Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 53. Bimbang Juga


__ADS_3

Naya melihat gelagat Yola yang mendominasi dua pria dihadapannya. Naya mendekat kearah Yola kemudian menarik tangan Yola dari lengan suaminya.


"Lepaskan, suamiku!" kata Naya lalu memegang tangan Rudian. Ia menatap Rudian jengah, menurutnya Rudian saat itu terlihat lemah, ia hanya menampakkan emosi sesaat, membuat keributan, dan melakukan kekerasan. Sungguh tidak pantas menurutnya.


"Apa, si. Dia juga suamiku!" kata Yola tak kalah keras.


"Kanda, apa kanda tidak berpikir dulu atau mencari informasi yang tepat pada wanita yang akan kanda nikahi?"


Rudian diam, ia tak menyangka Naya akan menanyakan hal itu, perbuatannya dulu memang sebuah kesalahan. Bahkan ia tahu kalau Yola adalah seorang janda setelah mereka menjalin hubungan diluar batas.


"Hei, mbak!" panggil pria itu pada Naya, "saya tau soal pernikahan mereka, itu belum genap tiga bulan dari perceraian kami."


"Kau bohong! Sekarang kamu mau merusak hubunganku? Kau memang jahat!" kata Yola sambil memukul pria itu.


"Aku tidak akan salah menghitungnya! Hubungan kita sudah berakhir!" kata Yola.


Sementara mereka bertengkar, Naya masih berdiri bimbang apakah ia akan melangkah mundur atau tetap bertahan. Bukankah seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk bertahan kalau memang sudah tidak ada yang bisa dipeejuangkan?


"Yola. Apa kau yakin?" kata Rudian mencoba memastikannya, ia tak ingin terjebak dengan kebimbangan juga, dimana anak yang dikandung Yola bukan anaknya.


"Aku yakin, bang. Aku siap kalau nanti anak ini lahir harus tes DNA, karena aku memang sudah tiga kali haid waktu pisah sama laki-laki gak bener ini!" jawab Yola.


Yola membuang muka lalu hendak beranjak tpi tangan pria itu kembali berusaha memegang tangannya dan segera Rudian menepisnya. Ia berjalan menuju rumah Sarita.


"Yola, aku benar-benar akan membeli rumah untuk kita!" kata pria itu masih berjuang mendapatkan Yola.


"Tapi aku sudah hamil anak bang Rudi. Aku tidak mau!" jawab Yola.


"Sudah pergilah!!" teriak Rudian pada laki-laki itu. Urusan Naya, nanti saja, yang penting laki-laki ini harus pergi sekarang juga. Karena orang-orang sudah semakin ramai menonton.


"Mbak, saya tidak bohong! Saya masih suaminya!" kata pria itu kini berusaha mempengaruhi Naya.


"Pergi!!" bentak Rudian lagi, "kamu tahu apa jawaban Yola, kan? Dia gak mau sama kamu!"


"Kalian orang yang gampang dibodohi wanita itu!" kata mantan suami Yola sambil menaiki motornya dan pergi.


'Apa maksudnya dibodohi?'


"Kalau memang menurut kamu Yolla tidak baik, kenapa kamu mencarinya dan kamu mau dia kembali?! Dasar orang aneh!" teriak Rudian kearah laki-laki itu yang mengacungkan tinju dari atas motornya.


"Kanda! Sekarang kanda masih yakin dengan pernikahan kedua kanda? Padahal sudah mengalami semua ini?" tanya Naya sebelum mereka kembali kedalam rumah Sarita.


"Naya, kamu jangan mikir yang tidak-tidak. Jelas-jelas Yola siap tes DNA, berarti dia gak bohong. Dan aku yakin kalau yang Yola kandung itu adalah anakku!" jawab Rudian sambil berjalan masuk.


"Kamu, kenapa Nay? Kamu mau bilang kalau anak ini bukan anak bang Rudi, biar aku bercerai, gitu?!" kata Yola setelah Naya berada di dalam rumah. Ibu dan Yola duduk berdampingan di sofa.

__ADS_1


"Yola. Jaga bicaramu. Enak saja kalau ngomong, siapa yang ingin orang lain bercerai? Cuma setan yang senang bila ada perceraian dalam rumah tangga." jawab Naya sambil duduk.


" Oh iya, Nay. Kenapa kamu bisa ada dirumah ibu? Gak bilang lagi sama aku?" tanya Rudian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


'Udah. Coba saja cek Ochat kita." jawab Naya ketus. "Aku ke sini cuma mau silaturahmi saja. Apa gak boleh?"


"Bohong kalau cuma mau silaturahmi." sahut Yola tersenyum sinis.


"Yola... apa maksudmu?" tanya Naya jengah.


'Aku malas bertengkar'


"Kamu ke sini mau cari perhatian kan sama ibu?"


"Memang apa salahnya cari perhatian sama ibu sendiri?" mendengar ucapan Naya, Yola tertawa.


"Kamu pikir aku gak tau kalau kamu udah gak sholat itu tandanya kamu haid kan? kamu mau apa lagi? Kamu dulu pernah janji sama ibu kalau kamu gak hamil dalam waktu tiga bulan, kamu akan bercerai dengan bang Rudi?"


"Wah, wah... semangat sekali kamu, ya?" kata Naya sambil mendesah pelan dan menyandarkan badannya.


'Memangnya aku bisa apa? Bagaimana bisa aku mempertahankan kanda sedang cintanya untukku tidak lagi ada?'


"Kamu sepertinya ingin segera memiliki kanda seutuhnya, ya? Ini bukti, gak ada wanita yang mau dimadu. Yang jadi madu juga belum tentu mau dimadu. Kamu kira gampang apa jadi aku?" kata Naya tampa berpaling dari Yola.


"Jangan menebak-nebak masa depan orang lain, nasibmu tidak sama dengan orang lain." sahut Sarita.


"Tapi setidaknya aku bukan pelakor, kan? Kamu yang janji sendiri!"


'Maksudku bicara waktu itu sebenarnya, ingin mengambil hati kanda biar dia mau terus bersamaku dan aku yakin Allah akan memberiku takdir terbaik. Tapi aku benar-benar tidak tahan kalau lebih lama dengan orang seperti kalian'


"Iya, Nay. Terima saja kenyataan kalau keadaan kamu itu seperti itu dan syukuri masih ada suami yang tetap mau menyayangimu, seperti Rudian," kata Sarita sambil menegakkan badannya.


'Aku juga sudah menerima semuanya, aku sadar diri siapa aku. Kalian gak usah terus-menerus bilang seperti ini'


Kata-kata dua wanita itu menyakitkan dan panas seperti petir yang menyambarnya hingga hangus.


Rudian melirik Naya yang terlihat pucat, keletihan tergambar jelas diwajahnya. Sambil mengusap punggung Naya yang ada di sampingnya, Rudian berkata,


"Sudah-sudah. Sebentar lagi maghrib. Naya, aku anggap kamu gak pernah bilang apa-apa. Kita bisa terus tinggal bareng satu rumah." kata Rudian terasa menghibur.


Naya menoleh, dan tersenyum pada suaminya dengan senyum yang sangat manis.


"Iya, aku tau maksud kanda," kata Naya sambil beranjak dari kursi dan menghampiri Sarita, lalu meraih tangannya dan menciumnya hikmat.


"Aku pamit, ya bu. Semoga bisa ketemu lagi. Maaf Naya gak bisa jadi menantu yang baik buat ibu."

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa..? Ya, Ibu juga minta maaf," kata Sarita tanpa melihat pada Naya.


"Kanda, aku pulang dulu," kata Naya sambil menyalami tangan Rudian lalu pergi keluar rumah dengan hati perih seperti disayat ribuan pedang. Sekilas ia menatap Rudian, sedikit berharap suaminya akan memberinya tumpangan, tapi ia segera menepis harapannya karena Rudian sama sekali tidak menawarkan motornya pada Naya.


'Adakah rasa sakit yang lebih sakit dari ini, diabaikan oleh suami sendiri karena wanita lain? Suami yang hanya diam melihat istrinya harus pulang naik angkutan umum sedang dia sendiri pergi dengan wanita lain?'


Naya membiarkan airmatanya jatuh walau ia sedang dijalan menunggu taxi online yang ia pesan. Air mata yang terasa panas dipipinya.. Marahnya orang yang sabar itu diam, kemudian ia tidak lagi memperdulikan.


Ia ingat sebuah kisah, ketika seorang istri nabi cemburu melihat nabi makan madu dalam satu mangkuk dengan istri yang lain disaat hari gilirannya, sampai ia memecahkan mangkuknya. Tapi apa yang dilakukan baginda Rosul apakah beliau marah dengan sikap iatrinya? Tidak.


Beliau yang mulia diam, mendengarkan semua keluh kesah istrinya sampai istrinya puas melampiaskan kecemburuan dan rasa kesalnya hilang. Setelah istrinya mendapatkan ketenangan hatinya kembali, beliau pergi sendiri ke pasar membeli sebuah mangkuk untuk mengganti mangkuk yang sudah dipecahkan istri yang lainnya.


Inilah kemuliaan nabi, hanya orang yang mulia akhlaqnya yang bisa memuliakan orang lainnya. Bukankah hal mudah bagi seorang suami apalagi seorang nabi untuk menyuruh iatrinya sendiri. Bukankah mudah tinggal memerintah saja, karena kewajiban seorang istri adalah mentaati suaminya? Tapi lihatlah beliau, karena beliau sangat menghargai istri-istrinya, beliau mengganti sendiri mangkuk yang pecah, karena ia tidak akan menyalahkan kecemburuan istrinya melainkan karena kesalahannya.


Ini hanya salah satu contoh tindakan konkrit bagaimana kesabaran menghadapi kecemburuan dan kemarahan sekaligus. Dalam hal ini nabi memberi contoh bahwa menyelesaikan masalah tidak bisa dengan emosi dan mengerti perasaan orang lain, mendengar keluh kesah orang lain adalah cara paling mudah untuk mendamaikan hati.


Yang menjadi pembuka mata hati adalah bukan dari apa yang kau katakan, melainkan dari apa yang kau dengar.


-


Naya berada dirumah, ia bangun dengan malas. Ia tidak berselera menghadapi hari ini. Rudian semalam tidak pulang, ia menginap di rumah ibu. Hingga Naya bebas dan leluasa menangis cukup lama sampai matanya bengkak.


Sebenarnya ia merasa tidak pantas menangisi semuanya. Apa si yang seharusnya ditangisi oleh wanita yang mengalami keadaan seperti dirinya? Menangisi nasib, menangisi cinta suaminya yang ia sadari sudah berpaling darinya hanya karena anak, atau menangisi takdir, atau menangisi kelemahan dirinya sendiri?


Kadang Allah memberikan manusia dsngan beberapa pilihan, hingga manusia itu yakin salah satunya benar-benar menjadi miliknya. Lalu Naya berpikir untuk mulai memilih, dan akhirnya ia memilih untuk pergi.


Naya menatap dirinya dicermin, apa ia akan berangkat bekerja dengan kondisi seperti ini? wajah yang pucat, mata sembab, hati tak semangat dan raga yang lemah karena sejak siang hari kemarin ia tak makan.


Setelah menjelang waktu duha, Naya mengirim pesan pada bu Nha,


"Bude, saya gak bisa berangkat kerja hari ini. Lagi gak enak badan."


Setelah merasa bosan karena ia biasa beraktifitas, Naya keluar rumah dengan menggunakan ojek untuk mencari sebuah tempat kos yang dekat dengan restoran dan murah harganya. Naya sudah menghitung uang gajinya selama satu bulan, maka ia han,ya bisa menyewa sebuah tempat kos dengan harga yang sesuai keuangannya saja.


Ia mencari disekitar perempatan jalan dan bertanya harga lalu pergi lagi, mencari dekat Toserba, terjadi hal yang sama, semua harganya tidak sesuai dengan isi kantongnya. Setelah cukup lama ia berjalan-jalan mencari, akhirnya ia pulang.


Sampai di rumah, Naya duduk santai sambil melihat-lihat album kenangan pernikahn dengan suaminya. Sebentar ada senyum samar dibibirnya, tapi tak lama kemudian ia kembali menangis.


Seakan terdengar lagu dari Titiek Puspa mengalun disekitarnya,


"Terlalu indah dilupakan, terlalu perih dikenangkan, disaat engkau jauh berjalan, engkau kutinggalkan...."


Sampai beberapa lama Naya menangis sambil memeluk album foto itu, hingga kemudian ia tertidur.


"Naya...! Naya...! Bangun! Naya!" terdengar suara yang lembut terdengar sayup-sayup ditelinganya.

__ADS_1


__ADS_2