Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 102. Kak Fanan


__ADS_3

Naya kembali tertidur setelah menyimpan ponselnya. Sementara Ares masih terdiam dengan pikirannya, ia membaringkan tubuhnya telentang, dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal di bawah kepalanya.


Iya masih memikirkan bagaimana Naya akan pulang besok, ke kota Hujan. Mau tidak mau Naya harus memenuhi panggilan itu, pergi ke rumah lamanya saat ia masih menjadi istri Rudian. Mereka membutuhkan tanda tangan Naya untuk menandatangani kwitansi, yang akan digunakan sebagai tanda bukti pembayaran rumah Rudian yang sekarang sudah terjual.


Bastian menelpon, menghubungi Naya, hanya untuk mengabarkan bahwa Yola, sudah menikah beberapa bulan yang lalu, dan rumah peninggalan itu sekarang sudah terjual. Besok adalah hari pembayarannya. Orang yang membeli rumah itu, menginginkan tanda tangan kwitansi dilakukan oleh Naya dan Yola. Yang merupakan dua istri pewarisnya, ia tidak ingin terjadi masalah di kemudian hari, mengingat rumah itu adalah peninggalan Rudian yang memiliki dua istri sebelumnya.


Keinginan orang ini masuk akal juga, karena ia orang yang terlalu hati-hati, padahal tidak seharusnya seperti itu. Berjaga-jaga dari konflik dan sengketa dikemudian hari itu perlu, kan?


Yang Ares pikirkan adalah, bagaimana Ia akan melepas Naya besok? Wanita itu baru saja dinikahinya, dan harus pergi jauh, sedangkan ia tidak bisa menemaninya, karena Yoni juga masih sakit. Laki-laki itu berulang kali menarik nafas dalam. Ia tidak mungkin melarangnya, karena sama saja dengan memutuskan hak Naya untuk mendapatkan bagian dari bekas rumah suaminya.


Manusia tidak punya hak untuk memutuskan hak orang lain. Semua yang menjadi kewajiban kita, akan menjadi hak bagi orang lain, sementara hak kita akan menjadi kewajiban bagi orang lain.


Ares tidak mengantuk, karena masih memikirkan istrinya. Ia memiringkan tubuhnya, menghadap Naya yang sudah memejamkan matanya sejak tadi, dengan posisi meringkuk disisinya.


"Kau tahu, Nay. Sudah berapa banyak aku berdo'a walaupun aku tidak tahu, kapan do'aku memiliki jawabannya. Tapi aku tidak perduli dan aku tetap menyebutmu. Kadang aku cape, aku juga pernah bosan. Karena setiap kali dalam sehari aku mengulang do'a yang sama."


Ares berkata lirih, sambil mengusap pipi Naya dengan lembut, ia kembali berkata walaupun ia tahu Naya tidak akan mendengarnya.


"Waktu aku pertama kali lihat kamu ada di sini, Nay. jujur aku nangis, aku berharap mataku gak salah lihat. Tau nggak Nay, aku sering lewat di jalan yang sama mudah-mudahan dipertemukan lagi sama kamu. Tapi aku ketawa, waktu aku tahu ternyata kamu kerja di kantin itu. Aku cari-cari kamu kemanapun setelah terakhir kali aku ketemu kamu, ternyata kamu ada di sini. Yang paling senang itu, waktu aku tahu kamu sudah sendiri. Nay, kamu boleh bilang aku jahat. Aku memang bukan laki-laki baik, seperti yang mungkin kamu harapkan."


"Uh ... " Tiba-tiba Naya bergumam halus dalam tidurnya, sambil merubah posisi tubuhnya. Kini ia membelakang suamiinya.


Tangan Ares terulur, melingkarkannya di pinggang Naya dan menarik tubuhnya hingga menempel padanya.


"Aku mencintaimu, Nay. Kerena itu aku tidak pernah berhenti mendo'akanmu."


Ares bermonolog dalam hatinya.


Mungkin dirinya dan Naya dahulu adalah orang yang tidak ada dalam angan, tidak saling kenal. Hingga suatu saat mereka bertemu, menyentuh dengan hati dan lama kelamaan menjadi sosok yang diharapkan kabarnya, kasih sayangnya dan kemudian cintanya.


Kadang ada saja yang membuat iri hati orang yang sudah mencintai dengan sepenuh hati. Iri pada sesuatu yang bisa bebas menghabiskan waktu bersamanya. Sedangkan ia tidak. Ya, itu dulu sebelum ia menikahinya. Laki-laki itu iri pada apa dan siapapun yang bisa bebas menikmati waktu bersama Naya!


Anehnya, itulah ketulusan perasaan seseorang, yang selalu mengharapkan, dan juga mendo'akan, walaupun ia bukanlah siapa-siapa bagi orang yang dido'akannya.


"Hiiks hiiks hiiks... " lamat-lamat terdengar suara tangisan Yoni yang bermimpi atau ada yang terasa sakit pada tubuhnya.


Ares yang belum tertidur pun segera menghampiri Yoni dan mengusap-usap punggungnya, membenarkan letak tangan yang masih tersambung dengan selang infus.


Tapi anak itu masih menangis pelan, hingga beberapa saat membuat Naya kemudian terbangun. Ia membuka matanya dan menggeliat perlahan dengan mengembalikan seluruh nyawanya.


'Maasyaa Allah iya, aku ada di rumah sakit sekarang, dan aku sudah ... pak Ares, mana dia?'


Naya berbalik sambil meraba sisi kosong di sebelahnya. Seketika sadar, tatapan matanya sudah bertemu dengan sorot mata teduh Ares yang masih memangku Yoni di atas tempat tidurnya.


Naya bangkit dari karpet dan mendekati Ares sambil berkata, "Sini, pak. Biar sama saya." ia akan meraih Yoni.


"Gak, usah tidur saja sana."


"Bapak belum tidur. Gak ngantuk, apa?"


"Bapak, bapak. Sama orang lain bisa panggil kakak, bisa panggil apa gitu. Sama suami sendiri panggil bapak." Ares berkata sambil mencebik.


Naya tersenyum malu-malu, sambil membenahi kerudungnya, ia duduk di samping Ares, menatap suaminya lembut, sambil berkata, "Kak Fanan ... Apa gak ngantuk?"


Ares mengerjabkan mata lalu tersenyum, membalas Naya dengan anggukan kepala. Ia senang Naya memanggil dengan nama hijrahnya. Tidak ada yang memanggilnya dengan nama itu.


"Ya sudah. Kalau ngantuk, tidur saja. Biar saya yang jaga Yoni." Naya berkata lagi.


Ares menggeleng.


"Kenapa?" Tanya Naya.


"Gak apa-apa. Kamu istirahat saja. Besok kan mau pergi."


"Oh iya. Besok mungkin saya bareng sama ayah. Jarak rumah ayah dari sana hanya satu jam perjalanan."


"Ya. Aku juga berfikir begitu. Besok aku juga cuti. Jadi bisa nunggu Yoni seharian."

__ADS_1


"Alhamdulillah, berarti urusan kita dimudahkan oleh Allah."


"Iya. Tapi aku gak bisa ngantarin kamu. Gak apa?"


"Gak apa." Naya melempar senyum sejenak. Tapi sesaat kemudian ia memalingkan wajahnya, mengerjabkan mata menahan air matanya yang hendak jatuh.


'Ya, Allah. Kenapa si aku masih seperti ini setiap kali melihat dia, padahal aku sudah tidak lagi sedih seperti dulu. Tapi perasaan ini, aah ... Benarkah dia sekarang sudah jadi suamiku, dan aku sekarang istrinya...? Maasyaa Allah aku punya suami lagi sekarang...!'


Rasa syukur yang lebih mendominasi dalam hati Naya, tapi ada juga rasa tidak percaya. Ia kemudian terkejut, karena tiba-tiba kepala Ares berada di pundaknya, wajahnya sangat dekat dengan wajah Naya ketika Naya kembali menatapnya.


"Kenapa, kamu gak sedih lagi kan, kalau lihat aku?" Ares bertanya, sambil mengerjapkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam.


Naya menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban.


Ia memang tidak lagi bersedih. Ia sudah berfikir sebaliknya, merubah cara pandang dan pola pikirnya dengan berfikir positif atau khusnuzdon pada setiap keadaan. Ia sudah berhasil menerapkan nasehat seorang ustadz yang menasehati dengan cara yang berbeda. Yang tidak hanya mengatakan tentang ikhlas, sabar dan syukur. Tapi memberi solusi dengan cara yang jelas selangkah demi selangkah, sambil terus menjadikan ikhlas, sabar dan syukur sebagai tindakan penyerta, yang tidak bisa dilepaskan dalam setiap langkahnya.


"Terus, kenapa kamu diam?" Ares kembali bertanya.


'Ya, saya harus ngomong apa gitu?'


"Gak, apa-apa. Saya cuma masih belum terbiasa. Maaf."


"Nanti juga lama-lama terbiasa." kata Ares sambil mencium pipi Naya sekilas.


'Eh, ngagetin saja. Wahai diriku, jangan sok jual mahal. Kamu bukan gadis lagi, kan? Kamu wanita berpengalaman!'


Naya tidak bisa kembali tertidur, ketika ia mengabaikan Ares, yang memangku Yoni sampai benar-benar tertidur, dan itu sudah hampir menjelang subuh.


Naya menyempatkan diri menghadap Allah dan ia tetap di atas sajadahnya sambil menunggu waktu subuh.


"Sudah, sholatnya?" Ares bertanya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Naya dari belakang.


"Sudah. Tinggal nunggu subuh," jawab Naya. Ia menoleh dan menyandarkan tubuhnya di dada Ares, dan membuatnya lebih mengeratkan pelukannya.


"Jangan lama-lama ya di sana, kalau sudah selesai cepat pulang. Simpan uang bagianmu di bank. Jadi gak usah bawa uang banyak di jalan."


"Nanti, kak Fanan jemput di stasiun, ya."


"Oh. Baik."


Ketika waktu subuh sudah berganti dengan waktu dhuha yang membawa harapan lebih banyak pahala ...


Sesampainya di rumah, Naya segera membereskan pakaian yang akan dibawa, untuk Kepergiannya. Sementara Budiman dan Nuriya sudah bersiap juga. Naya memberi mereka kabar berita dari Bastian, yang ia terima semalam. Budiman masih ingat beberapa nama dari kehidupan masalalu Naya, hingga ia memaklumi.


Ares mengantarkan mereka ke Bandara dengan perasaan tidak rela. Ia bisa saja menggunakan kesempatan ini, untuk bulan madu dengan Naya. Menginap di rumah Budiman, dan pergi ke villa kakek di pantai Anyelir, lengkap sudah kebahagiaannya. Apa daya kenyataan tidak seindah bayangannya.


Ia bisa mengantarkan Naya ke bandara karena ada Dinda yang menjaga Yoni, mereka harus berganti berjaga sampai setengah hari. Mana bisa ia ikut Naya pergi. Hanya satu yang menghibur hati, Yoni sudah bisa pulang hari ini.


"Ingat, pesanku, Nay." Itu pesan Ares, saat mereka berada di kawasan bandara. Naya mengangguk, ia melambaikan tangan sambil tersenyum. Kemudian pergi. Ares melihat sampai bayangan Naya menghilang.


-


Kedatangan Naya dan keluarga kecil itu di sambut oleh Sarita dengan sangat manis. Wanita itu tidak banyak berubah setelah setahun lebih mereka tidak saling bertemu. Ia merasa heran kenapa mereka bisa datang bertandang secara bersamaan, dan juga membawa beberapa koper besar.


Budiman pun menceritakan bagaimana mereka bisa datang seperti itu, karena semua itu adalah sebuah kebetulan. Hingga Naya meminta kedua orangtuanya ini, menemaninya bersilaturami dengan Sarita dan mengurus soal rumah lamanya.


"Subhanallah, Naya ... " Sarita berkata sambil memeluk Naya untuk yang kesekian kalinya.


"Ini mungkin hadiah dari Allah atas kesabaranmu, nak. Untuk pernikahan keduamu!" kata Sarita lagi, lalu mengambil ponselnya.


"Nanti, ya. Aku telpon Yola, Biar dia cepat ke sini. Dia juga mau ketemu sama kamu," kembali Sarita berkata, dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia tidak bisa melupakan Naya, selama ini wanita itu begitu menyesali perbuatannya, pada Naya di masa lalunya. Ia sudah menyia-nyiakan banyak waktu bersama anak bungsunya, dan justru membiarkan Naya, istri yang sudah disakiti itu, yang merawat anaknya, bahkan sampai tutup usia.


Yang pantas dikatakan seperti debu yang beterbangan adalah penyesalan.


Sebenarnya waktu itu tidak ada yang memaksa Naya untuk melakukan semua pengorbanan sebesar itu. Naya sendiri tidak sadar, hingga ia rela mengambil keputusan untuk merawat Rudian, yang sudah mengabaikan dirinya.

__ADS_1


Setelah sekian waktu wanita itu merenung, dan menyadari bahwa perasaan cintalah yang telah memanggilnya. Iya, waktu itu dia masih mencintainya. Walau ia pernah hampir menyerah, apalagi setelah ia kehilangan janin kecil yang tak mau tumbuh dalam rahimnya, ia sempat merasa menjadi orang yang paling bodoh. Jangankan dirinya, orang lain juga banyak yang menyalahkannya. Tapi salahkah cintanya? Mungkin ini yang disebut cinta melemahkan logika.


Naya tersenyum menanggapi ucapan Sarita tentang Yola yang juga ingin menemuinya. Ahk... seperti apa dia sekarang? Naya sekilas mengingatkan bagaimana wanita itu seperti memaksanya untuk membuatnya merawat suaminya. Memang bila dilihat dari kacamata na*fsu, ia merasa dirugikan. Tapi ia mengambil ibroh, atau hikmah sebesar-besarnya. Mungkin hanya ia yang tahu bagaimana rasanya, dipuji oleh seorang laki-laki dewasa, yang setiap kali tersadar dan melihatnya, ia hanya akan berkata, "kamu cantik." Dan setelah berkata demikian, laki-laki itu menutup matanya lagi.


Awalnya Naya takjub, melihat bagaimana proses Rudian benar-benar melupakannya, dan semua yang berhubungan dengannya secara perlahan. Bagaimana Allah mehakuasa mengambil semua nikmat dan kemampuan


manusia tanpa bisa dicegahnya sedikitpun.


Akhirnya Naya hanya bisa tersenyum menanggapi kata-kata Rudian. Atau menjawab sekedarnya, ketika Rudian terbangun, dan Naya tengah merawatnya, maka yang ia ucapkan adalah, "maafkan aku." Naya pun menjawab, "Ya, aku memaafkanmu." Lalu laki-laki itu akan memejamkan matanya lagi.


Setiap kali ia mendengar ucapan demi ucapan seperti itu dari mulut Rudian, ia belajar mengihklaskan, hingga ia sudah tidak menangis, saat suaminya benar-benar pergi, dan matanya yang terpejam, tidak pernah terbuka kembali.


Setelah beberapa lama akhirnya datanglah orang yang dikatakan Sarita sangat ingin bertemu Naya. Ia membawa banyak barang dan juga makanan.


Yola melihat Naya dan langsung memeluk serta menangis dalam pelukannya, terus menerus meminta maaf, bahkan sampai duduk bersimpuh di kaki Naya.


"Hei, kenapa seperti ini. Bangunlah. Aku tidak marah, jadi kenapa harus minta maaf?" kata Naya.


Yola kini berubah menjadi montok, ada seorang anak yang mengikutinya di belakang. Ia sangat mirip dengan Rudian. Itu anaknya.


Yola bercerita bagaimana ia melahirkan dan membesarkan anak kecil itu dengan penuh perjuangan, penuh liku dan cobaan, ia juga mendapat cemoohan dari banyak orang, saat itu ia merasa bahwa semua yang dialaminya adalah balasan dari Allah untuk dirinya, yang sudah berbuat salah pada orang lain yaitu Naya.


Beberapa orang yang berkata kasar padanya, membuatnya tersadar bahwa, yang ia lakukan pada Naya sangat keterlaluan.


"Maafkan aku, Naya... Maaf... Waktu kamu pergi dan aku baru saja melahirkan, aku tidak sempat menceritakan semuanya. Naya, jangan dendam padaku, ya?"


"Tidak, aku tidak dendam. Lupakan rasa bersalahmu."


Setelah Yola tenang, mereka duduk bersama dan saling bertukar cerita, dan pengalaman dari banyak peristiwa, hingga Yola kembali memeluk Naya sambil mengucapkan kata selamat.


"Barokallah, Naya. Tapi, dimana suamimu?"


"Dia tidak ikut, anaknya sakit."


"Jadi kamu benar-benar bertemu lagi dengan orang, yang sudah kamu tolong waktu itu. Dan kamu menikah dengannya?"


Secara langsung Yola mengingat kejadian yang dialami Naya dan dirinya. Sungguh itu kejadian yang sangat memalukan. Bagaimana ia begitu cepat menuduh dan menganggap orang lain sama dengan dirinya. Kembali Naya meminta maaf sambil menangis.


'Rasanya dunia begitu kecil, ya?'


"Naya ... Ini." kata Yola sambil memberikan sebuah amplop pada Naya.


"Mungkin ini memang sudah jadi rezeki kamu sebagai hadiah pernikahan kamu, Nay!"


"Apa ini?" Naya bertanya sambil membuka amplop itu dan ia melihat sejumlah uang di dalamnya.


"Ini uang motormu. Aku sudah menikah. Jadi semua milik Rurian aku jual, dan kalau uang hasil jual motor ini, hakmu. Aku sudah cukup lama memakainya."


"Yola, tidak masalah kamu pakai saja. Toh, aku tidak membutuhkan itu. Kalau kau butuh ya pakai saja."


"Tidak, suamiku tidak mau lihat aku memakai semua barang dari Rudian. Jadi aku menjualnya."


"Oh, begitu. Siapa suamimu?" Naya penasaran.


"Kau pasti masih ingat, dia suamiku yang dulu."


"Apa? Jadi kamu menikah lagi sama dia?" Naya sedikit tidak percaya.


Naya mengingat pertengkaran antara Rudian dan mantan suami Naya. Lalu kini mereka kembali menikah.


"Iya. Hehe. Dia sudah berubah dan dia sudah mapan sekarang."


"Alhamdulillah. Lalu bagaimana adikmu?"


"Alhamdulillah, dia juga sudah bekerja dan menikah."


Semua menjadi jelas. Bahkan Yola mengembalikan semua barang-barang Naya, yang dulu ia tinggalkan begitu saja dirumah.

__ADS_1


'Oh, Tupe*ware-ku. Tapi alangkah repotnya aku bawa barang sebanyak ini pulang nanti. Kak Fanan, seandainya kamu di sini...'


Bersambung


__ADS_2