Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 97. Kejutan Untuk Naya


__ADS_3

Ares berlalu meninggalkan Rama, yang masih tercengang mendengar kabar, tentang pernikahan Naya dengan dirinya. Ia bersikap seolah tidak baru menjatuhkan bom ditelinga Rama. Ia sengaja mengatakan hal ini kepada Rama, agar laki-laki itu tidak lagi berusaha mendekati Naya, karena Naya sekarang adalah calon istrinya.


Ares pergi ke kantor urusan agama, dan menghubungi seseorang, ia mengurus beberapa keperluan yang berhubungan dengan pernikahannya besok, berbelanja membeli beberapa keperluan dan makanan, lalu kembali ke apartemennya untuk menjemput orang tua Naya, dan pergi ke rumah sakit bersama mereka.


Kesibukan Ares hari itu luarbiasa, tapi ia merasa gembira dan baik-baik saja. Apalagi setelah menjalani aktivitas sepadat itu, ia akan kembali bertemu dengan Naya dan memberi kejutan padanya.


Sesampainya di ruang perawatan Yoni, Naya benar-benar terkejut, karena ada kedua orangtuanya berdiri di ambang pintu, sambil mengucapkan salam. Naya lebih terkejut lagi setelah ia melihat kedatangan mereka berdua bersama dengan Ares yang menatapnya, ada senyum simpul yang terlukis di bibirnya.


"Wa'alaikumussalam, ayah, tante, kapan datang, kok bisa ada di sini? Kenapa ayah gak telepon Naya, kalau mau ke sini?" Naya bertanya beruntun karena rasa penasarannya.


'Pak Ares, kamu berhutang penjelasan padaku kok tahu-tahu ayah sudah ada di sini?'


Naya merasa diabaikan, karena ayahnya tidak memberi kabar kedatangannya, tapi justru mereka bersama Aras, yang bukan siapa-siapa bagi mereka.


"Aku sama tantemu ini sudah datang dari kemarin," kata Budiman.


"Kok bisa? Terus ayah tidur di mana?"


"Di rumah calon suamimu." kata Budiman tenang.


Deg! 'Apanya yang calon suami, aku kan, belum ngasih jawaban apa-apa?'


"Ayah, anak ayah itu aku. Bukan calon suami yang ayah maksud itu!" Naya berkata dengan memberi tekanan pada kata 'calon suami'.


Budiman terkekeh mendengar ucapan anaknya. Laki-laki bertubuh tambun itu duduk di karpet bersama Ares.


Sementara Nuriya berdiri di sisi tempat tidur, dan mengusap serta mendo'akan kesembuhan Yoni. Setelah itu ia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Yoni. Anak kecil itu masih tertidur.


Naya meraih anak kecil yang ada dalam gendongan ibu sambungnya, dan bercanda dengannya, duduk di dekat Budiman. Mengabaikan Ares, karena ia masih mencoba menenangkan perasaannya sendiri, mencoba berdamai dengan kemauan laki-laki itu, yang menurutnya tidak sesuai pada tempatnya, berbuat seolah-olah ia sudah menjadi suaminya.


'Memangnya siapa dia aku gak suka kejutan, pak!'


"Ayah memang sengaja, mau ngasih kejutan buat kamu, jadi bukan salah nak Ares. Waktu Ares telepon, ayah sudah ada di kereta, mau ke rumah kamu. Terus nak Ares ngajak nginep di apartemennya biar enggak ngerepotin kamu," kata Budiman bercerita panjang lebar.


"Ayah, gak usah ngasih kejutan segala, gak lucu. Kan ayah bisa telepon Naya?"


"Iya, sekali-kali, saja gak apa, kan?" sahut Budiman.


"Kalau gitu, kita pulang sekarang, sebelum malam, yah."


Ketika Naya berkata, ia sudah berdiri dan memberikan kan adik kecilnya kepada Nuriya.


"Tunggu, jangan pulang sekarang. Tunggu Dinda datang, biar ada yang jaga Yoni," kata Ares, ia angkat bicara setelah sejak tadi hanya diam.


"Kenapa harus nunggu Dinda? Ayah, kita pulang sekarang saja. Kita bisa naik taxi ke sana." Naya berkata sambil membereskan beberapa barang dan perbekalan miliknya.


"Biar Dinda yang jaga Yoni, nanti aku antar kamu dan ayah pulang. Ada aku, bisa nganterin kamu pulang, kenapa harus naik taxi?" jawab Ares tenang.


'Apa, ayah, ayah emang siapa ayahmu?'


Naya melirik Ares yang juga tengah meliriknya kesal. Ares menangkap rasa kekesalan Naya, yang terlihat jelas lewat tatapan matanya, membuat Ares merasa reaksinya itu lucu, hatinya seperti digelitiki, geli.


Apa yang bisa Naya katakan pada Ares, ia menunjukkan kegundahan hatinya melalui sikapnya seperti itu, karena ia tidak suka mendapatkan kejutan, ayahnya datang mendadak bersama Ares.

__ADS_1


Ares tersenyum sambil mengusap tengkuknya. Ia berpikir, Naya bersikap seperti itu padanya, seolah menyalahkan dirinya atas kejutan dari ayahnya. Bagaimana sikapnya nanti, kalau ia harus menerima kenyataan bahwa, ia akan dinikahkan secara mendadak tanpa pemberitahuan ... ?


Ares menduga, mungkin Naya tidak akan menerima dan justru akan memusuhinya.


Tiba-tiba Budiman berkata, sambil menahan tangan anaknya.


"Naya ... kamu harus belajar nurut dari sekarang, karena kamu sudah punya calon suami. Kamu sudah tidak bisa semau sendiri. Kalian sudah sama-sama pengalaman, jadi semestinya kalian lebih tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang seharusnya ditinggalkan."


"Apa, si, ayah. Perasaan aku nggak pernah minta restu, akan punya calon suami secepat ini." Naya menimpali.


"Terus ... Maksud kamu nelpon ayah beberapa hari yang lalu itu apa?" Tanya Budiman.


"Itu, aku cuma tanya, cuma konsultasi, kan belum pasti mau menerima Pak Ares atau tidak..."


"Ya sudah, nanti kita bicarakan di rumah saja. Gak enak bicara hal serius seperti ini di rumah sakit. Ayo, kita pulang," kata Nuria, ia mencoba menengahi perselisihan antara ayah dan anak.


'Tidak ada bedanya di rumah atau di sini sama saja'


"Iya, Tante. Kita pulang," sahut Naya dengan wajah sumringah merasa ada yang mendukung.


Tentu saja, Naya masih kesal, pembicaraan ini tentang hidupnya, kehidupan yang harus ia jalani seumur hidupnya. Tapi kenapa justru orang lain yang menentukan seenaknya. Aahk, entah dia harus tertawa atau menangis, melihat keputusan ayahnya, yang langsung saja menyetujui keinginan Ares.


"Ayah ... waktu Pak Ares telepon ayah, dia ngomong apa si, sama ayah?" Naya penasaran.


"Ya, nak Ares ngenalin diri, terus ngomong dia pengen kamu jadi istrinya, itu saja."


"Terus, ayah terima dia?" Naya protes.


"Harusnya, ayah itu cari tahu, Pak Ares orangnya gimana, dia baik apa gak buat Naya, gitu. Kan ayah belum tahu pak Ares seperti apa?"


"Ya, yang harus tahu itu, kamu. Yang mau nikah kamu. Jadi, yang harus tahu Ares seperti apa, ya kamu. Ayah cuma memikirkan kebaikan buat kamu."


"Ingat, Nay ... fitrah seorang wanita itu diayomi dan di pimpin oleh laki-laki, biar lebih terjaga, ada yang bertanggungjawab mencukupi kebutuhannya, jadi kamu tidak harus tinggal sendiri mengurus dirimu sendiri, ayah khawatir sama kamu...."


'Eh, bukannya kebalik, kalau aku jadi istrinya aku bakalan ngurusin dia? Waktu aku punya suami juga gitu, aku ngurusin suami, bukannya suami yang ngurusin aku'


"Ayah ... Semua yang ayah bilang untuk kebaikan Naya itu, kebaikan dari mana, dari segi apanya?" Naya masih menarik diskusi, ia bukan hendak melawan ayahnya, hanya saja ia mencoba melihat sejauh mana kesungguhan Ares, dalam mempertahankan dirinya.


"Dari segi kebaikan dalam agama, fitrah seorang wanita memang menjadi pendamping suami, yang akan memimpinnya. Kamu juga tahu, sesuai firman Allah dalam Alquran, seperti itu adanya."


Ucapan dari Budiman itu, tidak bisa disangkal oleh Naya, karena memang seperti itulah, adanya bagi seorang perempuan, akan lebih terjaga harga dirinya, ketika dia memiliki suami dalam hidupnya.


Ketenangan dalam menjalani hidup, atau sakinah, hanya akan didapatkan bila seseorang memiliki pasangan yang sah. Ketenangan itu bukan hanya dimiliki oleh seorang wanita saja, tetapi juga untuk laki-laki yang menikahinya. Karena, keterikatan atau minat antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan yang sah, bisa disalurkan melalui cara yang tepat dan halal. Maka diharapkan, pasangan itu akan mendapatkan ketenangan dalam hati mereka. Ketenangan inilah yang biasa disebut dengan nyaman, hingga kedua insan itu tidak lagi gampang tergoda dengan seseorang yang lebih menarik hatinya.


Dan setelah mendapatkan ketenangan dalam hatinya, mereka akan lebih terjaga dari hawa nafsunya, sehingga akan membawa keberkahan dalam rumah tangganya, atau yang disebut dengan istilah mawaddah dan warahmah dalam rumah tangga yang mereka bina.


Sebuah keluarga akan membawa mawaddah dan keberkahan serta Rahmat Allah, apabila sudah tercipta ketenangan, ketentraman atau sakinah dalam hati mereka terlebih dahulu. Apabila dalam sebuah hubungan rumah tangga tidak terjadi ketenangan, tidak ada ketentraman dalam hati mereka, walau sudah menjadi pasangan yang sah, maka tidak akan mudah untuk membawa atau menarik keberkahan dan rahmat dalam rumah tangganya. Karena ke sakinahan lah yang akan mempengaruhi ketentraman dan keluasan hati seorang hamba.


Misalnya untuk seorang laki-laki, ia akan lebih fokus dalam mencari nafkah, karena nafkah tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk keluarganya yaitu anak dan istrinya, dan tentu semakin besar tanggung jawab yang harus diemban, maka akan lebih besar pula pahala yang akan ia dapatkan. Demikian juga dengan seorang istri, apabila ia mengurus keluarga di rumah. Ia tidak hanya bekerja atau mengurus rumah untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk suami dan anak-anaknya.


Kedua pasangan harus bekerja sama saling melengkapi, karena memang seperti itulah yang Allah kehendaki. Seseorang dilebihkan atas orang yang lain, karena orang yang dilebihkan oleh Allah itu, memiliki kewajiban yang lebih besar, dan harus mengayomi orang yang berada dalam tanggung jawabnya.


-

__ADS_1


Sampai di rumah Naya, ia heran melihat apa yang Ares turunkan dari mobilnya, banyak sekali barang dan juga makanan dalam beberapa kotak.


"Apa ini, Pak. Buat siapa?" Tanya Naya tanpa mau membantu laki-laki itu yang sibuk sendiri mondar-mandir antara mobilnya dan rumah Naya.


"Naya ... sini, kamu duduk saja." kata Nuriya sambil memberikan anak balitanya ke pangkuan Naya. Ia memperhatikan semua orang dengan tatapan tak mengerti. Ia tahu ayahnya tidak mungkin membawa barang sebanyak itu.


Mau tidak mau Naya pun duduk sambil memangku anak kecil itu. Sementara Nuriya ikut membantu Ares.


Setelah selesai, Nuriya, Budiman dan Ares kembali duduk bersama di karpet dalam ruang tamu rumah Naya.


"Naya, semua barang ini bukan dari aku saja, tapi juga hadiah dari mama, papa juga Dinda." Ares memulai bicara.


"Buat apa barang sebanyak itu?"


"Naya, diam dulu. Biar Nak Arss bicara." Budiman berkata sambil menepuk pundak Naya lembut.


"Jadi, sebenarnya aku kesini bawa semua hadiah ini buat kamu, karena aku mau melamar kamu, Naya. Dan Ayah, mau besok kita langsung nikah saja. Ayah gak bisa lama di sini, jadi _ _ "


"Apa? Ayah ... Kenapa mendadak seperti ini? Makanya, telpon dulu aku kalau mau ke sini."


Naya berkata sambil menahan tangis sekuat hatinya. Ia memandang Ares dan Budiman secara bergantian. Ia bukan menolak kebaikan, tapi ia khawatir dengan seseorang, yang sudah terang-terangan menyatakan niatnya, untuk menjadi pendamping bagi Ares. Ia merasa tidak enak, sungguh.


Sebab kehadiran Caca lebih lama dibandingkan dengan kehadiran dirinya. Apalagi Caca benar-benar mencintai Ares.


"Naya, tenanglah, dengar dulu Ares ngomong." Budiman berusaha menenangkan anaknya.


"Naya, aku minta maaf kalau keinginan ini terkesan mendadak. Sebenarnya kami sudah membicarakan semua ini sejak kemarin."


'Nah, kalian ini... Aahk'


"Terus, aku harus memaklumi, menerima semua yang sudah direncanakan, tanpa aku tahu, begitu?"


"Naya, aku harap kamu mau. Kami sudah merencanakan pernikahan kita besok."


"Apa?!"


"Nah, kan. Aku pikir juga begitu, nak Ares. Naya pasti gak mau. Dia pasti banyak alasan. Makanya ayah bilang juga gak usah bilang. Ayah yang akan bacakan ijab qobulnya."


"Ayah ... " Naya berlari ke kamar. Menangis, ia mengeluarkan ponsel dan mengirim banyak pesan pada Ares.


Naya


"Pak, kan sudah saya bilang kalau mau menikah itu sesudah Yoni sembuh. Apalagi soal Caca, bapak tahu kan Caca itu cinta sama bapak. Dia mau nikah sama bapak."


"Bapak tahu saya bercerai karena perempuan lain yang mencintai suami saya. Dan saya tahu rasanya seperti apa. Saya tidak mau jadi orang yang sama seperti dia, pak."


"Memang, antara bapak dan Caca tidak ada hubungan apa-apa, tapi yang saya khawatir itu soal perasaanya pak. Sakit, pak. Melihat orang yang kita cintai justru memilih orang lain, melihat orang yang kita cintai menunjukkan rasa cintanya pada orang lain itu, sakit."


"Jadi, beri waktu saya untuk berpikir."


Lama tak ada tanda-tanda Naya akan segera keluar dari kamarnya. Ketika Naya meninggalkan mereka di ruang tamu, Ares hendak mengikuti, tapi Budiman melarang, dan ia meminta Ares untuk membiarkan Naya sebentar, dan memberikan Naya ruang untuk berdamai, dengan perasaannya sendiri.


Budiman pria tua yang sudah banyak pengalaman dalam hidupnya. Mengerti bagaimana karakter wanita, yang biasanya memiliki kepribadian yang labil, bilang tidak mau padahal mau, bilang merah padahal mau yang biru, bilang nanti padahal maunya saat ini. Sehingga ia mengatakan pada Ares untuk percaya bahwa saat tiba waktunya besok, Naya pasti setuju dan siap dengan segala resiko sebagai ibu sambung untuk Raya dan Yoni.

__ADS_1


Laki-laki itu menepuk-nepuk bahu Ares, memintanya untuk bersabar.


Bersambung


__ADS_2