
Ares masih berada dalam mobilnya, ia diam sambil memandang kearah rumah Naya. Dari jendela ia melihat wanita itu dengan perlahan memasukkan motor dan disambut oleh seorang laki-laki yang membentak dirinya.
Walau Ares tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia melihat dengan jelas sikap Naya yang cuek saja.
Ia pergi setelah pintu rumah itu tertutup rapat, menjalankan mobilnya dengan perlahan bahkan sepertinya ia enggan menjauh dari sana, ingin rasanya menanyakan sebenarnya ada masalah apa diantara mereka.
Rasa penasaran yang ada dalam diri Ares disebabkan karena ia sudah dua kali ini menemukan Naya dalam keadaan yang menyedihkan, menangis di tempat umum, wanita itu seperti sudah kehabisan tempat saja untuk menumpahkan air matanya.
Ares memang tidak punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah kedua suami istri itu tapi yang ia lihat pada Naya membuat hati laki-laki itu penasaran.
Sejak kematian istrinya lima tahun yang lalu, juga fobia Yoni yang mengganggu, membuatnya tidak pernah berpikir untuk memiliki seorang istri lagi. Ia mencukupkan diri menjadi seorang singke pharent untuk membesarkan anak-anaknya. Bukannya ia tidak pernah menyukai wanita, ia juga laki-laki normal. Hanya saja ia berusaha menjaga jarak dan menjaga hatinya agaf tidak mudah untuk jatuh cinta pada lawan jenisnya. Sebab kalau ia sampai jatuh cinta pada seorang wanita maka ia akan lebih repot mengkondisikan keadaan anak-anak dan juga pekerjaannya yang harus sering berpindah-pindah.
Tapi kehadiran Naya dan kelembutannya pada Yoni membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Naya seperti merusak pertahanan hatinya mengombang-ambingkan perasaannya seperti berada dalam perahu di tengah laut diterjang badai dan hampir karam. Meski demikian ia tetap terlihat tenang.
'Apakah aku boleh berharap? Siapapun boleh berharap, kan? Tapi harapan yang terlalu besar yang biasanya akan membuat kecewa. Atau ini hanya godaan setan semata?'
Mereka berdua, Ares dan Naya, sama-sama diuji kesabarannya setelah pertemuan pertama mereka. Sebuah kemustahilan untuk bisa saling memiliki karena status Naya. Tentu selain karena kebaikan Ares yang tidak akan berbuat egois, hingga sengaja memperkeruh suasana rumah tangga Naya, juga karena harga dirinya.
'Tapi, bukankah sudah biasa dalam rumah tangga ada pertengkaran. Ini biasa, Ares. Ini biasa. Kendalikan dirimu. Apalagi pekerjaan ini tidak akan lama disini, hanya beberapa bulan sebelum tahun depan harus pindah'
Setelah mampu menguasai diri, Ares bergegas mempercepat laju mobil menuju kerumah. Ia sudah sering pulang larut setiap hari. Walau ia sudah percaya dengan neneknya anak-anak yang mengasuh mereka, tapi Rasti sudah terlalu tua untuk direpotkan dengan urusan anak-anak.
Sejak kematian istrinya, hanya Rasti ibunya yang sanggup menjaga dan mengasuh Yoni. Bahakan ia rela mengikuti Ares berpindah tempat selama satu atau dua tahun karena pekerjaannya, sementara Ares enggan berpisah jauh dari anak-anaknya.
-
"Kenapa lama sekali kamu Nay?" kata Rudian begitu Naya masuk dengan menuntun motor ke dalam rumah.
Naya bersikap tak acuh. Ia berlalu ke dapur dengan santai, mengambil beberapa piring dan mengatur makanan yang ia beli di meja. Semua makanan sebanyak tiga porsi sudah terhidang dengan rapi.
"Kamu mampir ke mana? Ketemu sama mantan? ngobrol dulu, atau kamu mampir ke mana?" kata Rudian lagi sambil duduk dan mengambil bagiannya.
"Ditanya suami diam saja, gak punya mulut apa?"
"Bismillahirrohmaan nirroohiim" kata Naya lalu menyuap nasi kemulutnya.
"Hmm...enak ya, sudah lama gak makan lele goreng. Kenapa banyak yang suka sama ikan leke, padahal mukanya jelek." kata Naya menatap Rudian sambil mengunyah.
Rudian diam ia tak menjawab istrinya yang bertanya Rudian membalas Naya dengan mengabaikannya. Ketika Naya bertanya, ia sibuk mencoel sambal, melirik Naya dengan malas, lalu berteriak memanggil Yola.
"Yola...! Ayo makan, katanya lapar?!"
"Makanannya sudah datang, bang!" kata Yola dari dalam kamarnya.
"Iya. Sudah!" jawab Rudian.
Yola mendekati mereka, ia melihat Naya yang sudah duduk di samping Rudian, membuat perempuan hamil itu cemberut. Lalu duduk di depan Rudian dan mengambil bagiannya dengan perlahan dan menikmati makanannya tanpa bicara. Suasana hening, seolah suara mulut mereka yang sedang mengunyah makanan bisa terdengar.
__ADS_1
"Enak, gak. Sudah lama tidak makan pecel lele, iya kan?" kata Rudian setelah sekian lama hanya makan tanpa bicara.
Ia mengulangi kalimat Naya, seperti menyindirnya. Nasi dipiringnya hampir habis. Mukanya tampak dipenuhi keringat karena pedas. Melihat hal itu, Naya segera mengambil tissu dan mengelap keringat yang membasahi kening suaminya.
'Laki-laki kok bawa-bawa perasaan terus. Sendirinya gak suka kalau orang lain berlaku tidak baik, tapi dia sendiri suka bersikap tidak baik pada orang lain. Katanya si masa sepuluh tahun itu, masa-masa pasangan suami istri saling memahami karakter. Ternyata ini mungkin saatnya dimana aku harus menyelami karakternya yang baru muncul sekarang baperan. Ini belum sepuluh tahun, kan?'
Mendengar kata-kata Rudian, Yola menimpali,
"Iya. Kapan-kapan kita beli lagi ya, bang. Buat makan siang" katanya sambil mengambil air minum.
Ia melihat Naya yang bersikap manis pada Rudian membuatnya cemburu dan membuat ucapan yang akan membalas Naya dengan membuatnya cemburu juga. Karena disaat mereka makan siang maka Naya tidak akan bisa ikut makan bersama mereka.
Setelah selesai makan, Naya duduk menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan ia berkata pada Yola yang juga duduk dihadapannya.
"Beresin... gantian. Aku tadi sudah beli, sudah nyususn makanan, jadi kamu tinggal makan. Sekarang kamu yang beresin, bawa ke dapur. Jangan dibiasakan malas. Gak baik. Malasb itu gak ada obatnya Kecuali dirimu sendiri" kata Naya. Diam sejenak dan berkata lagi.
"Kamu itu lebih tua dariku, seharusnya bisa jadi contoh yang baik buat aku. Apalagi kita tinggal serumah. Aku tidak melakukan hal buruk padamu. Jadi semestinya kita bisa sama-sama mengurus rumah. Jadi tidak memanfaatkan orang lain karena malas." kata Naya lagi. Sementara Rudian hanya melirik pada dua istrinya.
"Kamu juga harusnya lebih ngerti dong, karena aku lebih tua darimu apalagi aku hamil.' jawab Yola.
"Aku juga sudah ngerti kamu kok selama ini, iya kan? Gak usah pake alasan itu, basi." sahut Naya tegas.
"Aku gak marah kamu sering makan enak di restoran kalau makan siang sama kanda. Aku tau, itu hak kalian. Aku juga punya hak yang sama tapi aku gak nuntut kanda." kata Naya kesal. Energi makan malamnya kembali tersedot untuk bicara.
"Harusnya kamu lebih bersyukur, Yola. Jangan malah malas-malasan memanfaatkan orang."
Tak lama terdengar suara azdan isya berkumandang.
"Kanda, sudah isya. Ayo sholat ke masjid" kata Naya sambil beranjak ke kamat mandi untuk berwudhu.
"Sholat di rumah saja, kita jama'ah" jawab Rudian dengan malas, ia sibuk dengan ponselnya begitu juga dengan Yola.
Akhirnya mereka sholat isya berjamaah. Mereka terlihat akur Setelah selesai sholat isya dan melakukan sholat sunnah, Naya segera membereskan tempat perengkapannya karena ia ingin segera ke kamar untuk beristirahat. Lelah jiwa dan raga, ia berniat untuk beribadah sholat malam karena tadi ia tak bisa bermunajat pada Allah. Tidak leluasa ada orang lain disebelahnya, ia hanya berdoa biasa saja.
"Kanda, malam ini giliranku, kan? Sini aku pijitin." kata Naya tiba-tiba berinisiatif. Ia juga ingin Rudian memijiti dirinya.
"Hmm" kata Rudian sambil melirik Yola yang masih melipat mukenanya. Ia tampak cemberut.
"Nah, gitu. Aku senang kalian akur. Anggap saja kalian ini kakak dan adik" kata Rudian sambil melangkah ke kamarnya.
Setiap malam, Rudian membagi malam-malamnya dengan adil, tapi kadang Yola membuat ulah saat tiba giliran Naya, seperti mual dan muntah-muntah. Kalau sudah begitu maka Rudian akan menemani dan mengurus Yola terlebih dahulu hingga beberapa lama, baru kemudian tidur di kamarnya dengan Naya. Sering sekali Naya sudah tidur saat Rudian menghampirinya.
"Kanda, harusnya sering bercinta sama aku." kata Naya ketika Rudian sudah duduk disisi ranjang. Sementara Naya masih mengganti pakaian dengan baju tidurnya, ia memakai daster batik pendek yang pernah dibeli Rudian untuknya.
"Jadi aku cepat hamil" sambung Naya.
"Kamu sering tidur duluan, aku gak mau ganggu kamu." jawab Rudian sambil merebahkan diri, Naya menyususl di sampingnya.
__ADS_1
"Padahal bangunin saja, atau pegang-pegang, cium-cium nanti juga bangun."sahut Naya. Ia sedang ingin. Karena perasaannya masih campur aduk sejak bertemu dengan Ares saat membeli makanan tadi.
Rudian diam sejenak lalau memiringkan badannya menghadap istrinya yang juga miring, menghadap dirinya. Lalu ia berkata,
" Katanya mau mijitin, ayo, pijitin sekarang." mengambil posisi tengkurap siap dipijit.
"Nanti, gantian ya?" kata Naya, sambil mulai memijit punggung suaminya.
"Eh, modus itumah namanya." jawab Rudian malas.
"Ya sudah kalau gak mau, aku juga gak mau mijitin. Bercinta antara suami istri saja, harus sama-sama ******* walau melayani adalah kewajiban istri, itu tandanya keadilan sangat dijunjung tinggi dalam Islam." kata Naya.
"Udah, kalo gak mau pijitin bilang saja. Gak usah ngomong soal keadilan segala." kata Rudian berbalik membelakangi Naya.
"Eh, marah. Jangan marah dong." kata Naya sambil memeluk Rudian dari belakang dengan erat, lalu Naya mengusap-usap punggung suaminya dengan sedikit menekan agar terasa seperti dipijit.
"Kanda... ayo dong, jangan marah ya. Aku gak mau dikutuk malaikat semalaman karena suaminya marah." kata Naya mengutip sebuah hadis yang mengatakan bila suami marah dimalam hari pada istrinya maka sang istri akan dilaknat malaikat pada malam itu.
Rudian berbalik dan kini mereka saling berhadapan, saling menatap. Mata Rudian sudah sayu karena hasrat. Keduanya tenggelam dalam perasaan masing-masing. Rudian sebagai laki-laki yang mampu menyayangi juga berhubungan badan dengan lebih dari satu wanita, menjadi berselera setelah digoda sedemikian rupa. Ia sadar ada wanita lain yang tidur di sebelah kamarnya. Tapi bukankah mereka sudah tinggal bersama selama ini? mungkin mereka kelak akan sangat terbiasa.
Sedangkan Naya, perasaannya masih saja gamang, antara terluka dan cinta. Ia merasakan kalau sikap dan kelembutan Rudian berbeda dengan dulu saat Rudian belum menikah lagi dan saat mereka masih tinggal sendiri. Tapi biar bagaimanapun, suaminya tetap harus dilayani sebagai kewajibannya. Apalagi ia juga sedang ingin.
Nafas mereka sudah semakin cepat karena hasrat, lalu tangan saling meraba dan bibirpun sudah mulai saling bertemu, memadu daging lembut dan kenyal itu menjadi satu sebagai permulaan. Mata mereka terpejam karena menikmati rasa saling memiliki ini.
'Dia suamiku, dia tetap jadi milikku sampai mati, atau ada takdir lain yang menghampiri'
Sebagai lelaki dan wanita yang sudah berpengalaman, mereka terbiasa melakukan dari rangkaian penyatuan tubuh mereka setelah sama-sama tidak lagi berpakaian untuk saling memuaskan.
"Kanda, sudah?" kata Naya ketika suaminya sudah menekan miliknya lebih dalam dan terdengar lenguhan rendah yang terdengar dari mulutnya yang terkatub. Suaminya sudah mencapai puncak.
Setelah selesai, Rudian merebahkan diri disamping Naya dan Naya menyelimutinya. Tak butuh waktu lama kemudian Rudian sudah tertidur dengan nafas yang teratur.
Naya membersihkan dirinya, memakai pakaiannya kembali dan menyusul suaminya menuju tempat tidur dan mengistirahatkan diri menuju dunia mimpi.
-
Naya teebangun di malam hari, ia pergi ke kamar mandi untuk mandi junub. Ia akan melaksanakan sholat malam. Mengadu dan meminta pada Allah atas semua rasa dan semua yang dialami sepanjang hari.
"Ahk, apa ini? Sekarang bukan tanggal haidku, kan?" Naya bergumam sendiri di kamar mandi. Ia menangis, melihat tanda kecoklatan pada pakaian dalamnya. Apakah ini artinya dia sedang haid, tapi menurut perhitungan Naya, sekarang bukan tanggal datang bulannya.
'Ini lebih cepat, masa si maju lebih dari satu pekan. Kenapa?' Dan ini bulan terakhir dari janjiku untuk bertahan di sisi kanda. Tapi aku masih mencintainya. Bolehkah aku melanggar janjiku sendiri. Inikah yang terbaik menurut takdir?'
Naya menghentikan tangisannya dan tetap membersihkan dirinya dengan air hangat. Lalu berpakaian dan kembali ke kamar, duduk di sisi ranjang sambil berpikir apa yang akan ia lakukan. Ia menatap suaminya yang masih tidur.
'Aku ingin dipertahankan, kalau kanda mempertahankan aku, berarti kanda masih mencintaiku'
"Kanda, aku haid. Apakah kanda akan melepaskan aku pergi karena sudah ada wanita lain yang menjadi istrimu?" kata Naya sambil mengusap lembut rambut suaminya.
__ADS_1