
Naya menatap seorang perempuan yang berdiri di depannya sambil menggenggam tangannya. Ia seorang gadis dengan pakaian dan gaya rambut yang mirip seorang laki-laki, Dinda. Tersenyum ramah, sambil berkata.
"Aku gak nyangka bakal ketemu kamu di sini. Kamu masih seperti yang dulu, Nay!"
"Kamu juga, Din. masih saja tomboy, apa suamimu gak marah, sama penampilan kamu ini, ha?" mendengar ucapan Naya, gadis tomboy itu tertawa terbahak-bahak.
"Kamu sama sekali gak tau apapun soal aku, ya? Ish, istri macam apa kamu ini. Apa kamu masih menyukaiku?"
Kini Naya yang tertawa dan menyahut,
"Tentu saja aku masih menyukaimu. Ini namanya takdir aku sekarang jauh dari kota Batu. Bagaimana bisa tahu semua tentangmu?"
"Aku ini masih belum punya suami. Karena aku ini suamimu!" kata Dinda dengan ketus.
Mereka adalah teman akrab saat SMA di kota asal kelahiran mereka. Naya pindah sejak lulus, pindah ke kota Hujan karena ikut kedua orang tuanya dan ia tidak melanjutkan kuliah. Ia langsung bekerja menjadi karyawan pabrik sebuah perusahaan swasta, di sanalah ia bertemu dengan Rudian dan kemudian menikah.
Panggilan suami istri yang mereka lakukan sejak masa sekolah itu karena Dinda perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki. Awalnya karena bercandanya anak-anak remaja waktu itu yang menjuluki Dinda sebagai suami dari semua teman wanita dalam satu kelas. Panggilan suami istri yang menggelikan dan bisa membuat orang lain menjadi salah faham, tapi begitulah mereka.
"Oh, maafkan aku. Ayo kerumahku. Aku harus pulang dan masak makan malam buat suamiku." ajak Naya pada Dinda agar naik angkutan umum bersama.
"Benarkah? Apa kamu selingkuh sekarang?" kata Dinda cemberut dan menepis tangan Naya yang memegang tangannya.
"Ish. Kau ini. Aku tidak selingkuh darimu. Aku hanya poligami saja" jawab Naya asal.
Kedua wanita itu tertawa lagi. Naya melihat jam tangan murahan yang dipakainya. Ia benar-benar harus pulang. Tapi mengobrol dengan teman lama seperti ini sangat menyenangkan. Siapa yang bisa menolaknya?
"Oke, aku antar kamu pulang." kata Dinda, menggamit tangan Naya menuju parkiran mobil.
"Apa kamu gak bawa apa-apa?"tanya Dinda pada Naya yang tidak membawa apapun ditangannya. Hei, ini mall kan, tempat orang berbelanja?
"Gak, aku cuma cuci mata." tiba-tiba Naya merasa menjadi pembohong.
Dinda tidak menganganggap Naya serius, sebab bisa jadi memang ada orang yang datang ke mall hanya untuk jalan-jalan. Ia membukakan pintu mobil untuk Naya. Ia sejak dulu memang dikenal sebagai anak orang berada di kampungnya. Jadi bukan hal aneh kalau sekarang ia memiliki mobinya sendiri.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Naya saat sudah duduk di dalam mobil Dinda, ia sama sekali tidak heran dengan Dinda yang sudah sangat mahir mengendarainya. Karena sejak mereka sekolah saja Dinda sering membawa mobil sendiri di luar sekolah tentunya.
"Aku lagi kangen sama ibuku. Ibu sering ikut pindah-pindah kota sama kakak. Kakakku itu senang banget sama kerjaannya, gak mau nerusin perusahaan ayah." kata Dinda sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Jadi sekarang kakakmu ada di sini. Kamu mau lama tinggal di sini?"
"Ah, tidak. Besok juga pulang. Kalau aku lama-lama, bagaimana kerjaanku."
"Wah, pasti kamu jadi wanita karier yaa..." kata Naya manja.
"Ah, hanya membantu ayah di perusahaan saja. Jadi pembantu, bukan wanita karier, tahu?!"
"Eh, tapi diperusahaan sendiri. Sama saja kamu bosnya."
"Ck! Gak enak, sama ayah. Disuruh-suruh melulu.. Gimana, kamu sudah punya anak berapa sekarang. Katanya sudah nikah?"
Pertanyaan seperti ini yang selalu didengar Naya bila mengetahui kalau dirinya sudah menikah. Sebenarnya pertanyaan yang wajar, tapi selalu membuat Naya merasa minder, dan malu. Gelar wanita mandul seolah melekat pada dirinya.
"Belum. Aku belum punya anak." kata Naya dingin.
"Ck. Mendinglah belum punya anak... Daripada belum punya suami!" Dinda menimpali dengan enteng, membuat Naya tidak merasa sedih
'Iya juga. Masih banyak orang di luar sana yang hidupnya lebih susah dari aku. Alhamdulillah'
Naya sebenarnya ingin menanyakan kenapa Dinda belum menikah, dia bukan wanita yang kurang pergaulan hingga sulit menemukan pria yang tepat. Apalagi ia adalah keturunan orang berada. Tapi ya seperti itu lah nasib anak manusia, siapa yang bisa menebaknya Masa depan selamanya akan menjadi sebuah rahasia.
Mereka terus mengobrol, setelah Naya membuatkan Dinda secangkir teh manis. Sesekali Naya melakukan aktifitas di dapur sambil terus mengobrol. Jarak antara dapur dan ruang tamu tidak begitu jauh hanya dibatasi satu tembok saja.
"Hei, istri! Kapan suamimu pulang? Nanti kenalin aki ya, aku mau menggodanya, apa kamu marah?"
"Kan, kamu suamiku sekarang. Jadi kenapa harus marah? Begini rasanya punya dua suami." kata Naya tertawa keras.
Ia berpikir mungkin, Rudian belum akan pulang, karena ia sedang bersama Yola. Jadi ia akan menikmati waktu bersama Dinda dan mencandainya, sejenak melepaskan penat dihatinya.
"Ih, itu namanya poliandri, dilarang dalam agama." kata Dinda, ia mengerutkan bibirnya.
"Ah, itu kamu tahu. Tunggu, sebentar lagi masakanku matang." kata Naya, ada sisa tawa dibibirnya.
Tanpa ia sadari, Rudian sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan cemburu karena melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah mereka.
"Siapa, kamu?" tanya Rudian setelah ia berdiri di ambang pintu. Ia melihat Dinda dari belakang yang mirip laki-laki.
__ADS_1
Seketika Naya dan Dinda menoleh, mereka melihat Rudian yang membawa sesuatu di tangannya dan tak ada senyum sedikitpun dibibirnya.
"Kanda, sudah pulang?" kata Naya yang langsung menyambut Rudian dengan mencium punggung tangannya.
"Ini suamimu, Nay?" tanya Dinda sambil menatap Rudian lekat. Ia tersenyum ramah, melihat sosok pria yang cukup tampan dengan pakaian rapi dihadapannya. Sosok yang memang cocok dengan Naya.
"Iya. Nda, kenalin ini teman Naya, Dinda." kata Naya mengenalkan suaminya.
Rudian mengangguk pelan kali ini ia tersenyum, ia sempat berpikir kalau Naya diantar oleh seorang laki-laki sebagai bentuk protes atas nasib yang dialaminya. Tentu saja semua karena kesalahannya.
Mereka berjabat tangan sebentar, sebelum Naya melepaskan tangan suaminya sambil berkata,
"Bukan muhrim. Dinda ini teman aku, Nda. Waktu SMA." kata Naya sambil mengambilkan minum untuk Rudian.
Dinda sudah duduk kembali dan Naya pergi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebentar lagi waktu magrib akan segera tiba. Dan ia belum membersihkan diri.
Rudian juga duduk dihadapan Dinda, bermaksud menemani gadis itu sementara menunggu Naya selesai membereskan dapur.
"Aku kira kamu laki-laki, tadi. Aku hampir saja cemburu." kata Rudian memecah kecanggungan. Gaya Dinda benar-benar cuek.
"Kenapa gampang amat cemburu. Baru saja lihat." kata Dinda sambil menyeruput tehnya, "Biasanya kalau laki-laki berbuat sesuatu dibelakang istrinya itu, dia akan mudah cemburu sama istrinya, karena berpikir bahwa istrinya melakukan hal yang sama seperti dirinya." Kata Dinda dengan tenang.
Tatapan Dind tajam tepat dibola mata Rudian seolah sebilah pedang terhunus pada sorot matanya. Sebenarnya saat di mall, Dinda sempat melihat perbuatan Rudian dengan Yola, ia hanya menganggap hal biasa, seorang suami dan istrinya. Ia sama sekali tak menyangka kalau Rudian adalah suami Naya. Ia pikir Naya tidak tahu bahwa suaminya ini telah selingkuh.
"Apa maksudmu?" tanya Rudian, ia merasa Dinda sudah menyindir dirinya.
"Aku kira maksudku jelas. Aku tahu tadi kamu dengan perempuan lain, kan? Hah, kamu pikir kamu laki-laki hebat bisa berbuat hal sampah itu? Laki-laki dimana-mana sama." kata Dinda penuh penekanan, ia kini duduk seakan tengah menghakimi seseorang.
Mendengar kata-kata Dinda itu, Rudian tertawa. Lalu berkata,
"Katakan saja pada Naya. Apa kamu mau tahu reaksinya?'
'Hidih. Sombong sekali orang ini. Naya, bagaimana bisa suamimu laki-laki seperti ini si?'
Diantara teman dan sahabatnya, Dinda paling dekat dengan Naya. Mereka sering pergi berdua kalau libur sekolah. Ia merasa sangat kasihan dengan nasib Naya.
"Suami..! Ini masakanku. Kita makan sekarang atau mau sholat maghrib dulu?"
__ADS_1
"......???"