
Ares melangkah meninggalkan Naya dan anaknya, lalu memesan makanan untuk Yoni dan juga dirinya.
Yoni tampak sibuk bermain dalam pangkuan Naya, ketika pria yang berparas teduh dan bermata hitam itu, menyodorkan sepiring makanan pada anaknya yang masih berceloteh pada Naya.
"Makanlah," katanya datar, lalu duduk di kursi yang tak jauh dari Naya.
Mungkin karena pengaruh gadis kecil itu, sampai Naya tidak memperhatikan pelanggan lain yang datang. Ia sibuk memperhatikan Yoni makan, sambil bercanda ria. Beberapa rekannya yang bekerja melihat kearah Naya dengan tatapan aneh, tapi Naya tidak memperdulikannya.
"Pak, apa Yoni mau dibawa bekerja, sekarang?" tanya Naya pada Ares. Laki-laki itu sudah menyelesaikan makan siangnya dan ia pun mengangguk.
'Biarkan dia bersamaku, kali ini aku ingin bersamanya'
"Biarkan Yoni sama saya saja, boleh?" tanya Naya, kini perempuan itu berani menatap wajah Ares tepat dibola matanya.
"Apa kamu tidak sibuk?" kata Ares singkat seperti biasanya.
"Sibuk tidak, santai juga tidak. Tapi saya mau sama Yoni. Jam berapa akan dijemput?"
"Tergantung pekerjaan saya."
"Baiklah, terserah bapak saja. Saya akan menjaganya," kata Naya sambil mengusap rambut Yoni.
"Yoni, di sini saja sama tante Naya, mau? Nanti kita main boneka lagi," tanya Naya dan anak kecil itu tersenyum sambil mengangguk.
Bagi Yoni, bisa bermain bersama orang lain selain nenek dan papanya adalah hal yang menyenangkan, jarang sekali kesempatan seperti ini. Anak kecil itu juga merasa, bahwa Naya adalah satu-satunya orang di luar keluarganya, yang menyayanginya.
Sebagai anak kecil yang belum faham tentang dirinya sendiri, ia tidak tahu kalau orang lain tidak bisa dekat dengannya karena fhobia yang dialaminya.
Setelah Ares pergi, Naya mengajak Yoni ke dapur menemaninya bekerja. Anak itu sangat senang ikut dengan Naya yang beraktifitas diluar kebiasaannya. Ia seperti menemukan dunia baru dengan Naya.
Sore pun menjelang dan waktu kerja Naya sudah berakhir. Namunn Ares tidak muncul juga, hingga Yoni tertidur dipelukannya. Sekarang ia lebih leluasa mengasuh Yoni karena ia tidak lagi harus bekerja.
Naya lelah memangku tubuh Yoni, yang cukup berat. Sementara Ares tidak juga datang. Ia menidurkan Yoni di mushola tempat ia biasa menunaikan sholat, saat bekerja. Kesempatan ini ia gunakan untuk membaringkan tubuhnya di samping Yoni.
Kring! Terdengar suara ponsel Naya berdering. Naya mengangkatnya begitu ia hendak memejamkan matanya. Panggilan telepon itu, dari nomor yang tidak dikenal, membuat ia sempat ragu. Walau akhirnya, panggilan itu ia terima juga.
"Halo. Siapa ini?" tanya Naya.
"Naya?" kata suara diseberang telepon, "Saya papanya Yoni. Kamu dimana?" Nada suara itu terdengar gelisah, mengingat hari sudah menjelang sore.
__ADS_1
"Saya di mushola, Pak" sahut Naya dengan cepat. Ia juga sedikit terkejut, dari mana Ares bisa tahu nomor ponselnya.
"Oke, saya ke sana. "Yelepon pun di tutup begitu saja membuat Naya mengedikkan bahunya.
Naya segera membereskan mukena, merapikan jilbab dan pakaiannya secara perlahan. Ia lalu meraih badan Yoni untuk di bawa ke luar mushola. Namun justru Yoni terbangun dengan gelisah dan ketakutan, tubuhnya panas dan menggigil. Dari mulitnya keluar kalimat yang tidak jelas seperti gumaman dan racauan.
"Yoni, kamu kenapa, sayang...?!" tanya Naya turut gelisah. Ia memeluk tubuh Yoni erat dan menggoyangkan seperti gerakan mengayun lembut.
Naya memejamkan mata, menarik nafas dalam dan mengembusskannya secara perlahan sambil bersholawat. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, sebelum menenangkan orang lain.
Setelah itu Naya membaca beberapa ayat dalam Al Qur'an seperti ayat kursi, dan ayat-ayat lain yang biasa digunakan untuk meruqyah. Dengan tenang dan lancar ia membacanya berulang-ulang.
"Tenang, sayang. Tate ada di sini. Tidak usah takut. Tante akan menjagamu." kata Naya sambil terus mengusap tubuh dan kepala Yoni disela-sela bacaan ayat-ayatnya.
"Yoni!" kata Ares gugup. Ia melihat Naya yang dengan erat memeluk tubuh anaknya. Keringat dingin tampak membanjiri kening Yoni.
"Kenapa kamu membawanya ke sini? Ini tempat asing bagi Yoni!" kata Ares seraya berlutut mendekati Naya yang duduk di karpet.
"Maaf, saya kira tidak masalah, soalnya Yoni tadi tidur ...."
"Ah, saya juga kadang heran, sama seperti kamu. Padahal dia tidur, tapi tetap saja dia kambuh waktu dia bangun."
"Gak, apa."
"Eh, Pak. Yoni sudah tenang, sekarang gak gemetar lagi. Alhamdulillah."
"Kamu kasih apa dia? Biasanya saya bawa kedokternya, kalau lagi kambuh begini."
Naya tercengang mendengar ucapan Ares, Yoni harus di bawa ke dokter setiap kali kambuh, sungguh merepotkan.
Ares menyentuh dahi Yoni. Seketika Naya menjauhkan tubuh Yoni dari tubuhnya, karena gugup.
"Yoni, kamu sudah bangun?" kata Ares begitu menyadari Yoni membuka matanya, dan menatap sekeliling ruang yang asing baginya.
"Yoni, kamu tidak apa-apa, kan? Ayo! Tante gendong," kata Naya seraya berdiri sambil memangku Yoni dalam gendongannya, anak kecil itu memeluk lehar Naya dengan posesif.
'Wah, dia tidak melakukan apa-apa, tapi Yoni bisa tenang. Mantra apa yang dia pakai?'
"Pak, mau pulang sekarang?" tanya Naya dan Ares pun mengangguk.
__ADS_1
"Saya mau kemput Raya dulu, sudah terlambat. Pasti Raya nunggu di sekolah."
"Oh," jawab Naya, sambil berjalan mengikuti Ares menuju mobilnya. Ia hendak mendudukkan Yoni di kursi mobil ketika anak kecil itu menangis. Ia tidak mau melepasnya pelukkannya dari Naya.
"Yoni, tantenya mau pulang. Kamu jangan manja," kata Ares sedikit keras. Anak itu semakin kuat mengeluarkan suara tangisannya.
"Gak mau, Yoni mau sama tante saja. Di rumah gak ada nenek. Bosen," kata Yoni disela tangisannya.
"Eh, anak baik ... tidak boleh cengeng, nurut dong sama Papa. Besok kita main lagi. Oke?" kata Naya menenangkan, ia berusaha melepaskan tangan Yoni dari lehernya.
"Besok ya... tante. Janji" kata Yoni masih terisak-isak kecil.
"Iya, janji," kata Naya mengaitkan kelingkingnya pada jari kelingking Yoni.
"Mau saya antar?" kata Ares sopan. Ia tahu Naya mau pulang juga.
"Tidak, Pak. Terimakasih" kata Naya segera berlalu dari mobil Ares begitu saja. Ares sudah biasa ditolak seperti ini oleh Naya, tapi tetap saja ia kecawa. Akhirnya ia pun menjalankan mobilnya, meninggalkan restoran dan juga Naya. Ia harus segera menjemput Raya.
Naya sengaja menolak kebaikan Ares yang menawarkan tumpangan padanya. Ia tak ingin kembali salah faham dengan Rudian, bila Ares mengantarkannya pulang.
Seperti biasa, akhirnya Naya pulang dengan menumpang ojek online langganannya. Ketika ia sampai di pintu gerbang komplek, ia melihat sekelebat bayangan ibu mertuanya, yang sedang berboncengan motor dengan seorang wanita, yang ia kenal beberapa pekan lalu, wanita itu adalah Yola.
Deg. Jantung Naya bersesir keras.
'Dari mana mereka berdua, apakah dari rumahku, bukankah itu, Ibu dan Yola, ada keperluan apa mereka berdua?'
Sore itu, Naya memang pulang sangat terlambat, padahal ia harus membuat makan malam. Saat Naya turun dari motor ojek yang ditumpanginya, ia melihat suaminya sedang berdiri di depan rumah. Ia seperti orang yang sedang melepas tamunya pergi.
"Kanda masih ngapain? Nunggu orang, atau baru saja mengantar Ibu sama Yola? Mereka pakai motor kita kan?" Naya berkata sambil melangkah mendekatinya, setelah ia membayar ongkos pada ojek yang mengantarkannya.
'Bagaimana Naya bisa tahu'
"Apa Kanda mau jujur sekarang atau bohong lagi, soal hubungan kaynda dengan Yola?"
Pasangan suami istri itu masih ada di depan pintu, bahkan tukang ojek baru saja pergi, tapi mereka sudah memulai pertengkaran disana.
Bersambung
*Terimakasih atas dukungannya. Silahkan like dan votenya.*
__ADS_1
*ujung pena*