
Naya memalingkan pandangan. Iya kesal dengan reaksi Aris yang menurutnya berlebihan. Ia juga heran kenapa laki-laki ini seperti mencari alasan saja untuk bicara dengannya. Setelah mengambil nafas dalam, Naya kemudian menjawab,
"Pak. Ria itu suka sama bapak, dia bilang begitu sama saya."
Mendengar kata-kata Naya, Ares menegangkan lehernya heran, ia balik bertanya,
"Terus kenapa kalau dia suka?"
"Ya, saya gak enak sama dia, pak," jawab Naya.
"Memang apa hubungannya dengan kamu, yang ada hubungannya dengan kamu itu, aku!" kata Ares. Naya kembali mengernyitkan alisnya karena mendengar komentar Ares yang berlebihan itu. Kemudian Naya bertanya dengan perasaan yang lebih heran lagi,
"Apa hubungannya saya sama bapak? Perasaan kita memang nggak punya hubungan apa-apa deh!"
Naya berusaha menutup pintu tapi kemudian Ares menahannya dengan satu kakinya sambil berkata,
"Tunggu aku belum selesai bicara."
Dengan kesal nanya menyahut, "mau bicara apa lagi, saya sudah mengikuti apa yang bapak mau, saya sudah menjaga Ria."
Ares diam sejenak.Ia seperti berpikir, lalu berkata, "Oh iya aku belum berterima kasih padamu. Apalagi kamu gak mau menerima imbalan dariku, padahal kamu sudah repot mau menjaga tetanggamu."
Sambil tersenyum tipis Naya menjawab, "saya tidak mengharapkan imbalan dari bapak. Saya cuma mengharapkan imbalan dari Allah, bapak nggak perlu berterima kasih, jangan kuatir soal Ria, saya akan temani sampai ibunya datang,"
Ares memberiarkan Naya menutup pintunya, rapat-rapat. Ada rasa kesal dihatinya. Naya dengan sangat jelas menjaga jarak darinya. Tentu saja ia menjaga jarak, memang harus seperti itu kan? Karena dia bukan tipe perempuan yang suka menggoda laki-laki ketika ada kesempatan.
Naya mengambil ponselnya dan beberapa makana, untuk cemilan. Kemudian ia keluar rumah dan pergi ketempat Ria, kembali menemaninya sampai Ibunya datang. Ia tidak menyangka ternyata Ares masih berdiri di sana. Naya tidak memperdulikan, ia seolah-olah tidak melihat laki-laki Itu ada di depan rumah Ria. Ia masuk ke rumah Ria begitu saja, menganggap Ares seperti udara.
Ares melihatnya sekilas, memastikan bahwa Naya sudah berada di rumah Ria dan menutup pintunya. Ia pun kembali ke kantor dengan raut wajah yang entah mengisyaratkan perasaan seperti apa.
Ketika Naya di dalam rumah Ria, ia melihat makanan Ares yang tidak dihabiskan.
'Wah, pak Ares ini harus diajarin nih, soal makanan biar gak mubazir'
Naya mengatupkan kedua bibirnya kemudian membereskan sisa makanan yang masih ada di atas meja, membawanya ke tempat cuci piring di rumah Ria.
'Sayang kan, makanannya harus dibuang? Seandainya di sekitar sini ada yang punya ayam atau ikan bisa dijadiin makanan binatang tapi di sini nggak ada, jadi ya terpaksa dibuang'
Setelah selesai membereskan meja, Naya duduk di samping Ria sambil memainkan ponselnya Ria menatap dengan menyipitkan matanya, sambil berkata,
"Tadi Pak Aris ke rumahmu ya? Kalian ngobrol apa saja?" Naya menoleh pada Ria, lalu menjawab,
"Dia tanya soal kamu, semalam repot apa nggak, gitu saja."
"Terus kamu jawab apa?" tanya Ria.
"Aku jawab yang sebenarnya, kita semalam gimana. Semua baik-baik saja, kan?" kata Naya tenang.
" Kenapa, kamu penasaran? Kenapa tadi, nggak kamu ajak ngobrol saja sampai makanannya habis, sayang kan mubazir makanannya gak habis," kata Naya. Dan Ria menjawab,
"Suah kok, tadi aku minta Pak Ares menghabiskan makanannya, tapi dia pergi nyusul kamu."
"Oh," awab Naya.
Ria bertanya lagi, "Beneran kamu nggak suka sama dia?"
"Gak. Jngan kuatir, aku udah bilang kok kalau kamu suka sama dia."
"Apa?" kata Ria antusias, "dia jawab apa?" tanya Ria.
" Dia diam aja." sahut Naya tanpa menoleh, ia menjawab sambil menggeser-geser layar ponselnya.
"Oh," Ria mengangguk-angguk, bibirnya cemberut. Ia menyimpulkan mungkin perasanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Selama mengisi waktu menunggu ibu Ria datang, mereka mengobrol seperlunya. Diluar waktu sholat dan makan, mereka lebih sibuk dengan ponselnya masing-masing. Mereka lebih banyak mengomentari kehidupan para selebritis, kaum borju yang senang menghamburkan uang dengan cara mereka masing-masing, walaupun dengan berbagi, tetap saja berbaginya mereka tetap pendapatkan vitback yang juga banyak bahkan jauh lebih besar. Atau mengomentari beberapa berita viral di kolom FB, aplikasi yang dipakai oleh semua kalangan untuk membagikan apa pun yang ingin mereka bagi, bahkan masalah pribadi. Demikian perjalanan hidup setiap insan yang tak pernah sama setiap episode-nya, sementara waktu tidak akan menunggu.
Sore harinya Ibu Ria sudah datang, kedatangan wanita itu disambut antusias oleh Naya dan juga Ria. Mereka berbincang sejenak. Dari obrolan mereka membuat Naya kemudian tahu bahwa ibu Ria adalah seorang yang berasal dari kampung yang sama dengan dirinya. Ibu Ria membawa beberapa oleh-oleh makanan khas dari daerah itu. Nayapun bercerita bahwa beberapa hari yang lalu ia pun berkunjung ke kampung halamannya, ia membawa makanan yang mirip sekali dengan makanan yang dibawa oleh Ibu Ria.
Karena merasa berasal dari kampung yang sama mereka pun terlibat obrolan yang sangat menarik sehingga tercipta keakraban yang cukup hangat, bahkan Ibu Ria memberikan beberapa makanan itu untuk dibawa pulang. Naya kembali ke rumahnya setelah mengucapkan terima kasih. Ibu Ria berpesan bahwa, selama dirinya ada di sana maka ia meminta agar Naya menganggapnya seperti ibunya sendiri. Naya tersenyum menanggapinya.
Ada orang yang mau mau menjadikan dirinya sebagai saudara apalagi meminta agar dirinya dianggap menjadi seorang ibu bagi orang lainnya, adalah sesuatu yang berharga. Keinginan seperti ini harus dihargai dengan sebaik-baiknya. Tentu saja Naya akan menganggapnya sebagai seorang ibu, dan memang benar wanita itu adalah seorang ibu yang sudah melahirkan anaknya dan terlepas dari semua kenyataan itu, ibu Ria adalah orang tua yang harus dihormati.
-
Keesokan harinya, Naya mulai bekerja.
Disela-sela pekerjaannya, ia sering menerima pesan dari Ares, menanyakan keadaan Ria, atau menanyakan menu andalan restoran hari ini, karena bu Nha setiap harinya selalu mengganti-ganti menu andalan yang berbeda.
Sebenarnya maksud Ares hanyalah mencari alasan untuk tetap bisa berhubungan dengan Naya. Tapi ketika Naya melihat pesan dari Ares yang menurutnya tidak penting maka Naya mengabaikan pesannya. Ares tidak menyerah, beberapa saat kemudian muncul lagi pesan dari Ares menanyakan hal yang sama. Ketika Naya mengabaikannya kembali maka beberapa saat kemudian akan muncul lagi pesan yang sama.
Naya kesal karena dia tidak pernah diganggu seperti ini sebelumnya. Bagi Naya, Pak Aris yang menurutnya sudah dewasa bahkan memiliki anak remaja seusia Raya, sikap Ares ini sangat kekanak-kanakan. Haingg akhirnya ia menjawab pesan Ares yang sudah berturut-turut terabaikan,
"Maaf, pak. Saya masih bekerja. Bagaimana kalau bapak diganggu seperti ini, padahal pekerjaan lagi banyak-banyaknya? Ria baik-baik saja. Ibunya sudah datang, dan menu khusus andalan restoran hari ini adalah kepiting rebus bumbu saus cabai, sekarang sudah tersedia, silahkan datang kalau anda tertarik"
Naya mematikan ponsel, lalu memasukkannya ke dalam aphron khas restoran yang dipakai sebagai seragam para pelayan sehari-hari. Sedangkan di tempat lain. Ares yang masih duduk di meja qubicle-nya, tertawa. Sehingga menarik perhatian beberapa temannya yang cubicle-nya berada disampingnya.
Dengan isyarat Ares menunjukkan bahwa ia sedang tertawa pada ponselnya, ia menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan kolom chatting dengan seseorang. Melihat hal itu rekan yang di sampingnya mengendikkan bahu dan kembali melakukan aktivitas aktivitasnya masing-masing. Ares kembali membaca pesan yang dikirim oleh Naya dan mengetahui bahwa ponselnya menjadi tidak aktif, ia kemudian bergumam, pada ponselnya.
"Aku tidak tertarik dengan makanannya tapi aku tertarik pada pelayannya, jadi aku pasti akan kesana"
Tanpa disadari Naya sudah mengirim pesan yang memancing perasaan seseorang. Ahk...Naya.
Makan siang pun tiba, ramai sudah pengunjung restoran. Termasuk diantara para pengunjung itu adalah Ares. Tapi ia melihat Naya sama sekali tidak mendekatinya. Ia melihat Naya hanya menyimpan beberapa makanan atau minuman pesanan dari orang lain, termasuk juga dirinya tetapi yang mendekat kemejanya bukanlah Naya sehingga Ares tidak mempunyai kesempatan untuk menyapa ataupun berbicara dengannya. Ada sedikit rasa kecewa menyelinap dihatinya.
Hingga waktu istirahat makan siang berakhir, yang menyebabkan semua karyawan dan pegawai harus kembali ke tempat mereka masing-masing. Dengan berat hati Ares meninggalkan restoran. Ia melihat Naya sekilas, ia tampak sibuk sedang melakukan pekerjaan dan kewajibannya di restoran itu.
Ada rasa sesal di hatinya. Kenapa ia tidak membawa Yoni saat itu. Sebab Ia yakin kalau Yoni ada bersamanya pasti Naya akan berusaha sebisa mungkin meluangkan waktunya sesibuk apapun dia dengan pekerjaannya. Tapi karena waktu makan siangnya sudah berakhir, Ares pergi sambil mengendikkan bahu dan berlalu menuju tempatnya bekerja.
Semua karyawan sudah berangsur-angsur meninggalkan restoran. Naya masih membereskan barang-barangnya ke dalam tas kecilnya ketika ia menghampiri Bu Nha.
" Ada apa bude?" tanya Naya sambil tersenyum.
Bu Nha menjawab, "ini untukmu," wanita gemuk itu mengasamkan sebuah amplop kepada Naya.
Naya berpikir dengan sedikit mengerutkan alisnya, ia merasa pernah mengenali amplop ini. Tapi pikiran itu ia tepis jauh-jauh kemudian ia tersenyum, lalu berkata,
"ini apa bude?" pertanyaan Naya ini seperti sudah di duga sebelumnya, hingga bu Nha menjawab,
"Maaf aku kemarin tidak memberimu apa-apa, sebagai rasa simpati, karena ayahmu sakit."
Naya merasa heran karena ini hal yang tidak biasa, seorang karyawan yang mendapatkan tunjangan karena ayahnya sakit. Kemudian menjawab,
"Ya nggak apa-apa Bude, sekarang ayahku sudah baik-baik saja. Bude gak perlu repot begini,"
Kemudian Bunda menjawab lagi, "udah terima saja sebagai ucapan Maaf."
"Tapi bener ya, ini tanda ucapan maaf? Maaf itu cukup bilang saja maaf. Bude nggak usah ngasih apa-apa. Malu saya," kata Naya.
"Nggak usah malu, terima saja," kata bu Nha. Naya menerima amplop itu dengan sedikit ragu tapi ia tidak ingin mengecewakan perempuan dihadapannya ini.
"Ya...sudah, kalau begitu, terimakasih ya bude," kata Naya sambil tersenyum dan beranjak pergi setelah berpamitan dan mengucap salam.
Naya memasukan amplop itu kedalam tas kecilya, lalu melangkah sambil berpikir.
'Apa yang harus kulakukan dengan uang dalam amplop ini? Apa aku bagi-bagi saja ya, ke mushola atau dibelikan makanan, terus makanannya dibagi-bagi juga sama aja kan?'
Naya merasa tidak pantas menerima sejumlah uang yang ada di dalam amplop itu. Ia menebakannya bawa amplop itu adalah amplop yang diberikan oleh Ares sehari yang lalu. Dan Laki-laki itu menitipkannya pada bu Nha dengan alasan yang dibuat cukup aneh. Selama saya bekerja di tempat itu dan ketika beberapa karyawan meminta izin, berhubung ada keluarganya yang sakit, Bu Nha tidak pernah memberikan imbalan sebagai ucapan simpatik, tetapi untuk saat ini Naya menerimanya.
__ADS_1
Karena perasaan seperti itu akhirnya Naya memutuskan untuk menginfakkan sejumlah uang yang ada ada ke musala-musala yang ada di sekitar tempat tinggalnya ia berjalan dari satu musala ke musala yang lain hingga ia sampai di rumahnya ketika sudah larut malam.
Saat itu tanpa diduga di depan tempat kosnya ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya Dan setelah dekat dengan laki-laki itu, Naya berkata,
"Kanda? Ada perlu apa kanda kemari? Tau dari mana aku tinggal di sini?"
Laki-laki itu adalah Rudian, ia berdiri menunggu Naya di sana sudah cukup lama. Ketika melihat Naya pulang di jam-jam yang sudah larut malam, ia tersenyum menyeringai dan ia berkata,
"Wah, wah. Rupanya kau bebas ya, tidak ada suamimu, bisa pulang semaumu seperti ini...?"
"Apa maksud Kanda?" kata Naya.
Mendengar pertanyaan Naya itu, Rudian tertawa kecil dan menyahut,
"Kanda... Ahk. Rupanya kamu masih bisa ya memanggilku dengan sebutan itu? Itu artinya kau tidak benar-benar membenci ku kan?" kata Rudian
" Apa maksud kanda?" Naya menjawab dan kembali bertanya, "dari mana anda tahu aku tinggal di sini?"
"Oh, itu tidak penting." kata Rudian sambil melambaikan tangan, " gampang untuk cari tahu di mana kamu tinggal, selama kamu masih ada di kota ini aku pasti tahu kamu tinggal di mana?"
'Jadi mungkin seperti ini maksud dari pembicaraan tante waktu itu. Bahwa tidak mudah untuk tinggal dalam satu kota atau satu tempat bagi sepasang suami istri yang sudah bercerai. Kalau dua-duanya masih tinggal dalam satu kota maka setiap informasi akan mudah didapatkan. Apalagi bila salah satu diantara mereka masih belum bisa mengikhlaskan. Maka akan ada saja gangguan dalam kehidupan mereka selanjutnya. Mudah-mudahan aku termasuk orang yang ikhlas'
"Apa kanda memata-matai aku?" tanya Naya.
Kemudian Rudian kembali tersenyum sambil berkata, " lagi-lagi kau memanggilku Kanda, itu panggilan kesayangan bukan?"
Mendengar ucapan Rudian, Naya kemudian memperbaiki perkataannya,
"Rudi. Apa maksud kamu datang kemari? Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Kalau kau tidak ada keperluan lagi maka aku ingin istirahat oke?" kata Naya sambil melangkah ke depan pintu dan membuka kunci pintunya.
"kamu harus pergi dari sini, aku tidak ingin ada fitnah karena di sini adalah tempat kos, tidak boleh menerima orang yang bukan muhrim di dalam kamar... Apa kamu tidak capek dari tadi berdiri di sini?"
Setelah Naya bicara panjang lebar Rudian berkata sambil mengambil sesuatu dari saku jaketnya,
"Ini... aku cuman mau ngasih ini buat kamu." kata Rudian sambil menyerahkanamplop yang berisi sejumlah uang.
"Apa ini?" tanya Naya.
"ini uang nafkah selama tiga bulan, jadi jangan menuduh ku jadi orang yang tidak bertanggung jawab, selama masa iddah. Gunakan uang itu baik-baik." kata Rudian lagi, membuat Naya mengerutkan alisnya.
'Ketika aku masih jadi istrimu, kau tidak pernah memberiku kecuali sesudah aku menuntutmu, karena perbuatan tidak adil. Dan sekarang setelah bercerai baru kamu memberiku uang dengan alasan tidak mau dituduh sebagai suami yang tidak bertanggung jawab, ini lucu sekali'
Naya menerima dengan berat hati,tapi bibirnya tersenyum tipis. Ia harus menghargai pemberian ini agar Rudian tidak terluka karena merasa dirinya tidak dihargai oleh Naya. Biar bagaimanapun Rudian pernah menjadi bagian dalam hidupnya dan ia tidak munafik bahwa laki-laki yang ada di depannya ini pernah dicintainya. Bahkan sebenarnya, sisa-sisa cinta itu masih ada, hanya saja bentuknya sudah hancur berkeping-keping.
"Oh jadi seperti itu, baiklah kalau begitu. Aku terima uang ini. kuharap kamu dan Yola baik-baik saja dan ia bisa melahirkan seorang anak yang Ibu inginkan." kata Naya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," Rudian tersenyum masam.
Padahal selama Naya tidak ada ia merasa ada sesuatu yang hilang. Bukankah biasanya orang akan sadar bahwa ia sangat membutuhkan orang lainnya, ketika orang lain itu sudah tidak ada di sisinya. Itulah mungkin tujuan Tuhan menciptakan rindu agar manusia bisa menghargai yang ada sebelum tiada.
"Alhamdulillah. Kamu sudah bilang sama ibu, kalau aku pergi?" tanya Naya.
'Pasti ibu lebih bahagia sekarang'
"Sudah, Ibu bilang, semoga kamu bisa nikah sama laki-laki itu." kata Rudian.
"Laki-laki yang mana?" Naya bertanya heran.
"Orang yang sudah kamu tolong waktu itu..."
"Oh. Pak Ares maksudmu?" Naya berkata sambil tertawa kecil.
"Iya." kata Rudian tegas.
__ADS_1
"Kalau iya aku sama dia, apa kamu cemburu?"