
Setelah menyebutkan nama rumah sakit yang menjadi tujuannya pada Sarita, Naya menutup telepon. Ia memikirkan apa yang dikatakan ibu mertuanya. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya.
Mobil berhenti di depan unit gawat darurat sebuah rumah sakit, Naya turun dengan cepat sedang Ares segera menuju tempat petugas jaga dan meminta bantuan.
Beberapa perawat mendorong bangsal dan menurunkan Rudian dari mobil ke atasnya dan mendorong bangsal kembali keruang observasi. Disana Rudian ditangani beberapa dokter jaga.
"Pak, terimakasih ya sudah nganterin sampai sini. Gimana Yoni ditinggal di mobil sendirian?" kata Naya diluar ruangan dimana Rudian masih ditangani. Karena panik, ia sampai melupakan anak kecil itu.
"Gak apa, Yoni tidur. Saya ke kantor dulu. Kamu gak apa di sini sendiri?"
"Gak apa, pak. Sebentar lagi ibu juga datang."
Setelah bicara, Naya hanya diam melihat kearah pintu. Ares beranjak meninggalkan Naya menghampiri Yoni yang masih tidur di mobilnya sejak di perjalanan tadi.
'Dia sakit apa? Kenapa selama ini Kanda dan ibu juga gak pernah cerita kalau punya penyakit.'
Cukup lama Naya menunggu dengan gelisah hingga akhirnya pintu terbuka dan beberapa orang dokter serta perawat keluar.
"Gimana suami saya, dok?" kata Naya sambil berjalan menghampiri mereka.
"Kami masih belum yakin, bu. Sebab harus melakukan beberapa tes kalau nanti pasien sudah sadar. Sekarang tunggu sampai siuman." kata salah satu dokter.
"Apa maksud dokter belum yakin. Yakin soal apa?"
"Apa pasien pernah mengalami trauma dengan benturan yang cukup keras dikepalanya?" mendengar kalimat dari dokter itu Naya menggeleng. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Sepertinya pernah, tapi sudah lama, sekarang begitu lagi. Jadi ini akan butuh penanganan lebih lanjut." kata dokter itu lagi.
Pemeriksaan melalui pupil, iris atau kornea pada mata bisa mengetahui trauma otaknya atau juga penyakit lain yang kemungkinan diderita seorang pasien. Selain itu dari detak jantung dan denyut nadi yang akan menujukkan beberapa gejala dari seatu penyakit yang hanya diketahui oleh seorang dokter.
"Apa saya boleh melihatnya sekarang?"
"Silahkan."
Naya berjalan mendekati bangsal Rudian dengan perasaan sedih. Setiap keadaan akan selalu berganti setiap hari, kehidupan adalah perputaran hari-hari dari perubahan keperubahan, sedang ketentuan Allah akan selalu menanti seiring dengan jalannya perubahan itu.
Melihat suaminya terbaring tak berdaya seperti itu, membuat hatinya miris. Ia mengusap wajah suaminya lembut, ada selang infus menempel ditangannya.
"Kanda, cepat bangun. Aku gak mungkin mengurus kalian berdua sakit seperti ini. Jadi sembuhlah." kata Naya sambil menggenngam tangan suaminya.
"Aku harus apa sekarang, kalau kanda gak bangun?" Naya terus mengajak suaminya bicara padahal tubuh lemah itu entah bisa mendengarnya atau tidak.
Tiba-tiba ponsel Naya berdering, nama ibu mertua muncul disana. Dengan cepat Naya mengangkatnya dan berkata.
"Ibu, apa ibu sudah di rumah sakit? Kami ada diruang observasi, masih di UGD."
Tak lama, wajah Sarita muncul dengan ekspresi gelisah yang nyata.
__ADS_1
"Apa Rudi belum siuman?" Sarita bertanya dan disambut Nay dengan gelengan kepala.
"Gimana ceritanya Rudian bisa pinsan?" mendengar pertanyaan Sarita ini Naya menceritakan apa yang ia alami saat dihalaman parkir restoran. Dan seketika Sarita menarik nafas panjang.
"Sebenarnya ada apa si, bu? Kata dokter kalau kanda pernah trauma, trauma apa?"
"Waktu kecil Rudian pernah mengalami kecelakaan dan mengalami benturan keras dikepala. Jadi kalau bisa jangan sampai terulang lagi." kata Sarita.
"Ibu, kata dokter kita harus melakukan tes kalau kanda siuman. Apa kita memiliki biayanya?"
"Aku punya sedikit. Entah cukup atau tidak. Tapi gak apa kita tes saja. Nanti soal biaya kita urus belakangan." kata Sarita lagi dan Naya mengangguk. Ia juga punya sedikit tabungan.
Hari sudah sore ketika Rudian siuman dengan membuka matanya perlahan. Yang ia lihat pertama kali adalah Naya yang sedang menunaikan sholat asharnya. Lalu pandangan matanya menyapu ruangan yang nampak asing baginya.
"Kanda, alhamdulillah Kanda sudah siuman." kata Naya begitu selesai sholat. Lalu ia memanggil dokter jaga yang ada.
"Rudian, gimana kamu, nak? Apa yang terasa sakit? Apa kepalamu sakit?" tanya Sarita yang segera mendekati anaknya.
Sementara itu dokter melakukan tugasnya.
"Bagaimana dokter?" kata Naya setelah Rudian selesai diperiksa.
"Untuk saat ini bagus. Tapi untuk lebih yakin lagi harus melakukan tes. Biar bisa mengambil tindakan lebih lanjut." kata dokter itu.
"Baik. Kapan kita bisa melakukan tes itu dok?"
"Sekarang juga bisa." kata dokter itu lagi sambil melangkah pergi.
"Rudian, kita harus tes ya, harus CT Scan, biar jelas gimana keadaan kepalamu." kata Sarita sambil mengusap kepala anaknya.
"Tidak perlu, bu. Aku gak mau." kata Rudian sambil merubah posisi tidurnya.
"Tapi, Kanda. Kalau sudah tahu sakit apa, nanti akan mudah cari obatnya."
"Aku gak apa-apa. Besok juga aku mau pulang, aku gak sakit." kata Rudian lagi.
Naya dan Sarita diam, Percuma membujuk Rudian kalau sudah punya kemauan. Kedua wanita itu kini duduk dan menunggu untuk konsultasi selanjutnya. Mereka hanya bisa duduk dan tidak melakukan apapun. Hingga malam hari tiba, mereka menginap dan tidur dikursi ruang tunggu rumah sakit.
-
Keesokan harinya ketika dokter kembali memriksa keadaan Rudian, ia mengutarakan keinginan untuk pulang hari itu juga. Dokter tidak mengijinkan tapi Rudian justru meninggalkan rumah sakit dengan paksa.
Sarita dan Naya tidak bisa membujuk Rudian untuk melakukan tes apalagi untuk tetap dirawat sampai pulih. Akhirnya mereka pulang juga.
"Dasar, keras kepala." kata Sarita setelah selesai membayar biaya administrasinya.
"Ibu, aku gak sakit. Sekarang aku baik-baik saja. Cuma pinsan karena kepanasan." kata Rudian ketus, saat mereka sudah berada dalam taxi. Mereka duduk bertiga di kursi penumpang belakang.
__ADS_1
"Kanda, ibu cuma ingin kanda sehat. Kanda sudah pernah sakit seperti ini waktu kanda kecil."
"Masa iya? Benar begitu, bu. Kok aku gak tau?" kata Rudian menatap ibunya.
"Soalnya itu kenangan buruk, ibu juga gak ingin mengingatnya. Ada orang yang sudah melakukan tabrak lari padamu. Sampai sekarang kita gak tau siapa orang orang itu."
"Alhamdulillah Kanda bisa sehat lagi sampai sekarang, ya bu?" kata Naya.
"Iya, aku baik-baik saja, kok. Ibu gak usah kuatir. Tinggal do'akan saja aku biar sehat terus. Mudah-mudahan saja aku gak pinsan lagi. Oh iya, dimana motorku? kata Rudian, mengingat saat kejadian ia meninggalakan motornya di depan restoran bu Nha.
"Ada, aku sudah titip sama bu Nha. Nanti aku ambil kalau kanda sudah mau kerja. Sekarang jangan dulu bawa motor.
"Sudah, kita langsung pulang sekarang." kata Rudian sementara taxi terus melaju.
Setelah selang beberapa menit berlalu, mereka sampai juga didepan rumah yang pintunya sudah terbuka.
"Kamu kasih tahu Yola gak?" tanya Rudian ketika turun dari taxi.
"Gak." jawab Naya singkat sambil membayar ongkosnya.
"Gak usah dikasih tahu juga gak apa, biar tenang janinnya. Kalau ibunya stress kan malah bahaya." jawab Sarita.
Mereka bertiga masuk rumah setelah mengucapkan salam dan Naya menuntun suaminya agar segera beristirahat di kamarnya. Ia masih dalam masa pemulihan, harus banyak istirahat.
Naya memberikan obat yang harus Rudian minum, setelah itu ia menyelimuti Rudian agar ia bisa tidur lebih nyenyak.
"Mana Yola?" tanya Rudian sambil memejamkan matanya.
'Ih, mamaku tahu.'
"Mungkin ada di kamarnya. Sudah, Kanda tidur saja. Yola bukan anak kecil yang bisa hilang." jawab Naya asal. Mendengar kata-kata Naya, Rudian mengangguk dan tidur.
Di dalam rumah tidak terlihat Yola, dan keadaan rumah sangat berantakan. Padahal sewaktu ditinggalkan Naya kemarin rumah itu tampak rapi. Yola seperti anak kecil saja yang senang membuat rumah berantakan.
Sarita duduk di sofa sambil memijit pelipisnya, Naya mengambilkan segelas air putih untuk ibu mertuanya, lalu mulai membereskan rumah dan menanak nasi.
'Ya Allah, apa yang dikerjakan Yola, sudah siang begini belum masak. Apa dia juga masih sakit? Atau cuma malas saja?'
Naya masih menyapu halaman rumah ketika Yola pulang dengan seorang laki-laki dan membawa beberapa bungkus makanan ditangannya.
"Yola. Dari mana kamu?" Naya bertanya sambil terus menyapu. Ia melirik laki-laki yang bersama Yola, dia adalah laki-laki yang sama yang ia lihat di Toserba waktu itu.
"Kenapa emangnya? Bukan urusanmu." sahut Yola sambil menggandeng tangan laki-laki itu kedalam rumah.
Sesampainya di dalam, Yola terkejut ketika melihat Ibu mertua ada di sofa dan sedang tidur.
"Ibu...Kenapa dia. Kenapa tidur di sini?" tanya Yola lirih.
__ADS_1
Mendengar ada suara orang yang mendekati, Sarita bangun dan matanya melotot melihat Yola yang baru datang entah dari mana, membiarkan pintu terbuka, dan sekarang sedang menggandeng tangan seorang laki-laki didepannya. Wanita paruh baya itu duduk dari posisinya semula.
"Yola, dari mana kamu? Siapa laki-laki ini?" tanya Sarita