
"Naya, Aku minta, maafkan Aku," itulah kata-kata yang keluar dari bibir Yola ketika ia duduk dihadapan Naya.
Sarita duduk di salah satu kursi di antara mereka berdua. Naya menatap Yula dengan tersenyum tipis, lalu ia berkata,
"Aku sudah memaafkanmu."
Sarita menimpali, "Sudahlah, semua yang terjadi diantara kalian hanyalah masa lalu. Jadi yang sekarang harus kalian hadapi adalah masa depan kalian masing-masing."
'Ibu aku tahu tentang hal itu, karena itu aku ingin membicarakan saat ini juga, dengan Naya." kaya Yola.
Kerena sepertinya cukup serius Bastian Sania dan Dero yang ada di antara mereka ikut mendekat dan mendengar dengan antusias.
"Naya, yang penting bagiku adalah kau sudah memaafkanku," kata Yola lagi.
Naya menarik nafas dalam ia melirik sebentar ke arah bayi yang sedang tertidur kemudian menatap Yola kembali.
"Katakan, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan," kata Naya, "padahal aku pikir sebaiknya memberi nama bayi ini dulu. Nama apa menurutmu yang bagus?"
"Aku sudah pernah membicarakannya dengan Rudian, ia ingin memberinya nama Fauzan, kalau dia laki-laki." jawab Yola sambil tersenyum menatap bayi laki-lakinya.
"Nama yang bagus," sahut Naya, "Oh iya, tadi kamu mau ngomong apa?"
"Soal rumah ini..Aku ingin kamu ingat, aku juga sekarang punya hak atas rumah ini," kata Yola.
Mendengar kalimat yang diucapkan Yola, mmbuat Naya tertawa kecil,
"Ini bukan saat yang tepat untuk ngomong soal rumah, kita masih bisa bicara hal lainnya. Misalnya saja apa hikmah yang bisa kau ambil dari kejadian dan ujian yang kau alami kali ini..!" kata Naya.
Sarita yang menyimak ucapan Naya hanya mengangguk, ia membenarkan. Menurut Naya aneh rasanya, apabila seseorang segera membicarakan tentang harta warisan atau harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, padahal tanah dari orang yang meninggal itu belum juga kering bahkan bunga yang tersebar di atasnya masih segar.
"Kenapa kamu begitu buru-buru atau kamu takut aku akan mengambil semuanya?!" tanya Naya.
"Hei, sudah sudah, jangan bertengkar lagi." Kata Sarita menengahi.
"Sebenarnya aku tidak mau bertengkar, Bu. Aku hanya ingin mendapatkan kepastian Karena sekarang aku memiliki anak dari Rudian." kata Yola sambil menatap Naya lekat.
"Yola, aku tahu kamu pernah membayar sisa cicilan rumah ini sebelum Rudi meninggal, dan sekarang cicilan rumah ini sudah selesai, Alhamdulillah. Aku berterima kasih padamu. Jangan kau pikir aku akan merebut semuanya, aku tahu kau punya andil di dalamnya. Aku bukan orang yang serakah seperti itu." kata Naya.
"Jadi, apa kamu mau tinggal di sini juga dan berbagi rumah denganku?" tanya Yola.
Naya memutar bola matanya sambil menarik nafas dalam, ia berkata, "aku tahu Allah Maha Adil. Mungkin aku akan tinggal di rumah ini sebentar sampai aku menemukan tempat tinggal yang baru,"
" Baiklah kalau begitu kau boleh tinggal di sini, asal kau tidak mengaku-ngaku bahwa rumah ini adalah milikmu," kata Yola.
" Hei. Kan aku sudah bilang aku bukan orang yang serakah seperti yang kamu tuduhkan itu!"
"Tapi Yola, biar bagaimanapun juga, Naya tetap memiliki hak yang sama atas rumah ini, hanya saja mungkin hakmu lebih besar karena memiliki seorang anak, itu saja. Jadi sebenarnya Ibu punya pertimbangan lainnya," Kata Sarita menyela pembicaraan mereka berdua.
"Pertimbangan apa Bu, menurutku Naya tidak mempunyai hak apa-apa lagi, dia sudah dicerai oleh Rudian waktu itu, bahkan sudah talak tiga," kata Yola seperti khawatir apabila ia tidak mendapatkan haknya, ia berkata dengan sembarangan.
"Yola, apa katamu talak tiga?" kata Naya.
__ADS_1
"Tapi aku benar, kan?" sahut Yola ketus.
"Jadi, begini... Sebenarnya yang terjadi antara aku dan Rudian dulu, adalah talaq satu," kata Naya sambil menarik nafas dalam, lalu kembali berkata,
"Dulu, yang Rudian katakan sudah cerai dariku, walaupun aku menganggapnya sebagai talak tiga sampai aku pergi, tetap saja secara syari'at dihitung sebagai talak satu, dengan catatan, Rudian dan aku tidak pernah mengucapkan kata cerai itu sebelumnya. Bahkan aku tidak pernah bertengkar sampai meminta perceraian, jadi yang kemarin terjadi antara aku dan Rudian tetap disebut sebagai talak satu, bukan talak tiga," kata Naya dengan lugas.
Yola diam, ia tidak menyangka bahwa Naya akan membuatnya tersudut seperti itu.
" Bagaimana menurut Ibu?" kata Naya lagi sambil mengalihkan posisi duduknya menghadap Sarita wanita ini tetap ya hormati walaupun Sarita pernah membencinya saat Rudian masih sehat. Namun sekarang, Sarita sangat baik pada Naya. Semua orang boleh berubah, apalagi perubahan dalam kebaikan, kenapa tidak?
"Kalian berdua boleh tinggal ditempat ini selama kalian mau. Hak kalian sama, kecuali kalau salah satu diantara kalian menikah dengan laki-laki lain maka rumah ini harus dijual dan kemudian hasilnya dibagi sesuai hak waris menurut ajaran agama kita." Kata Sarita lagi dengan tenang.
"Saya satuju dengan ibu." kata Naya, "tapi aku akan pergi, bu. Aku hadiahkan rumah ini untuk cucu ibu. Tapi dengan catatan, Yola tidak menikah dengan laki-laki lain. Tapi kalau kamu menikah lagi, Yola... Maka rumah ini harus dijual, dan ikuti saran ibu."
"Baiklah. Kau akan pergi kemana?" tanya Yola.
Naya berpikir sejenak, ia tidak pernah menghubungi bibinya lagi, sejak beberapa bulan yang lalu. Ayahnya juga hanya memberi informasi yang tidak jelas tentang keluarga ibunya itu.
"Entahlah, kemana nasib akan membawaku saja," jawab Naya, ada rasa gelisah terlukis dengan jelas pada nada suaranya.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Naya, wajah Ares sekelebat, kemudian lenyap.
'Hei hei, ingat Naya, makam suamimu masih merah kenapa kau harus memikirkan laki-laki itu? Akh, ibu. Aku tidak percaya dengan mimpi. Tapi Kenapa kata-kata ibu dalam mimpi itu benar, bahwa pernikahan kami akan utuh dan hanya dipisahkan oleh maut. Tapi kemana keluarga pak Area sekarang, gimana kabar Yoni. Harusnya dia sekolah tahun ini'
-
Beberapa hari berlalu hingga berganti pekan. Naya tinggal di rumah itu dengan sabar. Ia terus tinggal bersama Yola karena ia tidak punya lagi tempat tinggal. Ia merasa dirinya akan menjadi seperti pembantu kalau lama-lama tinggal di rumah itu. Padahal ia tidak sepenuhnya menumpang, karena ia juga membeli makanannya sendiri.
Sekarang Naya sudah mengantongi Alamat tempat tinggal bibinya di Kota Batu. Tapi bibinya sudah lama pergi meninggalkan rumah itu, sehingga sekarang rumah itu kosong. Naya membutuhkan alamat untuk mengetahui bagaimana caranya ia bisa pergi ke sana. Walaupun Naya dulu pernah tinggal di sana waktu masih kecil, tapi tetap saja ia butuh tahu alamat rumah itu.
Sebelum pergi, Naya berpesan pada Yola agar menjaga Fauzan dengan baik, karena anak yang sekarang ada dalam tanggung jawabnya, adalah anak yatim dari suaminya sendiri, bahkan Naya mengatakan apabila Yola tidak mau merawat anak dari Rudian itu, ia siap merawatnya hingga ia memberikan nomor ponselnya pada Yola.
Tapi Yola menjawab dengan tegas bahwa anak ini adalah peninggalan satu-satunya dari Rudian dan dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya.
Setelah berpamitan dengan Sarita dan berpesan pada Yola, akhirnya Naya pergi. Sampai di stasiun kereta Ia pun menyempatkan diri untuk menghubungi ayah dan Nuriya, mengabarkan bahwa ia akan segera pergi ke kampung halaman ibunya.
Saat berjalan, Naya sesekali menoleh kebelakang, merasa ada yang tertinggal, juga merasa seolah-olah ada yang mengikutinya berjalan, merasa ada yang memanggil namanya. Apakah ia masih ragu? Tidak.
Seharusnya yang mengikutinya berjalan adalah harapan dan yang tertinggal itu adalah kesedihan.
'Ahk, ini hanya perasaanku saja, Astagfirullah'... Kenangan, selamanya akan menjadi kenangn, sepahit dan seindah apapun kenangan tetap ia tak berbentuk, tapi terasa bila memang ada rasanya manis atau pahit'
Naya sudah mantap, mengubur semua masalalu pernikahannya di sini, ikut terkubur bersama jaaad suaminya. Kenangan rasa sakit yang entah sesakit apa. Bahkan seakan ia tak akan bernah sanggup bercerita, bagaimana ia bertahan dalam kepedihan hingga menemui titik perpisahan dengan kematian.
Rasa kehilangan ini amat berbeda saat ia kehilangan ibunya. Ketika ia kehilangan ibunya, Naya masih bisa menulis di akun media sosialnya dengan kata-kata,
"Goodbyes are not forever are not the end it simply Means, I'll miss you until we meet again"
Tapi sekarang, ia seperti sudah kehilangan harapan. Perasaan memang bukan sesuatu yang menetap, ia bisa berubah-ubah bahkan bisa hilang.
Kereta listrik, kelas eksekutif yang ditumpangi Naya, mulai berjalan, membawa Naya ke tempat baru dengan harapan yang baru, walau ia mulai bertekad untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat. Iya sudah merasakan kehilangan yang terlalu dalam sehingga ia seolah takut untuk memulai apalagi memiliki harapan untuk sebuah hubungan.
__ADS_1
Pemandangan di luar jendela kereta sangat asing bagi Naya, Pemandangan itu seolah-olah berlari meninggalkannya. Bukankah seharusnya perjalanan itu akan maju dan berlari meninggalkan segala yang memang harus seharusnya ditinggalkan?
Suasana di luar tampak gerimis karena bulan ini sudah memasuki bulan musim penghujan. Tanpa disadari air mata Naya mulai menetes satu persatu seperti gerimis itu, saat ingatannya mengulang slide demi slide kenangan dan kehidupan yang dialami hingga ia saat ini harus pergi.
"Jangan pergi kalau belum rela. Jangan memaksakan diri kalau belum ikhlas...Gak usah nangis, pulang lagi aja sana, di depan sebentar lagi ada stasiun kamu bisa balik lagi." kata seseorang disamping Naya.
Naya menoleh, ucapan laki-laki itu, membuat Naya mengerutkan alisnya, ia benar-benar tidak menyadari bahwa di sampingnya ada seorang laki-laki yang duduk dengan memeluk tas ranselnya, menutupi wajahnya dengan topi. Laki-laki itu tidak melihat pada Naya, tapi bagaimana ia tahu kalau Naya menangis?
Naya segera mengusap air matanya dengan ujung jilbabnya. Peebuatan itu juga tidak Naya sadari kalau diperhatikan laki-laki itu dari sudut matanya yang tidak tertutup oleh topi. Laki-laki itu tertawa geli melihat tingkah Naya, kemudian ia mengambil sesuatu dari saku celananya, itu sebuah saputangan!
Ia memberikannya pada Naya sambil berkata, "hapus pakai ini. Bukan pakai jilbab. Jorok!"
'Hei, kita itu nggak saling kenal. Kenapa bisa ngomong sekasar itu sih? Astagfirullah kenapa aku bertemu dengan laki-laki seperti ini'
Naya mengambil sapu tangan itu, tapi ia kembalikan lagi dengan menyimpannya di atas tas ransel laki-laki itu, sambil berkata, " Terima kasih tidak perlu."
Laki-laki itu membuka topi yang menutupi wajahnya, kemudian ia mengeluarkan tangan kanannya dihadapan Naya, sambil berkata, "Kenalkan, aku Ramadan panggil saja Rama. Kamu?"
Naya mengatupkan kedua tangannya di depan dada, ia tersenyum kemudian menjawab,
" Nayana. Panggil saja Naya."
"Oh, kamu mau kemana?" tanya laki-laki itu.
'Bukan urusanmu, kau tidak perlu tahu'
Naya tidak menjawab, ia hanya menarik nafas pelan dan menghembuskannya perlahan pula. Kemudian menatap kembali pemandangan di luar jendela kereta, gerimis mulai berhenti karena sekarang sudah memasuki wilayah yang berbeda.
"Kamu gak mau ngomong sama aku? Memang kamu gak bosen apa sekian jam dikereta, gak ada temen ngobrol, nggak ada yang bisa diajak ngomong, semuanya mikirin diri sendiri. Semua asik dengan diri sendiri," kata laki-laki itu, ia mengomel dan menyesali keadaan sudah diabaikan Naya.
Perjalanan memang cukup memakan waktu lama, mungkin Naya juga akan sedikit bosan. Tapi ia berusaha untuk tenang dengan berdzikir dan mendengarkan murotal dari ponselnya. Setelah sekian lama ia mencoba mengabaikan laki-laki yang ada di sampingnya, ternyata Rama tidak menyerah, tadi ia mengajak Naya berbicara tidak berhasil, kemudian ia menawarkan makanan, menawarkan cemilan yang juga tidak berhasil.
Kali ini ia memancing Naya untuk melihat pada ponselnya, di situ ia menunjukkan beberapa gambar dirinya di akun media sosialnya, melihat dan menunjukkan video-video yang ia buat sendiri yang ia akui itu sangat bagus dan berhasil menuai ratusan bahkan ribuan like. Ia meminta Naya untuk bergabung menjadi followers-nya.
Maya tersenyum tipis menanggapinya, ia merasa bahwa bukan lagi waktunya mengikuti hal-hal yang seperti itu, mengingat dirinya adalah seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya dan kini sedang mempertaruhkan hidupnya. Apalagi usianya yang sudah mendekati angka tiga puluh tahun yang memaksa dia berpikir dua kali untuk segala tindakannya. Karena di usia itu, adalah usia yang sudah terbilang sangat dewasa.
Naya sampai di kota tujuannya dan Ia menggunakan angkutan umum hingga sampai di depan rumah, tempat tinggal barunya. Rumah yang sesuai dengan alamat yang ia dapatkan dari bibinya.
Tidak ia sangka ternyata, Rama menaiki angkutan umum yang sama dan juga turun di lokasi yang tidak berjauhan dengan rumah Naya. perempuan itu tidak begitu memperdulikannya Walaupun dia sadar ternyata dirinya dan Rama akan menjadi tetangga.
Naya mengeluarkan kunci pintu dari tasnya, kunci yang sudah dikirim oleh bibinya kepadanya. Sekian tahun ditinggalkan rumah itu sudah terlihat berbeda, bahkan daerah sekitarnya juga jalan-jalan yang ia tempuh, sangat jauh berbeda. Kota Batu, Malang. Sangat ramai dan juga padat penduduknya
Lokasi tempat tinggal Naya sangat strategis, mengingat sekitar dua ratus meter dari rumah Naya adalah perempatan jalan yang sangat terkenal, yang menjadi pusat dari kota Batu dimana tak jauh dari tempat itu terdapat universitas yang sangat terkenal. Ada juga tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan baik dari dalam dan luar negeri.
Langkah pertama yang Naya lakukan adalah membersihkan dan membeeeskan rumah itu hingga tapi, bersih serta layak ditinggali. Ia membereskan beberapa barang yang ditinggalkan bibinya, seandainya barang-barang peninggalan dari warung bibinya masih bisa ia jual, maka ia akan menjualnya dan uang hasil penjualannya akan ia serahkan kepada bibinya.
Dalam rumah itu ada tiga buah kamar yang cukup luas. Rumah itu sudah banyak di direnovasi dan sangat berbeda dari bentuk aslinya ketika ia masih tinggal di sana dahulu.
Selama beberapa hari Naya habiskan untuk membersihkan rumah itu hingga terlihat sangat nyaman ditinggali. Naya berinisiatif untuk menyewakan dua kamarnya yang terbilang cukup baik bahkan ada kamar mandi di dalamnya. Naya membuat tulisan ala kadarnya dan memasangnya di depan rumah.
"Terima kamar kost, Putri"
__ADS_1
Naya melipat kedua tangannya di depan perut dengan tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya, ketika ada seseorang yang bertanya,
"Apakah butuh bantuan?"