
"Masuk!' kata Rudian posesif, memerintah Naya agar masuk sebelum bicara.
Naya terlihat enggan, ia menatap suaminya dengan perasaan syak wasangka yang pekat, sepekat mendung saat hujan akan turun. Sedang Rudian kesal dengan ekspresi Naya, lalu menarik tangan istrinya itu, masuk kedalam rumah dan menutup pintunya.
" Apa yang aku lihat barusan tidak salah, kan? Ibu dan Yola baru saja pulang dari sini?" tanya Naya masih dalam keadaan berdiri, sementara Rudian memandang wajah Naya sambil duduk di sofa.
"Kanda, jawab!" kata Naya lagi melihat Rudian hanya diam
"Jawaban apa yang mau kamu dengar?" Rudian mencoba bernegosiasi dengan perasaan Naya. Ambiens yang kaku benar-benar terasa saat itu dari raut wajahnya.
"Jawab dengan jujur. Itu lebih baik dari pada kebohongan."
"Biasanya wanita itu serba salah, jujur salah bohong juga salah."
"Kalau sudah tahu seperti itu maka jangan berbuat yang diluar koridor kebenaran."
'Kebenaran katanya menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi kalau tidak tahu yang sebenarnya tentang sesuatu. Apalagi kalau ternyata orang yang menyembunyikan kebenarannya adalah orang yang terdekat. Ahk...'
"Aku sebenarnya sudah menikah siri dengan Yola." kata Rudian lirih, hampir saja suara itu tertelan udara yang keluar masuk lewat hidung.
Deg. Jantung Naya seolah melompat dari tempatnya.
'Aku tidak salah dengar kan barusan?'
"Apa, kanda bilang apa? Aku tidak salah dengar kan?"
"Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah menikah dengan Yola!" kata Rudian kali ini cukup jelas.
"Kanda menikah lagi? Dengan Yola? Kapan, kanda? Ini tidak mungkin. Bukankah Kanda bilang pada ibu waktu itu kalau kanda tidak akan menikah lagi?" Naya mulai emosi, perasaan muak memenuhi dadanya.
__ADS_1
Rasanya ingin lari saja, lari dan pergi. Menjauh dari kenyataan yang ia dengar saat ini dari mulut suaminya sendiri. Sebuah pengakuan dari kenyataan yang harus ia tanggung dengan segenap jiwa raga bukan? Kenyataan yang ia hindari sejauh mungkin.
Naya menggelengkan kepala, air mata mulai menetes. Bahkan suara isakan mulai terdengar lirih, meningkahi suara hatinya yang bergemuruh. Haruskah ia mempercayai takdirnya kali ini. Apakah boleh ia memilih untuk tidak memiliki takdir semacam ini?
"Kenapa Kanda bohong? Kenapa? Kanda!" berhenti bicara untuk mengambil nafas, "Bukankah Kanda bilang tidak akan melakukan itu? Kanda pembohong!"
Naya berlari ke kamar, menutup pintunya dengan keras. Lalu menangis dengan menelungkupkan badannya di atas ranjangnya. Ia menangis sejadi jadinya.
"Naya... maafkan aku," kata Rudian yang sudah duduk di sisi pembaringan dan mengusap kepala Naya dengan lembut.
"Kenapa, kanda? Kenapa Kanda mengingkari ucapan kanda sendiri?!" kata Naya.
Ia memiringkan setengah badannya, saat menyadari Rudian duduk di sebelahnya. Lalu menatap Rudian tepat di bola matanya mencari kejujuran disana, isak tangisnya terdengar semakin kencang.
"Tolong mengertilah, Naya..." kata Rudian memohon.
'Benar, kan, setiap laki-laki yang melakukan poligami seperti ini pasti selalu menuntut istrinya untuk mengerti.'
"Dia hamil, Naya ...."
"Apa. Dia hamil?! kalau begitu, hamili aku juga kanda! Hamili aku sekarang juga!" Kata Naya seraya menarik Rudian ketempat tidur. Melepas jilbabnya yang sedari tadi masih melekat dikepalanya.
"Naya, apa -apaan si?!" Kata Rudian mencoba mengendalikan Naya dengan memegang bahunya.
Sementara Naya, terus saja melucuti pakaian yang melekat dibadannya satu persatu, lalu mencoba melepaskan pakaian Rudian juga. Tapi Rudian menahannya.
"Kalau kanda bisa membuatnya hamil. Kenapa denganku tidak? Ayo. Hamili aku sekarang juga, kanda...!" kata Naya lagi mencoba melepas celana panjang suaminya.
Naya berada pada posisi di atas Rudian, mengungkung suaminya dan membuatnya pasrah dengan kelakuan istrinya. Tapi melihat reaksi Rudian yang diam saja bahkan terkesan pasif, Naya menghentikan ciumannya.
__ADS_1
Naya menjauhkan wajahnya dari wajah Rudian, menatap suaminya dari dekat, lalu berkata.
"Apa aku sudah tidak menarik lagi setelah kanda menikahi wanita itu? Kanda tidak nafsu lagi bercumbu denganku?" Ia kembali menangis, beberapa tetes air mata jatuh di pipi Rudian yang berada di bawah Naya. Mereka masih dalam posisi itu, hampir tak berpakaian.
"Bukan... Aku hanya tidak mau melakukan karena kamu marah. Kamu masih emosi" Kata Rudian tidak bergerak.
Bagi pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah tentu sudah biasa dengan posisi seperti ini. Tapi Rudian juga merasa sangat bersalah.
"Tadinya aku juga tidak mau menikah, tapi aku khilaf. Maafkan aku," kata Rudian. Kini ia membalikkan tubuh Naya dibawah kungkungannya.
"Aku sayang sama kamu, Naya. Aku menyembunyikan ini karena aku tahu kamu akan seperti ini."
'Kalau Yola bisa hamil, benarkah aku mandul seperti kata ibu? kalau begitu percuma saja aku melayaninya kan? Sayang... Benarkah hanya itu alasannya?'
"Kapan kanda menikahinya?"
"Baru seminggu yang lalu, begitu Yola bilang kalau dia sudah hamil tiga minggu."
"Jadi, Kanda sudah menjalin hubungan dengan wanita itu selama sebulan begitu?"
"Ehm... soal aku menjalin hubungan dengan Yola, itu... sudah tiga bulan yang lalu," sahut Rudian terbata-bata.
'Oh, berarti sudah sejak nampak perubahan pada Kanda, rupanya seperti itu. Kenapa mencintai harus sesakit ini? Memergoki Kanda dulu saat belanja waktu itu sakitnya setengah mati saja. Dan sekarang aku seperti mau mati'
"Naya...Naya..." kata Rudian melihat Naya memejamkan matanya.
Naya, membuat tubuhnya dimiringkan kesamping, sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Enggan menatap suaminya. Kesal, muak, jengah kecewa, semua perasaan itu mengelayuti jiwanya. Sakit diatas sakit.
Rudian mencium pipi Naya berulang kali, mengharap Naya menghentikan tangisannya. Ia membelai, mengusap tubuh Naya, mencoba mencumbui seperti tadi Naya mencumbuinya, tapi Naya tidak merespon.
__ADS_1
Biar bagaimanapun ia menyayangi Naya, walau sudah ada Yola yang lebih menggairahkannya hampir setiap malam atau saat pulang kerja.
*Terimakasih atas dukungannya, mohon like dan komennya*