Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 42. Pulang


__ADS_3

Naya menggeleng, menatap Raya dan tersenyum. Ia mendudukkan Yoni di baby car seath-nya sendiri. Anak kecil itu masih tak mengerti dan merengek. Setelah Naya selesai menyatukan tali pengaman dikursinya, Naya berkata.


"Yoni. Jadilah anak baik. Ikut sama papa, nanti kamu boleh ikut lagi sama tante di restoran, makan siang disana ya?" kata Naya. Dengan berat hati anak kecil itu menurut dan duduk tenang dikursinya, menuruti Naya seperti sedang dihipnotis saja.


Tentu saja Yoni ingin ikut dengannya, sebab sejak petama mereka bertemu, Naya sudah seperti magnet baginya. Bahkan asisitant yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah keluarga itu mengira kalau Naya adalah calon istri Ares.


Pagi itu, asisitant rumah tangga yang sudah berumur itu begitu aneh melihat kedekatan Yoni dan Naya. Wanita tua itu sudah tahu tentang penyakit Yoni dan ia juga sangat menjaga jarak dengan Yoni selama ia bekerja ditempat itu.


'Semudah itu?' Raya.


'Semudah itu?' Ares.


"Raya, baik-baik lah di sekolah. Terimakasih sudah bantuin tante semalam."


"Iya, tante. Sama-sama."


"Terimakasih ya, pak. Sudah nganter saya." kata Naya sambil kembali menatap dua anak manis disampingnya.


Tadi pagi saat bangun subuh, dan mereka kembali sholat subuh berjama'ah, Ares bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi malam itu, walau ia mendengar semuanya. Naya juga bersikap sama, ia memang tidak tahu kalau Ares tahu, ia sudah menangis malam itu.


"Hmm, sama-sama. Kue buatanmu juga enak. Tinggal saja kuemu di mobil. Nanti saya anter ke rumah bu Nha."


"Oh, iya. Terimakasih sekali lagi kalau begitu." kata Naya sambil membuka pintu mobil.


Setelah menutup pintu mobil, Naya melambaikan tangan, melihat mobil Ares bergerak menjauh, ia hanya berharap kalau semua pekerjaan rumahnya sudah selesai sebelum waktu jam makan siang dimulai.


Naya sempat berpikir ulang tentang apakah harus pulang terlebih dahulu atau langsung bekerja. Tapi mengingat ia membawa pakaian basah yang harus dicuci dan khawatir akan kemarahan suaminya, maka ia memutuskan untuk pulang.


Naya berjalan dengan tenang menuju rumah yang dari luar terlihat tenang. Ia masuk dengan mengucap salam sambil menbuka pintu secara perlahan tapi tidak ada yang menjawab. Hal itu wajar mengingat hari masih pagi. Mungkin Rudian dan Yola masih tidur.


'Apa mereka kesiangan? Kalau tahu mereka masih tidur begini, aku ketuk saja tadi pintunya, tidak perlu pakai kunci cadangan. Biar mereka bangun.'


Naya melihat kamarnya masih rapi, hanya ada pakaian Rudian yang tercecer di lantai dan Naya segera membereskannya. Ia menarik nafas panjang, memberi senyum untuk dirinya sendiri agar tabah. Lalu meluruskan niatnya, melakukan semua karena Allah.


"Ini juga sebagai bentuk taat pada suami. Jadi, anggap saja sekarang suami yang suruh. Tapi memang iya, suami yang suruh kan, semalam.'


Naya memulai pekerjaannya dengan bismillah. Membersihkan meja makan yang berantakan, ada sisa makanan semalam yang hampir basi. Menumpuk semua piring kotor di atas meja.


Lalu membawanya ke tempat cuci piring, dan membiarkan semua piring koror itu di sana. Menyalakan mesin cuci, memasukkan semua baju sekaligus, termasuk pakaian Yola.


'Biarlah, sekali-kali cuciannya banyak. Anggap saja ini tolong menolong sesama manusia saja.'


Sementara mesin cuci melakukan tugas, Naya menyapu dari halaman depan sampai dapur. Ia meninggalkan rumah cuma semalam, tapi sudah sekotor ini, apalagi sisa hujan kemarin yang membuat rumah jadi semakin kotor.


'Mereka cuma berdua tapi kenapa rumah bisa begitu kotor. Apa yang mereka lakukan, si? Astagfirullah'


Naya mulai mengepel lantai, lalu diteruskan dengan membersihkan kamar mandi. Ada sisa muntah yang sepertinya lupa disiram di lantai kamar mandi. Sempat membuat Naya mual, tapi ia kuatkan hati dengan segera menyiramnya dengan air bersih.


Ketika Naya sudah hampir selesai, Rudian keluar kamar dengan raut wajah terkejut melihat Naya yang memakai gamis. Ia jarang melihat Naya memakai pakaian itu dirumah. Kebiasaannya selalu pakai tunik yang dipadu padan dengan kullot atau celana panjang.


'Naya. Kapan dia pulang?'


"Kamu. Sudah pulang?" sapa Rudian sambil berjalan menuju kamar mandi. Masih terlihat mengantuk.


"Kanda baru bangun? Sholat subuh gak?" Naya balik bertanya.


"Sholat." jawab Rudian, ia masih berdiri di depan pintu kamar mandi karena Naya masih membersihkan kamar madi mereka.


"Sholat." jawab Rudian singkat.

__ADS_1


"Kanda mau mandi? Sebentar ya, ini sudah selesai kok." jawab Naya sambil mencuci kakinya.


Ia keluar sambil membawa kain pel yang sudah bersih, menyimpan ditempat biasa ia simpan di bagian belakang rumah. Lalu melanjutkan menanak nasi dengan alat penanak nasi.


"Kamu gak kerja?" tanya Rudian yang kini sudah selesai membersihkan diri. Ia keluar dengan mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


"Kerja, nanti kalau sudah selesai. Tadi sudah izin sama bude."


"Oh."


"Kanda gak kerja? Cuti hamil?" tanya Naya bercanda. Membuat Rudian mengerutkan alisnya.


"Yang hamil itu Yola."


"Tapi yang repot itu aku. Jadi aku juga anggap saja masih hamil, kenapa?"


"Tapi kenyataannya, kamu gak hamil, kan?"


"Walau aku gak hamil. Tapi bukan berart aku pantas kamu bentak-bentak hanya karena aku pergi sama teman. Apa aku salah sudah gak hamil?" kata Naya kini ia mulai mencuci piring satu persatu.


"Apa maksudmu?"


"Apa maksud kanda bicara seperti itu semalam? Bukannya itu seolah menyalahkan aku. Lalu menganggap orang yang gak hamil berarti boleh dianiaya, begitu?" kembali Naya balik bertanya.


"Apa aku menganiaya kamu?" kata Rudian menatap Naya marah.


"Nah, nyuruh-nyuruh aku ngurusin Yola, nyuciin baju Yola, hanya karena aku gak hamil dan Yola sakit, apa aku sudah menyakiti Yola. Tidak. kan? Apa namanya itu kalau bukan menganiaya?"


"Lalu, kamu gak mau? Ya sudah. Kamu ini berlebihan sekali."


"Ya sudah apa?"


"Sekarang baru bilang begitu, setelah aku membereskan semuanya. Aku bukan pembantumu, Nda. Aku istrimu, sama seperti Yola!" kata Naya mengikuti langkah Rudian, meninggalkan pekerjaan mencuci piring.


Kini mereka bicara dalam kamarnya, Rudian masih memakai pakaiannya hendak berangkat bekerja.


"Aku lakukan ini yang pertama dan tetakhir. Bilang pada Yola, kalau lagi sehat, gak mual-mual cepat kerjakan tugasnya. Jangan nunggu pakaiannya menumpuk seperti itu." kata Naya berdiri dibelakang Rudian.


"Dia kerja, Naya."


"Aku juga kerja. Apa bedanya?"


"Apa kamu sudah gak bisa jadi istri yang penurut lagi? Kerjakan kalau ikhlas, kalau gak mendingan gak usah." kata Rudian sambil mengancingkan kemeja terakhirnya.


"Kenapa. Kanda? Aku sama Yola punya hak yang sama. Kenapa cuma aku yang harus ngurus rumah?"


"Ya, ya. Kerjakan kalau kamu mau. Repot amat, si. Sudahlah, aku mau kerja. Sudah matang nasinya?"


"Belum? Tapi sudah jam segini apa gak terlambat?"


"Gak apa. Sudah izin, tadi bilang kalau agak terlambat." kata Rudian sambil duduk di sofa dan sibuk dengan ponselnya.


Naya menarik nafas panjang, dan mengelus dada lalu pergi kembali ke dapur. Memasak mie instan dengan dua telur dilengkapi daun bawang dan bawang goreng. Ia mengolah makanan yang sudah tersedia di dapur nya.


Setelah selesai, ia pergi ke warung mencari krupuk sebagai pelengkap hidangan.


"Wah, mbak Naya gak kerja? Kok ada dirumah jam segini?" kata ibu warung yang sudah tahu kebiasaan Naya bekerja dipagi hari.


"Oh, lagi berangkat siang, bu." kata Naya sambil mengasongkan uang pas pada wanita ramah yang pernah datang kerumah Naya dan tahu kalau Rudian berpooligami.

__ADS_1


"Eh, mbak Naya. Kok mau si tinggal serumah dengan iatri muda mas Rudi?"


'Dia bukan istri muda. Usianya lebih tua dari saya, seumuran sama suami saya.'


"Dia lagi sakit, bu. Jadi harap maklum" jawab Naya singkat, tidak mau bergosip. Ia kembali ke rumah begitu menerima barang yang ia beli.


"Ayo, Nda. Kita sarapan dulu." kata Naya sambil membuka bungkus kerupuk dan menyimpannya dalam toples.


Rudian berdiri lalu melangkah ke kamar dan mengajak Yola untuk sarapan bersama. Wanita itu keluar dengan baju hangat dan koyo yang menempel dikedua sisi pelipisnya.


"Cuna ini, makannnya?" kata Rudian sambil duduk setelah Yola juga duduk.


'Ya, memang ini adanya. Kalau mau makan enak, beli di restoran sana!'


Naya tidak menjawab. Ia hanya mengambil sedikit mie instan dan kerupuk. Tak lupa ia menambahkan cabe ke dalam mangkuknya.


"Hemm...pedas. Paati enak." katanya sambil menyuap ke mulutnya.


"Kanda, pakai lalapan cabe. Lebih enak." kata Naya kepada Rudian seolah Yola tidak ada di sana.


Naya mengambil beberapa irisan cabe rawit dan hendak memberikan pada suaminya tapi buru-buru Yola memintanya dan menaruh kedalam mangkoknya sendiri.


"Yola. Awas nanti kamu tambah sakit." mendengar ucapan Rudian, Yola menggeleng dan berkata.


"Enak, bang. Aku suka kok mie pedas gini."


"Ya, sudah kalau gitu. Naya, besok masak lagi mie pedas seperti ini, ya?"


"Kanda. Sudah aku bilang tadi kan. Aku cuma mau ngurusin Yola hari ini saja." kata Naya sambil menyimpan mangkuknya di meja.


"Naya, kamu mulai membantah." sahut Yola.


"Yola.., kalau kamu suka mie pedas? Kenapa kamu gak pesan saja di warung pinggir jalan, banyak!"


"Tapi, bukan aku yang minta. Bang Rudi yang nyuruh kamu, kan?"


"Tapi, Kanda itu nyuruh aku, buat kamu!"


'Enak saja bilang aku membantah.'


"Terus apa salahnya si, Nay? Masak buat suami juga buat kamu sendiri. Sama saja seperti kalau kita masih berdua." kata Rudian mencoba menengahi.


"Beda dong, Nda. Kenapa harus aku? Besok gantian kamu yang masak, gantian, baru aku mau."


"Kan, Yola masih sakit." jawab Rudian.


"Ya, nanti kalau sudah sembuh."


"Pintar sekali kamu mengelak biar gak usah kerja di rumah ya?"


"Iya, kenapa? Aku punya hak yang sama Yola. Kita tinggal dalam satu rumah."


"Itu juga kemauan Bang Rudi. Bukan aku."


"Oh, jadi kamu menggunakan suamimu sebagai tameng?" kata Naya berdiri di dekati Yola.


'Besar kepala dia jadinya.'


"Yola. Sekarang kamu boleh bermanja-manja, apa kamu yakin hal seperti ini akan bertahan selamanya?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2