Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 68. Berdamai Dengan Keadaan Lagil


__ADS_3

Naya menangis tidak melanjutkan kata-katanya karena kesedihan yang amat sangat. Ia hanya menggenggam tangan Rudian dengan erat. Semua yang ingin ia sampaikan seketika hilang begitu saja, ia memanggil-manggil Rudian dengan lembut lalu menggoyang-goyangkan badannya, tapi suaminya itu tetap diam tak bergerak. Ia seperti pinsan.


Karena heran Sarita mendekat, ia berpikir mungkin Naya mengira Rudian mati. Jadi wajar kalau ia menangis seperti ini. Sarita menepuk bahu Naya dan bertanya,


"Kenapa kamu menangis, Nay? Rudian baru saja tidur, dari tadi ngeluh sakit kepala."


Naya menoleh pada Sarita sambil menghapus sisa airmatanya, ia mengangguk dan menjawab, "Gak ada apa-apa ko, bu. Cuma sedih. Kenapa proses menyakit Rudi secepat itu perubahannya. Kemarin juga seperti itu."


Akhirnya Naya memutuskan untuk diam, menyimpan semua untuk dirinya sendiri.


Sarita tersadaar.dengan kata-kata Naya, ia mengerti sekarang sekarang kalau Rudian tidak menunjukkan gejala kearah yang lebih baik tapi justru semakin buruk.


Naya duduk di Sofa sambil menonton televisi, mengganti beberapa chanel lalu kembali dimatikan karena tidak ada yang menarik. Ia lebih senang kalau acara yang ia lihat adalah balapan motor.lagi.


Sarita duduk di dekat Naya, sambil berkata, "Kamu gak bohongkan, Nay? Sebenarnya ada apa. Kenapa kamu nangis?"


"Ibu percaya kalau saya bilang kalau saya hamil tapi gak jadi?"


"Ko, bisa. Gak jadi gimana maksudnya?"


Naya menceritakan semuanya, dari awal sampai akhirnya ia menangis di hadapan Rudian, ia tumpahkan semua yang ia pikrkan tentang calon janinnya, tapi ia tidak mengatakan apapun karena percuma, merasa bahwa Rudiam tidak akan mengingatnya, apalagi kondisinya ssmakin menurun.


Mendengar cerita Naya, Sarita menarik nafas dalam lalu mendekati Naya dan memeluknya. Lalu berkata, "Maafkan, aku."


"Ibu gak salah, buat apa minta maaf," sahut Naya dan Membalas memeluk ibu mertuanya.


Allah Mahakuasa membolak-balikkan hati manusia. Sekeras apapun hati manusia, apabila Allh berkehendak memberikan petunjuk padanya, maka tidak akan akan ada yang menghalanginya.


Dan saat ini, ketika sscara tidak sadar, ujian yang menimpa Naya adalah jalan bagi Sarita untuk menyadari kesalahannya, menyadari apabila ia ibu mertua Naya, tidak seharusnya mengucapkan sesuatu yang diluar kendalinya sebagai manusia biasa. Karena ia tidak akan tahu apa yang dikehendaki-Nya.


Begitulah bila ada sebuah peristiwa terjadi pada manusia yang melibatkan manusia lainnya, bisa jadi kejadian itu adalah ujian bagi seseorang tapi bisa juga peristiwa itu merupakan pertolongan bagi orang lainnya. Subhannallah.


-


Pagi itu Naya terbangun sebelum subuh, ia keluar rumah karena mendengar suara token listrik sudah menandakan minta diisi ulang. Naya mengambil inisiatif untuk mengisi sendiri pulsa listrik rumahnya hari ini. Tidak banyak yang penting bisa membuat suara berisik itu berhenti. Ia tersenyum, mengingat dulu saat masih tinggal di rumah ini, ia selalu mengisinya tanpa pernah meminta uang gantinya pada Rudian.


Kini, setelah beberapa bulan ia tinggal di sini lagi, Yolalah yang selalu mengisi ulangnya token listriknya. Wanita itu benar-benar memenuhi janjinya untuk membiayai semua kebutuhan, termasuk membayar cicilan rumahnya. Rudian keluar dari pekerjaannya secara otomatis, Yola sudah membuatkannya surat pengunduran dirinya. Sehingga ia mendapatkan sejumlah uang untuk pesangon terakhirnya.


Setiap hari Naya selalu memasak untuk semuanya disela-sela kesibukannya merawat Rudian. Tapi ia tidak pernah belanja, Yola yang sudah memenuhi kebutuhan dapurnya. Tak masalah bagi Naya, asal ia tidak mengeluarkan uang sepeserpun karena ia tidak bekerja dan uang simpanannya sudah sangat menipis.


Sebelum sholat subuh, Naya membersihkan Rudian dari najis seperti biasa dan mengajaknya untuk sholat. Saat Naya mengganti pakaiannya, Rudian terbangun dengan menatap Naya dengan tatapan yang asing, tatapan seperti melihat orang lain saja.


"Siapa, kamu?" tanya Rudian membuat Naya terhenyak hampir tak percaya. Tapi Naya berusaha tenang, ia menjawab setelah menarik nafas dalam, "Aku Naya. Aku istrimu." tersenyum sambil menyelesaikan aktifitasnya.


Rudian mengernyit, lalu berkata sambil kembali menatap Naya dengan raut wajah sedikit berubah,


"Naya? Kau Naya? Kita menikah enam tahun yang lalu..."


"Iya, kamu ingat sekarang?"


"Ingat, masa aku lupa."


Naya tersenyum dan pergi menjnggalkannya, untuk mengambil air wudhu. Lalu kembali ke kamar untuk sholat namun dilihatnya Rudian sudah memejamkan mata, ia kembali tertidur. Naya mencoba membangunkannya, tapi tidak berhasil.


'Dia harus sholat, tapi kondisinya yang begitu mungkin sudah ada rukhsoh atau keringanan baginya'


Naya melaksanakan sholat subuh lebih lama, berharap Rudian terbangun lalu teringat untuk sholat sebelum habis waktunya. Akhir-akhir ini ingatan Rudian sudah mulai berkurang. Ketika ia bangun maka ia akan bertanya siapa dirinya dan saat mereka mengobrol, yang dibicarakan Rudian adalah masa kecilnya. Dalam memori Rudian, dirinya adalah anak kecil, yang selalu tersenyum pada Naya dengan senyum polos dan lugu seolah-olah mereka baru pertama kali bertemu dan Naya adalah orang asing baginya.


Naya membuat sarapan, untuk semua orang. Ia tahu Yola harus pergi bekerja dipagi hari seperti biasa. Wanita itu tidak banyak tahu tentang suaminya, ia jarang bertanya apapun pada Naya. Begitu juga Dero, ia selalu pergi dari pulang dengan Yola, entah pergi kemana saja mereka berdua.


Selama ini teman ngobrol Naya adalah Rudian atau Sarita dan Sania saat mereka datang melihat keadaan dan membantu mengurus Rudian.

__ADS_1


"Ngapain, kamu Naya? Kamu bersenang-senang sendiri ya?" tanya Yola ada rasa tidak rela dalam nada suaranya.


Ia sudah mandi dan hendak mengganti pakaian dengan pakaian yang ada dilemari. Selama Naya ada di sana, pintu kamar itu tidak pernah ia tutup apalagi ia kunci.


Saat itu ia melihat Naya sedang memeluk Rudian yang masih bercerita masa kecilnya seperti biasa. Naya menikmati saat-saat seperti ini karena ia merasa, suatu saat nanti semua yang ia alami dengannya kali ini akan menjadi cerita, baik besok, lusa atau manti.


'Ahk, dia pasti cemburu dan berpikir kotor tentang kami'


"Rudian, coba lihat. Siapa dia?" kata Naya sambil duduk dari rebahannya di sisi tubuh Rudian. Ia menatap Rudian penuh kasih sayang. Rudian menoleh pada Yola.


"Siapa kamu?" tanya Rudian sambil mengerutkan alis. Pertanyaan Rudian Ini membuat Yola membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kau, sungguh tidak ingat siapa aku?" tanya Yola heran. Naya tersenyum menanggapi keterkejutan Yola. Tentu saja ia heran karena ia tidak pernah mengurus Rudian.


"Aku, Yola. Istrimu! Masa kamu lupa?"


"Yola?" tanya Rudian lagi membuat Yoa kesal.


"Makanya, jangan menuduh orang sembarangan, mana mungkin dia berselera padahal dia gak ingat siapa kita, apalagi aku..." Naya berkata hampir menitikkan airmatanya.


Sudah hilang semua selera dengan orang yang hampir saja melupakan semua kenangan manis mereka berdua.


Lalu Naya mengatakan semua tentang penyakit Rudian. Ini akan terjadi cepat atau lambat. Ia tidak menyangka dilupakan dengan cara seperti ini, lebih menyakitkan dari pada melupakannya sendiri. Melihat dihadapannya, orang yang dicintai melupakannya.


Rasa sakit itu seperti tidak penting lagi untuk dipermasalahkan sekarang. Sungguh rasa sakit hati, benci, kecewa dan kemarahan itu tidak ada artinya kalau semua manusia pada akhirnya hanya akan saling melupakan dan ingin hidupnya bahagia.


Setelah Yola mengerti apa yang kini ia hadapi, ia pun pergi setelah berganti pakaian dengan perasaan gamang. Ia juga akan dilupakan. Padahal usia kehamilannya sudah memasuki trimester terakhir. Haruskah ia melahirkan anaknya tanpa seorang ayah.


Naya manepuk bahu Yola ketika ia berada diteras rumah hendak bekerja dan berkata,


"Semoga Rudian masih memiliki waktu untuk bisa melihat anaknya lahir, dan adzan ditelinganya," mendengar ucapan Naya itu Yola menangis.


"Kapan kamu ambil cuti melahirkan?"


"Hati-hati, jaga dirimu baik-baik, tidak ada suamimu yang mendampingimu," kata Naya.


Setelah kepergian Yola, terdengar suara ponsel Naya berdering. Ada panggilan dari Nuria, ibu sambungnya. Wanita itu mengabarkan sudah mengirim obat herbal yang Naya pesan, beberapa bulan terakhir, ia selalu mengkinsumsi obat herbal itu untuk memulihkan kondisi rahimnya setelah di currat. Ia memesan ramuan yang dibuat oleh Nuria sendiri, campuran dari rumput mutiara, daun pegagan dan kulit manggis, yang juga berguna untuk kesehatan wanita, baik organ dalam serta kulitnya.


"Berapa semuanya, tante?" tanya Naya setelah Nuria mengabarkan sudah mengirim paketnya akan segera tiba.


"Tidak usah, simpan saja uangmu, kamu lebih butuh dari pada aku. Kamu sudah gak kerja lagi, kan?"


"Iya, tante. Terimakasih," hanya itu yang Naya ucapkan. Disisi lain ia mendapatkan ujaran yang tidak mengenakkan dari Yola, disisi lain ia mendapat hiburan dari ibu sambungnya.


Mahabenar Allah dengan firman-Nya, sesungguhnya diantara kesulitan itu ada kemudahan. Diantara kesusahan itu, ada kesenangan.


-


Sore yang cukup cerah. sore diakhir pekan dibulan ini. Sore kesekian yang menjadi saksi bagi Naya mengajak Rudian jalan-jalan disekitar kompleks perumahan, mengisi waktu luang sambil menunggu waktu magrib tiba.


Sampai disebuah tanah lapang yang banyak ditumbuhi rumput liar, Rudian menepuk-nepuk tangan Naya yang ada dibelakang bahunya agar menghentikan dorongan kursi rodanya. Tanah lapang itu dekat dengan lembah kecil dan bisa melihat matahari terbenam disana dengan jelas. Ada beberapa anak-anak bermain di sudut sebelah utara, ada juga beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol di sudut lainnya.


Naya duduk disebuah batu yang ada di sana dekat Rudian menunjuk satu arah, memintanya melihat sebuah pohon tua.


"Kau ingat dulu waktu kita pertama kali tinggal diperumahan ini, kita berdiri di pohon itu saling berpelukan tanpa malu-malu?" katanya sambil membawa satu tangan Naya keatas pahanya dan menepuk-nepuknya lembut.


Naya menatap Rudian lekat, ia tidak percaya Rudian akan mengingat semua itu saat ini. Naya mendekat, berjongkok dekat kaki Rudian dan tangannya ikut menggenggam.


"Apa lagi yang kau ingat?" tanya Naya antusias.


"Hanya itu, maaf... Ayo, ingatkan aku lagi soal semuanya, sebelum semua yang pernah kita lakukan hanya tinggal kisah dan kenangan" kata Rudian dengan senyum yang mengandung banyak arti pada Naya. Dalam kondisi sadar, maka Rudian akan berkomunikasi dengan baik, tapi saat sudah lupa, mak ia akan seperti anak kecil.

__ADS_1


Otak yang mengontrol semua organ, sel, hormon dalam tubuh, ketika otak bermasalah maka semua akan terganggu.


Naya menitikkan airmatanya, dan tangan Rudian terulur untuk menghapusnya.


"Maafkan aku."


Selalu itu yang diucapkan Rudian, seolah ia takut bila Naya tidak memaafkan kesalahannya. Mungkin saat Yola ada di sisinya saat ini, saat Rudian sedang sadar, maka ia akan mendapatkan ucapan maaf yang sama. Sering kali Rudian terbangun hanya bertanya pada Naya, "Siapa kamu?" dan akan kembali memejamkan matanya setelah Naya menjawab dengan lembut dan senyum manis, "Aku Naya, istrimu," ia hanya ingin mengukir kenangan manis untuk dirinya sendiri karena untuk Rudian ia akan dilupakan dan jadi tak berarti. Ia tidak ingin menyesal suatu hari nanti. Ini kesempatan yang sangat bagus ketika Allah memberi waktu seseorang untuk tahu kapan ia akan dipisahkan oleh maut.


"Iya, aku sudah memaafkanmu."


"Kamu cantik" kata Rudian lagi, dengan ekspresi seolah baru pertama kali melihat dan jatuh cinta pada Naya.


Naya menarik tangan Rudian dalam genggamannya dan menciumnya lalu mencium pipinya, sambil berkata,


"Kamu juga tampan."


"Aku sudah tua..aku sudah tidak bisa menarik bagi wanita lainnya?" kata Rudian berkelakar. Naya merasa senang, Rudian sempat bercanda, mereka tertawa bersama. Naya tidak tahu, bahwa itu adalah waktu terakhirnya melihat Rudian bisa bercanda bersamanya.


"Apa kau masih mau jatuh cinta?" tanya Naya.


"Iya, aku akan jatuh cinta padamu berulangkali juga aku rela. Gak sakit. Malah senang," kata Rudian membuat Naya tersenyum dan wajahnya merona merah.


'Jatuh cintalah sebelum waktu diantara kita benar-benar akan berakhir'


"Aku juga jatuh cinta lagi sama kamu." kata Naya reflek memeluk Rudian di kursi rodanya.


"Tetaplah seperti ini. Jangan tidur lagi..." bisik Naya lirih.


Rudian memundurkan tubuhmya, ia ingin melihat wajah Naya yang masih berurai air mata. Jari-jari tangan yang semakin kurus itu mengusap wajahnya.


"Seandainya aku bisa. Jangan menangis lagi kalau menghadapiku, ya...Aku tidak ingin melihat wajahmu sedih saat aku bisa melihatmu terakhir kali."


'Walau kau bisa melihatku terakhir kali sebelum semua organ ditubuhmu tidak berfungsi, kau tiadak akan ingat namaku lagi'


Naya mengangguk lalu berdiri dan kembali mendorong kursi rodanya sampai di rumah. Setelah tiba di rumah, Kepala Rudian sudah miring ke samping, dengan mata tertutup.


'Rudi, apa kau sudah tidur? Bagaimana kalau ia jatuh? tidur seperti ini'


Naya menelpon Sarita dan ingin melakukan pemeriksaan untuk Rudian karena sekarang hal seperti ini sering terjadi, ia khawatir kalau ia masih duduk di kursi roda tapi kemudian terjatuh. Mereka sepakat akan membawa Rudian ke dokter yang sudah menangani Rudian, keesokan harinya.


-


Sampai di rumah sakit, mereka bertiga dengan sopir taxi membantu Rudian duduk kembali di kursi rodanya. Bastian tidak bisa mengantar karena kesibukannya. Mereka melalui sebuah lift menuju ruang dokter tempat mereka hendak berkonsultasi.


Setelah berkonsultasi dan dokter melakukan pemeriksaan, dokter itu berkata,


"Bu, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu waktunya tiba. Sebaiknya jangan sering-sering dibawa dengan kursi roda ya, khawatir kalau tiba-tiba dia tidak sadar."


"Jadi, saat ia tidur itu bukan tidur gitu, dok?" tanya Naya sedikit tidak percaya.


"Benar, bu. Itu tidak sadarkan diri. Jadi hati-hati. Saya juga tidak menyangka akan secepat ini, saya pikir masih akan bertahan lebih dari satu tahun. Tapi ini belum juga enam bulan. Ibu yang sabar." kata dokter mengakhiri konsultasi nya.


Tiga orang itu berjalan beriringan menuju lift. Masih banyak yang mengantri. Naya menunggu giliran. Sarita meminta izin untuk ketoilet, padahal ia ingin menangis di sana. Sejak tadi ia tidak bisa menahan air matanya. Ia tahu akan berpisah dengan anaknya tidak lama lagi.


"Bu, saya tunggu di bawah." kata Naya dan Sarita mengangguk. Ia kemudian pergi ke toilet.


Naya sudah masuk lift, ia berada disana seorang diri karena antrian sudah habis. Ia duduk lemas dekat kursi Rudian, laki-laki itu memejamkan matanya, entah ia pinsan lagi atau bukan.


Karena merasa sendiri, Nayapun menangis. Mencoba berdamai dengan keadaan, yang secara bertubi-tubi mendapatkan ujian. Ia tidak sadar setelah ia masuk, ada orang yang menahan pintu lift agar tidak tertutup dan orang itu masuk dibelakang Naya.


Orang itu ikut duduk di sisi Naya lalu berkata, "Kenapa kamu nangis lagi?"

__ADS_1


'Lagi? Apa maksudnya lagi? Kuharap bukan dia, ini bukan dia! tapi suara itu...ahk!'


__ADS_2