Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 16. Sesuatu Yang Harus Dipercaya


__ADS_3

Naya tidak menjawab pertanyaan Ibu Mertuanya, ia memilih diam sambil menikmati makanan yang terasa hambar di lidah.


Setelah selesai makan, ia membereskan bekas makanan itu. Lalu duduk kembali disamping ibu mertuanya, sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Jadi apa yang saya harus tahu, apa ada masalah dengan Kanda?" tanya Naya dengan raut wajah serius.


Sarita dan Rudian saling pandang, meminta persetujuan dengan apa yang akan mereka katakan pada Naya.


"Saya juga dengar, loh bu. Ada nama Yola disebut," kata Naya lagi karena melihat kedua orang dihadapannya tidak juga bicara.


Sementara Rudian ingin agar ibunya tidak mengatakan yang sebenarnya pada Naya, ia tak ingin menanggung akibatnya bila Naya tahu. Ia tidak ingin terjadi apa pun pada hubungannya dengan Naya, setelah mengetahui segalanya.


Sedang Sarita merasa inlah waktu yang tepat mengatakannya, agar semua jelas dan ia bisa membawa calon istri Rudian. Ia hanya berpikir tentang keinginan memiliki cucu dari Rudian, siapa pun istrinya dan apa pun akibat, yang akan terjadi pada Naya, ia tak perduli.


"Naya, kamu harus tahu kalau sebenarnya Rudian dan Yola itu ...." kata Sarita tenang, tapi kemudian Rudian segera memotong kata-kata ibunya.


"Kami hanya teman. Tadi ibu ketemu sama dia dan ibu sempat salah faham," kata Rudian.


"Aku juga bilang sama Ibu, kamu juga sempat salah faham kemarin," lanjut Rudian.


"Oh, gitu," jawab Naya mengalihkan pandangan, ia masih merasa kalau Sarita dan Rudian menutupi sesuatu darinya.


"Tapi, Rudi ... kalau kamu mau menikahinya, ibu setuju-setuju saja. Siapa tahu kalau kamu nikah sama Yolaa, dia bisa hamil. Iya kan Naya?"


"Apa maksud ibu?" tanya Naya tidak suka dengan perkataan ibu mertuanya.


"Maksud ibu, kamu harus setuju kalau suamimu menikah lagi dengan Yola. Kamu harus tahu diri, kamu tidak bisa hamil jadi izinkan Rudian menikahi wanita lain," kata Sarita sambil menatap Rudian meminta dukungan anaknya. Ia. merasa sudah melakukan yang terbaik untuknya.


"Kalau Kanda nikah lagi, lantas bagaimana dengan saya? Apa saya tetap harus tetap jadi istrinya, terus saya juga harus bekerja, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, begitu?" Naya berkata tanpa jeda sambil berusaha menahan gejolak dan gejolak di hatinya.


Ia pun kembali berkata, "Bu, gaji Kanda tidak cukup dan habis buat bayar cicilan rumah ... untuk biaya hidup berdua saja kurang, masa sih, mau punya istri lagi?!"


Naya sedikit emosi pada suami juga ibu mertuanya. Ia menatap suaminya kesal karena hanya diam.

__ADS_1


Tiba-tiba Sarita berdiri dengan angkuh seraya berkata.


"Kamu bisa pilih cerai, kalau tidak mau, tapi ingat, pasti tidak ada yang mau sama kamu, kamu kan perempuan mandul."


"Ibu ...." Rudian berusaha menenangkan ibunya dengan memegang tangannya agar duduk kembali.


"Baik, kalau begitu. Kanda, kamu sudah tidak butuh aku? Apa Kanda percaya aku mandul?" Naya berkata dengan nafas yang naik turun, ia diam sejenak.


Lalu ia berkata lagi, "ayku sudah beruasaha, Nda. Aku sudah minum herbal sekarang. Apa kanda masih mau mencari wanita lain, apa Kanda gak sayang aku lagi?"


"Bukan, bukan begitu. Ayo! Kita pulang saja. Kita bicarakan ini di rumah, ya?" kata Rudian pada akhirnya.


Ia segera berkemas mengambil jaket dan kunci motornya, lalu menarik tangan Naya menuju keluar pintu, tanpa memperdulikan Sarita.


"Naya, ayo pulang!" kata Rudian lagi melihat Naya masih enggan. Tubuh Naya seolah berat hendak melangkah. Hati dan perasaan Naya masih kacau.


'Aku mencintai suamiku, aku tidak siap kalau harus bercerai atau Kanda menikahi wanita lain. Apa aku salah? Tidak, kan? Jadi mana yang harus aku percayai sekarang?'


"Kami pulang dulu, Bu. Masalah ini jangan dibahas lagi, ya" kata Rudian sambil memakai helmnya.


Motor yang dikendarai Naya dan Rudian pun melaju dengan anggun menuju rumah kediaman mereka.


"Jujur, Kanda. Sudah sejauh apa hubungan Yola dengan Kanda" kata Naya setelah sampai di dalam rumah dan duduk di sofa sambil melipat tangan di depan perut.


"Sudahlah, aku gak punya hubungan apa-apa. Aku gak mungkin menikah lagi, mau biaya dari mana, rumah saja belum lunas. Kamu harus percaya pada suamimu, Nay. Jangan dengar kata Ibu," jawab Rudian seraya duduk di hadapan istrinya.


Naya menghela nafas berat. Berusaha keras mengusir prasangka buruk, yang datang memenuhi hatinya, bahkan seolah prasangka buruk itu nampak nyata di depan matanya. Seperti hantu menyeramkan yang siap menerkam tubuh dan ********** sampai habis.


Menyeramkan sekali bentuk prasangka itu. Prasangka buruk memang benar-benar buruk. Naya bergidik, merinding membayangkan suaminya mencintai wanita lain.


"Kanda harus tahu, kalau mau poligami, aturannya seperti apa?!" Naya mulai mengomel.


"Syari'at agama memang membolehkan, tapi dengan berbagai syarat. Tidak bisa sembarangan. Harus berbuat adil dan berkemampuan dalam materi, tidak boleh mengabaikan hak istri, iya kan?" Naya masih saja terus bicara.

__ADS_1


"Jangan sembarangan, menuntut istri pertamanya memaklumi kekurangan suami, agar ia bisa poligami. Ah, kalau seperti itu, anak kecil juga bisa poligami, Nda!"


Sesuatu yang harus ia percayai adalah cinta. Walau cinta menyakitkan bila tak tepat, ahk... Ya, dia masih mencintai suaminya.


Percakapan itu berhenti begitu saja, karena Rudian seperti enggan menanggapi kata-kata dan pertanyaan Naya. Ia memilih tidur di kamar, menutup telinga dengan bantal.


'Maaf, Naya. Aku belun bisa jujur sekarang. Aku belum siap kehilangan kamu apalagi kalau harus menanggung biaya hidup sendiri. Aku tidak mungkin bergantung kembali pada ibu'


-


Hari-hari berjalan kembali seperti biasanya. Cobaan baru yang Naya hadapi kali ini tidaklah mudah, ini soal hati. Masalah kekurangan ekonomi dalam rumah tangga, walau tidak memiliki anak sudah biasa ia jalani. Sekarang ia harus berhadapan dengan masalah wanita lain, suami yang bersikap aneh, Ibu Mertua yang jadi berubah galak, ini hal baru baginya.


Naya bekerja seperti biasanya di restoran, ia pandai menutupi perasaan dalam hatinya, di hadapan orang lain. Diusianya yang masih muda, Naya bersikap begitu dewasa.


Ahk, wanita tidak perlu terus menjadi dewasa dalam pernikahan mereka, bila mereka bertemu dengan laki-laki yang selalu memanjakannya. Mereka bisa selamanya menjadi anak yang manja bila menikah dengan pria yang tepat.


"Apa kamu baik-baik saja, Nay?" tanya bu Nha. Wanita itu selalu perhatian pada Naya, biar bagaimana pun Naya adalah menantu dari temannya.


"Baik, Bude ... alhamdulillah"


Bu Nha, sebenarnya melihat wajah Naya yang pucat dan mata yang sembab. Namun, saat ia menanyakan sebabnya, Naya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, membuatnya tidak lagi menanyakan lebih jauh tentang masalahnya.


Tiba-tiba saja ia mendengar suara celotehan anak kecil, yang entah kenapa ia rindukan. Itu suara Yoni, si pelipur laranya. Naya menoleh dan menangkap wajah manis polos itu dalam rangkuman pandangannya.


Matanya berbinar menatap anak lucu itu, seolah-olah banyak kupu-kupu beterbangan di atas kepalanya bahkan kupu-kupu itu menari mengelilinginya.


"Yoni!" kata Naya menangkap tubuh mungil Yoni dalam pelukannya. Anak itu tersenyum lucu. Tentu saja ia tidak tahu kalau Naya merindukannya. Sementara Ares yang menatap pemandangan itu dengan takjub, sikap Naya sudah membuat hatinya menjadi hangat.


"Kemana saja, kamu. Kok gak makan di sini? Tante kangen sama kamu, tahu?" kata Naya sambil mencubit kecil pipi Yoni lalu menciumnya. "Kamu, tambah cantik saja, mau makan apa. Biar tante suapin."


Ares langsung menyahut, "Biar Yoni makan sendiri!"


'Hei. Kamu tidak perlu menyuapinya'

__ADS_1


Bersambung


*Terimakasih atas dukungannya. Tolong tinggalkan jejak*


__ADS_2