
Pagi menjelang, semburat sinarnya menyapa bumi, membelai semua yang ada dipermukaannya dengan lembut. Naya sudah membersihkan dirinya, bersiap hendak bekerja. Semalam Naya kembali tidak bisa tidur.
Setelah obrolan yang menyakitkan dengan ibu mertuanya sore itu, Naya tidak keluar dari kamarnya. Rudian juga tidak menemuinya untuk membahasa masalah itu. Walau ada banyak rasa gundah yang ingin ia ungkapkan pada suaminya, tapi ia memilih diam.
Naya memilih untuk mencurahkan segenap perasaannya pada sangpemilik jiwa. Ia tak ingin bertengkar, hari-harinya sudah sangat melelahkan untuk melakukan pertengkaran. Bakerja menjadi pelayan tidaklah mudah, karena selalu dituntut untuk menjadi pandai menata hati, mengelola perasaan. Walau sedih walau susah tetap harus tersenyum ramah.
"Halo, kanda?" kata Naya, ia menelpon suaminya.
Semalam Rudian tidak pulang. Bahkan sisa makanan sore itu baru saja ia bereskan setelah sholat subuh. Hari ini ia pun tak membuat sarapan. Tenaganya seperti menghilang, karena dari sore ia juga tidak makan apapun lagi.
"Iya, ada apa lagi?" kata Rudian dari balik telepon.
"Kanda, tidak pulang? Apa tidur di rumah ibu?"
"Iya. Jadi nanti kamu berangkat sendiri ya. Gak usah repot buat sarapan. Aku berangkat langsung dari rumah ibu."
"Oh, sudah tidak ada demo?" tanya Naya lagi.
"Tidak. Sudah dulu teleponnya, assalamualaikum."
Tut! Suara telpon ditutup secara sepihak oleh Rudian seperti biasanya. Sstt... Naya mendesis sendiri, meredam rasa nyeri diulu hatinya. Sakit hati, itulah namanya, mungkin setiap wanita pernah merasakan sakit yang sakitnya diatas sakit seperti itu.
'Semalaman diiabaikan, tidak menelpon kalau tidak ditelpon lebih dulu, tidak diantar ketempat kerja, tidak sarapan bersama, tidak bertanya apapun tentang aku saat ditelpon, kamu benar-benar berubah kanda.' Naya.
Setitik air mata kembali jatuh dipipinya. Sembab sisa semalam saja masih ada. Mata Naya semakin merah dan bengkak.
'Ya Allah, haruskah sesakit ini mencintai? Bukankah cinta itu tujuannya bahagia? Apa inikah jalan bahagia? Aku memang menginginkan ridho-Mu, ya Allah. Memang, ridho suami akan membuat Allah ridho juga. Tapi bagaimana bila suaminya tidak mendidik, bahkan mengingatkanku sholat saja tidak pernah? Haruskah?' Naya.
Naya mencuci wajahnya kembali, menatap dirinya di depan cermin. Bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa aku sudah tak cantik lagi. Apa memang Allah mengujiku dengan tak punya anak? Apa aku memang tak menarik? tapi bukankah dulu aku manis hingga kanda saja mau menikahiku?"
Naya tersenyum pada dirimya sendiri. Satu senyuman seolah bisa mengurai satu masalah. Ia menyemangati dirinya sendiri, membuat tekad bahwa ujian yang tidak akan berahkir sebelum mati ini akan ia hadapi, dengan kekuatan yang ada. Kuat bukan tentang bagaimana mendapatkan tapi kekuatan sejati itu ada ketika kita mampu mempertahankan.
"Baiklah aku akan mencoba bertahan," katanya lirih.
Naya membenahi jilbabnya dan pergi keluar rumah untuk mencari tumpangan menuju restoran, ia sudah agak terlambat.
Menjelang sore.
Naya sudah menyelesaikan jadwal shipnya. Semua tugas sudah ia kerjakan sesuai keinginan bu Nha. Wanita bertubuh gemuk itu puas dengan pekerjaan Naya. Ia hanya tersenyum saat Naya pamit pulang sebelum jam tiga sore.
'Hari ini tidak ada Yoni' Naya.
Ia menatap restoran sekilas setelah sampai disisi jalan raya untuk mencari angkutan umum. Kali ini ia memilih menggunakan ojek.
Naya sudah terbiasa seperti itu, ia bersyukur bisa bersyukur untuk berbagi rezeki. Saat sudah berjalan selama beberapa waktu dan motor yang diboncenginya berjalan beberapa puluh meter saja, ia menghentikan okek tumpangannya.
"Ada apa, neng? Apa salah jalan? Tadi bilangnya mau ke perum Aliman kan?" Kata tukang ojek sambil menghentikan laju motornya.
"Iya, sebentar. Saya mau lihat kesana," kata Naya sambil berjalan perlahan menuju kesebuah minimarket tak jauh dari tempatnya berhenti. Ia mencoba meyakinkan pandangannya.
Deg. Hatinya berdegup.
'Bukankah itu Kanda. Bukankah ini belum waktunya pulang kerja? Tapi sama siapa, dia...wanita itu.... Akh! Astaghfirullah, astaghfirullah'
Naya menyipitkan matanya memastikan bahwa pandangan matanya tidak salah. Demi apa yang dilihatnya, tentu berbagai perasaan berkecamuk muncul berseliweran dibenaknya. Ingin beeteriak, atau memaki, tapi tidak tepat. Itu bukan cara kemarahan yang elegan, ia punya cara yang lebih bermartabat.
Cara yang sering digunakan oleh orang yang memergoki suaminya selingkuh, dengan pasangannya, dan istri sahnya melakukan tindakan yang memalukan. Menjambak, memaki dan berkelahi, tapi di saat seperti ini biasanya sang suami selalu membela pasangan tidak sahnya atau membela wanita selingkuhan nya, karena ia tidak akan rela melihat seorang wanita di siksa di hadapannya.
__ADS_1
Naya menghubungi nomor ponsel suaminya, tapi sekian kali panggilan yang Naya lakukan, diabaikan. Apa yang ia lihat harus dipastikan kebenarannya. Menanyakan apa yang dilihatnya pada Rudian adalah cara yang pantas menurutnya. Ia yakin suaminya orang yang jujur.
Karena gagal melakukan panggilan, akhirnya Naya menyerah, apalagi sosok Rudian dan wanita itu sudah hilang entah kemana. Masih jelas dalam penglihatan Naya, seorang wanita yang tampak begitu mesra bergelayut ditangan suaminya. Siapa dia?
'Apakah aku harus menanyakannya, atau aku harus mencari bukti lainnya. Aku harus tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Rudian' Naya.
Tiba-tiba sebuah hawa panas menjalar dihatinya, seperti inilah rasa sebuah kecemburuan, rasa yang selalu menyerang pada setiap orang, apabila mereka melihat orang yang dicintainya bermesraan dan bersama dengan orang lain, tapi bukan dirinya.
Setelah beberapa menit sabar menunggu, tukang ojek itu memanggil Naya. Perempuan itu masih berdiri di depan toserba.
"Neng, jadi ke perum gak?"
"Iya, iya, Pak. Kan belum sampai rumah saya" kata Naya kembali menaiki motor dan motor itu pun mulai melaju lagi.
"Ada apa gitu, neng? Kok seperti orang yang ketakutan gitu?"
'Siapa yang takut, si' Naya.
"Itu, saya lihat suami saya. Tapi waktu saya panggil lagi sudah gak ada, saya telepon, gak diangkat," sahut Naya.
"Mungkin salah lihat," kata tukang ojek tenang.
"Iya juga, mungkin memang aku salah lihat." Naya bergumam.
"Jangan berprasangka buruk dulu. Karena prasangka itu akan menyakiti diri sendiri. Kita lebih baik berserah diri saja sama Allah. Berserah diri itu beda sama menyerah." kata tukang ojek yang terlihat sudah berumur itu.
Sebenarnya, ia tadi sempat melihat apa yang dilihat oleh Naya Dan menangkap dengan jelas kegelisahan Naya setelah itu, jadi tukang ojek seperti mengambil kesimpulan sendiri. Namun karena ia tidak memiliki kapasitas apapun untuk ikut campur, ia hanya nasehat, itulah yang bisa ia berikan.
Sesampainya Naya dirumah, Naya membuka pintunya, ia melihat ada sesuatu yang berbeda dari saat ia tinggalkan tadi. Ia melihat ada gelas bekas minum di atas meja, di ruang tamu rumahnya.
__ADS_1
Bersambung