Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 60. Kalau Suka Bilang Saja


__ADS_3

* jangan lupa, like, rate dan vote ya, terimakasih atas dukungannya *


Naya melihat Ria dengan perasaan aneh, mereka baru saja berkenalan, tapi seolah-olah gadis di hadapannya ini sudah memiliki dendam, sebenarnya apa salahku, batin Naya.


"Aku kenal pak Ares belum lama," jawab Naya singkat.


"Tapi sepertinya kalian dekat, pasti sudah lama kenal ya, atau kamu suka sama dia?" tanya Ria lagi seperti mencoba menyelidiki hubungan yang terjadi antara Naya dan Ares, wajahnya terlihat penuh dengan kecurigaan.


Naya tertawa kecil mendengarnya, ia duduk disamping Ria sambil menepuk-nepuk tangannya untuk memberikan semangat lalu berkata dengan tenang,


" Aku sama Pak Ares, memang kenal belum lama, aku juga gak suka sama dia. Kenapa?" Naya terlihat biasa saja.


"Gak, gak apa-apa," sahut Ria sambil menggeleng.


Naya benar-benar malas dan enggan membalas topik yang sangat Iya hindari. Selama ini Naya sudah mencoba menghindari Ares sebisa mungkin tapi entah kenapa takdir selalu saja seperti membawa mereka untuk semakin dekat. Kebetulan demi kebetulan selalu terjadi, yang mengakibatkan mereka terus bertemu dan berbicara, hinggap mereka seperti orang yang sangat akrab.


Mungkin keakraban yang terlihat di antara mereka disebabkan karena mereka selalu bertemu dalam keadaan yang tidak bagus atau bisa dikatakan bertemu dalam suasana yang tidak mengenakkan.


Justru karena Itulah sebenarnya Naya berusaha menghindari bahkan dia berharap tidak bertemu lagi dengan laki-laki itu, tapi untuk kesekian kalinya seperti hari ini, mereka tidak sengaja bertemu lagi dengan keadaan yang memaksa mereka kembali seperti terikat satu sama lain, saling membutuhkan satu sama lain.


Ria mencoba rileks, ia merebahkan dirinya dengan perlahan, dibantu oleh Naya. Ria merasa kalau tatapan mata Ares terlihat berbeda ketika menatap Naya. Ia menangkap sesuatu yang sebenarnya disembunyikan oleh salah satu dari mereka berdua.


"Ini, kalau kau haus," kata Naya menyodorkan segelas air dan sedikit makan yang ia bawa dari kampung tadi.


Ria menatapnya enggan, karena keadaan tubuhnya yang masih sakit, membuat ia tidak selera makan. Ia terkesan dengan kebaikan Naya karena Naya terlihat tulus merawatnya. Bahkan ia mau mau tidur disampingnya seolah-olah mereka sudah akrab sebelumnya.


"Kau tau, Pak Ares itu sangat baik. Dia tampan tapi dia tidak pernah kelihatan akrab atau dekat dengan perempuan," kata Ria memulai obrolan sebelum mereka tidur.


Membicarakan orang lain apalagi soal laki-laki, membuat Naya jengah. Ia berpikir lebih baik memulai tadarus atau membicarakan makanan. Bicara soal Ares, laki-laki yang ia hindari, sangat tidak ingin ia dengar. Ia terlalu malu pada papa dari Yoni ini. Terpergok beberapa kali dalam keadaan yang menyedihkan, melukai anaknya sampai harus dibawa ke klinik kesehatan, walau tidak sengaja, tapi membuat daftar rasa malu Naya pada Ares semakin besar.


Pertemuan Naya dengan Ares kali ini membuatnya tidak bisa lagi menghindari fakta bahwa ia kini tinggal sendiri. Walau menjadi seorang janda bukanlah sebuah aib, namun sangat memalukan bagi Naya.


"Ria, apa kamu suka sama pak Ares? Dia atasan kamu, kan?" tanya Naya setelah Ria selesai mengatakan komentarnya pada kepribadian Ares.


"Iya. Dia atasan sementara si, katanya tahun depan ia sudah habis kontrak dan akan pindah,"


"Ya, kalau kamu suka bilang saja, gampang kan?" kata Naya.


Ria menoleh pada Naya yang tidur disamping nya. Ia tidak bisa bergerak dengan bebas disebabkan tulang keringnya pada kakinya retak, terkena kayu yang berjatuhan saat kecelakaan kerja itu terjadi.


Saat itu dia cukup senang karena Ares sendiri yang menolongnya, mengankat beberapa kayu dengan sangat gagah, lalu menggendongnya sampai diruang klinik kantor. Karena itulah, Ares mendapatkan noda darah pada kemeja putihnya.


Saat itu Ria bisa melihat wajahnya dari dekat, mencium aroma tubuhnya dan bisa berbicara langsung dengannya. Ria sempat berdebar-debar saat itu, ia hampir lupa dengan luka dikakinya. Seolah tidak mengapa ia terluka asalkan ada Ares yang mengurusnya.


Tapi sekali lagi ia hanya bisa kecewa, laki-laki itu hanya menunjukkan reaksi keprihatinan biasa, bahkan hanya berbicara seperlunya saja. Ares juga menolong beberapa orang lain dan bukan hanya dirinya.


Ria hanya karyawan baru yang belum banyak mengenal orang dikantor itu, ia banyak mendengar soal Ares karena salahsatu pria yang banyak digosipkan oleh para karyawan wanita adalah dirinya. Ia juga tidak tahu, bagaimana bisa seorang laki-laki begitu dingin pada wanita padahal banyak laki-laki yang memanfaan keadaan untuk mendapatkan banyak wanita. Apalagi Ares adalah seorang yang punya jabatan yang lumayan bagus dikantor.


Ria sudah sering merias dirinya dengan cantik dan rapi, tapi Ares sama sekali tidak pernah menunjukkan rasa simpatik kepadanya.


Harta, tahta, wanita, adalah lingkaran setan yang tidak akan lapuk oleh waktu tak lekang karena panas. Ia lingkaran godaan yang akan terus ada sampai akhir zaman. Nabi pernah mengabarkannya dalam hadis bahwa godaan wanita adalah yang terberat bagi laki-laki. Ini sangat jelas akan berat, bukankah wanita adalah perhiasan dunia yang paling indah? Siapa si di dunia ini yang tidak suka dengan perhiasan?


Dan perhiasan dunia yang paling indah adalah wanita sholehah.


Wanita memang menggoda, bahkan haya dengan melihatnya sskilas, walau perempuan itu gendut ataupun tidak terlalu cantik. Tapi tetap saja bagi sebagian laki-laki ada bagian yang menarik, karena setiap wanita punya daya tariknya tersendiri.


Ada sebuah riwayat yang mengisahkan, ketika Rasul sedang berjalan bersama sahabatnya dan kemudian lewat di antara mereka seorang wanita yang menarik, kemudian Rasul berkata kepada sahabatnya itu,

__ADS_1


"Janganlah engkau meneruskan pandanganmu mu. Kalau kau melihat ada wanita yang menarik hatimu maka kembalilah ke rumahmu sesungguhnya istrimu memiliki hal yang sama dengan wanita yang kau lihat dan menarik hatimu."


Saaat itu Rosul tidak mengatakan begini, kalau kau tertarik padanya maka datangilah dia, nikahilah dia, masih ada kuota dua, tiga atau empat... Tidak!


Tapi saat itu Rasul mengatakan agar laki-laki menjaga pandangannya kemudian kembali kepada istrinya dirumah, maksudnya untuk memenuhi hasratnya sehingga laki-laki terhindar dari perbuatan dosa. Sebab wanita yang dilihatnya menarik di jalan, memiliki hal yang sama dengan istrinya yang ada di rumah.


Kalau melihat hadis ini sebenarnya yang harus diutamakan sebagai manusia adalah menjaga hawa ***** dan bukan memperturutkan nya. Walaupun dibolehkan dan ada aturan tentang poligami yang bertujuan untuk menjaga harga diri laki-laki agar tidak berzina karena begitu besarnya godaan dari wanita.


Biasanya sebuah perselingkuhan atau hubungan yang terjadi selain dengan pasangan sah seorang pria, itu disebabkan oleh laki-laki yang tidak bisa menahan pandangannya hingga mereka terperangkap dalam pusaran ***** yang mereka sendiri sulit untuk menghindarinya.


Ria tercenung lalu berkata,


"Ah, gak mungkinlah aku bilang duluan, aku kan perempuan" kata Ria.


"Tapi kamu beneran, suka sama pak Ares?" tanya Naya. Ria hanya mengangguk dan tersenyum malu-malu.


" Sejak kapan?"Naya bertanya karena penasaran.


"sudah lama si, sejak aku aku masuk kerja dan jadi asisten di divisinya," sahut Ria


"Oh, aku nyuruh kamu terus terang itu kalau kamu mau si, tu kan cuma saran. Kalau kamu mau tahu seperti apa perasaannya sama kamu." kata Naya dan Ria mengangguk.


"Kamu tau kan, dia itu duda," kata Ria mengabaikan rasa sakitnya.


"Iya, anaknya dua," sahut Naya.


"Wah, anaknya dua? kata teman dikantor anaknya cuma satu."


"Ada yang sudah besar, kelas tiga SMP sekarang."


"Kok, kamu bisa banyak tahu? katanya baru kenal? Kamu sering ketemu ya?" Ria mengatakan banyak pertanyaan.


"Kamu kan lagi sakit, gak mungkin sering-sering ke kamar mandi, kamu bisa tayyamum saja, terus pakai mukenanya, enggak apa-apa salatnya di kasur, yang penting kewajiban sebagai muslimah tidak kamu tinggalkan. Salat dulu deh biar tenang."


Naya membantu Ria memakaikan mukena untuk melaksanakan kewajibannya. Naya pernah punya pengalaman merawat ibunya selama beberapa waktu saat ibunya sakit yang menjadi ajalnya. Jadi hal yang biasa bagi Naya untuk membantu Ria kali ini.


Mensucikan diri dengan tayamum merupakan satu rukhsah atau keringanan dalam agama. Dapat dilakukan apabila tidak mendapatkan air ketika hendak salat ataupun dalam keadaan sakit, tayamum adalah cara berwudhu yang sangat praktis karena hanya menggunakan debu yang ada di sekitar. Sebab di semua tempat pasti ada debu yang menempel walaupun di ruang ber-ac sekalipun.


-


Keesokan harinya, Naya membantu Ria membersihkan diri dikamar mandi kemudian membuatkan teh hangat dan sarapan. Sebelumnya ia sudah membersihkan kamarnya dan juga mengurus dirinya sendiri. Setelah itu ia di tempat Ria dan menemaninya sarapan sambil mengobrol hal-hal yang ringan.


Jarak usia Ria masih lebih muda dari Naya tapi mereka terlihat sedikit cocok. Obrolan mereka bisa menyambung, karena Naya bisa mudah akrab dengan siapapun. Ketika Ria menanyakan dan membicarakan tentang Ares, Naya selalu mengalihkan padabhal lainnya. Karena ia merasa membicarakan Ares adalah sesuatu yang riskan. Apalagi membicarakan tentang statusnya. Menurut Naya ada banyak hal yang bisa dibicarakan daripada membicarakan laki-laki itu.


Tanpa diduga pria yang sedang mereka bicarakan muncul di depan pintu sambil membawa bingkisan di tangannya. Dan ia memanggil Naya, dengan bertanya,


"Naya, apa kamu sudah sarapan?"


Naya mengerutkan kening, ia tak menyangka laki-laki itu akan muncul sepagi ini di sana. Bahkan menunjukkan perhatian pada dirinya. Naya melirik pada Rua sekilas, melihat ekspresi wajahnya yang terlihat tidak suka.


'Kenapa juga cuman aku yang ditanya pak? Haruskah aku aku kasih tahu, pak! Ria ini suka sama bapak'


" Pak kok cuman Naya yang ditanya, aku gak dikasih sarapan, kan aku yang sakit?" Kata Ria dengan wajah cemberut


'Oh iya, ini buat kamu juga kok." kata Ares tersenyum tipis.


Kemudian ia meletakkan kan bingkisan yang ada di tangannya di atas meja, lalu melambaikan tangan pada Naya agar mengikutinya. Setelah itu mereka berjalan keluar menjauhi tempat Ria. Setelah mereka ada di luar, Ares bertanya,

__ADS_1


"Apa kamu tidur bersamanya semalam?"


Naya mengangguk tanpa suara.


"kamu nggak capek, kan kamu baru pulang?" tanya Aris lagi kembali menunjukkan perhatian pada Naya. Tapi Naya hanya menjawab dengan gelengan kepala mencoba membatasi diri.


"Bapak manggil saya ke sini mau bilang itu saja?" Naya bertanya dan Ares mengangguk. Tanpa bicara pagi, Naya beranjak pergi dari tampat itu tapi Ares menghadangnya.


Ares mengambil sesuatu dari saku celananya sambil berkata,


"Ini kompensasi dariku, kamu sudah mau bantu aku," kata Ares sambil mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih kepada Naya.


Naya menolaknya. Ia menggelengkan kepala sambil berkata,


"Saya tidak menerima kompensasi secara pribadi dari Bapak. Karena saya memang tulus mau menolong Ria, kasihan kan dia nggak bisa apa-apa kalau tidak ada yang bantu? Saya akan jaga Ria sampai Ibunya datang. Jadi Bapak nggak perlu repot," sambil melangkah memasuki rumah Ria.


Naya hampir saja menutup pintunya. Ia bermaksud menghalangi Ares agar tidak tidak masuk di tempat Ria. Sehingga Naya tidak perlu repot meladeninya, bila laki-laki itu berkata atau bertindak sesuatu yang bisa menyinggung perasaan Ria. Tapi Ares sudah mendekat ke depan pintunya lalu dia berkata,


'"Ayo kita makan bareng."


Ares masih berpikir ulang bagaimana caranya agar Naya mau menerima pemberiannya. Semula ia pikir Naya akan mau menerima dengan mudah, karena ia tahu bahwa Naya sudah banyak dirugikan, bahkan sudah sering libur tidak masuk kerja, yang artinya akan ada pemotongan gaji dari Bu Nha. Tapi ternyata Ares sudah salah duga, Naya secara terus terang menolak pemberiannya.


"Saya sudah sarapan, pak. Sudah kenyang," jawab Naya.


Arez mengerutkan kening menoleh pada Naya yang mulai membereskan bekas sarapannya dengan Rua. Dalam benaknya ia bertanya,


Mengapa Naya ya selalu menolaknya. Apakah karena Naya malu padanya? Ia bahkan merasakan sikap Naya benar-benar menjaga jarak darinya. Naya selama ini hanya manis dan begitu lembut pada Yoni, sedangkan pada dirinya selalu saja acuh dan sering mengabaikannya.


'Apakah ini karma untukku karena aku juga sering mengabaikan dan acuh pada semua perempuan? Dan sekarang saat aku ingin dekat dengan perempuan, justru perempuan ini acuh padaku seperti aku bersikap acuh pada perempuan. Astagfirullah'


"Ya gak apa, saya makan sendiri saja kalau kalian sudah makan. Makanan ini bisa kalian makan untuk makan siang nanti," kata Ares sambil membuka bungkusan sarapannya.


"Saya saja Pak, saya masih mau makan biar bapak enggak makan sendiri," kata Ria sambil mengambil lagi makanan yang sudah dibereskan oleh Naya.


Naya mengerti apa yang ada dalam pikiran Ria sehingga ia membiarkannya. Lalu Naya pergi ke dapur untuk mencuci piring. Setelah selesai mencuci piring Naya pergi ke tempatnya sendiri. Ia memeriksa layar ponselnya, guna memeriksa pesan atau telepon yang masuk. Sudah dari semalam ia mengabaikan ponselnya begitu saja di kamarnya.


Saat itu Ia berpikir bahwa Aris dan Ria akan mempunyai waktu untuk berdua. Yapi ketika ia baru saja akan menjawab pesan dari ayah yang menanyakan kabarnya, pintu pintu rumahnya sudah diketuk seseorang.


Naya segera beranjak untuk membukakan pintu dan dia pun mendapati Ares berdiri di sana, menatapnya sambil menyelipkan kedua tangan dalam saku celananya.


"Pak Ares, kenapa ada disini, sudah selesai sarapannya?" tanya Naya.


"Sudah. Soalnya kamu nggak ada, jadi aku nggak ***** makan lagi," sontak saja jawaban Ares ini membuat Naya ingin tertawa tapi ia menahan sekuat tenaga.


Naya bertanya,


"terus Ria sekarang sendirian dong."


"Biar saja, dia pasti manggilnkamu kalalau butuh bantuan lagi," mendengar Ares bicara demikian, Naya mengangguk. Kalau boleh, ia akan tidur sendiri di tempatnya sekarang, ia tidak tidur dsngan baik semalam.


"Kapan keluarga Ria mau datang?" tanya Ares.


"Lho, kok tanya sama saya si pak, tanya sama Ria, dong,"


"Aku maunya tanyanya sama kamu." Ares bicara dengan bahasa yang terkesan akrab bila hanya berdua dengan Naya.


"Tapi, pak. Saya gak enak sama Ria, kalau bapak seperti ini," kata Naya. Mereka masih berdiri dengan posisi yang ssma.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ares tenang.


__ADS_2