
Mendengar suara itu, Naya menoleh sebentar, kemudian ia kembali sibuak dengan pekerjaan membuat kue. Seperti biasanya, ia hanya menganggap ke beradaan Ares seperti udara. Apalagi hari ini, ia kesal dengan laki-laki itu yang membawanya ke rumah semaunya.
Tapi apa dayanya sekarang di sini, menginap di rumah ini bukanlah keinginan dan bukan kebutuhannya. Ia mau pulang.
"Bikin kue. Papa mau?" tanya Raya.
"Kue, apa?" Ares disana bersandar di pintu dapur, sambil melipat kedua tangan didepan dada. Tapi Raya mengusirnya.
"Sudah, papa tidur saja sana. Jangan ganggu para wanita." kata Raya sambil mendorong tubuh papanya menjauh dari dapur.
Dengan berat hati Ares pergi meninggalkan Naya dan Raya yang sibuk di dapur. Naya menceritakan maksudnya membuat kue, pada Raya, ia berniat memberikan kue buatannya untuk rekannya diacara restoran bu Nha. Kue itu mudah dibuat dengan bahan-bahan yang murah meriah, hasil yang didapat juga banyak.
Beberapa kue sudah selesai dibuat, Raya menyimpannya di dalam nampan di atas meja. Hingga banyak kue yang sudah berhasil mereka buat, disusun di tempat yang sama.
"Kebetulan ya tante ada di sini. Jadi Raya bisa cicipi kue buatan tante. Kalau tante gak nginap. Udah deh, kue tante lewat!" kata Raya sambil mencicipi satu bolu kukus warna coklat.
"Alhamdulillah. Mungkin karena Allah sayang sama Raya, jadi tante terdampar di sini."
"Terdampar? Emang di sini pulau terpencil. Tante, boleh ya Raya minta buat dibawa ke sekolah?"
Mereka duduk di meja makan. Sambil menyusun kue yang sudah dingin ke dalam sebuah wadah instan yang sudah Naya siapkan.
"Boleh. Tente gak nyangka kamu suka."
"Suka, tante. Mama juga dulu suka buat, nenek juga. Makanya ada semua alat dan bahannya. Kalau nenek ada disini, pasti heboh."
"Kemana nenek. Eh, bu Rasti?"
"Pulang, biasanya cuma sepekan."
"Pulang? Lalu ini rumah siapa?" tanya Naya heran.
"Ini rumah orang. Kami mengontark di sini. Papa cuma kontrak dua tahun. Jadi tahun dengan kami akan pindah lagi."
"Kemana?"
"Gak tau. Tergantung papa. Tapi kalau aku si mau menetap di Kota Batu. Aku sudah malas pindah-pindah bareng papa. Raya jadi gak punya teman dekat. Karena selalu ganti sekolah, sejak Sekolah Dasar."
__ADS_1
"Oh, begitu. Tante mendukungmu. Cari lah sekolah yang bagus di sana. Dan Jadilah anak baik."
'Bisakah aku mengajakmu juga tante? Kamu wanita yang berbeda dengan wanita yang dekat dengan papa. Yoni juga tidak masalah bersama tante. Cuma tante yang ku anggap bisa menjadi ibu tiriku. Tapi entah bagaimana dengan papa, tapi sepertinya, papa juga suka dengan tante. Aku tahu tante ada masalah dengan suami tante, tapi papaku bukan pebinor, kan? ahk...'
"Tentu tante." sahut Raya sambil menyuap kue terakhir kemulutnya. Ia mulai menguap.
"Kamu sudah ngantuk, tidur sana. Jangan lupa cuci kaki dan gosok gigi." kata Naya. Raya hanya mengangguk, nyatanya ia masih di sana menemani Naya.
Setelah mereka berdua selesai menyusun semua kue, mereka berdua pergi ke kamar untuk tidur bersama dengan Yoni. Karena tidur di rumah yang asing baginya, Naya tidak melepaskan jilbabnya, sampai ia terlelap.
Sudah hampir tengah malam, ketika terdengar suara ponsel Naya berbunyi. Ia mengangkat telepon itu dengan mata yang setengah terbuka.
"Eu...halo." kata Naya dengan suara malas. Ia ambil duduk di sisi ranjang. Terdengar suara dibalik telepon seperti nada marah.
"Naya! Kamu ini apa-apaan si. Enek saja nginap di rumah teman. Teman siapa?" itu suara Rudian. Suaminya yang menelpon.
"Ya, teman aku kan banyak, Nda. Jadi aku boleh kan sekali-sekali nginap." jawab Naya kini mulai sepenuhnya sadar. Rasa kantuknya hilang entah kemana. Ia berjalan keluar kamar anak-anak khawatir mengganggu tidur mereka.
"Tahu, gak. Yola sakit, masuk angin. Harusnya kamu di rumah, bantuin masak, jadi aku gak harus keluar ninggalin dia sendiri, harus cari makan malam." kata suara dari telepon.
'Eh, itu urusan anda, kanda. Apa susahnya si, cari makan diluar. Apa harus aku juga?'
Mendengar suara ribut diluar, Ares keluar. Ia melihat Naya sambil bersandar di sisi pintu kamarnya yang setengah terbuka.
"Gara-gara kamu. Kalau kamu gak bikin ribut tadi, dia gak bakal kehujanan, kan?" kata Rudian dari telepon.
"Kanda, apa maksudnya sampe nyalahin aku, si? Ya mungkin memang Yola masih dapat ujian kesabaran dari Allah, dikasih sakit." kata Naya sambil menahan sesak diulu hatinya.
Sakit rasanya disalah kan seperti ini. Kalau ada masalah, maka sebaiknya jangan menyalahkan orang lain, tapi cari sebabnya lalu selesaikan urusannya. Kalau setiap kali ada masalah kemudian manusia hanya menyalahkan manusia lainnya, maka masalah tidak akan cepat selesai.
"Kamu ini, enak saja bilang ujian, ujian. Yola kan lagi hamil, kalau nanti ada apa-apa sama dia gimana anak aku."
Mendengar perkataan suaminya, Naya terdiam, airmata tidak bisa ia bendung hingga ia menahan sekuat tenaga. Ia terduduk dengan membenamkan wajah pada kedua lututnya. Pemandangan yang kemarin sore dihalaman toserba kembali terjadi. Hanya pundaknya yang terlihat terguncang karena tangisan.
"Naya! Naya! Kamu dengar gak? Besok kamu harus pulang ya?"
Setelah bisa menenangkan diri, Naya berkata lagi dengan suara yang sedikit bergetar.
__ADS_1
"Kanda, bukan salahku Yola sakit. Mungkin sakit itu biar banyak istigfar dan istirahat. Gak usah kerja dulu." jawab Naya.
"Iya, iya. Besok pulang pagi-pagi!"
"Tapi, kanda. Aku mau langsung kerja."
"Kamu ini mulai membantah suami, ya? Kamu harus buat sarapan. Oke?"
"Tapi, Kanda..."
"Gak ada tapi-tapi. Cucian baju Yola juga sudah banyak, dia sibuk, gak sempat nguci."
"Masa sih, aku harus jadi tukang cucinya juga, Nda. Aku gak mauu!"
"Anggap saja kamu mentaati suamimu. Memangnya tidak bisa? Bukankah mentaati suami itu wajib bagi istri?"
Naya kembali terdiam. Kembali tangisannya keluar. Ia menahannya dengan tangan, agar tidak suara.
'Selama ini juga, semua pekerjaan rumah tangga yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama itu, sudah aku lakukan sendiri dengan niat mentaat suami. Ya Allah apa aku salah lagi kali ini?'
"Kanda, nyuci juga pakai mesin cuci, apa kanda gak bisa nyuciin."
"Jadi, kamu malah nyuruh suamimu? Kamu mau jadi iatri durhaka, ya! Pokoknya besok kamu harus pulang pagi-pagi!"
'Kalau cinta bukan lagi menjadi tempat untuk pulang. Maka tak ada lagi yang bisa dijadikan tempat untuk meraih impian. Semua seperti tak berharga manakala kita sudah tidak lagi seiring sejalan bahkan berbeda arah tujuan.'
Tak kuat mendengar semua kemarahan Rudian, Naya menutup ponselnya secara sepihak. Lalu ia kembali ke kamar Yoni dan Raya. Semua itu tidak tidak lepas dari tatapan Ares.
Laki-laki itu menarik nafas panjang, ia sedikit menyimpulkan dan menduga-duga saja. Tapi, dia bukan pebinor yang memanfaatkan keadaan, apalagi menggunting dalam lipatan, bukan juga orang yang memanfaatkan kesempatan ditengah kesempitan seseorang.
Ia hanya manusia biasa, dan hanya menganggap bahwa tidak ada yang ia dengar saat ini, lusa atau nanti.
-
Keesokan harinya.
"Pak, saya turun di sini saja." kata Naya ketika
__ADS_1
sudah sampai diperempatan jalan menuju rumah Naya."
"Tante gak langsung kerja?" tanya Raya dan Naya menggelelng.