
Naya masih merapikan rambut Yoni, ketika Caca masuk kembali ke ruang perawatan itu. Caca tidak tadi segera keluar karena tidak suka melihat kedekatan antara Naya dan Yoni. Tatapan mereka beradu sejenak, dan juga semua orang yang ada di sana, saling berpandangan.
Naya meninggalkan Yoni dan mendekati Caca, ia memeluk gadis manis berpakaian seksi itu dengan erat. Caca tidak menolak, tubuhnya seolah beku dan ia menerima pelukan Naya yang tulus.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku gak bermaksud menyakitimu dengan menikahi laki-laki yang kamu cintai. Seandainya Nindy tahu, mungkin dia juga tidak akan suka kalau adiknya sedih seperti ini," Naya berkata dalam pelukannya.
Mendengar ucapan Naya berkata seperti itu, Caca memundurkan kepalanya, ia mencoba melihat wajah Naya.
"Apa kamu kenal Nindy?" Tanya Caca heran.
Naya melepaskan pelukannya dan ia tersenyum lalu menggenggam tangan Caca sambil berkata.
"Aku secara resmi tidak mengenal namanya. Tapi waktu aku masih kecil, Nindy pernah menolongku mengambil sesuatu yang aku sukai sampai ia terjatuh ... Aku waktu itu tidak tahu siapa namanya, yang aku tahu dia anak bu Mala."
"Kamu tahu kakakku? Kamu kan bukan warga kota ini?" Kata Caca tampak penasaran.
Akhirnya Naya menceritakan bagaimana ia bisa tahu dan menyimpulkan bahwa ibu dari Raya dan Yoni, adalah Nindy. Ia memang sempat melihat beberapa foto, di rumah Rasti, tapi ia tidak tahu kalau yang ia lihat adalah seorang yang pernah ia kenal. Apalagi ia tidak menemukan satupun foto Nindy di rumah Ares. Ia pernah sekeli berkunjung ke rumah itu dalam keadaan terpaksa.
"Jadi, karna itu mungkin Yoni bisa dekat dengan kamu?" Tanya Dinda.
"Kalau soal itu aku sendiri tidak tahu," jawab Naya sambil mengendikkan bahunya.
Naya menyadari tentang Nindy, ketika secara kebetulan bertemu Mala di rumah Dinda, saat ia menengok Rasti, yang sedang sakit. Saat itu juga ia memutuskan untuk menjadi ibu bagi Raya dan Yoni. Lalu tanpa di duga kecelakaan Yoni terjadi, hingga terjadi pula pernikahan yang mendadak ini.
"Jadi maafkan aku. Seandainya aku tahu kalau Nindy mempunyai adik yang cantik sepertimu, mungkin aku tidak akan pernah mengajukan diri untuk jadi ibu mereka."
Saat Naya bicara seperti itu, Caca langsung melambaikan tangannya yang menandakan bahwa ia menolak pernyataan Naya.
"Tidak. Tidak. Aku bukan orang yang tepat untuk anak-anak. Kak Naya jauh lebih pantas untuk menjadi ibu mereka. Aku hanya mencintai secara sepihak pada kak Ares, tanpa memikirkan anaknya. Jadi aku yang harus meminta maaf pada kalian, karena sudah membuat masalah pada Yoni."
Itulah cinta, kadang ia seperti sebuah cara untuk melukiskan luka. Mencintai, kadang menjadi cara bagaimana ia akan tersakiti.
"Jadi, kamu mau memaafkan aku?" Naya kembali bertanya.
"Iya, maafkan aku juga." Mareka berpelukan.
"Alhamdulillah, kak Naya. Kalian sekarang sudah sah menjadi suami istri. Selamat ya... " Caca berkata sambil tersenyum, dan melirik pada Ares yang juga tersenyum lega.
Semua kini baik-baik saja. Caca tidak lagi membuat masalah dan tidak terus menempel padanya. Seperti hari-hari sebelumnya.
"Terimakasih..." Naya menjawab.
Mala ikut mendekati mereka, ia berkata sambil memberikan sebuah cincin kecil polos, yang ia ambil langsung dari salah satu jarinya.
"Ini hadiah dariku. Maaf aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Aku hanya mendo'akan semoga kalian langgeng bahagia sampai maut memisahkan.
"Bu, Mala. Terimakasih." Naya merasa tidak bisa menolak kebaikan wanita itu. Ia melihat cincin kecil itu dengan penuh rasa syukur.
"Aku titip cucuku, jaga mereka dengan baik. Anggap mereka anakmu sendiri. Mungkin kalau Nindy tau, dia juga akan senang anaknya berada di tangan orang yang tepat."
"Ibu, terlalu memuji, saya juga banyak kekurangan dan belum pengalaman ngurus anak, bu."
"Nanti juga bisa. Eh, ngomong-ngomong, dulu aku memang pernah bilang mau jodohin Ares, waktu ada kamu di kamar Rasti, aku cuma bercanda. Aku memang sengaja mancing kamu." Mala berkata sambil tersenyum, dan menepuk bahu Naya.
Naya tercengang, tapi yang sudah terjadi memang sesuai harapan semua orang tua mereka. Hanya saja suasana yang ada sekarang sangat riskan, karena pengantin itu mungkin harus menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit.
"Kamu gak usah kuatir soal aku. Aku sudah selesai urusan dengan kak Ares, jadi aku bakal kerja lagi seperti sebelumnya." Caca berkata, sambil mengambil tasnya di meja.
"Oh, kalau begitu sslamat ya kamu sudah mendapat gelar S-dua-mu."
Caca tersenyum sambil melirik pada Ares yang masih menyuapi Yoni.
"Jaga kaka Ares baik-baik. Banyak perempuan yang suka sama laki-laki seperti dia, jadi hati-hati kalau ada perempuan yang dekat sama dia," kata Caca lagi sambil tertawa.
'Ah iya, kau benar. Tapi aku sudah tahu rahasianya, jangan terlalu berlebihan dalam hal apapun, termasuk dalam mencintai. Sebab semakin besar perasaan mencintai, akan semakin besar pula, kemungkinan kecewa bila ada, yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Biar bagaimanapun juga, mencintai adalah seni dalam menggambar sakit hati'
"Eh, iya."
"Kamu ini, bicara. Apa. Ayo pulang," Mala menyahut ucapan Caca dengan perasaan tidak enak, lalu mengajak anaknya pulang.
"Ayo, Raya sekalian pulang, tante Caca antar sampe rumah nenekmu." Caca menggamit tangan Raya sambil mengedipkan sebelah matanya pada gadis remaja yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Raya menurut pada Caca dan hanya melirik Naya dan Ares secara bergantian. Memangnya apa yang harus anak itu lakukan?
Ares yang hanya diam, ia menyimak semua yang terjadi, sambil menyuapi Yoni. Setelah mendengar semua cerita Naya dan memikirkan setiap kebetulan demi kebetulan yang mereka alami bersama, ia merasa bahwa Naya adalah jodoh yang memang sudah disiapkan Allah untuk dirinya.
Naya menyalami Mala dengan segala kerendahan hati dan mengantar kepergian mereka sampai dikoridor rumah sakit.
Begitu Naya masuk kembali kedalam ruangan, Ares segera menggamit tangannya mendekati tempat tidur, dan merengkuh bahunya hingga tubuh mereka menempel.
Ares tersenyum pada Yoni sambil berkata, "sekarang tante Naya sudah jadi ibumu, jadi mulai sekarang kamu panggil dia umat terus ya,"
Anak anak kecil itu masih belum mengerti dengan jelas Apa yang dimaksud oleh papanya, tapi ia tetap tersenyum sambil meneruskan mengunyah nasi yang ada di mulutnya.
"Umma... Umma..." kata anak itu.
Naya tidak menanggapi atau merespon ucapan Ares, yang menjelaskan tentang status dirinya. Ia menatap Ares yang berdiri di sebelahnya, sekilas.
Untuk apa menjelaskan tentang status pada anak sekecil itu, pikir Naya. Yoni hanya perlu tahu kalau saat ini dia bisa mengandalkan Naya itu saja.
"Sudah habis makannya? Wah, pinter anak umma, sekarang minum obat ya?" Naya Berkata sambil membereskan sisa makanan Yoni, membiarkan pegangan tangan tangan Ares terlepas begitu saja, dan mengambil obat yang harus ia minum sore ini.
"Naya, terimakasih sudah menerimaku dan anak-anakku apa adanya Jadi mereka bisa melihatmu setiap hari sekarang." kata Aris yang masih berdiri di samping Naya. Sementara Yoni, sudah tenang dengan mainannya.
Sore hari mulai beeubah warnanya, beranjak gelap, memasuki waktu magrib yang sudah hampir tiba.
Naya menoleh pada Ares, berdiri, menggamit tangannya menarik Ares menjauh dari Yoni, dan menutup pintu bangsal. Ia menatap mata laki-laki dihadapannya itu lekat-lekat, sesuatu yang tidak bisa ia lakukan sebelum menjadi istrinya.
Naya berdiri tegak di hadapan Ares lalu berkata,
"Pak, terima kasih juga sudah mau menikah dengan saya. Menerima saya apa adanya. Terimakasih atas kebaikan bapak selama ini pada saya. Padahal saya dulu sudah banyak merepotkan bapak, tapi saya justru beebuat yang tidak baik. Saya menganggap bapak seperti musuh, menghindar setiap kali bertemu, dan saya tidak pernah membalas perbuatan baik bapak, terima kasih sekali lagi. Dan maafkan saya, pak ... Maaf."
Saat Naya berkata, ia tidak bisa menahan air matanya, dan kembali menangis sekeras-kerasnya, dengan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya, bermaksud untuk meredam suara tangisnya, agar tidak terdengar oleh orang lain, yang diluar ataupun diketahui oleh Yoni, yang pastinya melihat mereka berdua.
Ares sudah menangkap maksud dari apa yang dibicarakan oleh Naya. Ia memahami mengapa Naya dulu bersikap seperti itu kepadanya.
Tentu menyakitkan bertemu dengan seseorang yang pernah berhubungan dengan sesuatu di masa lalunya, yang menyakitkan. Walaupun sebenarnya seseorang itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan yang dialaminya, tapi secara tidak langsung orang itu mengingatkannya.
Seketika Ares merengkuh tubuh Naya dalam pelukannya, dan mengusap-usap kepala Naya yang berada di dadanya.
Ucapan Ares terdengar menggelikan. Naya menarik kepalanya dari pundak Ares dan memukuli dada Ares pelan, lalu mengusap air matanya kasar, memukul dadanya lagi.
Ares menangkap tangan Naya yang sedang memukuli dadanya, dan Naya menatap wajah laki-laki itu yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
"Apalagi sekarang apa, tadi baru saja minta maaf, sekarang mukul ... Apa gak cukup ... Sebenarnya salahku itu apa?"
Naya melihat tangannya dalam genggaman Ares, dan membiarkannya, lalu menjatuhkan lagi kepalanya di bahunya.
Ia berkata, "pa maafkan saya."
Ares menundukkan pandangannya, dan bertanya, "Kenapa kamu minta maaf? Kamu nggak salah."
Naya mendongak, masih bersandar, lalu menjawab, "untuk kesalahan saya yang dulu."
"Sudah, aku sudah melupakan semuanya."
"Maaf dulu sering menghindari bapak."
Ares mengulurkan tangan untuk menarik dagu Naya kedekat wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut. Naya menyambut ciuman Ares hangat. Matanya terpejam dan saling membalas hingga ciuman mereka semakin dalam.
"Papa! Papa! Huwaa....!" suara Yuni dari kasurnya, tangisannya memecahkan kehangatan dan pagutan ciuman Ares dan Naya.
Naya dengan terburu-buru menghampiri Yoni dengan wajah malu-malu ia menghampiri Yoni dan memeluknya.
"Maaf ya maafin Umma, yaa..." kata Naya, sambil mengusap-usap lembut kepala anak kecil, yang kini sudah menjadi anaknya.
Bersamaan dengan itu suara adzan pun terdengar, hingga Ares memutuskan untuk pergi ke maajid menunaikan ibadah salat magrib.
Ares sudah selesai dengan ibadahnya, ia menelepon, menghubungi Dinda dan memintanya segera ke rumah sakit, untuk membawakan perlengkapan pakaian juga ibadah, yang akan digunakan Naya dan dirinya. Mereka pergi terburu-buru sehingga mereka tidak membawa perlengkapan apapun ke rumah sakit, kecuali ponsel mereka masing-masing.
-
Malam tiba Rasti dan Dinda yang datang membawakan semua keperluan Ares dan Naya, termasuk makanan yang ia bawa dari rumah Naya.
__ADS_1
"Kalian mau nginep di sini?" tanya Dinda sambil memberikan barang-barang yang dibawanya. Naya mengangguk.
"Kasihan deh, pengantin baru, malam pertamanya di rumah sakit..." Dinda berseloroh.
"Ah, nggak masalah, inikan pernikahan kedua kami, jadi itu bukan hal yang penting," jawab Naya, malas.
"Oh ya Nay, tadi ibumu pesan kalau bisa, besok kamu pulang. Soalnya Ibu kamu juga lusa akan pulang. Cuti kerja ayahmu sudah hampir habis." kata Dinda.
"iya.... baik," jawab Naya, dan kemudian Dinda pun berpamitan meninggalkan keluarga kecil itu, di rumah sakit.
Budiman hanyalah pegawai biasa, ia tidak dak memiliki izin cuti yang banyak laki-laki itu bisa cuti dari pekerjaannya, karena ia sudah selama satu tahun tidak pernah mengambil libur kerja sehingga atasannya di pabrik membiarkan ya Ya ngambil cutinya kali ini.
Naya sudah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian sehari-hari yang dibawakan Dinda dari rumahnya. Ia tampak merenung, duduk di karpet kecil, di dekat tempat tidur Yoni. Anak kecil itu sudah tertidur dengan nyenyak sejak tadi.
"Kenapa? Kok malemaun?"
'Pak saya sebenarnya pengen pulang saja kasihan ibu sama ayah di rumah'
"Kamu mau pulang?" Ares bertanya seolah tahu apa yang ada dalam hati Naya.
Lalu ia melanjutkan kata-katanya, "besok pagi-pagi saya antar pulang, sekarang kamu tidur di sini saja, ini malam kan pertama kita."
'Hais orang ini'
Ares pun merebahkan dirinya di sana dan mengajak Naya untuk merebahkan diri di sampingnya. Naya menurut, ia pun merebahkan diri di samping Ares yang langsung memeluknya dari belakang, setelah ia menutup pintu kamar rumah sakit.
"Pak, apa besok Yoni sudah bisa pulang?"
"Hmm... ya mudah-mudahan saja." Ares berkata sambil mencoba cium pipi Naya dari arah belakang. Wanita tidak melepaskan jilbabnya, karena ia merasa kamar itu adalah tempat umum, walaupun di kamar hanya ada mereka bertiga.
Suasana rumah sakit memang tidak tenang, karpet yang mereka gunakan sebagai tempat tidur juga tidak nyaman, tetapi karena lelah dan banyaknya kegiatan yang mereka lakukan, mereka tetap berusaha memejamkan mata, mereka benar-benar butuh istirahat.
Namun belum lama mereka memejamkan mata, terdengar suara dering telepon yang berulang-ulang. Dengan malas Naya membuka mata, dan menghampiri ponselnya. Suara deringan itu berasal dari telepon genggam miliknya.
Naya melihat ID ponsel yang melakukan panggilan padanya. Ia mengerutkan alis. Ini diluar dugaannya, begitu membaca siapa yang menghubunginya.
"Siapa?" tanya Ares.
"Kak Bastian."
Ketika Naya menjawab pertanyaan Ares, panggilan sudah berhenti dan layar ponsel pun sudah padam.
"Siapa dia, laki-laki mantan pacar kamu?" Ares sepertinya penasaran, ia duduk dan memperhatikan Naya, yang masih melihat ponselnya menunggu mungkin Bastian akan kembali menghubungi nya.
"Astaghfirullah, astagfirullah, bukan."
"Ya, terus siapa? aku belum pernah dengar nama itu."
"Dia kakaknya Rudian." Naya menjawab sambil menatap Ares, dan saat itu ponselnya kembali berdering, dengan ID yang sama. Bastian.
"Siapa Rudian?"
Naya malas menjawab pertanyaan Ares.
Ia merasa wajar kalau laki-laki itu, tidak mengingat nama mantan suaminya, yang sudah meninggal. Karena hanya sekali mereka bertemu waktu itu.
Naya pun menerima panggilan teleponnya, dengan raut wajah yang mengantuk dan terlihat lelah. Ia sengaja mengeraskan suara ponselnya agar arus pun ikut mendengar, dan tidak ada kecurigaan diantara mereka.
"Halo kak, apa kabar?" Tanya Naya, sesudah menjawab salam dari Bastian.
"Alhamdulillah, aku baik Nay, gimana kabarmu? Kamu ada di mana sekarang?" Suara Bastian terdengar berat dari seberang telepon.
"Aku baik alhamdulillah. Aku sekarang ada di kota Batu. Ada apa ya kak?"
"Wah kamu jauh sekali ya, maaf ganggu kamu malam-malam begini, berarti kamu udah tidur, dong."
"Tidak, aku belum tidur kok."
"Aku pikir kamu tinggal di dekat sini saja, soalnya kami ini butuh kamu, Nay, kalau bisa kamu ke sini, gimana?"
"Apa, aku harus ke sana? Ada apa ya kak?"
__ADS_1
bersambung