
"Siapa?" Tanya Ares, penuh penasaran, bahkan ia mengernyit sambil menghadap pada Naya.
"Allah," jawab Naya tenang seolah tidak baru saja menjatuhkan boom kehati laki-laki itu.
'Ya Allah. Naya! Kupikir siapa?'
Ares nampak tenang kembali, meski tadi wajahnya sempat terlihat keruh.
Setiap kali Naya akan pergi keluar rumah, maka ia akan membaca ayat kursi, selain membaca do'a keluar rumah. Bacaan ayat ini akan menjadi perisai atau tameng, yang menangkal keburukan, bagi siapapun yang membacanya.
Pernah suatu ketika ada seorang perempuan yang pulang tengah malam karena ia harus melakukan lembur dalam pekerjaannya. Wanita berjilbab itu memiliki rumah yang melewati sebuah gang yang cukup rawan. Benar saja ketika ia hendak memasuki area rumahnya, ia melihat sekumpulan pemuda jalanan yang sedang mabuk. Hingga ia merasa sedikit takut. Tapi perempuan itu menenangkan diri dengan mengingat Allah, dan membaca ayat kursi, terus menerus. Hingga ia lewat di depan para pemuda itu, dengan lancar tanpa gangguan sedikit pun dari mereka.
Keesokan harinya, tersiarlah kabar yang menghebohkan, telah terjadi sebuah kejahatan di tempat itu. Dalam berita itu dikatakan bahwa ada seorang wanita yang mati terbunuh secara mengenaskan setelah dipaksa melayani na**u bejat para pemuda. Tentu saja berita itu mengejutkan hati perempuan berjilbab, yang semalam melewati tempat yang sama.
Hingga suatu ketika, semua pemuda yang menjadi pelaku kejahatan tertangkap. Perempuan berjilbab yang pernah bertemu dengan mereka, datang ke penjara, tempat para pemuda itu ditahan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Perempuan itu menanyakan mengapa mereka melakukan perbuatan keji seperti itu, dan ia adalah wanita yang juga melewati tempat yang sama. Jawaban dari para pemuda itu sangat mengejutkan, mereka saat itu tidak berani mengganggunya, karena mereka melihat ada dua orang yang berpakaian serba putih, bertubuh tinggi beaar, yang berjalan bersama perempuan. Padahal saat itu perempuan berjilbab, tidak melihat siapapun yang berjalan bersamanya. Yaa, bisa jadi ini adalah berkah dari bacaan ayat kursi.
Tiba-tiba Yoni kembali bersuara, "Ummaa.." Yoni memanggil Naya sambil merengek. Anak kecil itu menggantungkan kedua tangannya diudara kearah Naya. Menunjukkan keinginan untuk dipangku.
"Pak, turunin Yoni dulu." kata Naya sambil menepuk tempat tidur.
"Kenapa?"
"Ya. Mau saya gendong lah."
"Ini." jawab Ares sambil mendekati Naya dan mengasongkan tubuh Yoni di hadapan Naya.
"Eh ..." Naya mundur selangkah, menghindari kontak yang teramat dekat dengan Ares.
Laki-laki itu menarik sudut bibirnya, lalu menaruh anaknya di tempat tidur, dan menjauh dari sana. Naya langsung memeluknya.
"Kenapa nangis? Hmm...Gak ngompol kan?"
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Wah, pinter sekali. Ayo, mau makan?"
Yoni menggeleng lagi. Badannya masih panas tinggi, kemungkinan masih belum ada nafsu makan. Naya terus berceloteh membujuknya makan, karena pihak rumah sakit sudah mengantarkan sarapan untuk semua pasien pagi ini.
"Kasian, anak sholehah ini, yang mana yang sakit, sayang?" tanya Naya, dan Yoni menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang diperban.
Setelah cukup lama berceloteh dengan Yoni, dan berhasil membuat anak itu makan walaupun hanya sedikit, Naya menengok kebelakang. Ia melihat Ares duduk tak jauh dari mereka. Ia baru sadar kalau Ares sedari tadi mengamati interaksi antara dirinya dan Yoni, walaupun ia terlihat menyibukkan diri dengan ponselnya. Naya meninggalkan Yoni sejenak di tempat tidurnya dan mendekati meja kecil di samping tempat tidur, lalu membuka bekal makanannya.
"Pak, mau berangkat kerja?" tanya Naya tanpa melihat pada yang ditanya.
"Hmm..." Ares bergumam.
"Sarapan dulu, Pak." kata Naya lagi.
"Hmm..."
"Silahkan, Pak. Saya bawa sedikit makanan kalau bapak mau makan."
"Kenapa kamu gak jawab telepon saya?" Ares balik bertanya.
'Eh, orang ini ngagetin saja'
Naya menghentikan kegiatannya, menghela nafas dalam, sambil menoleh pada orang yang bertanya.
"Maaf. Semalam, hp-saya silent. Jadi saya tidak dengar kalau ada telepon, terus hp saya mati,"
Naya semalam sempat melihat ada banyak panggilan dari Ares pada ponselnya, tapi iya sengaja tidak menghubungi Ares kembali untuk menanyakan keperluannya, karena ia langsung mengisi daya pada ponselnya, hingga pagi tadi. Naya belum sempat untuk melihat kembali isi ponselnya, karena iya terlalu sibuk memasak menyiapkan diri, untuk pergi menjaga Yuni hari ini.
"Oh, jadi gak ada niat telepon balik saya?"
__ADS_1
"Ada apa bapak menelpon saya?"
Mendengar pertanyaan Naya, Ares mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wanita ini seperti sedang mengujinya.
'Naya. Kamu harusnya gak usah tanya lagi lah. Masa sih kamu lupa? Yang benar saja'
"Ya kamu tanya apa sama aku?"
Kini mereka berdiri berhadapan, dan Naya berkata, "maafkan saya, pak."
Ares memalingkan muka sambil tersenyum masam dengan kalimat yang keluar dari mulut Naya. Dan mengusap tengkuknya.
'Kamu minta maaf buat apa? Jangan bilang kamu mau mengalihkan pembicaraan'
"Iya, baik. Kamu saya maafkan. Lalu?" kata Ares sedikit tenang.
"Bapak gak tanya saya, minta maaf untuk apa?"
'Ya Allah, dia ini benar-benar menguji kesabaranku. Kamu ini belum jadi istriku sudah ngeselin begini'
"Ya. Apa ada kesalahanmu yang harus aku maafkan?"
"Ada. Tapi, Pak. Sekarang sudah hampir jam delapan. Apa bapak nanti gak terlambat?"
'Astaghfirullahal'adziim... Naya!'
"Aku sudah izin datang terlambat ke proyek, hari ini."
"Oh," kata Naya maklum. Ia kembali mendekati Yoni, duduk di sisi tempat tidur, karena Yoni kembali merengek.
Naya sudah menyiapkan sarapan diatas meja kecil. Kalaupun Ares mau makan atau tidak, itu terserah padanya. Ia merengkuh tubuh Yoni dalam pangkuannya agar bocah itu tenang. Masih ada selang infus di tangannya, hingga ia harus berhati-hati melakukannya.
"Pak, waktunya Yoni minum obat, kan? Mana obatnya? Dia sudah makan sedikit. Tapi lumayan."
"Alhamdulillah, anak hebat! Mau minum obat." kata Naya sambil bertepuk tangan. Ares juga ikut tersenyum melihat kedua perempuan di depannya.
"Sekarang sudah makan, sudah minum obat, jadi sekarang istirahat, ya... Tidur lagi."
Yoni menolak untuk tidur, tapi ia cukup tenang berbaring dengan Naya yang mengusap-usap punggungnya. Anak itu terlihat cukup lelah karena sakit disekujur tubuhnya.
Pikiran Naya terbagi pada dua arah, Ares dan Yoni.
"Gimana si, Pak. Kok Yoni bisa jatuh?"
'Soalnya kamu gak ada, Nay'
"Ya, itu kecelakaan. Aku gak tau gimana kejadiannya. Aku cuma di kasih tahu Yoni jatuh, waktu aku lihat dia sudah _ _ " Ares berkata dengan terputus, suaranya seperti tercekat di tenggorokan.
Tiba-tiba ia ingat keadaan di mana ia menemukan Yoni, yang bersimbah darah, sama dengan keadaan ketika ia menemukan istrinya di rumah sakit.
Naya melihat perubahan pada wajah Ares, dan ia juga teringat kisah kematian Nindy, yang diceritakan Dinda padanya waktu itu. Hingga ia mengalihkan pembicaraan pada hal yang lain. Ia hanya tahu sedikit kejadian jatuhnya Yoni dari Dinda, ia sebenarnya ingin mendengar sendiri dari Ares, tapi karena melihat wajah Ares yang tiba-tiba berubah, ia membatalkan keingintahuannya.
"Pak, bapak gak apa-apa? Pak, Yoni boleh makan buah-buahan, gak. Soalnya saya bawa jeruk." Kata Naya sambil mengeluarkan beberapa buah jeruk dari dalam tasnya.
Ares melirik apa yang Naya lakukan, hatinya menjadi hangat, hingga ingatan tentang istrinya menghilang. Ia berdiri di pinggir bangsal Yoni, dan menatap Naya yang masih mengupas jeruk.
"Sekarang, katakan dimana rumah orang tuamu. Aku akan datang kesana secepatnya."
"Kan Yoni masih sakit." Naya terlihat ksal. Ia enggan membahas isi pesannya.
Saat ia datang tadi, ia tidak menginginkan Ares yang ada di kamar rawat inap Yoni, karena ia sangat malas membahas hal ini.
'Ck! Apa hubungannya sama Yoni, si? Ini urusan kita'
__ADS_1
"Aku ke rumah orang tuamu sendiri. Kamu di sini jagain Yoni."
Mendengar kata-kata Ares, Naya terhenyak tanpa suara. Ia hampir tidak percaya kalau pria yang satu ini akan secepat itu bereaksi tanpa berpikir panjang.
"Kalau saya gak mau jagain Yoni, gimana?"
"Berarti kamu gak serius dengan maksud pesan kamu itu."
'Eh, kenapa jadi begini si?'
"Jadi bapak mau nekat kesana, rumah orang tua saya jauh, Pak. Masa sih, anak sakit ditinggalin. Tega banget bapak jadi papanya."
"Kan untuk kebaikan anaknya juga."
Naya tertawa kecil mendengar penuturan Ares yang menurutnya tergesa-gesa. Tapi Ares berpikir sebaliknya, karena kepergiannya bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk anaknya, agar mereka lebih terjaga, dan mudah mengatur segala urusan jika ada seorang ibu di rumah yang mengurus anak-anaknya. Bahkan lebih cepat lebih baik.
"Pak, pikir dulu kesembuhan Yoni, bukannya mikir buat pergi-pergi."
'Ya ini juga buat Yoni kamu pikir buat siapa memangnya? Bahkan kalau bisa kita nikah saat ini juga, jadi kalau Yoni nanti pulang dari rumah sakit ada yang jaga!'
"Sekarang ..." kata Ares mendekati Naya, sangat dekat sampai ia menundukkan kepala menatap Naya yang duduk di sisi tempat tidur. Naya memundurkan badannya, canggung.
Lalu ia melanjutkan ucapannya, "aku yang mau tanya sama kamu. Apa maksud pesan kamu waktu itu ... ?"
Naya tidak menjawab, ia beringsut menjauhi Ares sambil menyimpan jeruk di tangannya. Takut.
Ares kembali berkata, "apa itu artinya, kamu mau jadi istriku?"
"Saya gak bilang kalau saya mau jadi istri bapak."
"Lalu, apa maksudnya?"
"Pak, soal pesan saya waktu itu... Saya minta maaf kalau sudah membuat bapak tersinggung, tapi sebenarnya masalah itu hanya..."
"Hanya apa, hmm...?"
"Saya cuma siap jadi ibunya anak-anak."
'Astaghfirullahaladzim... Itu sama saja, Nay!'
"Iya. Jadi istriku itu otomatis jadi ibunya anak-anak kan!"
'Ih, kalau bisa sih, gak harus jadi istri bapak'
"Iya, si, Pak. Tapi kan _ _ "
"Apa?" Ares bertanya sambil membasahi bibirnya, kalau boleh mungkin ia sudah mencengkram dagunya, atau mencubit pipinya.
'Gak sabar nih orang'
"Sebenter..." Kata Naya sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu membuka layarnya dan mengetik beberapa pesan.
"Sudah, pak," kata Naya.
"Sudah apanya?"
Ting!
Bunyi dering ponsel tanda pesan masuk di smar phone milik Ares. Laki-laki itu membuka aplikasi chat pada ponselnya dan ada pesan dari Naya yang mengirimkan nomor ponsel ayahnya.
"Itu, nomor ayah. Kalau bapak mau tahu dimana rumahnya, bapak bisa telepon ayah saya langsung dan minta share lokasinya."
"Kamu juga sudah kirim nomorku, dan kenalin aku ke orang tuamu?"
__ADS_1
Bersambung