
Naya berjalan ke arah kasir, ia sudah menyelesaikan belanjanya. Posisi kasir menghadap kearah pintu masik Toserba. hingga Naya berdiri dengan posisi membelakangi pintu masuk keluar.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Naya melihat siluet seorang pria yang sangat dikenalnya masuk dan menuju salah satu sudut. Naya berjalan mengikuti sosok laki-laki itu sambil membawa barang belanjaannya.
'Kanda, mau beli apa kesini. Sudah pulang kerja rupanya.'
Naya berniat untuk belanja sore itu dan langsung pulang setelahnya. Karena ia berencana akan membuat kue. Ada pesta kecil besok di restoran berhubungan dengan hari peringatan pendirian restoran bu Nha. Ini sudah berlangsung lama, hanya Naya yang berinisiatif untuk membuat kue yang biasa ibunya buat kalau ada acar khusus dirumah. Ia jadi kangen ibunya.
Sampai dekat dimana suaminya berada, Naya melihat ada suaminya dan Yola juga di sana. Naya memutuskan untuk menahan keinginan menegur suaminya dan mengajak pulang bersama.
'Berarti yang tadi aku dengar percakapannya, itu adalah Yola? Lalu siapa laki-laki tadi yang bersamanya? Tidak mungkin kan kalau Yola menghianati Kanda? Kalau benar, berarti suamiku diselingkuhi? Maasayaallah. Astagfirullah.'
Naya hanya diam dan melihat mereka saling menyapa dan memeluk. Lalu terdengar lagi percakapan diantara mereka.
"Apa kamu sudah selesai belanja?" kata Rudian. Naya bersembunyi, hanya ingin tahu akan seperti apa selanjutnya.
"Sudah, ayo bayarin." jawab Yola sambil melangkah ke kasir dan mereka berdua melakukan pembayaran. Terlihat Rudian yang membayar dengan uang dari dompetnya.
Deg. Jantung Naya berdegup. Ada rasa iri dihatinya. Kalau ia saat ini Naya ditanya, kenapa kamu punya perasaan iri, bukankah iri dan dengki itu dilarang? Maka Naya akan menjawab, karena suamiku yang menyebabkannya.
'Berarti kanda punya uang, tapi kenapa aku tidak pernah diberinya?'
Mereka berdua sudah berjalan kembali keluar toserba, sekali lagi Naya mendengar Yola berkata.
"Bang, aku tadi ngasih uang biat Dero. Ia butuh uang. Maklum dia baru dipecat. Jadi gak punya uang."
"Berapa yang dia minta?" kata Rudian sambil mengeluarkan dompetnya kembali.
"Lima ratus ribu."
"Nih, aku gantiin" jawab Rudian sambil mengasongkan beberapa lembar uang."
"Abang memang baik, deh. Aku gak salah pilih kamu."
Sambil berbincang mereka menuju motor milik Rudian yang terparkir di halaman toserba. Tapi sebelum mereka sempat naik, Naya mendekati mereka dan mengulurkan tangan pada suaminya.
"Lalu untuk aku, mana?" kata Naya.
"Naya!" kata Rudian dan Yola bersamaan.
Kedua orang itu terkejut. Sangat. Gak nyangka ada Naya, kan! Bahkan Naya minta uang, jelaa-jelas Naya tahu perbuatan suaminya dibelakangnya.
"Apa maksudmu?" kata mereka berdua kembali bersamaan.
"Ck. Kalian ini kompak sekali ya." kata Naya sambil merapikan jilbab merah yang dikenakannya hari itu. Ia terlihat lebih cerah dan manis.
"Kamu minta uang, bukan?" kata Rudian tegas. Dan Naya mengangguk.
"Kan aku sudah bilang aku akan ngasih kamu dari bonus gajian bulan depan."
"Jadi sekarang gak punya uang? Gitu maksud kanda?"
__ADS_1
"Ya, iya lah." jawab Rudian sambil menaiki motornya. Yola tersenyum mendengar jawaban suaminya.
'Apa. Apa dia bohong lagi? Yang benar saja. Sudah ketahuan begini masih juga bohong.'
"Terus yang aku lihat tadi apa? Kanda ngasih uang buat Yola. Itu daun atau uang?"
'Ahk, Naya tahu rupanya, tapi sudah tidak ada uang lagi sekarang selain uang untuk bensin.'
"Itu, uang Yola sendiri. Bukan uangku." jawab Rudian seraya menyalakan mesin motor.
"Kanda bohong, aku lihat semua!" kata Naya mulai menitikkan air mata.
"Enggak. Aku gak bohong. Memang uang itu punya Yola sekarang. Lagian, ngapain si kamu di sini, bukannya kamu masih kerja?"
"Kanda! Kalau kanda gak mau ngasih aku uang sekarang. Anterin aku pulang!" kata Naya dengan suara keras.
"Abang. Kalau abang anterin dia pulang, terus aku gimana?"
'Sekali-kali naik ojek!'
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Seiring dengan jatuhnya airmata Naya yang mengaliri pipinya.
"Ya udah, ayo naik. Hujan! Kamu nanti masuk angin, gimana?" jawab Rudian sambil memakai jas hujan, ia hanya melihat Naya sekilas.
Sementara Naya masih berdiri di halaman parkir yang teebuka.
'Yah begitulah. Adil itu memang susah. Kalau salah satu tidak ada yang mau mengalah maka tidak akan ada kedamaian, yang ada hanyalah amarah.'
Naya melihat kepergian suaminya dan Yola dengan derai airmata yang tak terlihat. Hujan sudah menutupi air matanya. Wanita muda itu berjongkok dan menelungkupkan mukanya dengan kedua tangan diatas kedua lututnya, membiarkan tubuhnya dibasahi hujan. Terlihat guncangan kecil pada pundaknya menandakan ia menangis dengan sangat kuat.
Tiba-tiba air hujan tak tetasa lagi, seseorang telah berdiri di sisinya dengan sebuah payung ditangannya. Lalu satu tangan lagi mengambil kantong belanjaan Naya yang tergeletak di tanah begitu saja.
Naya menghentikan tangisannya, ia menoleh ke samping mencoba melihat siapa yang memayungi dirinya.
"Ayo, pulang." kata suara itu. Suara yang akhir-akhir ini akrab ditelinganya.
Naya mendongak, lalu melihat wajah itu yang tengah menatap dirinya juga dengan tatapan yang entahlah. Tatapan mata yang sangat ingin Naya simpan menjadi pelipur lara. Ia tahu ini tidak baik, ia juga tidak mempunyai maksud apa-apa. Tapi wajah teduh laki-laki ini bisa sedikit menghangatkan hatinya.
"Apa kamu senang jadi tontonan orang?" tanya Ares dengan tegas. Naya menggeleng.
"Pak Ares gak udah perdulikan saya. Biar saya mau di sini. Saya gak mau pulang."
"Gak mau pulang?" tanya Ares.
Naya tidak menjawab, ia hanya berdiri. Mengambil kantong belanjaannya dari tangan Ares dan melangkah menjauhinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ares masih berdiri ditempat. Sementara hujan masih belum reda dan Naya kembali membiarkan dirinya dalam guyuran hujan.
"Bukan urusan bapak!"
"Naya!" kata Ares. Tapi Naya tak menggubris.
__ADS_1
Naya sebenarnya sangat malu, Ares sudah mendapatkan dirinya dalam kaedaan buruk seperti ini.
'Apa pak Ares tahu soal dan kejadia yang tadi aku alami dengan Kanda? Ahk... Memalukan. Kenapa juga aku harus kekanakan seperti tadi. Seharusnya aku membahasnya di rumah saja.'
"Tante!!" kata sebuah suara kecil, berteriak dengan keras dari sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari tempat Naya.
Naya seketika menoleh dan melihat wajah kecil yang sudah jarang ia temui, menyembul dari balik jendela. Dia hanya anak kecil yang akan mudah sakit kalau ia terkena hujan seperti itu.
"Yoni! jangan keluar. Nanti masuk angin!" kata Naya sontak ia berlari kearah mobil dan menyuruh untuk menutup jendela kembali.
"Gak mau, Yoni mau lihat tante." kata Yoni menolak.
"Yoyo! diluar hujan, bodoh! Tutup jendelanya!" kata Raya yang terlihat masih memakai seragam sekolah.
"Yoni, tante mau pulang. Jadi tutup jendelanya. Oke? Yoni kan anak baik" kata Naya.
Tapi anak kecil itu malah menangis. Ia ingin melihat Naya atau ikut bersamanya.
"Masuk!" kata suara berat itu lagi. Ini cara memaksa yang dulu pernah ia lakukan pada Naya, dan cara itu berhasil.
"Tapi baju saya basah, pak" jawab Naya gugup.
"Siapa suruh hujan-hujanan. Cepat masuk!" kata Ares lagi setenang karang.
"Eh. Iya." jawab Naya. Ia masuk ke mobil setelah pintu mobil dibuka oleh Ares. Sebenarnya yang memaksanya masuk adalah wajah-wajah imut di dalam sana.
"Tante, belum mandi ya?" tanya Raya sambil tertawa. Yoni juga ikut menertawakannya.
"Sudah, tadi pagi." kata Naya malu. Ia duduk di kursi penumpang depan di samping Ares.
Naya sebenarnya malu duduk di sana. Tapi ia tak mungkin duduk di samping anak-anak dalam keadaan baju yang basah. Hal ini juga yang dipikirkan oleh Ares.
"Tapi kok hujan-hujanan. Masa lalu tante belum pernah ya main hujan?" kata Raya lagi sambil tetap memainkan ponselnya.
Gadis remaja itu sebenarnya tadi sempat melihat Naya sedang bersitegang dengan seorang laki-laki yang ia tahu sebagai suami Naya. Ia menyuruh papanya berhenti setelah hujan mulai turun, lalu memundurkan lagi mobilnya ketika tahu Naya ditinggal begitu saja dalam hujan deras. Raya juga yang meminta papanya untuk menjemput Naya dan mengantarnya pulang.
"Kamu kok tahu, si. Anak pintar. Eh, kenapa kamu panggil Yoni seperti itu? Itu nama mainan." kata Naya sambil tertawa.
Begitu pula Yoni, ia pun ikut tertawa riang, anak kecil itu belum tahu kalau yang dibicarakan adalah dirinya.
"Biar asik saja tante." jawab Raya.
"Yoni, Yoyo!" kata Yoni dengan suara khasnya.
"Yoni suka dipanggil Yoyo?" tanya Naya dan yang ditanya mengangguk.
"Anggap saja itu nama kesayangan, haha" kata Raya.
Akhirnya mereka berbincang dan bercerita banyak hal, hingga Naya melihat sekeliling jalan yang di lalunya. Ia merasa asing. Perjalanan yang mereka lewati juga terasa sangat lama, padahal jarak rumahnya dan toserba sangat dekat.
Raya juga teradar ketika sampai ditengah perjalanan, Raya menatap sekeliling dan menyadari kalau jalan yang dilalui mereka bukanlah jalan menuju kerumah Naya. Itu adalah arah jalan menuju rumah mereka.
__ADS_1