
Naya tidak mendengarkan suaminya, ia sudah tahu maksud dari perkataannya. Ia menaiki motornya dan pergi meninggalkan suaminya yang belum selesai bicara.
'Jelas-jelas aku lihat uangmu ada banyak, Nda'
Ia tahu kalau Rudian mempersiapkan uang itu untuk makan siang bersama Yola kalau masih bekerja. Atau untuk makan malam meeeka kalau Naya belum pulang kerja.
Jadi sebenarnya tidak ada jatah untuk dirinya. Sebab bagi Rudian, istrinya itu sudah punya uang sendiri yang biasa ia pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan Yola, menurut Rudian, uangnya masih harus digunakan untuk adiknya yang ia tanggung biaya hidup dan sewa tempat tingglnya. Di sinilah awal mula ketimpangan itu terjadi.
Naya membawa motor dengan kecepatan sedang menuju tempat dimana banyak pedagang lesehan atau warung pinggir jalan yang menjual makanan seperti pecel lele atau baso mie.
Dalam diam, Naya mengingat dulu saat ia masih sering diantar jemput suaminya dengan motornya. Mereka berdua sering berganti mengemudikan motor, kadang Naya yang membonceng Rudian, kadang Rudian yang membonceng Naya. Banyak hal manis terjadi.
Naya tiba-tiba berhenti dan menepikan kendaraan lalu turun dan duduk sendiri di trotoar jalan. Mengabaikan lampu-lampu kota yang indah. Mengabaikan orang yang hilir mudik, bahakan ia tak perduli pada sekitarnya itu dan ia mulai menangis.
Ia memeluk lututnya dan mulai menelungkupkan wajahnya di sana. Rasa bimbang bermanja-manja dibenaknya. Ingin rasanya menyudahi semua saat ini juga. Tapi rasa cinta pada Rudian masih sangat besar untuk membuat Naya meninggalkannya.
'Apa salahku padamu, kanda. Kenapa kau begitu tidak perduli padaku?'
Ia tahu bahwa kesabaran itu tak berbatas, itulah yang dimaksud dengan kesabaran yang bertambah-tambah. Tapi ia memiliki laranya sendiri dan ia mulai merasa berseberangan jalan, satu tujuan tapi tidak lagi dalam satu pijakan saat itu pula langkah sudah tak lagi beriringan.
'Haruskah aku bertahan sementara tidak ada satu pun alasan yang bisa membuatku mempertahankannya...? Bukankah basanya wanita yang berusaha untuk bertahan dengan kekurangan suaminya itu karena ada anak-anak yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya'
"Tapi aku...Aku punya apa?!" kata Naya hampir berteriak. Tangis kembali terdengar. Beberapa orang sempat menoleh bahkan mungkin mereka menganggap Naya orang gila menangis di pinggir jalan.
Naya pernah mendengar pengalaman seorang wanita yang suaminya berpoligami, bahwa alasan mereka adalah karena Allah. Agama membolehkan dari pada berzina. Karena poligami adalah salah aatu solusi untuk masalah ini.
Tapi bukankah menjaga diri dari hawa ***** lebih utama dari pada memperturutkan hawa ***** menguasai diri manusia?
Selain karena agama, juga karena anak-anak, sehingga mereka bisa beetahan dengan segala kesabaran. Inilah ujian teeberatnya wanita, bukan?
Dan alasan terakhir adalah karena mereka memang masih saling cinta, suami juga baik dan tidak ada kekerasan dalam rumah tangga juga para istrinya mendapatkan hak atau nafkahnya sesuai kebutuhannya.
Naya memikirkan hal ini, ia meremas selembar uang pemberian Rudian hingga menjadi bulatan kecil. Ia baru saja menghapus air matanya dan hendak berdiri ketika seseorang duduk di sampingnya sambil berkata.
__ADS_1
"Ahk.. Ikhlas itu sulit, ya?"
'Siapa si' Naya menoleh dan heran dengan kata-kata orang itu. Matanya membulat ketika sadar siapa yang bicara. Rasa tak percaya mendera. Laki-laki itu mendekati Naya saat ia mulai berteriak sendiri.
'Kenapa orang ini selalu saja ada saat aku terlihat menyedihkan seperti ini'
"Mau?" tanya Ares sambil menyodorkan minuman soda dingin dalam kaleng.
"Buat diminum, bukan buat dilempar." kata laki-laki itu lagi seraya menggoyang-goyangkan kaleng minuman itu.
"Minum. Biar dingin kepalamu." ia terus saja berceloteh karena Naya melihat kearahnya seperti melihat hantu. Takut.
"Kenapa? Ini masih baru. Bukan sisaku." kata Ares sambil menaruh minuman itu di sisi Naya.
'Kenapa orang ini jadi sok akrab sekali?'
"Sudah malam. Pulang sana." katanya lagi. Naya membuka kaleng itu dan tanpa melu-malu meminumnya cukup banyak.
"Terimakasih, pak." akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Naya.
'Tidak ada yang harus dibicarakan dengannya kan?'
"Habiskan. Mubazir kalau dibuang." kata Ares.
Naya mengangguk dan kembali menghabiskan minumannya. Anehnya memang hati dan kepalanya jadi dingin. Entah karena minuman dari Ares atau karena hadirnya laki-laki itu yang seketika membuat pikirannya yang semula memikirkan tentang pernikahannya kini pikiran itu hilang entah kemana.
"Masih mau nangis?" mendengar pertanyaan Ares itu, Naya menggeleng.
"Jangan di sini kalau mau nangis. Mirip Yoni saja, nangis semaunya. Malu" kata Ares lagi dan sukses membuat Naya tersenyum.
'Iya. Aku hampir mirip anak kecil. Nangis dijalanan'
Pengaruh pikiran itu sangat kuat, biasa disebut dengan iatialh power skilss mind yang bisa mempengaruhi hidup manusia, dengannya manusia bisa hidup bahagia atau sebaliknya. Bahakan yang banyak memicu banyak manusia menjadi stress atau depresi karena salah mind set dalam dirinya.
__ADS_1
Makanya, tidak aneh kalau Naya saat ini bertingkah seperti anak kecil karena alam bawah sadar dalam otaknya yang memicunya berbuat diluar kebiasaan. Disaat-saat seperti inilah sebenarnya self control seseorang sangat di pelukan.
"Mau kemana? Tumben bawa motor?"
"Mau beli pecel lele, pak" jawab Naya.
"Ha, kukira suaramu habis tadi." kata-kata Ares membuat Naya kembali tersenyum.
"Berarti kamu belum makan?" tanya Ares lai. Ia sepertinya jadi laki-laki cerewet karena Naya.
"Mau beli dimana? Jangan jauh-jauh." ia tampak khawatir. Sedang Naya sudah menyalakan motornya.
"Yang terdekat. Itu di sana." kata Naya.
" Iya, hati-hatilah." kata Ares dan Naya mengangguk sambil berkata.
"Terimaksih, pak. Jazakallah!" motor Nayapun melesat meninggalakan tempat itu.
"Ayolah, Naya. Kamu ini perempuan bersuami. Memangnya pantas kamu memikirkan laki-laki lain dan merasa bahwa dirinya perduli karena dirimu iatimewa baginya? Tidak... belum tentu. Memang siapa diriku ini. Mana ada laki-laki yang mau dengan perempuan mandul seperti aku. Sekarang saja suamiku sendiri hampir mengabaikan aku, mana mungkin aku mengharap ada orang yang perduli'
Momok menjadi seorang janda masih membuat Naya begitu takut mengambil keputusan. Karena menjadi janda tidak ada dalam kamus hidupnya, apalagi mendapatkan predikat wanita mandul. Harga dirinya. cukup terluka. Ia hilangkan pikiran buruknya dengan menggeleng-gelengkan kepala sambil mengemudikan motornya. Hingga ia sampai di warung pecel lele dan melakukan pesanan.
Ares yang juga buru-buru menghampiri mobilnya.
Iya tadi sedang lewat dan kebetulan ia baru pulang mengunjungi seorang rekannya disekitar tempat itu. Tanpa sengaja saat ia akan memutar mobilnya, ia melihat Naya yang turun dari motor, lalu duduk dan mulai menangis. Ia sempat ragu apakah itu Naya atau bukan.
Ares turun dari mobil untuk memastikannya, setelah tahu kalau itu benar-benar Naya, ia kemudian membeli minuman soda dingin di pinggir jalan dan menunggu, sampai Naya menyelesaikan pergumulan dalam hatinya yang ia tuangkan dalam tangisan.
Barulah setelah Naya selesai menangis yang artinya ia sudah sedikit lega, Ares mendekatinya. Kini ia mengikuti Naya dengan mengendarai mobilnya ia khawatir kalau-kalau perempuan itu menabrakkan motornya dijalanan. Ahk, memangnya Naya begitu? Ares, Naya tidak sekonyol itulah.
Setelah Ares memastikan kalau Naya sudah membeli kebutuhannya dan ia mengemudikan motor dengan aman, Ares kembali kerumahnya.
'Kenapa aku melakukan hal seperti ini hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Apa aku jadi kurang waras?' hati Ares.
__ADS_1
*jangam lupa like, vote dan ratenya*