Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 25. Cinta Itu Kata Kerja


__ADS_3

"Aah..." Naya dan Farah mendesah panjang sambil merentangkan kedua tangan mereka. Menghirup udara khas pantai sepenuh kemampuan paru-paru dan mengeluarkan CO2 dengan kuat.


'Segarnya...seperti inilah pantai.'


Lalu Naya berteriak sekuatnya, ia mengeluarkan sesak di dadanya. Kebanyakn orang di pantai melakukannya kan? Ayolah, bukan anak kecil saja yang butuh berteriak. Orang dewasa juga perlu, perlu banget malah. Apalagi buat mereka yang kesehariannya sering menerima beban, tugas dan tanggung jawab yang tidak sedikit dan sifatnya rutinitas.


"Sudah lega sekarang?" kata Farah ketika Naya sudah kembali duduk di karpet lipat yang Farah bawa dari rumah.


"Ahh...lega, sedikit." kata Naya mengelus dadanya sendiri.


Mereka beetiga duduk menghadap pantai Anyelir yang keindahannya cukup terkenal di kota Metropolitan itu. Sementara anak balita Farah tertidur pulas.


"Tersenyumlah untuk dirimu sendiri, karena satu senyumanmu akan meringankan satu beban dipundakmu." kata Farah sambil mengusap pundak Naya.


"Iya...tapi tetap saja kita butuh Allah. Selama ini kalau aku sedih, suka bicara langsung saja pada Allah. Mengadu pada-Nya. Terutama sejak ibuk meninggal. Serasa gak punya tempat bersandar." kata Naya setelah meminum air mineral dibotolnya yang tersisa setengah.


"Ternyata kamu sudah pintar ya, gimana cari solusi menenangkan hati, mendekatkan diri pada Allah."


"Itu juga dari kamu, Far."


"Aku juga bukan orang alim, Nay. Masih banyak salahnya. Tapi apa yang terjadi sama kamu bisa jadi pelajaran buat aku juga. Kamu orangnya pemaaf."


"Aku memaafkan suamiku karena aku masih sayang. Atau mungkin benar kata orang kalau biasanya manusia itu memaafkan karena takut kehilangan." kata Naya.


'Banyak dari kita yang memaafkan karena takut kehilangan, membiarkan luka terus menganga hanya demi kebahagiaan yang sesekali ada.'


"Menurutku si, gak masalah kita takut kehilangan orang yang kita sayang. Itu wajar kok." sahut Farah sambil mengendikkan bahu.


"Iya. Aku takut kalau aku tidak memaafkan dan tidak menerima keadaan Rudian, maka aku akan disalahkan, dicemooh dan ditingggalkan. Terus terang aku ingin Rudian hanya Jadi milikku seutuhanya. Apa itu egois?"


'Aku sudah sering disalahkan karena mandul. Aku tidak mau disalahkan terus. Apa berarti aku lemah?'

__ADS_1


"Iya, salah satu keegoisan wanita tidak mau berbagi suami, padahal agama membolehkan." kata Farah.


"Kan ada syaratnya, harus mampu dan adil. Tapi Bagaimana bisa adil si kalau suami bisa berbagi tapi istri dituntut sebaliknya." kata Naya dengan mata berbinar mencari dukungan, lalu melanjutakan ucapannya


"Kenapa tidak ingin suami menikah lagi, karena itu sakit. Sesakit ini, Far. Seandainya para suami itu diperlakukan sama. Pasti mereka tidak akan kuat. Hati mereka itu sebenarnya cuma satu. Sama seperti wanita."


"Pantas saja banyak berita tentang laki-laki yang memutilasi pasangan mereka karena ketahuan kalau istrinya selingkuh dengan laki-laki lain." Naya menimpali.


"Nah, itu dia. Para laki-laki itu kemarahannya lebih besar dari kemarahan perempuan. Serem deh. Bisa jadi karena memang Allah menciptakan hati kita lebih lembut ya."


"Oh iya, Nay. Aku pernah dengar kalau kita harus banyak-bamyak mengucapkan Ya Latif. Itu nama Allah yang artinya Mahalembut. Agar hati kita lapang dalam menerima kenyataan hidup dan memaafkan kekurangan orang lain."


"Baiklah, terimakasih atas nasehatnya. Terus apalagi nasehat buatku?" tanya Naya tersenyum.


"Susah deh, aku bukan ahlinya." sahut Farah sambil tertawa, dan katanya lagi.


Mendengar ucapan Farah, Naya menipiskan bibirnya.


'Ahli apa? Sekarang saja aku masih down banget. Masih mencoba menghibur diri. Masih beruasaha menerima semua takdir ini dengan lapang dada. Karena sebenarnya ini takdir yang bisa dicegah dengan banyak ibadah dan menahan diri.'


Naya membenarkan posisi duduknya sambil menikmati cemilan. Katanya.


"Kalo dipikir-pikir, cinta itu kata kerja. Kalau cinta, ya harus begini dan begitu konsekuensinya. Semua bla bala bla itu, harus dilakukan karena cinta, atas dasar cinta. Trus kalau cinta pada kenyataan yang dilakukan dengan janjinya berbeda, maka orang akan bilang, katanya cinta tapi kok begini, tapi kok begitu. Itu artinya cinta itu kata kerja. Harus ada perbuatan nyata yang membuktikan cinta."


"Wah, kamu benar. Nay. Mau jadi ustazdah nih kayaknya."


'Ustadz apalagi, Farah...?'


"Nih, ustadz..." kata Naya sambil mencubit pipi Farah gemas. Lalu berlari dengan telanjang kaki menuju tepi pantai.


"Hei... Naya...!" Farah berteriak yang justru membuat anaknya terbangun dan ia tidak bisa mengejar Naya. Ia membiarkan Naya berjalan sendiri dipantai sementara ia memberi susu pada si kecil.

__ADS_1


"Eh, itu kok mirip..." kata Naya bergumam sendiri. Ia melihat tiga orang sedang bercanda dipantai, mereka seperti sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan dua anak perempuannya.


'Tapi, inikan bukan hari libur. Gak mungkinkan mereka liburan ke pantai?'


Naya melihat anak kecil yang dikejauhan sana adalah Yoni, Raya dan Ares. Mereka bertiga tampak bermain bola pantai dengan riangnya. Tapi jarak yang cukup jauh membuat Naya enggan memastikannya.


'Ah, itu hanya aku saja yang terlalu mengada-ada'


"Naya!" Farah memanggil Naya sambil menggandeng tangan mungil anaknya.


"Hei, manis. Sudah bangun?" kata Naya sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak Farah.


"Tante, saya bukan kucing. Jadi jangan panggil saya manis. Panggil nama saya Sabita, itu nama saya." kata Farah mewakili anaknya yang hanya tersenyum pada Naya.


Mereka kembali berjalan menyusuri pantai sambil bermain ombak dan mencari siput laut. Sesekali tatapan Naya masih tertuju pada ketiga orang dikejauhan sana.


"Kamu lihat siapa, Nay. Apa kamu tahu siapa mereka?" tanya Farah sambil menunjuk ketiga orang yang dikejauhan dengan dagunya.


"Mana kutahu. Aku gak kenal mereka. Apa kamu tahu?"


"Katanya, mereka itu pemilik villa diujung sana. Kelihatan kan dari sini?"


"Hemm..." gumam Naya sambil melihat kearah yang ditunjuk Farah.


"Itu, ayah sama dua anaknya. Katanya si, dulu istrinya meninggal didepan mata suaminya sendiri dalam keadaan mengandung. Istrinya itu kecelakaan dan terpaksa anaknya dilahirkan saat itu juga tanpa dibius karena wanita itu pinsan."


Mendengar cerita Farah, bulu kuduk Naya merinding membayangkan peristiwa tragis seperti itu. Cerita bagai di dunia dongeng saja. Bagaimana bisa melahirkan caesar tanpa dibius sehabis melahirkan?


"Bagaimana dengan anak yang dilahirkannya, apa dia selmat?" tanya Naya penasaran. Ini kisah menarik.


"Selamat, alhamdulillah. Tapi sampai sekarang ayah anak itu menduda. Ia seperti trauma punya istri lagi. Padahal dia orang kaya raya lho."

__ADS_1


'Oh, berarti orang-orang itu bukan keluarga Yoni. Karena Pak Ares orang kaya biasa saja. Mobil yang dipakainya saja mobil sejuta umat avanza, kebanyakan orang kaya golongan menengah kebawah, punya.'


"Naya, kamu mikirin, apa?" tanya Farah melihat Naya yang diam sambil menatap ketiga orang dikejauhan.


__ADS_2