
Naya dan Dinda saling berpandangan, ketika mereka berdua mendengar suara ribut di lantai dasar. Mereka berdua memutuskan, untuk melihat apa yang terjadi, dari pintu kamar mereka. Saat mereka melihat kebawah, ada beberapa orang yang sedang berbincanga di dekat meja makan.
Dinda menoleh pada Naya dan menepuk bahunya pelan.
"Oh itu Kakakku, tunggu sebentar di sini, ya?" Dinda berkata sambil meninggalkan Naya, melangkah menghampiri keluarganya.
Deg. Jantung Naya berdebar lebih kencang. Memandang tak percaya dengan apa yang tertangkap dimatanya.
Ia terpaku sejenak di pintu, dan tampak sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, dengan langkah perlahan ia kembali menuju tempat tidur lalu duduk di sisinya. Tubuhnya terasa lemas. Ia beberapa kali menghela nafas panjang dan menepuk-nepuk dadanya secara perlahan, berusaha menenangkan debaran jantungnya.
'Ya Allah... jadi yang dimaksud Dinda, kakaknya adalah Pak Ares...? Jadi benar tante Rasti adalah wanita yang aku temui di restoran Bu Nha waktu itu...? Dan selama ini mereka adalah keluarga? Jadi, kakak Dinda yang berusaha dijodohkan adalah dia? ya Allah...:
Naya menenangkan pikiran dan hatinya dengan memejamkan mata, yang kini sudah dipenuhi dengan butiran kristal bening mengalir dipipinya. ia menggelengkan kepala sambil mengatakan, " tidak, ini tidak mungkin."
Naya benar-benar mengakui ketidakberdayaan atas Kemahakuasaan-Nya, yang menguak sebuah kenyataan yang harus ia ketahui saat ini. Sebagai manusia dha'if seperti dirinya, tidak mungkin mempertanyakan pada Sang Penguasa atas kehendak-Nya. Semua yang ia hadapi sekarang diluar kendalinya. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menjalaninya saja. Untuk selanjutnya, serahkan lagi pada-Nya.
Kepasrahan, adalah salah satu jawaban dari sekian banyaknya takdir Tuhan. Sebab, bagaimana ia selama ini berusaha untuk menghindar, tapi sekali lagi tangan takdir membuat mereka kembali dipertemukan. Bahkan dengan cara seperti ini, cara yang tidak pernah ia duga.
Saat awal bertemu dengan mama Dinda, setelah sekian lamanya, Naya pernah berpikir wanita itu mirip dengan wanita yang dikenalkan Ares sebagai ibunya, mungkin kesamaan wajah hanyalah kebetulan saja, dan ternyata dugaannya benar. Naya, orang yang kadang sulit mengingat nama orang, hingga ia lupa nama dari mama Dinda.
Anehnya, selama berada di rumah itu, Naya tidak tertarik melihat beberapa foto yang terpajang. Dalam beberapa foto keluarga mereka, Ares tampak berbeda, dan masih bersama istrinya, Raya masih kecil dan Yoni masih bayi. Tentu saja Naya tidak begitu mengenalinya.
Ssmentara itu di lantai bawah.
"Ares! Raya sudah pandai berbohong soal apa?" kata Rasti Ia masih memeluk Raya, sedang Yoni kini duduk di dekat kakeknya, ikut mencicipi beberapa mkanan. Kakek melayani cucunya itu dengan telaten.
"Papa galak!" kata Raya lagi, sambil mengusap air mata.
Ares duduk di meja makan sambil melirik Raya sekilas, lalu berkata, "Papa malu kamu seperti itu. Jangan ulang lagi, merepotkan orang lain saja. Memangnya, tante Naya itu siapa? Dia bukan siapa-siapanya kita!"
"Naya? Naya siapa, maksud kakak?!" kata Dinda yang tiba-tiba muncul dari arah tangga. Ia mendengar secara tak sengaja percakapan mereka.
"Iya. Coba cerita. Ares!" kata Rasti.
"Mama..." kata Ares, "Raya pernah menginap di ruamah orang, tapi dia bilangnya menginap di rumah temannya mau kerja kelompok."
"Aku gak bohong, papa. Tante Naya itu temanku." tukas Raya. Kini ia duduk di sofa. Seolah bosan dengan papanya yang selalu menyalahkannya.
"Kenapa kamu gak bilang jujur kalau mau nginap di rumah tante Naya?" kata Ares.
"Takut papa marah." kata Raya dari arah sofa.
"Gak. Justru kalau tau kamu mau ke sana, papa mau nganter kamu ke rumahnya!" tukas Ares sambil berdiri dan menghampiri Raya.
"Baik..Sekarang nenek sudah faham maksud kalian. Nah, Raya jangan ulangi lagi perbiatan seperti ini. Dan kamu harus tahu mulai sekarang kalau jujur itu, apapun resikonya, tetap lebih baik. Apa Raya mengerti?"
"Iya, nek." jawab Raya malas. Ia kembali sibuk dengan ponselnya.
"Sini," kata Ares sambil mengambil ponsel Raya dengan paksa. "Mulai sekarang, ponsel kamu papa sita, selama sebulan. Itu hukumannya!"
"Papa!!" kata Raya, ia kembali menangis.
Gadis remaja itu melihat Ares dengan kesal. ia menghentakkan kaki ke lantai, lalu berlari ke lantai dua tempat biasa ia tidur bersama Dinda. Ia ingin menumpahkan kekesalannya dengan menangis di sana.
"Ares. Sekarang biarkan Raya menenangkan diri. Jangan terlalu keras pada anak seusianya. Menurut mama, itu kebohongan yang masih bisa dimaafkan."
"Nanti kebiasaan, ma. Aku gak suka dia merepotkan orang lain. Itu saja." kata Ares tenang.
"Orang siapa? siapa namanya kamu bilang tadi?" tanya Rasti.
"Naya, mama juga pernah ketemu kok sama dia, tapi sudah lama." kata Ares.
"Naya? Oh, mungkin cuma kebetulan saja namanya sama." gumam Rasti lirih.
'Apakah yang dimaksud mereka itu, Naya yang sama?' Dinda.
__ADS_1
"Naya, itu siapa, kak? Teman kakak?" kata Dinda sambil melirik ke arah kamarnya di lantai dua, ia masih penasaran, karena sedari tadi belum mendapatkan jawaban.
Ares tidak menjawab, ia hanya mengangguk, sambil melihat dan memeriksa isi ponsel Raya, yang ada di tangannya. Ia masih duduk di sofa.
Melihat tingkah Ares yang cuek, Dinda menghela nafas, kemudian ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ssbelum naik ke tangga, dia melirik pada Yoni yang sedang makan bersama kakeknya, Resti kembali duduk di samping Yoni dan menyuapinya.
Di dalam kanar Dinda.
Raya berjalan dengan langkah terburu-buru, sambil menghapus air matanya. Sementara, Naya pun sedang menghapus air matanya, ia sudah sedikit berhasil menenangkan diri dan meredakan debaran jantungnya. Begitu Raya masuk ke dalam kamar yang pintu sudah terbuka, tatapan matanya tertumbuk pada Naya yang juga Tengah menoleh ke arahnya.
"Tante Naya? Uma!" pekik Raya sambil menghamburkan diri ke dalam pelukan Naya.
"Raya kamu di sini?" Tiba-tiba, air mata yang sudah kering terhapus itu ,kembali tumpah ruah memenuhi pipinya. Ia pun membalas pelukan Raya.
Dua wanita berkerudung abu-abu itu saling memeluk dan menangis. Setelah beberapa saat lamanya, Naya mengendurkan pelukan, dan kedua tangannya memegang kepala Raya, sambil berkata,
"Kamu kenapa nangis? Kamu kangen sama Tante? Maaf ya..Tante jarang kirim pesan sama kamu, soalnya tante sibuk."
Mendengar kata-kata Naya, Raya menggelengkan kepalanya, lalu berkata,
"Aku nggak apa tante. Tante sendiri kenapa nangis?"
"Tante nangis itu, kangen sama kamu. Orang itu kalau lama gak ketemu sama orang yang mereka sayang, suka namgis kalau ketemu," kata Naya, sambil mencolek hidung Raya pelan.
Setelah itu mereka berdua sama-sama tertawa. Setelah tawa mereka reda, Raya mengerutkan alis dan bertanya,
"Kok Tanta, eh. Uma, bisa ada di sini? Uma kenal sama tante Dinda? Kapan kenalnya, sudah lama? Tapi kok aku gak pernah liat Uma sama tante Dinda?"
Mendengar pertanyaan saya Naya mengangguk, dan menggamit tangan Raya, untuk duduk berdampingan di sisi tempat tidur. "Kebiasaan ya, kalau nanya enggak bisa satu-satu kan, uma bingung jawabnya. Ia, Uma sudah lama kenal sama tante Dinda, malam ini mau nginap di sini, kita tidur bareng nanti."
"Haha. Iya, ayo bobonya sekarang saja, umma peluk Raya..." kata Raya merengek manja seperti anak kecil
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keakraban mereka dari balik pintu. Dinda berulang kali mengendikkan bahu dan mengangkat alisnya, melihat Interaksi yang terjadi antara Raya dan Naya.
'Jadi yang dimaksud Naya oleh mereka adalah Naya istriku?'
Ia menunjukkan wajah cemberut memperlihatkan aksi kejam. Naya dan Raya seketika menoleh dan tersenyum menatap tingkah laku dari Dinda. Naya beranjak untuk duduk sambil berkata,
"Jangan marah suamiku. Ayo kita tidur berdua disini sekarang, anggap Raya adalah anak kita. Ok?"
Raya tertawa mendengar ucapan mereka berdua menurutnya kedua orang tantenya itu sangat lucu. Bahkan ia mendsngar Naya memanggilnya dengan suami.
Dinda menyusul ke tempat tidur, hingga mereka bertiga duduk berdekatan. Dinda mulai membahas apa yang sebenarnya terjadi antara Raya dan Naya, mengapa mereka bisa begitu dekat hingga membuat Raya berbohong pada ares Papanya.
Naya menceritakan awal kisah pertemuan mereka, ketika berada di Kota Hujan. Obrolan antara mereka bertiga saling bersahutan tentang pertemuan mereka. Namun demikian, Naya tidak menceritakan beberapa bagian kisah yang menurutnya memang tidak perlu diceritakan, yaitu tentang pertemuan dengan Ares setiap kali ia mendapatkan kesedihan.
Setelah mereka bertiga saling mengobrol cukup lama, Naya baru tersadar tentang Yoni, ia kemudian berdiri sambil bertanya,
"Oh iya, mana Yoni, dia di sini juga kan?"
Dinda pun ikut berdiri dan kemudian menutup pintu kamarnya, sambil berkata, "gak usah pikirin Yoni, anak itu gak bisa dekat sama orang baru. Aku saja yang tantenya sendiri, gak bisa dekat dia."
Dinda menceritakan apa yang terjadi dengan Yoni dan penyakitnya Ia punya pengalaman buruk, ketika ia setiap kali ingin mencubit ataupun menggendong anak kecil itu, tapi ia selalu tak berdaya. Ia sangat gemas dan ingin sekali menciumnya tapi Yoni tak bisa disentuhnya! Dinda bercerita, walaupun Yoni sedang tidur, ketika ia mencoba untuk menciumnya, maka Yoni akan terbangun dan bereaksi tantrum seperti biasanya.
"Tante Dinda gak percaya, tadi Uma sudah cerita, kan? Yoni gak akan kumat kalau sama Umma," kata Raya sambil merebahkan diri.
"Coba saja panggil dia ke sini, kalo tante mau tahu." kata raya lagi.
Mendengar perkataan Raya, Dinda memiringkan kepalanya, sambil berfikir, ia mencerna ulang, kisah yang dikatakan oleh Naya dan Raya sejak mereka bertemu di di kota, tempat dimana dulu Ares pernah bekerja. Kemudian dia mengangguk-angguk.
Dinda melangkah ke pintu sambil berkata, "Oke kalau gitu, aku panggil Yoni sekarang ya?"
Naya buru-buru memegang tangan Dinda, menatapnya, sambil berkata, "tolong jangan bilang kalau aku ada di sini sekarang. Bilang sama Yoni, kamu punya kejutan di sini!"
"Ck, kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Pokoknya jangan bilang aku ada disini sekarang..."
Dinda berprasangka bahwa Naya tidak ingin bertemu dengan papanya, sehingga ia meminta untuk merahasiakan keberadaan dirinya.
"Kamu gak mau Kakakku tahu kalau kamu di sini?" kata Dinda tersenyum licik matanya berkedip-kedip.
'Apa, sudah terjadi sesuatu antara mereka?'
Naya tidak berpikir buruk, sehingga ia hanya mengangguk dan kembali duduk sambil tersenyum. Sementara Dinda membuka pintu, ia tidak turun, dan ia berteriak memanggil Yoni dari sana.
Ia meletakkan kedua tangan di dekat mulutnya sambil berteriak, "Yoyo...! kamu kenal sama tante Naya, nggak? kalau mau ketemu sama tante Naya, kamu ke sini!"
Teriakan Dinda mengagetkan kedua orang tuanya, Rasti pun berteriak juga,
"Dinda! Kenapa kamu teriak-teriak, anak tidak sopan!"
Saat itu Rasti dan suaminya sedang duduk di sofa, bersama Ares dan Yoni sambil berbincang dan bermain. Anak kecil itu hanya bisa berdekatan dengan papa dan juga neneknya. Kakeknya bisa dekat dengannya, asal tidak menyentuhnya secara langsung, seperti Raya dan juga Dinda, Mereka bisa berinteraksi dengan Yoni asal tidak menyentuhnya secara langsung.
"Ma. Siapa kata Dinda tadi. Naya? Aku nggak salah dengar kan?" tanya Ares pada Rasti, sambil berdiri dan menggamit tangan Yoni.
"Oh itu," kata Rasti sambil menyandarkan tubuhnya, disandaran sofa. "Iya...ada Naya, dia temennya Dinda waktu kecil dulu, sudah lama mereka gak ketemu. Dia mau nginap malam ini. Ya sudah bawa Yoni ke sana." kata Rasti lagi
Mendengar ucapan ibunya, Ares mengerutkan alisnya dan menggandeng tangan Yoni menaiki tangga, mengantarkannya menuju kamar Dinda. Dari lantai dua, Dinda melihat kearah mereka berdua sambil tersenyum lucu. Selama berjalan, Yoni terus saja berceloteh dengan gaya khas anak kecil, hingga sampai di pintu kamar Dinda.
Dinda membuka pintu kamar lebar-lebar sehingga apa yang ada di dalam bisa terlihat dengan jelas dari luar.
Yoni masuk, saat berdiri di pintu kamar yang dilihat adalah Raya kakaknya, lalu terdengar suara lembut yang mengalihkan pandangannya.
"Yoyo..." panggil Naya. Dan, Yoni seperti terkejut melihat siapa yang memanggilnya. Saat itu ia berdiri di dekat pintu.
"Huwaa..." Yoni mengeluarkan tangisannya sambil menghamburkan diri dalam pelukan Naya.
Naya merentangkan tangannya dan membalas memeluk dengan hangat, penuh kasih sayang. Biar bagaimanapun, Naya adalah orang asing pertama dan satu-satunya yang tidak membuat fhobianya kambuh. Air mata Naya ikut menangis, karena anak itu juga menangis, dan tetap memeluknya, sampai Yoni melepaskan pelukannya sendiri.
Semua yang ada di sana menatap heran, biasanya orang yang saling menyayangi dan merindu dalam waktu yang cukup lama, akan bereaksi seperti ini. Apakah itu artinya bahwa Yoni sudah merindukan naya selama ini? Padahal pertemuan kedekatan mereka dulu, tidak selama saat mereka di pisahkan oleh takdir.
Naya mengendurkan pelukannya saat tangisan Yoni sudah mereda. Ia membawa Yoni dalam pangkuannya duduk ditepi tempat tidur. Ia menghapus airmata di pipi Yoni dengan telapak tangannya.
"Apa kabar, anak baik? Sekarang sudah sekolah?" tanya Naya sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan karena tidak diikat. Rambut Yoni agak pendek karena baru dipotong. Ia terlihat lebih menggemaskan.
"Dia gak sekolah. Dasar anak manja!" kata Raya yang duduk disampingnya. Yoni segera menoleh pada Raya dan mengankat tangannya ke atas bersiap memukulnya.
"Pukul, sini pukul. Kamu sendiri yang sakit!" kata Raya sambil menjulurkan lidahnya.
"Anak baik, tangan kita di ciptakan bukan untuk memukul, yaa..." kata Naya sambil menggenggam tangan mungil itu, lembut.
"Uma, mau tidur di sini, kamu tidur sama papa galak sana!" kata Raya.
"Raya..." balas Naya lembut.
"Gak mau! Gak mau! Yoyo mau tidur sama tante.!" kata Yoni sambil memeluk Naya erat.
Yoni melingkarkan tangan mungilnya ke leher Naya, seolah enggan dilepaskan dari pelukannya. Naya mengiyakan keinginan Yoni sambil menciumi seluruh wajah polos itu dengan ekspresi gemas. Menidurkan tubuh kecil itu tanpa melepas pelukannya, dan ikut berbaring di sampingnya. Lalu mereka bertiga seperti sebuah keluarga kecil yang sangat suka berceloteh kesana kemari.
Sementara di luar, di sisi pintu kamar, Dinda menyaksikan semua yang terjadi antara keponakannya dan sahabatnya. Ia yang awalnya tak percaya, kini menatap takjub.
Dan juga, ada seorang pria yang berdiri di sana, melihat sesuatu, yang tidak ia duga sebelumnya. Ia tidak sadar sudah menitikkan airmata, tapi dengan segera ia menghapusnya. Airmata itu mungkin dipicu oleh perasaan hangat dan terharu yang muncul tiba-tiba. Hati dan pikirannya seolah-olah terbawa oleh keadaan yang menyadarkan, bahwa takdir sudah menyedotnya kedalam sebuah pusaran yang yang akan lebih sulit ia lepaskan
Rasti bersandar dengan memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup lebih kencang. Ia tersenyum puas, tatapan matanya menunjukkan kelegaan hati, mengurai benang kusut diotaknya yang bingung mencarikan jodoh buat anaknya.
"Ares. Apa Naya adalah orang yang membuat Raya berbohong, dan naya menginap di rumah wanita ini?" tanya Rasti.
Ares mengangguk.
"Apa wanita ini juga yang dulu pernah ketemu sama mama?"
__ADS_1
Ares mengangguk.
"Apa kamu menyukainya?"