
Suara Adzan maghrib berkumandang dari masjid yang ada disekitar rumah Naya. Suara yang paling dirindu insan beriman yang menyukai ibadahnya. Panggilan yang bagi seorang muslim berarti kemenangan bila memenuhunya.
Naya bergegas membangunkan suaminya yang tertidur sehabis menuntaskan hasratnya. Hormon endhorpin yang keluar dari tubuh setelah melakukan hubungan intim yang biasanya memicu rasa kantuk dan membuat sebagian besar laki-laki tertidur begitu selesai mencapai puncak.
"Kanda, ayo bangun, mandi junub. Sudah maghrib." Kata Naya sedikit ketus.
Setelah membangunkan Rudian, ia sendiri bersiap memakai peralatan sholatnya. Sementara Rudian tampak meregangkan otot ditubuhnya dan pergi ke kamar mandi.
Naya tidak menunggu Rudian untuk menunaikan sholat berjama'ah, karena biasanya ia akan pergi sholat berjama'ah di masjid bila waktu maghrib dan sedang ada di rumah.
Beberapa waktu berjalan, kini Rudian sudah kembali berada di rumah. Ia menyapa Naya yang masih duduk di atas sajadah.
"Sudah selesai, belum?" tanya Rudian. Naya yang mendengar Rudian menyapa, buru-buru menghapus air matanya yang menetes dengan sendirinya tanpa diminta.
Air mata adalah obat bagi hati yang terluka, biasanya setelah menangis, wanita akan kembali mendapatkan kekuatan untuk menghadapi semua yang memang harus ia hadapi.
Naya mengangguk, kemudian membereskan alat sholatnya. Segera menyiapkan makan malam yang sudah ia buat saat Rudian tidur tadi.
"Wah, kamu masak apa?"
"Biasa saja" jawab Naya pendek.
Ia terlihat masih kesal. Masalah tidak akan selesai semudah membalik telapak tangan, kan? Dan rasa sakit tak akan hilang semudah menghembuskan nafas.
"Rasanya gak asin semua kan?"
"Kenapa emangnya, makan tinggal makan" kata Naya sambil melayani Rudian mengambil kan nasi untuknya.
"Karena campur sama air mata kamu, Nay"
Mendengar ucapan Rudian, Naya mengerucutkan bibirnya.
'Gak lucu, tahu'
__ADS_1
"Terimakasih ya, Nay." kata Rudian sambil menikmati makanannya.
"Buat apa?"
"Yang, tadi. Aku kira kamu gak mau melayaniku"
'Melayani suami itu wajib kan?'
Naya hanya diam, ia mengambil sedikit nasi di piringnya dan makan dengan malas. Tak berselera. Semua terasa hambar.
'Pasti kamu senangkan Kanda? Aku masih mau bersamamu walau tahu kamu sudah menikahi wanita lain. Sungguh semua yang sudah kamu lakukan itu tidak menjadi tanggung jawabku. Aku akan lihat, bagaimana kamu akan bersikap nanti.'
"Nay, masakanmu enak seperti biasanya. Kamu memang istri sholehah, Nay. Kamu rela aku nikah lagi. Boleh aku menginap di rumah Yola malam ini?"
'Biasanya juga gak minta izin kan. Sudah sering gak pulang ternyata selama ini tidur disana kan?'
Naya menghela nafas, ia menatap Rudian intens. Kalau boleh memilih, ia akan memilih hancur seperti perasaannya saat ini, hancur seperti debu lalu hilang tertiup angin. Tapi sehelai daun yang gugur saja Allah tahu, apalagi soal dirinya saat ini. Tentu saja Allah Mahatahu. Sekarang tinggal bagaimana ia sebagai insan ciptaan-Nya menghadapi masalahnya.
Apapun keputusan yang ia ambil kelak dalam masalah ini akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Manusia hanya berikhtiar melakukan yang terbaik. Setia pada kebaikan itu dan tunggu apa yang akan terjadi setelahnya.
"Jangan begitu, Nay. Sekarang kamu sudah tahu, kan? Masa tidak boleh. Itu namanya tidak adil"
"Kanda bicara tidak adil untuk dia? Lalu dimana keadilan untuk Naya, Nda? selama ini Kanda berbohong dan tidak memberi nafkah karena semua gaji kanda habis untuk bayar cicilan rumah, kemudian sekarang malam-malam dan waktu bersama harus dibagi, apa ini adil, Nda?!"
"Maksudku hanya gak ingin kamu sakit hati, Nay."
"Tapi pada akhirnya tetap sakit juga, kan? Apalagi sekarang alasan, kanda? Itu namanya ingin senang sendiri tanpa mikirin istrinya!" kata Naya sedikit keras.
"Aku mikirin kamu, Nay. Rumah ini juga buat kita kan. Jadi wajar kita tanggung sama-sama untuk melunasinya."
"Tapi yang enaknya punya istri lagi itu cuma kamu sendiri, Nda. Aku tidak!"
"Terus, sekarang, kamu mau apa? Aku harus ke rumah Yola malam ini, dia masih ngidam, Nay"
__ADS_1
'Apa dibenarkan bila suami berbuat tidak bisa adil dengan alasan istri yang satu hamil sedang yang lain tidak?'
"Dan aku yang harus mengerti, begitu? Semua itu urusan Kanda, kan?"
"Iya, makanya... Sebagai istri yang sholehah itu rela kalau suaminya membagi malam-malamnya."
"Kalau soal hak selalu saja mengungkit tentang istri sholehah. Tapi bagaimana suami yang sholeh tidak tahu... Kanda harus cari. tambahan ilmu mulai sekarang, gimana batasan adil dalam rumah tangga." kata Naya, diam sejenak menghela nafas, mengendalikan emosi.
"Kalau siang Kanda sudah membagi waktu juga buat dia kan? sekarang waktunya buat aku dong?"
"Naya...." kata Rudian lembut, ia berjalan menghampiri Naya, memeluk dan mecium pucuk kepalanya yang tanpa hijab, aroma sampo menguap dari rambutnya. Ia mencoba meluluhkan hati Naya.
"Aku tahu, cintamu padaku itu cinta sejati, dan selama ini kamu adalah istri yang baik. Makanya aku bilang dulu sama kamu. Aku akan membagi malam-malam dengan adil. Semalam untukmu dan semalam untuk Yola. Gimana?"
'Apakah seperti itu ukuran cinta sejati? Bahwa cinta sejati adalah cinta yang tetap bisa bertahan walau disakiti? Kalau begitu aku memilih tidak memiliki cinta itu. Cinta sejati apa? Sayang memang bisa banyak dan melimpah seperti buih dilautan, tapi cinta, mana ada cinta yang bisa dibagi?'
Naya diam tak menjawab, ia memilih bermonolog dengan hati, lalu melepaskan diri dari pelukan Rudian. Ia menatap Rudian sekilas seperti memberi isyarat, terserah.
Dengan langkah cepat Naya menuju ke kamar membiarkan Rudian yang masih terpaku di dekat sofa. Ia tampak menghela bafas berat berulang kali, lalu pergi meninggalkan Naya yang sibuk menghibur diri dengan menangis di tempat tidur.
'Apakah aku akan kuat? ya Allah...beratnya ujian ini. Aku harus bagaimana ya Allah... sungguh sakit rasanya bila cinta suami harus dibagi. ciumannya, kehangatan pelukannya, belaian kasih sayangnya, nafkahnya, semuanya, bukan cuma aku yang rasa, ada wanita lain yang memilikinya juga... siapa wanita yang kuat diperlakukan seperti ini? Seperti diri tidak berharga lagi... astagfirullah'
-
Sore itu Naya berjalan kaki sepulang dari toserba, persediaan makanannya sudah menipis. Ia sengaja tidak memesan ojek atau naik angkutan umum karena berjalan sendiri seperti membuat hiburan yang sederhana, sesederhana keinginannya untuk bisa melupakan sejenak beban berat yang akhir-akhir ini memenuhi punggung hatinya.
Luka hati itu tidak terlihat, tapi rasa sakitnya nyata dan menyayat.
Dari siang tadi perut Naya terasa sakit, ***** makannya buruk yang membuat gastritis yang dideritanya kambuh. Biasanya ia mengobatinya dengan minum ramuan kunyit asam. Tapi kali ini ia mbiarkan rasa sakit itu. Ia menahannya tanpa mengatakan pada siapapun.
Tiba-tiba sakit perutnya semkin melilit, Naya berusaha meredakannya dengan berjongkok sebentar di trotoar. Ia sudah membeli obat. Ia menyimpan kantong belanjanya di dekat kakinya dan mencari obat yang tadi dibeli.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya sebuah suara di depannya.
__ADS_1
*Mohon likenya dan terimakasih atas dukungannya*
*ujung pena*