada istrinya. Harusnya rasa empati itu muncul saat itu juga, demi merasakan panasnya hati saat cemburu. Bukankah istrinya juga merasakan apa yang ia rasakan saat ini?
"Kanda, kalau aku gak dianter pak Ares, terus aku pulang mau naik apa?" Naya terlihat kesal.
"Pulang boncengan bertiga," kata Rudian.
__ADS_1
"Apa, Bang. Bertiga? Aku gak mau. Sempit! Nanti kalau perut aku kepencet gimana? Kalau abang mau sama Naya, aku naik angkot saja!" Yola merajuk.
"Iya. Iya. Ayo kamu yang pulang sama aku," sahut Rudian, tidak tega melihat Yola cemberut.
"Aku gimana? Ojek dari sini mahal, Nda. Jauh. Naik angkutan umum juga harus dua kali, beda jurusan soalnya." kata Naya cemberut.
"Ya, terua gimana?" tanya Rudian juga bingung.
"Aku gak mau naik angkot, bang. Aku suka mual sejak hamil," kata Yola lagi merengek seperti anak kecil.
Naya tersenyum kecil.
"Dasar manja. Akhirnya aku juga kan, yang harus mengalah?"
"Kalau tahu begini seharusnya biar aku diantar sama pak Ares saja tadi," kata Naya menyindir keinginan suaminya.
Naya menuruti perintah suaminya untuk tidak diantar oleh Ares karena ia pikir kalau Rudian akan mengantarkannya. Tapi seperi ini ujungnya, jauh panggang dari api, hanya karena Yola merajuk.
Naya tahu, maksud Ares menjelaskan bahkan menyebutnya ibu, hanya untuk mengurangi kemarahan Rudian yang terlihat dengan jelas bahwa ia cemburu.
"Lihat kan, bang. Naya itu gak sebaik kelihatannya. Itu buktinya, kalau dia perempuan nakal," sahut Yola sambil menyenggol Rudian denan siku tangannya.
"Sembarangan. Cuma diantar, apa salahnya si? Lagi pula aku gak sendiri. Ada anak-anaknya," jawab Naya jengah.
"Terus, kamu tadi bilang penginnya diantar laki-laki itu. Apa itu artinya kalau bukan kegenitan sama laki-laki lain!" Yola berkata dengan suara keras seolah-olah sengaja menarik perhatian orang.
"Yola...pikir diri sendiri sebelum ngomong sama orang lain. Kamu justru berhubungan sama suami wanita lain, lalu kamu sebut apa dirimu itu, ha?" Naya bicara dengan penuh penekanan.
Ia berniat pergi ketika tangan Yola menarik lengan Naya hingga Naya berbalik, lalu,
Plakk! Sebuah tamparan keras mendarata dipipi halus Naya hingga memerah..
"Yola!" teriak Rudian melihat Naya yang ditampar oleh Yola, "apa-apaan si, kamu?!"
Kebanyakan kejadian yang ada, istri pertama yang berlaku kasar pada istri kedua dengan menjambak, atau menggerebek di kamar mereka dan yang didapatkan oleh istri kedua lebih parah dari sekedar tamparan.
Mendapatkan tamparan yang tak terduga diwajahnya, segera mengusap pipinya dengan dua telapak tangannya, rasa panas terbakar menempel dikulit wajahnya yang putih. Ia juga menatap Rudian dan Yola bergantian.
"Kau, berani menamparku?" tanya Naya geram.
"Itu pantas untuk kata-katamu!" Yola ketus, Rudian masih memegangi tangannya agar tidak berbuat diluar batas.
'Kata-katamu lebih menyakitkan'
"Memangnya apa yang salah dengan omonganku? Kamu yang asal ngomong!"
"Sudah-sudah. Jangan bertengkar lagi. Ayo pulang, sudah mau maghrib." kata Rudian sambil menarik tangan Yola dan mengajaknya naik motor lalu segera berlalu pergi.
Naya melihat kepergian mereka dengan pikirannya yang masih berkecamuk. Ia ingin bertahan, karena Rudian sudah menunjukkan perubahan. Tapi setelah kejadian ini ia merasa sudah berada diujung harapan. Tidak ada lagi yang tersisa. Air matanya menetes tanpa terasa karena hatinya terluka.
Ketika hati dan perasaan manusia terluka maka yang dikeluarkan olehnya bukanlah darah melainkan air mata.
'Sabar Naya. Ini ujian mau naik kelas. Allah Mahamalihat. Ya Allah, ikhlas ini berat.. sabar itu susah..Ya Latif, yang mahalembut, pegang tanganku, peluk aku'
-
Naya memesan taxi online dan ia menunggu sambil duduk di salah satu sisi bangunan lalu menangis dengan suara tertahan. Sebebntar saja nangis dulu, meringankan sesak didada.
Selama diperjalanan, Naya menyandarkan kepalanya, melihat keluar jendela dan membiarkan airmatanya mengalir membanjiri pipinya tanpa berniat sedikitpun menghapusnya.
'Ya Allah, salahkah bila aku pergi? Perceraian juga solusi, bukan? Untuk mengatasi masalah dalam Rumah tangga bila sudah tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh?'
"Sudah, sampai mbak. Sesuai aplikasi kan?" kata mengemudi menyadarkan Naya dari lamunan. Ia segera menghapus airmatanya dan turun setelah membayar ongkosnya.
Maghrib sudah tiba saat Naya sampai dirumah. Ia segera membersihkan diri dan melaksanakan sholat maghrib. Ia merasa heran dengan haidnya bulan ini, tidak Seperti biasanya, darah yang keluar hanya berupa flek-flek kemerahan dan tidak sampai satu pekan, gejala aneh ini sudah berhenti. Ia juga merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya yang terasa berat dan sering lemas.
Naya tidak berpikir buruk, ia juga tidak terpikir untuk memeriksakan diri ke dokter. Seorang rekan kerjanya mengatakan kalau haid yang seperti itu bisa terjadi karena banyak hal, termasuk pemicu utamanya adalah stress. Benar memang, bila salah satu gejala berbeda, yang tidak biasanya muncul pada sebagian wanita haid itu karena stress.
__ADS_1
Bahkan bukan cuma soal haid saja, banyak sekali penyakit pada manusia yang disebabkan oleh hal yang satu ini, yaitu stress.
Selesai sholat, Naya ke dapur membuat mi instan pedas, maaih ada nasi yang sengaja ia masak tadi pagi agar cukup sampai malam ini. Sebelum kejadian Yoni yang terjatuh, ia sudah berniat untuk pergi ke warteg untuk mencari lauk pauk makan malam. Tidak enak setiap hari membawa makanan dari bu Nha, sebab bu Nha tidak pernah mau dibayar, kalau naya mengambil makanan dari restorannya.
"Ayo, Nda. Makan," Kata Naya sambil menyiapkan sepiring mie pedas dengan telur di meja.
Rudian baru pulang dari masjid untuk sholat maghrib. Melihat hanya satu piring yang ada di meja Rudian mengerutnya keningnya, lalu ia membuka pecinya, sambil berkata,
"Kok cuma satu, apa gak ada lagi?"
Mendengar pertanyaan suaminya, Naya mengangguk.
"Aku baru pulang, langsung sholat tetus lapar, malas masak. Bikin mie aja yang gampang. Kalo Kanda mau, aku bikinin." sahut Naya. sambil menikmati makanannya.
"Baru pulang dari ngurusin anak orang tapi malas ngurus suami sendiri, heuh!" Yola menimpali dengan kata-kata sarkasme seperti biasanya.
Entah sejak kapan ia berdiri di sana, dan melihat Naya yang asik makan sendiri. Naya diam, menganggap kata-katanya udara yang menguap. Ia sudah lelah mengakhiri hari dengan masalah yang memalukan.
"Hei, sudah. Yola. Jangan mulai lagi..." Rudian mencegah pertengkaran kembali terjadi.
"Ya sudah, bikinin ya, aku juga mau. Kamu mau gak, Yol. Kamu kan belum makan juga?" kata Rudian, sambil duduk di samping Naya, dan melihat kearah Yola.
"Ya, aku mau," Jawab Yola bersemangat.
"Ahk... aku pikir, kalian sudah makan berdua atau sudah membeli makanan diluar tadi," Naya berkata sambil menyimpan piringnya dimeja dan menyandarkan tubuhnya.
"Kalau gitu biar Yola saja yang buat mienya sendiri, sekalian buat suami. Kamu kan istri yang baik," sahut Naya.
Ia kembali menghabiskan mie pedas buatannya. Wajah dan bibirnya merah karena rasa pedas dari makanannya.
"Tuh, bang. Lihat. Naya itu suka gak nurut sama abang," kata Yola sambil menghentakkan kaki, "gimana suami mau sayang, coba. Kalau kelakuan kamu begini, Naya. Kamu gak sadar ya, sudah buat abang kesal dua kali, tadi kamu pergi sama laki-laki lain, sekarang gak mau bikinin makanan."
'Licik ya cara kamu biar aku mau masak mie buat kamu juga'
"Siapa yang gak mau, si?" tanya Naya sambil mengelap mulutnya dengan tissu, "Kan kamu mau makan mie, jadi apa salahnya sekalian masak mie buat suami? kok malah nuduh aku suka gak nurut."
"Sudah, sudah. Bertengkar terus, apa gak cape kalian!" kata Rudian.
'Sungguh aku cape. Mau sampai kapan aku harus diperlakukan seperti ini?'
"Naya, kan kamu tadi yang nawarin aku. Jadi ya sudah sana masak!"
'Ya Allah, haruskah aku bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini, soal masak mie. Apa susahnya masak sendiri'
"Tapi aku gak mau masakin Yola. Biar dia masak sendiri!"
"Kan, sekalian apa susahnya, si?"
'Selalu soal yang satu ini. Apa kanda gak ngerti? Kita punya hak yang sama, aku sudah banyak mengalah demi dia, kenapa harus aku yang disalahkan. Kanda gak pernah bela aku di depan Yola. Tapi kanda selalu bisa bela Yola didepan aku'
"Kanda gak lihat, aku juga masak sendiri buat aku sendiri,"
"Tuh, kan membantah lagi!" sahut Yola.
"Iya, ya. Kalau dipikir-pikir, memang benar kata Yola. Kamu ini suka membantah," kata Rudian sambil berdiri dan berkacak pinggang, ia mulai emosi.
Yola senang, karena sekali lagi ia dibela didepan Naya oleh suaminya sendiri. Rasa puas bukan soal makanan, tapi soal bahwa dirinya merasa dipentingkan.
Cinta bukan tentang butuh ketika ada sesuatu yang penting, tapi selalu dipentingkan dalam segala keadaan.
Naya ikut berdiri, menatap Rudian tepat dibola matanya. Menarik nafas panjang ia terlihat tenang, lalu berkata,
"Mari bercerai. Ceraikan aku, kalau kanda menilaiku begitu. Kebetulan juga bulan inii adalah janjiku untuk pisah sama kanda kalau aku tidak hamil. Jadi, mari kita bercerai."
Mendengar kata-kata Naya yang secara lugas meminta perceraian padanya, membuat Rudian seketika membeku. Ia hanya diam sambil melihat Naya yang pergi ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Naya!"
__ADS_1