Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 15. Sesuatu Yang Harus Dipercaya


__ADS_3

"Kamu gak kerja?" Tanya Rudian ketika sudah berada di meja untuk sarapan. Seperti biasa, Naya menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Pekan ini aku ship sore, masa kanda lupa. Sudah sepekan kemarin aku ship pagi" jawab Naya sambil mengambilkan nasi goreng buatannya untuk Rudian.


Rudian hanya mengangguk lalu menikmati sarapan dengan diam. Hanya sesekali saja mereka bicara soal peerjaan. Hingga Naya menanyakan sesuatu yang membuat Rudian tersedak.


Rudian tidak menjawab pertanyaan Naya tentang Yola. Suami Nayana itu hanya menghabiskan air minum digelasnya sampai habis.


"Jangan pikirkan soal Yola lagi. Aku hanya mau kamu tenang. Tidak usah mikir hal-hal yang aneh-aneh, soal Yola itu tidak penting."


"Menurutku itu penting, Kanda. Jadi aku tahu seberapa sering kalian berdua bertemu di sana, soalnya, kan, Kanda satu divisi sama Yola"


"Tidak, dia beda bagian. Sudah aku bilang cuma teman. Banyak kan perempuan yang kerja di pabrik sepatu." kata Rudian sambil memakai sepatunya, ia sudah selesai makan.


"Malem nanti, kanda jemput ya, jangan lupa. Aku takut kalo malem naik ojek apalagi naik angkot.."


Rudian mengangguk sambil mengeluarkan motornya dan pergi setelah mereka saling memberi kecupan.


-


Segala sesuatu yang berkaitan dengan usia dan waktu, tidak akan bisa dicegah oleh manusia. Termasuk di antaranya hari-hari yang berjalan, tanpa terasa oleh Naya juga seluruh mahluk di dunia, berlalu begitu saja.


Hari ini, Rudian berjanji akan menjemput Naya. Mereka hendak pergi, untuk mengunjungi ibunya sepulang Naya bekerja. Namun, sudah lewat satu jam wanita itu menunggu, suaminya tidak muncul juga.


Naya mulai gelisah, hari sudah semakin sore dan makanan yang Naya bawa pastinya sudah dingin. Ia sejak tadi berdiri dan mondar-mandir di depan restoran.


"Nunggu, jemputan?" kata sebuah suara yang terdengar akrab ditelinga Naya.


Mendengar teguran itu, Naya mengangguk tanpa melihat pada si pemiliy suara.


Ares mengerti kegelisahan Naya dan melihat jam dipergelangan tangannya. Ia berkata lagi, "Mau saya antar?"


"Tidak, Pak. Terima kasih atas tawarannya" kata Naya cnggung.


Ares bukan hanya pelanggan bu Nha, tapi juga ayah dari Yoni, seorang anak kecil yang entah mengapa begitu menarik hatinya. Bahkan ia seperti tersihir oleh anak kecil itu setiap kali mereka bertemu.


Namun hari ini, untuk kesekian kalinya pria berwajah teduh itu, tidak membawa Yoni ikut makan siang bersamanya.


Karena rasa penasaran Naya pun bertanya. "Yoni tidak ikut, Pak?"


"Kenapa? Kamu kangen sama anak itu?" Ares bertanya sambil mengengkat kedua alisnya, membuat Naya semakin canggung.

__ADS_1


'Pertanyaan macam apa itu?'


"Gimana kabarnya?" Naya memilih tidak menjawab pertanyaan Ares dan justru melempar pertanyaan lainnya.


"Alhamdulillah, baik," kata Ares tenang, "Ada neneknya yang menjaga Yoni di rumah, makanya dia gak ikut. Kalau bukan dengan neneknya, dia tidak bisa tenang," laki-laki itu berkata sambil menatap wajah Naya lekat.


"Hmm ...." Nayana heran, sebab dengan dirinya pun Yoni tenang, kenapa bisa begitu? Naya masih belum mengerti, tiba-tiba ia merasa istimewa.


"Ya kecuali sama kamu. Kamu orang asing pertama yang bisa dekat dengan Yoni, dia gak muntah atau tantrum, kalau sama kamu."


Mendengar perkataan Ares, Naya semakin heran, kedua alisnya bertaut, tapi tetap diam.


"Oh." Cuma itu kata yang keluar dari mulutnya.


"Yoni itu pengidap agorafhobia. Pobia sosial atau semcamnyalah. Saya juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena ditinggal ibunya," kata Ares menjelaskan perihal Yoni, padahal Naya tidak bertanya tentang itu. Entah kenapa ia berbicara cukup banyak pada wanita itu.


Ares kembali menawarkan tumpangan pada Naya, untuk yang kesekian kalinya, tapi Naya kembali menolak. Ia merasa kasihan pada wanita itu yang sudah sejak tadi berdiri gelisah. Ia sudah cukup lama berbincang, dengan maksud menemani Naya, sambil menunggu jemputannya datang.


Naya bersikeras menolak, sedang Ares sudah tidak punya waktu lagi untuk menemani, hingga ia akhirnya pergi, untuk melakukan keperluannya sendiri.


Tak lama akhirnya Naya memutuskan naik ojek karena sudah bosan menunggu dan ia hanya mengirim pesan melalui Wechat saja secara singkat.


'Aku ke rumah ibu sendiri naik ojek.'


Naya sampai didepan rumah yang cukup besar dan asri. Setelah membayar ongkos ojek ia melangkah masuk dengan cepat. Pintu garbang rumah itu sudah dalam keadaan terbuka. Perjalanan yang ia lalui untuk sampai disana sangat lama. Bahkan ongkos yang harus ia keluar kan juga cukup banyak.


Deg. Jantung Naya berdegup. Heran mengapa motor suaminya ada disana, terparkir cantik dekat pintu masuk rumah yang terbuka.


"Nanti Naya mau kesini, Bu. Kumohon jangan bicara apapun padanya..." kata sebuah suara di dalam, Naya hafal betul itu suara suaminya.


Naya memutuskan untuk berdiri sebentar di dekat pintu, ingin mendengar lebih jauh apa yang akan dikatakan Rudian pada ibunya. Ia hanya tak ingin mengganggu obrolan ibu dan anak itu bila ada dirinya.


"Untuk apa menutup kabar itu. Biar saja istrimu tahu soal Yola yang sebenarnya." jawab suara ibu mertuanya.


"Iya, tapi tidak sekarang, Bu. Rudi belum siap kalau nanti terjadi apa-apa."


"Terjadi apa misalnya, Naya minta cerai, begitu? Kenapa harus takut bercerai dari Naya, wanita mandul itu!"


"Ibu ...."


"Yang Ibu heran, kenapa kamu milih Yola si? padahal pilihan Ibu jauh lebih kaya, lebih cantik lagi."

__ADS_1


"Aku sukanya sama Yola, Bu."


"Iya, ya. Dari pada Naya."


"Bu, Naya itu banyak membantu kebutuhan keluarga, dia sering ngasih Ibu dan istri kak Bastian makanan. Enak, kan, Ibu sama Sania tidak usah masak, aku belum rela kalau dia minta cerai nantinya, Bu. Aku masih sayang sama dia."


"Ahk, kamu ini. Kalau gitu Ibu saja yang bilang sama Naya, dia nanti dia kesini, kan?" kata Sarita.


"Bilang apa, Bu?" Tanya Naya. Ia menerobos masuk ke dalam rumah ibu mertuanya, setelah mendengar semua obrolan yang tidak masuk akal baginya.


Sejak tadi sebenarnya Naya sudah tidak tahan mendengar percakapan Ibu dan Anaknya itu, semua yang mereka bicarakan, melibatkan dirinya. Soal Yola, berkata jujur dan masalah suka menyukai. Panas sekali telinga dan hatinya.


"Naya?!" kata Rudian dan Sarita bersamaan. Mereka terkejut, tidak menyangka saat ini Naya ada di sana yang kemungkinan mendengar semua pembicaraan mereka.


"Iya, ini aku, kenapa?"


"Kenapa kamu kesini duluan? Kan sudah janji mau nunggu aku jemput di restoran?" tanya Rudian.


"Aku sudah nunggu Kanda dari tadi. Aku telepon, tapi telepon Kanda tidak aktif," kata Naya sambil duduk di samping Sarita dan meletakkan makanan di atas meja.


"Apa kabar, byu? Maaf saya masuk tanpa permisi. Soalnya saya dengar nama saya disebut tadi,* kata Naya seraya mencium tangan wanita setengah baya itu.


"Iya. Gak apa-apa. Kamu bawa apa?" tanya Sarita mengalihkan topik pembicaraan.


"Ini baso mie ayam, Bu, tapi sepertinya sudah dingin, dari tadi saya nunggu Kanda."


"Gak apa-apa, tetap enak kok." terdengar kikuk.


"Mana kak Bastian, kok sepi?" tanya Naya yang tidak melihat kakak ipar, anak dan istrinya, biasanya mereka selalu ada di ruangan tempat biasa mereka berkumpul.


"Pergi ke rumah mertuanya, katanya ibu Sania sakit." kata Sarita mengabarkan kalau Bastian pergi ke rumah ibu dari istrinya.


"Oh," jawab Naya singkat. Ia sudah membuka semua wadah baso mie ayam yang ia bawa, menyodorkan pada Sarita dan Rudian, juga untuk dirinya.


"Kamu naik apa kesini?" tanya Rudian memecah keheningan selama makan.


"Ojek." jawab Naya singkat. Entah kenapa ia rasanya malas sekali mau bicara dengan suaminya. Ia merasa Rudian menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu, dengar tadi Ibu ngomong apa, Nay?" Sarita bertanya sambil menikmati makanannya.


*Terimakasih atas dukungannya. Tolong tinggalkan jejak yaa*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2