
Ares menetap Naya lekat, wanita di sampingnya itu membalas tatapannya sambil tersenyum. Ares menarik nafasnya pelan, dan berkata dengan suara rendah, sedangkan wajahnya hampir menempel di pipi Naya.
"Siapa yang bilang kamu seperti Nindy? Kamu ya kamu, dia ya dia."
Naya tidak mengomentari ucapan Ares, tiba-tiba ia sadar kalau ia terlalu khawatir suaminya akan menyamakan dirinya dengan mantan istrinya yang sudah tiada. Punggungnya menjadi kaku, saat ia berfikir mungkin saja Ares memiliki kekhawatiran yang sama.
"Maaf ... Aku hanya tidak mau menjadi obsesi saja," kata Naya.
Ia tidak ingin menjadi bayangan orang lain bagi Ares, demikian juga dengan laki-laki itu, yang tidak ingin hanya menjadi bayangan Rudian, bagi Naya. Tentu saja tidak.
'Astagfirullah'
Naya beristighfar berulang kali. Ia ingat sebuah kisah yang terjadi di zaman para imam-imam besar masih hidup. Ada seorang janda dan duda yang menikah. Sebagai pasangan baru, mengobrol untuk saling mengenal dan berbicara banyak hal lainnya, termasuk salah satunya adalah obrolan tentang masalalu keduanya. Berceritalah mereka satu sama lain tentang bagaimana mantan suami dan istrinya.
Saat tengah bercerita itu, mereka berada diatas tempat tidur, dan istrinya mulai bercerita panjang lebar tentang kekurangan mantan suaminya. Tiba-tiba suami barunya itu terjatuh, dari tempat tidur.
Buk! Suara yang keras membuat istrinya yang sedang bercerita, menghentikan perkataannya. Ia lalu bertanya pada suaminya.
"Kenapa kau jatuh, kasur ini cukup luas untuk kita berdua?"
Suaminya menjawab sambil berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya.
"Apa kau tidak merasakannya?"
"Merasakan apa?"
"Aku kira kasur kita ini sudah penuh!"
Ucapan dari suaminya itu adalah sindiran bahwa tidak baik membicarakan orang lain, yang tidak ada hubungan dengan kehidupan mereka. Apabila hendak membicarakan hal yang berkaitan dengan seseorang juga sebaliknya tidak berlebihan, melainkan yang perlu dicarikan jalan keluarnya saja.
Ada nasehat seorang imam yang masyhur pada masanya bahwa, kebaikan seseorang itu bukan dilihat dari banyaknya ia sholat dan puasa saja, melainkan dari sikapnya pada orang-orang yang terdekat dengannya, karena orang yang terdekat inilah, yang bisa mengerti bagaimana perilakunya.
Ada kisah lain yang juga menarik dari para sahabat, yang akhlaq serta kepribadian mereka tidak disangsikan lagi kebaikannya. Pada suatu ketika Umar bin Khattab dan dan Abu Bakar as Siddiq, sedang duduk di halaman mmasjid, lalu datanglah kepada mereka seorang wanita, yang membawa serta anak kecil dalam gendongannya.
Wanita itu berkata, "ya, Amirul mukminin."
Amirul mukminin menjawab, "katakan, ada masalah apa yang membuatmu datang menemuiku?"
Saat itu yang menjadi Amirul mukmin, adalah Abu bakar as Siddiq. Wanita itu menceritakan tentang yang suaminya kepada beliau.
"Sesungguhnya suami saya adalah orang yang taat beribadah, ia rajin bersedekah dan rajin puasa, tidak pernah meninggalkan salat malamnya."
Abu bakar as Shiddiq menjawab, "suamimu orang yang baik, bagus, kau harus bersyukur memiliki suami seperti dia."
Pada keesokan harinya, wanita itu pun datang kembali menghadap Amirul mukminin Abu Bakar as Siddiq, ia kembali mengadukan suaminya dengan kata-kata yang sama. Pada saat perempuan itu memgadukan masalahnya, secara kebetulan, Umar bin Khattab ada di sana.
Kejadian ini berulang hingga sebanyak tiga kali. Pada saat kedatangan wanita ini, untuk yang ketiga kalinya, Umar bin Khattab berkata Amirul mukminin.
"Ya Amril mukminin, sesungguhnya wanita itu sedang mengadukan suaminya."
Saat itu Umar bin Khattab mengatakan bahwa wanita itu sebenarnya mungkin ada masalah dengan suaminya, tapi ia tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya, karena malu atau hal yang lainnya.
Umar bin Khattab mengusulkan agar Amirul mukminin mengutus seseorang, untuk menyelidiki bagaimana kehidupan sebenarnya dari pasangan suami istri ini.
Abu Bakar menerima saran dari Umar bin Khattab dan mengutus sahabat, abu Dzar, untuk menyelidiki bagaimana kehidupan pasangan suami istri ini. Sahabat abu Dzar menginap selama 3 hari, untuk memenuhi permintaan dari Amirul mukminin ini.
Selama menginap di rumah suami dari wanita yang mengadu pada Abu Bakar, Abu Dzar melihat kebaikan dari ibadah sang sahabat, hingga tidak pernah ia melihat sahabatnya itu bersama istri dan anaknya walau hanya sekedar bercanda dan berbincang dengan keluarganya.
Di malam terakhir Abu Dzar menginap, beliau memberi nasehat kepada sahabtnya itu, bahwa dalam diri setiap orang ada hak orang lain, yang juga menjadi kewajiban setiap insan, bukan hanya ibadah pada Allah semata. Seperti istri dan anak-anaknya, yang juga memiliki hak atas suaminya. Jangankan istri dan anaknya, dirinya sendiri pun punya hak untuk bersenda gurau dengan keluarganya.
Setelah berkata demikian, Abu Dzar r.a kembali dan melaporkan tugas yang diberikan kepada Amirul mukminin, dan memberitahu, bagaimana ia menasehati agar masalah yang ada dalam keluarga itu bisa diatasi.
Kedua pasangan itu masih saling menatap, hingga Ares memeluk Naya erat, seraya berkata, "aku, tidak punya obsesi apa pun dengan masalalu, kau yang terakhir untukku."
Naya membalas pelukan Ares dan menepuk-nepuk punggung suaminya, dan mencium pipi pria yang dicintainya dengan lembut.
__ADS_1
-
Sore harinya mereka berdua berkemas dan segera menuju ke bandara. Naya mengusulkan agar cepat pulang, ia merasa kasihan dan ingin segera menemui Yoni, yang baru pulang dari rumah sakit sudah harus ditinggalkan oleh papanya.
Mereka meninggalkan Villa keluarga, setelah berpamitan pada penjaga yang dipercaya oleh pihak kakek Ares. Villa yang menjadi saksi ketulusan cinta dua orang manusia, yang saling berusaha menutupi luka, dan merajut tali bahagia dengan keikhlasan atas rela, menerima semua masalalu dari yang pernah mereka lalui sebelumnya.
Entah kapan lagi mereka akan kembali kesana.
Di bandara, sebelum menaiki pesawat, Ares menyempatkan diri untuk melakukan panggilan telepon dengan anak-anaknya, agar mereka terhibur karena papanya akan segera pulang. Saat menghubungi Raya, Ares mengatakan, bahwa ia sudah membawa barang yang dipesan oleh Yoni dan Raya, yaitu semua buah tangan yang sempat ia beli, sebelum pergi ke bandara.
Ares duduk sambil menggenggam tangan Naya, yang tidak ia lepaskan sejak mereka tiba di bandara. Naya membiarkan semua yang dilakukan Ares padanya, laki-laki itu tampak seperti orang yang takut kehilangan dirinya.
"Aku baru kali ini loh, naik pesawat," kata Ares. Ia memulai obrolan ketika pesawat sudah tinggal landas untuk memecah kesunyian diantara mereka berdua.
Naya menoleh sambil mencabik, menatap Ares tak percaya.
'Gak mungkin lah'
"Sama kamu," jawab Ares sambil tertawa kecil di akhir kalimatnya.
"Oh, kalau gitu aku juga baru dua kali ini naik pesawat, sekali kemarin sama ayah ibu, sekarang sama suamiku."
"Yah, itu bukan kejutan, namanya."
"Biarin, buat apa juga kejutan kalau gak bisa terkejut."
"Haa, kenapa kita gak ke restoran bu Nha, ya, buat kejutan di sana?"
"Oh iya, aku lupa, gimana ya kabar bu Nha."
"Pasti baik-baik saja, insyaallah."
"Benar ya Kak, kalau kita ke sana pasti jadi kejutan," sahut Naya dengan mata yang berbinar-binar.
"Nanti, kapan-kapan kita ke sana kalau kamu hamil." Ares berkata sambil mengusap-usap perut Naya yang masih rata.
"Gimana kalau aku gak bisa hamil, atau janin di rahimku tidak berkembang seperti yang dulu?"
Ares mengusap kepala Naya lembut dan membawanya kedalam pelukannya.
"Tidak apa-apa. Kita sudah punya dua anak, kan?"
'Benarkah kau tidak mempermasalahkan hal itu?'
"Kalau kau tidak bisa hamil juga, itu bukan kesalahanmu. Tidak ada manusia yang berdosa karena tidak hamil," kata Ares dengan penuh kelembutan.
Tanpa terasa pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan aman. Ares memesan taxi untuk menjadi tumpangan mereka agar segera sampai di rumah.
Kedatangan mereka disambut dengan suka cita. Pelukan rindu dan sayang, Naya dapatkan secara bergantian dari Rasti, Dinda dan Raya.
Sedangkan Yoni langsung menghamburkan diri dalam gendongannya, ia tidak mau turun dari sana untuk waktu yang cukup lama. Anak kecil itu bergelut manja di pangkuan Naya sambil membuka oleh-oleh yang cukup banyak.
Naya tak henti-hentinya menciumi pipi gembilnya penuh kehangatan. Sambil membicarakan banyak hal, berceloteh dengan riang khas ibu dan anak, membuat semua yang melihat tersenyum haru.
Tidak rela rasanya bila harus berhenti bercanda, tapi karena Naya memang harus membersihkan diri, ia pun pergi meninggalakan Yoni hanya untuk sekedar mandi, dan mengganti pakaiannya.
Hari sudah malam ketika Naya dan Ares tiba di rumah, mereka tidak bisa terlalu lama untuk bercengkrama karena sudah waktunya bagi Raya dan Yoni juga semua orang, untuk mengistirahatkan tubuh mereka, masih banyak kegiatan yang harus mereka lakukan besok.
"Ayo bobo, Sayang ... " kata Naya sambil beranjak ke tempat tidur. Mereka berada di kamar yang biasa ditempati Ares, jika berkunjung kerumah orangtuanya.
"Yoyo mau tidur sama uma!" kata Yoni sambil melompat ke atas tempat tidur.
"Ups, pelan-pelan, awas jatuh." kata Naya sambil menangkap tubuh Yoni dan membaringkan tubuhnya secara perlahan.
"Gak jatuh lagi kok. Ini kan di kasul empuk."
__ADS_1
"Dimana pun tetap harus hati-hati, Sayang. Walaupun di kasur, orang tetap biaa jatuh ... "
"Yoyo jatuh takut ular."
"Takut ular, dimana ada ular?"
Yoni bercerita sedikit tentang bagaimana ia bisa jatuh, dengan gaya khas anak kecil. Saat itu ia melihat ular yang melintas, karena takut, ia berlari sekencang-kencangnya, dan tidak waspada mengakibatkannya jatuh terguling, dan tanpa anak kecil itu sadari, beberapa benda tajam disekitar lokasi mengenai tubuhnya, hingga ia mendapatkan luka sebanyak itu.
"Heumm ... Kasian anak papa ini, sekarang harus lebih hati-hati, ya ... Sekarang kalau papa kerja, Yoyo sama uma di rumah saja. Gak usah ikut-ikut papa."
"Uma gak pulang, uma gak kelja lagi?" Yoni berkata dengan bahasa cadelnya.
"Gak ... Sekarang uma mau tidur di rumah papa, sama Yoyo, sama kak Raya juga."
"Hole, nanti uma bobo sama Yoyo, ya, jangan sama kak Laya."
"Uma tidurnya sama papa lah," kata Ares yang datang tiba-tiba, ia tampak tidak mau kalah dengan anaknya. Laki-laki itu menuju ke lemari untuk mengambil pakaian tidurnya.
"Gak boyeh. Gak boyeh sama papa." kata Yoni sambil memeluk leher Naya erat.
"Ya, kamu kan sudah ditemani kak Raya kalau tidur, papa sendirian. Jadi uma tidurnya sama papa."
"Gak boyeh!"
"Iya ... Nanti uma tidurnya sama Yoni." Naya menengahi pembicaraan antara Ares dan anaknya.
Naya membacakan cerita tentang perjuangan para Rasul dalam menegakkan agama sampai akhirnya Yoni tertidur.
Setelah Yoni tertidur, Naya melihat ke sekeliling dan ia tidak melihat suaminya yang kemungkinan masih mandi. Naya bergegas menuju kamar Dinda di mana dua gadis cantik sedang bercengkrama.
"Eh, uma ngapain ke sini, nanti di cariin papa loh?" tanya Raya ketika melihat Naya yang muncul tiba-tiba.
"Biarin. Biar papa nanti ke sini. Eh, Dinda, aku masih heran sama pertanyaan kamu di Ochat kita kemarin." Naya berkata sambil duduk di atas tempat tidur, diantara Raya dan Dinda.
"Soal apa, Danu?" sahut Dinda sambil tersenyum malu-malu.
"Iya, maksudnya apa? Aku gak lihat lho dia ada waktu nikahan aku," kata Naya.
Akhirnya Dinda pun menceritakan semuanya yang ia alami setelah kepergian Naya ke rumah sakit saat ia baru bertemu dengan Danuaza yang merupakan kakak kelas mereka saat SMA.
Dinda mengakui kalau sekarang mereka sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Naya menyambut antusias dan berdo'a agar semua keinginan sahabatnya itu segera terwujud dan kedua teman sekolahnya itu benar-benar berjodoh.
"Oh, jadi ceritanya sekarang tante Dinda sudah mau punya suami?" tanya Raya sambil melipat tangannya di depan dada.
"Iya, Sayang, do'akan saja biar tante Dinda cepat nikah,"
"Kalau tante nikah terus tante pake kamar ini sama suami tante. Papa juga pake kamar papa sama uma, terus nanti kalau aku nginap di sini, aku tidur sama siapa?"
"Sama Yoyo!" jawab Dinda dan Naya bersamaan.
"Ah, malas sama dia mah. Bosen!"
"Bosen apa?" tiba-tiba Ares muncul dan langsung duduk di sisi tempat tidur dekat dengan para wanita yang sedang berebut tempat tidur.
"Bosen apa juga, bukan urusan papa, pergi sana, ih ... Ganggu saja papa mah ..." Raya berkata sambil mendorong punggung Ares.
"Raya ... Gak boleh begitu dengan orang tua," Naya berkata sambil menepuk bahu Raya.
"Ciee ... papa dibilang tua." Raya tertawa. "Uma, belain papa mentang-mentang sudah jadi istrinya, ciee ..." Raya berkata sambil tersenyum dan mengusap hidungnya dengan punggung tangannya.
Naya dan Dinda tertawa melihat tingkah Raya.
"Ya, papa gak di bela juga gak apa." Ares pergi tanpa melihat kearah mereka.
"Yaa ... masa gitu saja marah. Papa mah gak asik!"
__ADS_1
"Sudah, papamu gak marah, kok," kata Naya sambil beranjak pergi meninggalkan kamar untuk menyusul Ares.
Bersambung