
Naya baru saja selesai membantu Rudian membersihkan diri, ia menyiapkan air hangat dan juga pakaianny. Sudah beberapa hari ini Rudian sudah jauh lebih baik. Surat kererangan sakit dari dokter yang menyebabkan ia bisa istirahat lebih lama.
Naya tidak juga bekerja, bu Nha sudah cukup tahu keadaan Naya, tanpa harus meminta rekomendasi ia sudah memberinya izin cuti memgurus suami.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, mereka duduk di sofa sambil memohon televisi. Sambil menikmati cemilan kesukaan Rudian yang sengaja Naya beli agar suaminya tidak merasa bosan.
"Assalamu'alaikum!" suara Sarita yang datang berkunjung hari itu.
Naya segera membukakan pintu Sambil menjawab salam ibu mereka. Ia mencium tangan Sarita tanda hormat. Lalu mereka duduk bertiga di sofa.
Setiap hari semenjak Rudian pulang dari rumah sakit, Sarita selalu datang sekedar melihat perkembangan putra bungsunya itu.
"Gimana kamu sekarang?" tanya Sarita pada Rudian. Yang ditanya hanya mengangguk.
"Sudah lumayan, bu. Mendingan. Besok mudah-mudahan bisa kerja." jawab Rudian. Sementara Naya membuatkan teh untuk Sarita.
"Alhamdulillah."
"Apa Yola sudah berangkat?" tanya Sarita pada Naya yang baru saja menyajikan yeh panas di meja.
Padahal Sarita sudah tahu tapi masih saja bertanya. Naya menjawab dengan sabar. Ia tahu kalau Sarita hanya menghkawatirkan kandungan Yola. Ia pergi naik motor sendiri.
"Sudah, bu. Bawa motor sendiri seperti biasanya." kata Naya.
"Kamu gak kerja sudah lama, bude gak marah sama kamu, kan?" tanya Sarita lagi, sementara Rudian masih asyik menonton televisi.
"Gak, bu. Setiap hari juga aku telepon apa aku dibutuhkan? Tapi bude bilang gak masalah. Urus saja auamimu, gitu."
"Alhamdulillah kalau begitu. Itu artinya uang gaji kamu gak bakal dipotong."
"Ya kalau soal itu, aku gak tahulah, bu
Itu urusan bude." jawab Naya tenang.
"Mudah-mudahan gajimu gak dipotong. Aamiin."
"Kalau gaji Naya dipotong juga aku gak kuatir, bu. Soalnya masih ada suami yang bisa menafkahi."
"Ya itu akan berat kalau harus menafkahi Yola juga." jawab Sarita ketus.
'Contoh dari Rosul adalah, ketika beliau menikah dengan wanita lain, maka beliau tidak mengambil jatah dari istri yang sudah beliau nikahi. Itulah yang namanya adil'
Kebanyakan wanita yang enggan dipoligami disebabkan oleh rasa khawatir akan berkurangnya kasih sayang suami dan juga karena takut bila nafkah yang seharusnya mereka dapatkan akan berkurang karena harus dibagi-bagi. Padahal tidak demikian, kalaupun seorang suami akan menikah lagi setelah ia memiliki seorang istri, maka si suami tidak boleh mengurangi hak yang sudah ia berikan pada istri sebelumnya, hanya karena ia menunaikan hak pribadinya memiliki iatri yang lain.
__ADS_1
Dalam hal inilah yang dimaksud dalam agama Islam sebagai kemampuan. Hak istri sebelumnya itu bukan hanya soal nafkah dan juga hal yang lainnya. Yang mungkin akan berbeda adalaj soal waktu karena itu dalam Al Qur'an, selalu soal waktu yang diutamakan, karena waktu lebih berharga dari harta. Apalagi sifat waktu adalah tidak bisa dirubah atau ia akan menjadi sesuatu yang mudah terlewat. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membuat waktu? Allah-lah sang penguasa waktu.
"Bukankah sudah resikonya begitu ya, bu? Kalau poligami itu harus adil soal nafkah dan semuanya...?"
"Iya, iya. Rudian, ibu juga tahu, tapi maksud ibu kalau kamu tetap bekerja dan gajimu utuh, itu akan lebih ringan buat Rudian." kata Sarita sambil tersenyum.
'Begini yang gak enak dipoligami. Ketika suami mau enaknya sendiri menuntut haknya dipenuhi, tapi enggan memenuhi hak orang lain'
"Bu, nafkah itu hakku sebagai istri. Tapi karena Kanda masih banyak kebutuhan dan aku ingin membantu makanya aku gak kerja. Itu memang kemauanku. Tapi kalau seperti ini aku seperti diperas sama suami sendiri." jawab Naya.
"Siapa yang meras kamu, Nay. Kamu kan mau sendiri." kata Rudian menimpali, setelah semenjak tadi hanya diam.
"Kanda, kalau kanda gak memeras, terus apa istilahnya itu, nyuruh-nyuruh aku masak buat Yola juga ngurus semua urusan rumah sendiri. Tapi gak dikasih nafkah...?" kata Naya mulai emosi.
"Kan aku bilang nanti aku kasih kalau gajian, Sebentar lagi aku gajian." jawab Rudi.
"Tapi kanda selalu punya uang untuk Yola dan adiknya."
"Dari mana kamu tahu kebohongan seperti itu?"
"Yola sendiri yang bilang." berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi, "Aku juga lihat sendiri waktu itu kanda ngasih uang buat Yola tapi buat aku gak ada. Itu namanya pilih kasih, Nda!"
Selama Rudian sakit, Naya selalu di rumah. Karena itu semua urusan rumah sudah dikerjakan oleh Naya. Bukannya Naya ingin diberi uang, tapi ia merasa karena mengerjakan semua itu adalah kewajiban Yola juga.
'Kalau bukan maksa aku, lalu yang kemarin telpon marah-marah bilang harus masak, harus nurut suami, harus apalah, itu maksudnya gimana ya?'
"Hei.. Sudah. Sudah. Kalian sebagai suami istri harus saling mengerti dan perduli. Jangan lupa semua itu gak akan sia-sia di sisi Allah. Iya kan Nay?"
'Iya. Memang aku bisa apa?'
"Iya, bu..." jawab Naya pelan.
Naya tak berkutik, dua orang ibu dan anak sama-sama memperingatkan siapa dirinya. Menasehati dirinya agar menjadi wanita penurut yang baik hati dan tidak sombong.
Apalagi sekarang ia seperti tak memiliki hak sebesar dulu lagi pada Rudian. Ia memilih diam. Ia akan melakukan semua dengan ihklas, walau itu sulit. Yang ia harapkan adalah balasan kebaikan dari Allah atas kesabarannya.
Kadang hanya kesabaran saja, yang bisa membuat seseorang mampu bertahan dengan diam, atas segala kekurangan orang lain, setelah itu karena kesabaran pula yang pada akhirnya membuatnya jadi tak perduli.
Naya bukan orang yang bodoh yang hanya diam disaat hak-haknya dirampaa orang lain, tapi ketidak berdayaan memaksanya untuk tetap diam dalam kesabaran meski ia marah. Energi kemarahan bila meluap, ia akan menimbulkan kekuatan yang luarbiasa bahkan bisa mengangkat sebuah batu besar tanpa bantuan orang lain.
'Semua tidak ada yang sia-sia, kalau di kerjakan dengan ikhlas dan sabar. Walau seberat biji sawi kecilnya akan bernilai ibadah'
"Sudah minuum obat?" tanya Sarita lagi mengalihkan topik pembicaraan. Dan Rudian mengangguk. Rasa sakit dikepala dan memar ditubuhnya karena terjatuh saat pinsan sudah banyak berkurang.
__ADS_1
Saat konsultasi diruang dokter waktu itu Naya lupa dengan beberapa istilah yang disebut kan dokter tentang penyakit Rudian yang diakibatkan oleh trauma otak. Kalau pada orang yang sudah berusia lanjut penyakit ini disebut demensia vaakular. Menurunnya fungsi otak secara perlahan.
Tapi pada usia Rudian saat ini, merupakan hal langka yang disebabkan oleh benturan keras dan hingga menyebabkan trauma pada otak kecilnya.
"Ibu sudah sarapan?" kata Naya, ia beranjak pergi ke dapur untuk menyelesaikan menjemur pakaian yang sudah selesai dicuci.
"Sudah. Tapi ibu bawa ini, makanan dari Sania dan Bastian. Nanti buat makan siang." kata Sarita sambil mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari dalam tasnya.
"Alhamdulillah." jaqab Naya. "Sebentar lagi juga waktunya makan siang dan minum obat."
"Aku sudah sembuh, gak usah minum obat lagi. Aku bosan." kata Rudian malas.
"Kanda, jangan seperti anak kecil yang susah minum obat, ini ada antibiotik yang harus diminum sampai habis." mendengar ocehan Naya, Rudian tampak jengah. Ia kembali ke kamar untuk tidur.
Saat makan siang tiba, terdengar suara motor yang berhenti didepan rumah, Naya melihat siapa yang datang disaat yang tidak biasa ini. Ia hafal suara motor itu adalah suara motor suaminya.
"Yola?" tanya Naya ketika melihat siapa yang masuk rumah. Yola datang dengan adik laki-laki nya yang datang beberapa hari yang lalu.
"Iya. Kenapa memangnya? Gak suka?" Yola bicara sambil masuk rumah dan ia menyalami Sarita sambil berkata.
"Terimakasih ya bu, sudah mengundang makan siang. Lumayan menghemat pengeluaran."
"Iya, ayo sini makan, ajak adik kamu masuk." kata ibu sambil mengambil nasi kepiringnya sendiri.
"Dero. Ayo sini masuk. Makan!" kata Yola berteriak dari dalam. Pemuda itu masuk dengan canggung dan malu menatap Naya. Naya hanya diam dan masih mencerna apa yang ia alami, ibu mertuanya sendiri yang ternyata mengajak Yola pulang hanya untuk makan siang.
"Wah, banyak bu makanannya." kata Yola.
"Iya, ini tadi Bastian yang ngasih, katanya buat Rudian makan siang. Biar gak mubazir, makanya ibu nyuruh kamu pulang buat makan siang dirumah."
'Wah, nanti nasinya cukup gak ya'
"Kanda, nih, nasinya. Habiskan yaa..." kata Naya setelah mengambil sedikit nasi dan lauk pauk buat Rudian. Ia sengaja mengambil sedikit saja, yang penting habis.
Setelah selesai makan, Naya membereskan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur. Tanpa diduga, Dero membantu Naya. Ia membawa beberapa sisa makanan yang masih baik ke dapur.
"Maaf, ya mbak." kata Dero seperti mencoba berkomunikasi dengan Naya yang memang terlihat menjaga jarak darinya. Iya lah. Mereka kan tidak punya hubungan apa-apa.
"Maaf kenapa?" kata Naya menoleh kearah Dero. Memposisikan diri sebagai seorang yang harus dihormati oleh Dero. Walau sepertinya mereka terlihat seumuran.
Dero menatap Naya seperti orang yang merasa bersalah. Ia mencuci tangan diwastafel sambil berkata.
"Mbak Naya gak benci sama kakak saya, kan?"
__ADS_1
Deg.