Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 88. Pertanyaan Kapan


__ADS_3

Dipagi harinya.


Ares memasuki halaman rumah, ketika Dinda baru saja memarkirkan mobilnya di sana. Ia melangkah melewati Dinda, yang baru turun dari mobil, begitu saja. Ia menatap Dinda acuh tak acuh, sedang Dinda melengos membalas tatapan kakaknya.


"Kakak dari mana?!" tanya Dinda ketus.


Ares menghentikan langkah, ia berbalik dan menatap Dinda seolah-olah ia tidak bersalah. Lalu katanya, "kamu sendiri, dari mana?" Ares balik bertanya.


Dinda tersenyum kecut, sambil menjawab, "Aku? Dari nganterin anak kakak lah. Raya, kan harus sekolah, jadi dia pulang, ganti baju dulu." kata Dinda.


"Oh, jadi dia sudah berangkat sekolah? Bagus!" sahut Ares.


"Ya bagus dong. Siapa lagi yang ngurusin kalau bukan aku? Bapaknya nggak tanggung jawab." Berkata sambil melangkah pergi.


Ia meninggalkan Ares setelah menyenggol bahu kakaknya dengan siku tangannya. Arez menggelengkan kepala, ia mengikuti langkah Dinda, menahan tangan adiknya.


Lalu ia berkata, "jangan sembarangan kalau ngomong, siapa yang nggak tanggung jawab? Kakak ini udah ngurusin anak-anak sampai segede itu, bilang nggak tanggung jawab. Pikir dulu kalau ngomong!"


Dinda yang tangannya dipegang oleh Ares, melihat pada tangannya, lalu menepis tangan kakaknya dengan kesal. Ia berbalik menghadap kakak laki-lakinya itu sambil berkacak pinggang.


"Iya, terus kakak dari mana, wajar kan kalau aku bilang, kakak nggak tanggung jawab? Anak ditinggalin gitu saja, mending kalau anaknya mudah diatur, anaknya rewel. Makanya, cepet cari bini sana, ngerepotin orang saja!"


Ares tertawa geli melihat tingkah Dinda, ia berkata, "dengar ya, kalau aku nikah, sama saja aku repotin orang juga. Apa bedanya mending gak usah nikah."


"Tapikan gak ngerepotin aku, gak bikin mama cepe!" sahut Dinda.


"Kamu ini nyuruh orang nikah, kamu saja belum nikah, kapan kamu nikahnya?" kata Ares sambil mencibir adiknya.


Dinda cemberut, ia sebenarnya tidak suka orang lain bertanya seperti ini kepadanya, apalagi itu adalah kakaknya sendiri, yang mengetahui bagaimana kondisi dwn keadaannya. Ia sudah lelah bila harus terus menjawab pertanyaan "kapan?" karena ia sudah pasrah soal pasangan, bahkan sekarang Ia pun minta pada kedua orang tuanya agar dirinya dijodohkan.


"Mama.. Kakak nih, nyebelin!" pekik Dinda sambil berjalan menuju kamar Rasti. Sudah ada Yoni di sana, yang terlihat sedang sesenggukan, dalam pangkuan Rasti. Wanita itu duduk bersandar di kepala ranjang, sambil mengusap kepala Yoni dengan lembut.


"Apa, si kalian itu sudah sama-sama dewasa tapi masih saja bertengkar!" kata Hendra kesal.


"Kenapa Yoni, ma?" tanya Ares yang muncul bersamaan di dalam kamar menyusul Dinda.


Ia mendekati Yoni dan mengangkat anak kecil itu dari pangkuan neneknya, lalu menggendongnya penuh kasih sayang. Rasti melihat Ares sambil menghela nafas panjang, ia berkata,


"Anakmu, ya biasa, bangun tidur nggak ada siapa-siapa, yaa nangis. Sudah, bawa pergi mandi, terus sarapan. Kalau hari ini mama harus mengasuh Yoni lagi, Mama enggak sanggup bawa saja ke kantor sana."


Ares keluar kamar sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, tampak ia mengerutkan keningnya, sambil berfikir, bagaimana bisa membawa Yoni? Agenda kegiatannya adalah peninjauan lapangan hari ini, kalau membawa Yoni akan sangat beresiko di lokasi proyek nanti. Ia tidak berdaya, tapi ia cukup bertanggungjawab hingga tetap menjalani apa yang harus ia jalani.


Bukankah memang seharusnya seperti itulah manusia? Tidak ada pilihan baginya kecuali menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban dalam hidupnya.


Manusia tinggal di bumi Allah untuk sementara, seperti bertamu atau musafir yang datang berkunjung di bumi-Nya. Sebagai tamu, tentu harus mengikuti aturan tuan rumahnya. Begitu juga manusia yang tinggal di bumi Allah, maka ia harus mengikuti aturan dari sang pemilik manusia, bumi dan seisinya.


Setiap manusia itu mempunyai sisi gelap dalam dirinya, yang membuat ia tidak bisa melihat cahaya, dan tidak bisa melihat kebenaran tentang aturan dari sang penguasa pemilik alam semesta. Meskipun demikian Allah selalu memberikan setitik cahaya dalam hatinya, walaupun kecil, menusia seharusnya bisa menemukan titik terang itu, dan teus mengikutinya, sehingga ia tidak tersesat dalam menjalaninya.


Jadi sama halnya dengan sebuah kenyataan, akan jawaban dari pertanyaan, mengapa dikegelapan malam selalu ada cahaya? Dan mengapa Allah menciptakan bintang gemintang di langit yang gelap gulita? Tujuan Allah menciptakan bintang, selain untuk menghiasi langit adalah untuk alat untuk melempar setan, yang suka mencuri dengar dari kabar-kabar langit. Selain menciptakan bintang sebagai hiasan langit malam, bintang juga bisa dijadikan penunjuk arah, penentu sebuah musim, sebagai pelajaran bagi manusia dan karenanya, langit menjadi sangat indah. Bukankah Allah mencintai keindahan?


Kini keluarga itu tengah berada di ruang makan, sedang menikmati sarapan, Dinda, Ares sudah bersiap bekerja. Yoni juga sudah dibersihkan, memakai pakaian dan siap untuk mengikuti papanya berpetualang. Ia sedang sarapan dengan lahap, lalu menanyakan di mana kakaknya dan Naya. Dinda, Rasti dan Hendra saling bertatapan ketika Ares menjawab dengan enteng, pertanyaan Yoni.

__ADS_1


"Kakak sudah sekolah. Kalau tante Naya, umma, siapa dia? Papa gak kenal. Sudah jangan tanya soal tante Naya lagi ya?"


"Yoyo mau sekolah juga, Yoyo mau sekolah juga, kayak kakak!" kata Yoni sambil merengek, setelah menyelesaikan sarapannya dan bersiap memakai sepatunya.


"Ah, nggak usah sekolah juga nggak apa-apa, nanti juga pinter sendiri," jawaban Ares.


Kata-kata Ares itu membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala.


Hendra berkata dengan perlahan, "Kamu, Ares, kalau ngomong sama anak itu hati-hati. Kamu harus mendidik anakmu dengan baik. Siapa yang bilang sekolah itu gak penting? Masa depan anak-anakmu nanti, akan dipenuhi dengan persaingan ketat antara orang-orang yang semakin pandai. Jadi, pendidikan itu penting!"


"Ares, semalam kamu kemana? Semua sibuk, nyariin kamu hilang. Yoni nangis cari papanya, kamu ditelepon nggak diangkat." kata Rasti.


Semalam, setelah selesai salat maghrib dan isya di masjid, Ia mengobrol dan mengajukan beberapa pertanyaan pada Pak ustadz, tapi kemudian ia memilih untuk tinggal di masjid, karena menduga Naya akan menginap di sana, tapi ia tidak menyangka kalau ternyata Naya justru pulang setelah menidurkan anaknya. Rasa bersalah tiba-tiba muncul dihatinya.


'Oh, jadi Naya pulang? Aku pikir dia akan menginap'


"Aku di masjid, ma," jawab Ares tenang.


"Kenapa gak pulang?"


"Ketiduran."


"Benar kamu ketiduran, bukan karena lupa sama anak-anak atau karena hal lain?" tanya Rasti lagi masih penasaran.


"Benar, ma. Aku ketiduran, masa si kebangunan." jawab Ares sekenanya.


"Oh, iya. Kemarin ada mama Mala ke sini, titip salam sama kamu."


Membuat semua orang yang mendengarnya bicara, menjadi kesal. Karena Ares menunjukkan kesan tidak perduli dengan Naya, ia sama sekali tidak menanyakan apapun tentangnya.


"Oh, iya. Hp-ku." kata Ares tiba-tiba, tanpa banyak bicara ia segera pergi ke mobilnya untuk mengambil ponsel dan ternyata ponselnya sudah tidak menyala karena kehabisan daya.


Laki-laki itu mengambil charger ponsel dalam tasnya dan segera mengisi daya pada ponselnya, lalu menyiapkan beberapa makanan untuk dibawa ke kantor sebagai bekal makanan untuk Yoni, seperti biasanya. Semua ia siapkan sendiri.


Karena hari sudah merambat semakin siang, dan semua persiapan sudah selesai, Ares pun berpamitan pada kedua orang tuanya untuk segera pergi ke kantor, dan Yoni ikut bersamanya.


Begitu pula Dinda yang sudah bersiap menuju ruko tempatnya bekerja, mewakili kedua orang tuanya mengelola usaha keluarga mereka.


-


Naya beraktifitas kembali seperti biasanya. Ia berulang kali melihat layar ponselnya, berharap Ares akan membalas pesan yang pernah ia kirimkan sore hari kemarin. Ada sedikit rasa kecewa karena ia merasa Ares mengabaikannya. Padahal pesan yang Naya kirim adalah menjawab keinginan Ares, yang pernah ia katakan beberapa bulan yang lalu, saat mereka berada di cafe. Akan tetapi Naya tetap berprasangka baik bahwa kemungkinan Ares belum membaca pesannya.


Mungkin, setelah ia meninggalkan ponsel semalaman di mobilnya, banyak pesan lain yang lebih penting, yang menyita perhatiannya daripada pesan dari Naya.


Saat melihat Rama, yang sedang mengantri untuk mengambil makanan di kantin, Naya pun bertanya, "Rama, hari ini ada Pak Ares nggak di kantor?"


Ditanya seperti itu, Rama menautkan alisnya menatap Naya, dan Rama menjawab, "kenapa, tumben kamu tanya pak Ares?"


Karena kikuk, Naya hanya menggelengkan kepala dan berkata, "enggak apa-apa, cuma nanya saja."


"Apa kamu kangen?"

__ADS_1


Dan Naya kembali menggelengkan kepala, dengan sungguh-sungguh ia mengatakan tidak, sambil mengendikkan bahu. Ia tidak bohong, ia memang tidak rindu. Cuma butuh satu jawaban dan sebuah kepastian.


Naya hanya memikirkan, kapankah kiranya sebuah hubungan yang indah kembali terbina dalam hidupnya, kembali merasakan surga dunia dan hangatnya sebuah ikatan keluarga? Sungguh dirinya hanyalah insan biasa yang sebenarnya ingin dicintai dengan cara yang sederhana.


Sungguh sebuah keuntungan bila memiliki pasangan yang tidak menuntut apapun dari pasangannya dan ia cukup bahagia hanya dengan melihat pasangannya baik+baik saja.


Rama melihat Naya tanpa ekspresi, ketika Naya tidak lagi mengatakan apapun padanya, sampai ia selesai makan siang hari itu.


Namun, sebelum pergi, Rama berkata pada Naya, "Pak Ares pergi ke proyek hari ini."


Pernyataan Rama ini membuat Naya mengerti, mengapa Ares tidak menjawab pesannya, dan kembali berpikir jernih bahwa semua akan baik-baik saja pada akhirnya nanti tiba.


Matahari masih menunjukkan keganasan panasnya, ketika ia terus bergulir, sebagian manusia menandai waktu matahari itu dengan istilah sore hari. Suasana panas masih tetap menyengat kota, walau sudah menjelang waktu ashar tiba.


Di sebuah tempat.


Tampak sebuah kesibukan besar tengah berlangsung, pembangunan sebuah gedung megah berada, tiba-tiba, terdengar suara tangisan seorang anak kecil yang menyayat. Ada ramai orang melihat keadaan anak kecil yang menangis cukup keras. Semua orang kebingungan karena anak itu tidak bisa disentuh orang lain, yang berniat untuk menolongnya.


Dan anak itu adalah Yoni, ia terjatuh tanpa sengaja, ketika sedang bermain. Ares menitipkannya pada seorang ibu, yang memiliki warung kecil di dekat tempat proyeknya berada. Saat itu, ibu yang dititipi Yoni, tengah sibuk melayani pembeli, dan saat itulah Yoni terjatuh. Ares sudah mengatakan pada ibu itu, tentang keadaan Yoni yang phobia terhadap orang asing, dan ia berpesan agar tidak mendekati Yoni, cukup mengawasi anaknya saja. Sehingga ketika ia terjatuh pun ibu itu tidak bisa berbuat apa-apa.


Entah bagaimana Yoni bisa terjatuh di sana, kebetulan tidak ada yang menyaksikannya. Begitu ia tahu Yoni terjatuh, wanita itu tampak berlari kecil mencari Ares di lokasi proyek dan s mengabarkan keadaan anaknya.


"Pak Ares. Anaknya, Pak! Anak bapak jatuh, dia nangis sekarang!"


"Maasyaa Allah, buk, kok bisa?" sahut Ares sambil memberikan beberapa gambar pada rekan disebelahnya. Ia terburu-buru mengikuti ibu itu berjalan ke arah Yoni berada.


"Mana saya tahu, Pak. Maaf tadi saya juga sibuk!" jawab ibu itu sambil berjalan tergopoh-gopoh.


Kedua orang itu pun menghampiri Yoni yang sudah berlumuran darah di kaki dan bahunya.


Dengan tergesa-gesa Ares segera meraih tubuh Yoni yang kotor dan berdarah, ia membawanya menuju mobil untuk membersihkan luka anaknya dan berniat memberinya pertolongan pertama pada luka, namun tak lama kemudian Yoni pingsan, hingga Ares terpaksa membawanya ke rumah sakit saat itu juga.


Ares mengendarai mobilnya dengan sangat cepat menuju rumah sakit terdekat. Setelah tiba di sana, Yoni segera mendapatkan perawatan di unit gawat darurat. Tak lama setelah menangani anak kecil itu, seorang dokter mengabarkan bahwa ada infeksi serius pada luka Yoni yang membutuhkan perawatan lanjutan dan ia harus menjalani rawat inap untuk menangani infeksi pada lukanya.


Ares ingin menelpon seseorang, dan saat itulah ia sadar, tidak membawa ponselnya yang sedang diisi daya di rumah orangtuanya. Ia lupa untuk membawanya, padahal saat ini ia benar-benar membutuhkan ponsel untuk mengabarkan keadaan Yoni pada keluarganya.


'Ya Allah bagaimana kalau Yoni harus dirawat selama berhari-hari, siapa yang akan mengurusnya di sini, dan siapa yang akan menjaganya nanti, apa aku harus cuti selama berhari-hari dari proyek ku sendiri, apa aku harus meninggalkan pekerjaanku hanya untuk Yoni? Ya Allah berikanlah aku jalan keluar terbaik dari-Mu, sesungguhnya hanya Engkaulah tempatku mengadu'


Yoni kini sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Ares melihat anaknya masih tertidur dengan selang infus di tangannya. Kesempatan ini ia gunakan untuk meninggalkan Yoni sebentar, meminjam telepon pihak rumah sakit, dan menghubungi orang tuanya. Ares membutuhkan tempat penguat hati ketika ia harus mengurus dan menjalani semuanya sendiri.


Ia juga menghubungi Raya agar anak itu pulang tanpa menunggunya dan bisa menggunakan taksi atau ojek online.


Ares duduk di sisi bangsal, melihat anaknya terbaring lemah di sana. Ia termenung. Saat itu ia teringat kembali akan istrinya, Nindy. Walaupun ini bukan tempat yang sama, setidak-tidaknya ini adalah rumah sakit juga, di mana ia dulu melihat istrinya harus meregang nyawa setelah melahirkan Yoni secara terpaksa. Yoni dilahirkan sebelum waktunya. Saat itu janin dalam kandungan istrinya baru menginjak usia tujuh bulan, yang mengharuskan bayinya dimasukkan dalam inkubator setelah dilahirkan.


Ingatannya berputar seperti slide sebuah film yang diputar ulang. Siang hari itu ia menerima telepon dari istrinya yang ternyata adalah Raya. Saat kejadian, Raya masih berusia sekitar sepuluh tahun. Raya mengabarkan bahwa ibunya terjatuh di depan rumahnya karena sebuah motor yang menabraknya. Raya hanyalah anak kecil yang belum memahami keadaan dan situasi saat itu. Ares sadar bahwa istrinya sering mengalami preeklamsia sehingga membuat kehamilannya sangat rentan. Tidak ada saksi ataupun seseorang yang melihat bagaimana Nindi menjadi korban tabrak lari di sana. Anak kecil itu hanya menceritakan kejadian yang ia lihat saja.


Raya bercerita, saat ia berada di halaman rumah, ia melihat Nindy berjalan mendekati penjaja makanan yang ada di pinggir jalan, tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi mendekat dan menabrak Nindy dan juga pedagang kaki lima yang ada di dekatnya. Raya sedang memainkan ponsel Nindy, sehingga ia hanya melihat ibunya yang sudah berlumuran darah, ia tidak tahu jelas bagaimana kejadian yang sebenarnya terjadi. Apalagi yang bisa diharapkan dari seorang anak kecil? Sedangkan pedagang yang mengalami kecelakaan bersama istrinya, ternyata meninggal saat itu juga.


Begitu Raya menelponnya, Ares segera meninggalkan kantor dan menyusul Nindy, yang sudah ditolong oleh beberapa orang yang lewat dan dibawa oleh ambulans, menuju rumah sakit terdekat dari rumahnya. Ares begitu syok melihat Nindi yang berlumuran darah ada di ruang UGD dan waktu itu dokter menanyakan persetujuan untuk tindakan selanjutnya, melihat keadaan Nindy, kecil kemungkinan ia bisa diselamatkan.


Hingga dengan berat hati ia menjawab, "selamatkan anaknya ... "

__ADS_1


Ternyata permintaan Ares itu, didengar oleh Nindy, yang saat itu secara perlahan membuka matanya, dan kemudian tersenyum samar. Ares sempat melihat air mata Nindy menetes, sebelum akhirnya mata perempuan itu tidak pernah terbuka kembali untuk selamanya. Dan yang paling menyakitkan adalah, menerima kenyataan bahwa istrinya melahirkan anaknya dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


__ADS_2