
"Pak, ini bukan jalan ke rumah saya." kata Naya begitu menyadari arah jalan yang berbeda.
Ia melihat keluar jendela dan tidak melihat pada Ares yang tersenyum geli karena Naya baru menyadarinya setelah perjalanan mereka sudah sangat jauh dari rumahnya.
"Mamang." jawab Ares seperti melemparkan bom pada Naya.
'Maasyaallah. Terus aku gimana. Kenapa juga aku bengong asik ngobrol dari tadi, si.'
"Terus ini mau kemana?"
"Pulang. Kerumah saya." jawab Ares tanpa beban.
"Apa maksudnya, coba?'
Mendengar ucapan Ares itu barulah Naya melihat wajah Ares sekilas lalu berkata lagi.
"Kenapa kerumah bapak? Nanti saya ganti baju gimana. Baju saya basah?" Naya mulai panik.
"Kan, kamu yang bilang." kata Ares seperti menyalahkan Naya.
"Bilang apa?" Naya mulai menggigil.
Bukan karena dingin di tubuhnya saja tapi karena hal lain dihatinya, bagaimana kalau Rudian tahu istrinya pergi dengan keluarga yang bukan keluarganya, pergi dengan laki-laki yang bukan siapa-siapa, bahkan saudara juga bukan. Laki-laki di samping Naya ini terkesan mendominasi.
"Pak, antarkan saya pulang." Naya mulai kesal.
Tapi baru saja ia selesai bicara, mobil sudah terparkir di halaman sebuah rumah yang cukup besar dan lumayan bagus. Tidak mewah tidak pula sederhana, sedang-sedang saja. Sementara hujan sudah reda.
"Kamu yang bilang tadi gak mau pulang." kata Ares sambil mematikan mesin mobil dan terdengar suara yang lain saat ia membuka pintunya. Ceklek! Anak-anakpun turun, dengan membawa tas milik mereka masing-masing.
'Kapan aku bilang begitu, pas tadi di Toserba? Itu kan gak serius. Terus aku gimana? Astagfirullah.'
"Ayo cepat turun. Ganti bajumu., ikuti Raya. Dia ada baju yang cukup buat kamu" kata Ares.
Naya terlihat seperti anak kecil yang diarah-arahkan harus berbuat apa, karena memang kebanyakan anak kecil tidak tahu apa yang harus mereka lakukan bila mereka menemui masalah. Anak-anak hanya mengerti bahwa semua kebutuhan mereka terpenuhi dan melihat hal dengan pandangan otak kecil mereka bahwa dunia mereka hanya lah permainan.
Yoni dan Raya sudah lebih dulu berjalan ke dalam rumah. Sementara Naya masih ragu. Rumah keluarga ini terasa asing baginya. Setelah Ares membukakan pintu, baru lah Naya turun dengan perlahan, dengan pandangan menyapu sekelilingnya.
"Terimakasih, pak." katanya, berjalan menuju rumah yang pintunya sudah terbuka menyusul Yoni dan Raya.
__ADS_1
"Anggap saja rumah sendiri." kata Ares lagi sambil melempar kunci mobil kemeja ruang tamu yang ada di sana. Ruangan yang tidak begitu luas tapi cukup nyaman.
Naya masuk ke dalam dan melihat keadaan yang sedikit berantakan. Bahkan beberapa bekas makan diatas meja makan terlihat belum dibereskan, entah sejak kapan.
'Maaf, ya berantakan. Pembantuku lagi libur hari ini." kata Ares pada Naya yang masih berdiri di dekat sofa. Bajunya basah kan. Jadi tidak mungkin bagi Naya untuk duduk.
"Ini, tante." tiba-tiba Raya memberikan pada Naya beberapa pakaian yang bisa Naya pakai.
Gadis remaja itu menarik tangan Naya menuju kamar mandi yang terletak diantara dapur dan ruangan yang cukup besar, itu ruang keluarga, tidak banyak barang yang ada di sana hanya tampak beberapa perabotan sederhana.
Naya memilih pakaian yang memurutnya pas. Juga ada pakaian dalam yang terlihat masih baru.
'Eh, ini milik siapa? Bukannya istri pak Ares sudah lama meninggal? Tapi ini semua pakaian baru yang belum pernah dipakai. Ahk, nanti saja tanya, sekarang pakai saja. Bismillah.'
Setelah beberapa lama di dalam kamar mandi, Naya keluar dengan memakai gamis warna hijau lumut dan kerudung instan warna hitam. Pakaian yang lumayan pas di badannya. Naya memasukkan bajunya yang basah kedalam kantong keresek yang diberikan Raya.
Setelah selesai mengurus diri, Naya mendekati Raya yang masih membereskan beberapa barang, kini rumah itu sudah terlihat rapi. Rupanya ayah dan anak bekerja sama membereskannya.
"Sst...Raya, ini baju siapa?" kata Naya sambil berbisik. Malu kan kalau papanya juga dengar.
'Itu, baju yang sengaja Raya beli setiap hari ulang tahun mama' hampir menitikkan airmata.
"Wah, tante jadi gak enak. Tapi terimakasih ya. Kapan-kapan tante deh yang belikan hadiah buat Raya. Bajunya pas sama tante." jawab Naya sambil tersenyum.
'Kalau saja ada mama atau nenek di sini. Pasti rame.'
Raya mengangguk. Lalu menuju meja makan yang sudah bersih, ia membuka beberapa bungkus makanan yang sepertinya baru mereka beli saat diperjalanan. Raya sudah sangat hapal kebiasaanya ini kalau pulang sekolah.
Naya membantunya dan menatanya dalam beberapa piring sesuai jumlah makanan yang ada. Hingga makanan itu terlihat sangat manis dan siap untuk disantap kapan saja.
Terdengar percakapan hangat diantara Naya dan Raya, mereka sesekali bercanda hingga suasana terasa begitu akrab. Hilang sudah kecanggungan yang tadi sempat tercipta.
Sementara Yoni terus saja berceloteh dengan Naya memamerkan beberapa mainan kesukaannya. Sambil menikmati cemilan yang ia bawa sejak dari mobil.
Lalu, Ares. Dimana laki-laki itu sejak tadi. Terakhir Naya lihat ia sedang membersihkan meja. Naya ingin meminta Ares untuk mengantarkannya pulang. Hatinya mulai gelisah, memikirkan suaminya di rumah dan juga rencana membuat kue. Semua alat yang ia butuh kan ada di sana.
Tak lama terdengar suara adzan mengalun lamat-lamat dari masjid yang sepertinya cukup jauh dari tempat itu. Dan Ares pun keluar dari salah satu kamar sudah berpakaian rapi dengan sarung dan peci.
"Raya, Yoni. Ayo sholat." kata Ares menuju salah satu kamar yang lain.
__ADS_1
Mereka terbiasa sholat berjamaah dalam ruangan itu. Kalau tidak ada Ares, maka mereka akan sholat dengan nenek. Saat ini kembali nenek Rasti tidak bersama mereka. Seperti biasa nenek setiap bulan akan pulang ke Kota Bunga, karena rumah beliau disana.
Naya membantu anak-anak menyiapkan alat sholat mereka, untuk menghadap Allah sang penguasa mahkluk dimana seluruh dunia ada dalam genggaman-Nya.
Ares menjadi imam sholat dan bacaan sholatnya juga lumayan baik, hal itu bisa dimaklumi karena mengingat ia bukanlah lulusan pesanantren atau sekolah agama Islam lainnya.
Selesai sholat, Naya menyuruh anak-anak mengaji, ia ingin mengetes sejauh mana mereka mampu membaca kitab sucinya. Tapi ternyata Raya sudah cukup lancar walau belum benar mahkrojil hurufnya. Sedang Yoni maaih belajar iqro. Karena ia memang masih kecil dan tidak bisa sembarangan guru yang bisa mengajarinya kecuali nenek Rasti.
Setelah mengaji, mereka makan malam. Mereka mirip sebuah keluarga yang berjumlah empat orang. Suasana kembali canggung saat Ares ikut bergabung di ruang makan. Tapi pria bertubuh tinggi itu terlihat biasa saja, Seolah kehadiran Naya di sana memang sudah sehrusnya. Benar-benar biasa saja.
"Pak, saya harus pulang, tolong antar saya sekarang." kata Naya sambil membereskan meja makan begitu mereka semua selesai.
"Tante, tidur di sini saja. Besok pulangnya biar sekalian nganter Raya sekolah." kata Raya berusaha menahan Naya.
Anak itu seperti sebuah solusi buat Naya dan Ares. Laki-laki itu seperti enggan meladeni Naya. Anak yang cukup dewasa untuk ukuran seusianya. Ia sudah terbiasa hidup mandri tanpa seorang ibu. Sering tidak memiliki pembantu yang mengurus mereka karena keadaan Yoni, membuatnya terbiasa melakukan pekerjaan rumah dan mengurua adiknya.
Hari sudah malam ketika Yoni sudah mulai mengantuk. Naya menemaninya tidur dikamarnya, sambil mengabarkan kisah-kisah heroik para aahabat nabi. Kisah yang tak pernah usai untuk dicerita kan, kisah yang selalu indah sepanjang sejarah, kisah super hero yang sesungguhnya. Karena kisah mereka bukanlah ilusi, melainkan sebuah kebnaran.
Banyak para sahabat yang melakukan poligami juga, kan? Hei, tapi poligami yang mereka lakukan sangatlah berakhlaq mulia. Keimanan para wanita dijamannya yang sangat tinggi luar biasa. Apalah artinya seorang anak manusia seperti Naya. Yang besar dan dewasa tanpa bimbingan poligami seperti apa. Tapi kenyataan yang harus ia terima sangat diluar batas rasa sakit yang bisa diterima.
Para pria itu, sejak jaman dimulainya peradaban sudah menyukai banyak wanita. Karena memang wanita adalah perhiasan dunia. Zaman raja-raja, zaman kekaisaran bahkan sejak kaisar Romawi kuno, juga ada poligami dengan nama yang berbeda, dizaman raja-raja biasa disebut selir.
Dizaman raja Ken Arok misalnya, yang memperistri Ken Dedes padahal sudah menikah dengan Ken Umang. Itu, hanyalah satu contoh kisah, masih banyak lagi kisah tentang poligami lainnya. Bahkan banyak kisah perebutan kekuasaan antara para ratu dan selir-selirnya di masa raja-raja Korea, atau yang paling terkenal kisah pada jaman Raja Jeo Seong atau raja lainnya, yang pasti punya banyak selir.
Tapi dalam Islam, diatur sedemikian rupa, menurut aturan Allah. Hanya boleh empat, itu jumlah yang sudah mencapai batas toleransi manusia beriman dan berakhlaq serta mau berbuat adil dengan keadilan yang baik. Yang tidak menuntut istri-istrinya untuk selalu mengerti. Allah yang Mahatahu, Allah yang menciptakan aturan untuk manusia, karena Allah tahu manusia seperti apa.
"Tante, mau buat kue ya?" tiba-tiba Raya bertanya pada Naya yang masih duduk di sisi tempat tidur Yoni, anak kecil itu sudah tidur. Tempat tidur Raya ada di sebelahnya.
Naya mengangguk, ia melihat Raya yang membawa kantong keresek belanjaannya. Naya baru selesai menghubungi Rudian, tapi tidak diangkat, sudah beberapa kali ia menelpon. Akhirnya, Naya memutuskan untuk hanya mengirimi suaminya pesan, bahwa ia menginap dirumah seorang teman.
"Kok Raya tahu, si?"
"Ini, tadi Raya ambil barang tante yang dimobil. Ayo tante, bikin sekarang. Mumpung Yoyo sudah tidur."
"Ada alatnya, gitu?" tanya Naya. Ia akan membuat bolu kukus.
"Ada." sahut Raya sambil berjalan ke dapur. Naya menyusulnya sambil merapikan kerudungnya yang miring.
"Mau buat, apa?" tanya sebuah suara di pintu dapur.
__ADS_1