Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 5. Menikahinya 1


__ADS_3

"Jangan panggil tante dengan nama itu" kata Ares sambil menyuapi Yoni makan dari piringnya.


"Kenapa?" tanya Yoni dengan nada manja khas anak kecil, menatap papanya dengan tatapan mata penuh tanya.


"Kita bukan orang Korea"


"Kita orang apa, papah?" tanya Yoni sambil menunyah.


"Kita orang beriman, kita orang Islam" jawab Ares tenang.


"Hmm..." Yoni menanggapi dengan acuh tak acuh, masih meneruskan makannya.


"Kata kakak...Yoni mah bilangnya, itu bagus. Kan kakak yang bilangnya juga..." kata Yoni lagi membela diri dengan kalimat yang rancu.


Wajah manisnya cemberut mengalihkan pandangan berkeliling, mencari keberadaan Naya.


"Gak ada, tantenya juga. Tante... Mana tante Yoni?"


'Itu bukan tantemu' Ares.


"Tantenya kerja, jangan menganggu, ya?"


Kembali Yoni mengedarkan pandangan. Sepertinya anak kecil itu tidak percaya dengan papanya. Entah ikatan apa yang muncul diantara anak dan orang yang asing baginya, seperti Naya.


Tapi bagi Yoni, ini adalah sebuah kehangatan yang berbeda, ia tidak pernah dekat dengan wanita dewasa lain selain nenek dari papanya, dan dari ibunya.


Semua orang yang mengetahui phobia, yang diderita Yoni akan memilih menghindari anak kecil itu, daripada menanggung akibatnya. Tidak ada sembarang orang bisa berdekatan dengannya, walau Yoni anak yang menggemaskan.


"Ayo cepat makannya, papa mau ke kantor lagi" kata Ares kembali memasukkan sesuap nasi kemulut Yoni.


Kriing...! Terdengar suara telepon dari balik saku celana Ares. Ia segera mengangkatnya dan menerima panggilan itu dengan wajah gelisah. Bahkan lebih gelisah lagi begitu ia mengakhiri bicaranya ditelepon. Apakah ada masalah?


Kebetulan Naya melintas pada saat yang bersamaan dengan Ares yang mengakhiri panggilan di teleponnya.


"Ajumma!" kata Yoni sambil menghamburkan diri dalam pelukan Naya.


"Siapa yang ngajarin panggil tante begitu?" jawab Naya sambil berlutut. Hingga ia bisa menatap secara dekat wajah imut Yoni.


"Kak Laya" jawab Yoni.


"Kak Raya..." sahut Ares membenarkan ucapan Yoni karena masih cadel.


"Oh, kak Raya. Pasti kakakmu pandai bahasa Korea ya? Itu artinya tante." kata Naya sambil tertawa kecil. Mengingat ia juga suka nonton drama Korea ditelevisi.


"Panggil tante saja ..." kata Naya sambil mencubit kecil pipi Yoni.

__ADS_1


"Maaf, bisa saya titip Yoni sebentar?" tanya Ares mengalihkan atensi Naya.


"Eh. Maksudnya gimana ya, pak. Tapi saya..." jawab Naya ragu, ia berdiri dan mengalihkan pandangan kearah Ares sejenak, lalu menatap kearah dapur.


"Iya, saya mengerti. Saya akan minta ijin dulu dengan bu Nha." kata Ares. PPLP


Laki-laki itu berlalu kearah ruangan sebelah tempat yang sering digunakan bu Nha untuk beristirahat dan menghabiskan waktu luangnya bersama suaminya. Ares membutuhkan bantuan Naya segera, dan ia harus memintakan izinnya, untuk Naya. Karena Naya harus meluangkan waktu kerjanya untuk menjaga anaknya.


Restoran sederhana itu cukup luas dengan beberapa sekat dari tembok rendah, setinggi dada manusia dewasa. Dikarenakan dulunya hanyalah rumah pribadi bu Nha, yang kemudian diperluas sesuai dengan berkembangnya restoran itu hingga menjadi sebesar ini.


Rumah pribadi pemilik restoran yang menyatu dengan tempat usahanya itu, mempermudah bila ada keperluan dengan pemilik restorannya.


Naya melihat kearah ruang sebelah, tampak Ares sedang bercakap-cakap dengan bu Nha dan suaminya. Mereka tampak akrab, bahkan percakapan mereka diselingi canda tawa.


Tak lama kemudian Ares kembali menemui Yoni dan Naya.


"Yoni, kamu disini dulu sama tante Naya, ya ... Papa ada perlu keluar sebentar. Papa gak bisa bawa Yoni kesana," kata Ares pada Yoni, ia berjongkok sambil mengusap-usap punggung anaknya.


Yoni sudah tampak mencebikkan bibirnya hampir menangis. Tapi Naya segera menggendongnya.


"Sama tante ya? Sudah ijinkan saya kan, pak?" tanya Naya menoleh pada Ares sekilas. Ia benar-benar menjaga pandangannya, dari laki-laki yang bukan muhrimnya.


Ares mengangguk.


"Maaf, ya. Saya jadi merepotkan" kata Ares sungkan. Ia pun meenatap Naya sekilas.


Ia membawa Yoni duduk disalah satu meja berbentuk bundar, di sudut ruangan. Lalu melepaskan tas kecil dari punggungnya, dan menyimpan tas berisi perlengkapan kebutuhan Yoni disana.


Yoni tampak tenang, tapi masih melihat kepergian papanya, dengan tatapan tak terima kalau dirinya ditinggalkan.


Kedua manusia itupun asyik bermain dan bercerita, hingga lebih dari satu jam lamanya. Anak kecil itu terlihat mengantuk. Naya mencoba menidurkannya dalam pangkuannya.


"Anak pak Ares, akhirnya tidur juga" kata bu Nha, yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


"Bude kenal ya, sama papanya Yoni. Kok keliatannya akrab?" tanya Naya.


"Kenal. Dia kerja kontak di perusahaan Mitra Air Bersih yang di jalan sebrang, di jalan Sudirman."


"Oh." jawab Naya ambigu.


"Cuma, oh. Gak penasaran, kamu Nay. Orangnya ganteng kan?"


"Bude, saya ini masih punya suami. Gak berminat sama laki-laki lain, ganteng atau tidak, gak ada pengaruhnya. Kecuali artis." kata Naya sambil tertawa.


"Aku juga punya suami, tapi ya tetep aku bilang pak Ares itu ganteng. Duda lagi"

__ADS_1


"Terus, buat apa tau, soal dia duda atau bukan, bude? Gak ada gunanya juga lah."


"Kamu ini, Nay. Gak punya niat apa balas suamimu. Dia udah nyia-nyiain perempuan sebaik kamu."


"Balas apanya, bude? Kak Rudian itu gak berbuat macam-macam kok. Kenapa harus di balas?"


'Oh, jadi Naya masih belum tau kebenarannya. Pandai Rudian menyembunyikan perempuan jak lang itu' Bu Nha.


"Iya si. Kalau perbuatannya baik, ya dibalas dengan baik juga. Kamu ini polos banget ya Nay," kata bu Nha.


Sepertinya wanita itu tahu sesuatu. Ia kenal dengan keluarga Sarita, karena ibu mertua Naya itu adalah temannya, jadi wajar kalau ia tahu tentang keluarganya.


Kring...! Suara ponsel Naya berbunyi mengagetkan mereka berdua.


Naya segera mengangkatnya agar tidak membangunkan Yoni. Ia melihat ID yang melakukan panggilan, itu panggilan dari Rudian.


"Halo, Kanda?" sapa Naya setelah menempelkan telepon ditelinga, suaminya yang menghubunginya. Sedang bu Nha beranjak meninggalkannya.


"Hari ini aku gak kerja lagi. Masih demo. Jadi masih mogok kerja" kata Rudian dari balik telpon.


"Oh, jadi sampai kapan demo terus?"


"Mana kutahu. Oh iya, cepat pulang. Nanti ibu mau mampir ke rumah, jadi jangan lupa bawa makanan sekalian, kita makan malam bersama mumpung ada ibu."


"Iya, Nda. Tapi jemput aku ya, Jam tiga siang"


Telepon ditutup setelah Rudian menyanggupi untuk menjemput Naya.


Hari sudah cukup siang, jam makan siang sudah tiba. Suasana restoran sudah mulai ramai. Naya masih duduk di meja yang terdekat dengan dapur. Tangannya sudah terasa agak pegal, karena ada Yoni dalam pangkuannya. Tubuh Yoni yang montok terasa lebih berar saat tidur.


"Maaf, ya. Saya lama" kata Ares tiba-tiba datang dari arah belakang Naya.


Setelah menegur Naya seperti itu, Ares berlalu dari sana. Ia membawa satu buah paper bag, berjalan kearah bu Nha yang duduk dimeja kasir, menyerahkan tas itu padanya. Lalu kembali mendekati Naya.


"Apa Yoni rewel?" tanyanya sambil membereskan tas Yoni.


"Tidak, dari tadi main terus dan mewarnai. Tadi sudah minum susu, terus tidur" kata Naya menjelaskan.


"Terimakasih, saya tadi meninjau dilapangan, ada masalah. Jadi repot kalau harus bawa Yoni." kata Ares.


Yoni terbamgun, mendengar suara papanya. Anak kecil itu merengek sebentar dan merentangkan tangan minta digendong papanya. Wajahnya masih lesu dan masih terlihat mengantuk. Ares membawa Yoni dalam gendongannya. Lalu pamit setelah mengucapkan terimakasih pada Naya. Ia harus segera kembali ke kantor.


Naya tidak lagi memikirkan Yoni, ia kembali fokus bekerja melayani pembeli yang mulai ramai memenuhi restoran. Para pelanggannya lebih banyak para pegawai pabrik dan kantor juga para pekerja lainnya. Restoran itu dekat dengan lingkungan perusahaan dan juga perkantoran serta swalayan besar. Tempat yang strategis untuk memenuhi kebutuhan makan siang.


Sementara Ares menuju tempat parkir sambil menggendong Yoni.

__ADS_1


'Ya Allah seandainya ada wanita seperti dia yang bisa selalu menjaga anakku seperti tadi'


Bersambung


__ADS_2