Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 22. Beberapa Menit Di Ranjang


__ADS_3

Naya menatap Yola tepat dibola matanya, melipat tangan di depan perut dan berdiri tegak mengabaikan perih dilambungnya. Perasaan yang dipendamnya beberapa hari yang lalu kini seperti meronta ingin dilepas dari kandang hatinya.


"Kalau kamu sudah mau menjadi istrinya yang kedua, berarti sudah tahu dong resikonya tidak akan mendapatkan nafkah, uang Rudian itu sudah habis untuk bayar cicilan rumah ini." kata Naya lagi sambil melirik pada Rudian. Ia terus saja bicara karena melihat Yola hanya diam tak mereapon ucapan Naya.


"Iya, aku tahu. Selama ini juga aku tidak minta apapun dari bang Rudi. Paling hanya kebutuhan bayi nanti yang akan bang Rudi beli dari uangnya." akhirnya Yola bersuara dengan terbata-bata.


'Keperluan bayi? Bayi itu akan lahir menjadi bayi diluar nikah.'


Naya melangkah meninggalkan kamar dan duduk di sofa kecil tempat dimana tadi para tamu dan keluarga duduk di sana. Sanggupkah ia menghadapi kenyataan sepahit ini? Orang yang dicintai membeli sesuatu untuk wanita lain sedang kan untuk dirinya sendiri tidak?


"Naya, sudahlah. Tidak usah cari masalah. Kamu harus bisa menerima semua ini Naya. Akui kekuranganmu" kata Sarita ikut duduk dihadapan Naya.


"Aku, cari masalah?" kata Naya dengan senyum smirk dibibirnya.


'Ah, yang benar saja aku yang cari masalah'


"Bukankah yang mencari masalah duluan itu Rudian ya, bu?"


"Kamu...?" kata Sarita mendelik kearah Naya.


Naya memejamkan matanya sejenak, menghirup udara perlahan dan menenangkan dirinya. Ia harus menghadapi ini sendiri. Sungguh ini adalah cinta dan kekuatannya yang bisa membuat orang mampu berbuat dan melakukan hal yang lebih dari sekedar kebiasaannya.


Naya, adalah salah satu wanita yang mampu mencintai suaminya lebih dari yang ia butuhkan. Ketika seorang wanita mampu menjalani kehidupan dengan diduakan cinta, maka ia termasuk Orang yang memiliki cinta luar biasa.


Tidak semua wanita mengalami ujian seperti ini, ada beberapa wanita memiliki ujian hidup yang berbeda. Ada yang diuji dengan saudara iparnya, ada yang diuji dengan ekonomi, ada yang diuji dengan mertuanya atau anak-anak mereka.


Sungguh ujian itu akan terus ada sampai manusia menyelesaikan misi hidupnya atau kematian memanggilnya.


"Iya, Kanda yang cari masalah. Kalau kanda tidak tergoda sama perempuan ini, lalu melakukan zinah, tentu kanda tidak perlu menikah lagi kan?"


"Naya, jaga bicaramu. Zinah apa maksudmu?" tanya Sarita. Ia melihat pada anaknya dan juga menantu barunya.

__ADS_1


"Jadi, ibu belum tahu? Ibu, kanda sudah berhubungan cukup lama dengan Yola hingga hamil, baru beberapa pekan yang lalu mereka menikah." jawab Naya tenang. Lalu katanya lagi


"Jadi apa namanya kalau bukan zinah. Ibu, aku tidak mengijinkan mereka menikah tapi aku hanya membiarkan, dari pada mereka terus saja berbuat dosa!"


Terlihat Sarita tertegun, ia sedikit kecewa tapi apa yang bisa mereka lakukan, tidak ada kan? Negara tidak akan menghukumi mereka dengan hukuman secara Islam. Tidak. Bahkan tidak ada pasal untuk orang yang melakukan zinah dengan alasan suka sama suka.


"Apa itu, benar?" tanya Sarita melirik pada Yola dan Rudian. Mereka berdua mengangguk.


Godaan syetan sudah memenuhi hati mereka saat itu, yang membuat alasan 'sudah terlanjur' sangat masuk akal. Lalu dengan mudahnya mereka mengatasnamakan kata 'khilaf' sebagai sandaran dari sebuah pembenaran atas kesalahan yang dengan sengaja mereka lakukan.


"Tapi, ini ada bagusnya hingga aku hamil. Jadi bang Rudi itu tidak mandul." tiba-tiba Yola menyela ucapan Naya. Ia berdiri di dekat Naya.


"Astagfirullah. Ada ya, orang yang bangga dengan dosanya. Aneh kamu."


"Aku bukannya bangga, itu kenyataan. Bang Rudi selalu mencariku kalau sedang ingin. Apa ke kamu juga begitu, tidak kan?" kata Yola membela diri.


"Oh, jadi seperti itu.. Rudian hanya membutuhkanmu untuk beberapa menit di atas ranjang itu?"


'Sungguh memalukan, mereka seorang pezinah.'


"Akui kesalahan itu dihadapan Allah, Nda. Aku tidak bisa mengampuni dosamu, itu dosa besar, Nda! Kalian harus bertobat."


"Iya, aku akan tobat. Sudah ya. Aku sekarang mau nganterin Yola pulang."


Namun tersengar suara adzan berkumandang.


"Sudah magrib, Nda. Lebih baik sholat dulu."


Setelah berkata seperti itu, Naya melangkah ke kamar mandi dan melakukan wudhu. Mensucikan diri dan melakukan sholat maghrib sendiri.


Sementara ibu dan Yola ikut ke masjid bersama Rudian. Mungkin mereka tidak nyaman kalau sholat dirumah dengan Naya. Pada kesempakatan itu Naya menangis sendiri di ataa sajadah.

__ADS_1


Tangis naya terdengar sangat memilukan, ia benar-benar mengabaikan rasa sakit yang masih terasa dibagian ulu hatinya. Tapi rasa sakit itu seolah kalah oleh rasa sesak didadanya.


Adakah obat yang membuat hati mati rasa? Akan sangat bagus kalau bisa membuat hati ini mati dari segala perasaan yang ada. Hingga semua manusia akan terlihat baik-baik saja di tengah kegalauan apapun yang mendera.


Berselang beberapa lamanya, dari balik pintu terdengar suara ribut dari tiga orang yang tengah mengobrol dengan hangat. Rudian mengambil motornya untuk mengantarkan Yola pulang dan Sarita memesan Taxi.


Wanita setengah baya itu menolak ketika ditawari Naya untuk menginap. Diwajahnya masih terlihat masam menatap Naya ketika pergi. Sebenarnya apa salah Naya?


Selepas waktu isya, Naya sudah selesai membuat makan malam untuk dirinya sendiri. Ia masih belum menanyakan apakah Rudian akan pulang atau tidak. Tapi ia segera mengambil ponselnya dan mengirimi suaminya pesan guna menanyakan apakah ia akan pulang.


Setelah sholat Isya dan selesai makan, Yola berniat menonton televisi, siapa tahu ada acara yang enak untuk dilihat, pelepas penat ditubuh dan otaknya.


"Naya, gimana lambungmu. Apa masih sakit?" kata sebuah pesan ketika Naya melihat ponselnya yang berkedip-kedip. Itu pesan dari Ares dan Sania. Isi pesan mereka sama.


"Alhamdulillah, masih ada orang yang perduli di saat seperti ini" gumam Naya tersenyum tipis.


"Alhamdulillah sudah mendingan. Terimakasih atas perhatiannya" tulis Naya pada layar ponselnya. Jawaban yang sama pula ia berikan pada Ares dan Sania. Setelah itu tidak ada jawaban lainnya.


Naya berulangkali mengalihkan canhel TV, tidak ada tontonan yang menarik menurutnya, semakin lama semakin larut malam semakin sedih saja hatinya, sepi.


Tidak ada jawaban dari Rudian. Ia tak ingin menelponnya. Biarlah, terserah. Walau panas hatinya belum mendingin ia tak menangis. Malu rasanya berangkat kerja selalu dengan mata yang sembab.


Ingin rasanya ia pergi kenegeri air dan berendam dalam kolam Yin Yhang yang ada difilm Afatar. Rasanya pasti menenangkan.


'Apakah aku hidup dalam lamunan selama ini dan cinta itu seperti sebuah bayang, yang tidak ada saat aku kembali pada kenyataan?'


Lama kelamaan Naya tertidur di sofa, saat Rudian pulang, hampir tengah malam.


"Naya! Naya! Apa kamu sudah tidur? Bangun, aku mau bicara!" kata Rudian sambil menggoyang-goyang tubuh Naya.


*Tinggalkan like dan komennya yaa... Terimakasih atas dukungannya*

__ADS_1


*ujung pena*


__ADS_2