Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 36. Cinta Tidak Salah


__ADS_3

' Apa? Api?! '


Naya dan semua orang yang ada di sekitar ruang makan restoran, berlari ke arah sumber suara yang sangat keras, yang berasal dari dapur.


Api berasal dari sebuah katel besar di atas kompor yang menyala. Katel itu tempat untuk menggoreng makanan yang sudah terisi minyak yang terlalu panas hingga api dari kompor gas di bawahnya menyambar ke atas penggorengan.


"Kok bisa, sih?!" beberapa orang panik dan ada juga yang ngeri hingga menjauh ada juga yang diam hanya melihat saja tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Apai! Hiiy...!" teriak koki yang panik dan justru lari meninggalkan dapur, hanya ada Naya dan dua pelayan lainnya di dapur itu yang sudah terbiasa bekerja di sana. Tidak ada yang mengambil tindakan apapun.


Seorang koki, lupa telah menuangkan minyak dalam katel lalu meninggalkannya ke toilet. Api menyambar karena minyak terlalu panas.


Naya melangkah tenang mendekati kompor, mematikan apinya dan mengambil sebuah kain yang cukup besar dan membawa katel itu keluar dengan berjalan perlahan dan hati-hati sekali. Naya seperti orang yang sudah pengalaman saja. Ia bahkan terlihat cukup tenang.


Ia membawa penggorengan itu keluar area dapur ke tempat mencuci yang khusus dibuat untuk membersihkan perabot dapur yang besar-besar. Lalu ia menaruhnya di bawah dengan perlahan agar api yang masih menyala diatas minyak panas itu tidak menjilat kesegala arah.


"Naya...!" terdengar sebuah suara memanggil Naya, entah berasal dari mulut siapa.


Semua orang riuh, bu Nha juga terlihat menahan nafas dan melotot ke arah Naya. Bahkan terdengar beberapa komentar yang mengatakan harus begini dan begitu.


Naya mengambil sebuah karung goni yang ada di lantai karena biasa digunakan sebagai keset. Lalu membasahi dengan air dan melebarkan karung basah itu dan melemparkan kedalam api yang masih menyala.


Ada kilatan api menjilat keluara saat karung basah itu jatuh kesana. Beberapa detik kemudian. Blup. Api itupun padam. Hingga yang tersisa hanylah penggorengan yang menghitam karena terbakar.


Saat api sudah padam, sebuah tangan besar mencekal pangkal lengan Naya, sontak saja Naya menoleh dan matanya melebar setelah tahu siapa yang memegang lengannya dan menariknya keluar area mencuci.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu tahu itu bahaya?" kata Ares, matanya dalam menatap Naya. Ada sinar kekhawatiran terpancar dari wajahnya.


Deg! Jantung Naya berdegup lebih kencang. Melebihi saat tadi ia membawa katel besar berapi.


Naya sempat terpaku beberapa detik, menatap mata laki-laki dengan tatapan takjub. Hingga ia menggoyangkan tangan dan melepaskan genggaman tangan Ares dari lengannya.


'Eh. Bagaimana dia bisa ada di sini, si? Apa dia khawatir?'


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ares sambil meletakkan kedua telapak tangan yang tadi memegang lengan Naya kedalam saku celana.


Naya, mengangguk. Masih dengan menatap wajah Ares. Ini adalah tatapan paling lama yang pernah Naya berikan pada Ares. Sebenarnya sejak kapan perkenalan mereka, si. Mereka berdua hanya seorang pembeli dan pelayan saja. Selama ini tidak ada perkenalan secara resmj atau seperti teman, tidak. Mereka hanya tahu nama mereka masing-masing juga dari orang lain.


'Astagfirullah. Astagfirullah'


Naya memegangi dadanya yang berdegup. Lalu menuju wastafel, untuk mengguyur luka bakar dipunggung tangannya. Ada luka bakar yang sempat ia dapatkan tadi, saat menaruh karung goni basah keatas api.


Ares masih berdiri di dekat dapur sambil memperhatikannya, Ia baru saja tiba di restoran itu dan melihat aksi heroik Naya yang bagai pemain sirkus membawa api di tangannya. Ia tanpa sadar berteriak karena panik khawatir dengan Naya. Tapi ia tak mungkin menghentikan perbuatannya karena Naya terlihat sangat tenang, seolah sudah biasa.


"Kamu gak apa-apa, Nay?" tanya bu Nha. Dan Naya hanya mengangguk. Sekilas melihat Ares yang masih ada di dapur.

__ADS_1


"Gak apa-apa, bude. Ini cuma cuci tangan saja." ia menyembunyikan luka kecil itu agar orang lain tidak perlu khawatir.


"Ya sudah kalau kamu gak apa. Trimakasih ya. Kamu kayak jadi pemain sirkus saja." kata bu Nha sambil tertawa. Naya hanya tersenyum.


Sementara semua orang sudah pergi dari tempat itu dan juga koki yang melarikan diri juga sudah kembali. Tapi tidak dengan Ares.


Naya selesai mengguyur luka bakarnya selama tiga menit dengan air mengalir, itu adalah cara keilmuan medis mengatasi luka bakar pada pertolongan pertama. Agar lukanya tidak melepuh dan mengurangi rasa panas pada kulit. Setelah itu, baru olesi kulit dengan salep khusus untuk luka bakar.


Naya hanya mengolesi kulitnya dengan minyak sayur saja. Karena hanya itu yang bisa digunakan untuk sementara.


"Kamu bilang baik-baik saja. Lalu apa itu?" tanya Ares. Ia sudah berdiri di samping Naya.


Deg.


'Eh, kok dia masih ada di sini?'


"Ini cuma luka kecil saja, pak. Gak masalah."


"Tapi tetap saja sakit, kan?"


'Iya juga si. Tapi benaran, aku gak apa. Pergilah, jangan buat aku grogi. Hei hati, tenanglah. Aku perempuan bersuami.'


"Saya punya obat di mobil." kata Ares beranjak dari dapur kembali kemobilnya lalu mengambil sebuah salep, dan memberikan pada Naya.


"Pakai ini, biasa buat luka apa saja." kata Ares setelah berada di dekat Naya lagi


Setelah selesai mengoleskannya diatas luka pada tangannya, Naya memberikan salep itu kembali pada Ares yang masih menikmati makanannya.


"Ini, pak. Sudah saya pakai. Sekali lagi terimakasih."


"Bawa saja. Buat kamu."


'Eh, apa? Ah, aku jadi gak enak, kan. Gimana ini?'


"Wah, terimakasih kalau gitu." tersenyum canggung.


"Gak usah berterimakasih. Gak masalah." jawab Ares, melirik Naya sekilas.


Sedang yang dilirik tidak melihat wajahnya sama sekali, seperti biasanya. Hanya saat ia memegang lengan Naya secara reflek tadi, Naya menatapnya cukup lama.


Seuasana tenang sudah kembali direstoran itu, pelanggan silih berganti datang sampai malam.dan waktunya restoran tutup. Naya sudah membereskan semua barang dan ia pamit pada bu Nha, saat ia melihat sebuah mobil berhenti di sisi trotoar.


"Ayo saya antar kamu pulang." kata Ares yang susah berdiri disamping pintu mobil bersiap membukakan pintu untuk Naya.


Naya, yang berdiri di atas trotoar tertegun sejenak lalu menjawab.

__ADS_1


"Tidak usah, pak. gak usah repot nganterin saya."


'Buat, apa nganyerin saya. Nanti malah jadi salah faham saja.'


"Kenapa? Kamu takut karena gak ada anak-anak dan cuma ada kita berdua di sini?"


'Ya Allah. orang ini blak-blakkan sekali. Tapi memang benar, si.'


"Eh. Bukan begitu, pak. Saya naik ojek saja."


"Saya gak akan macam-macam sama kamu, Naya. Naik ojek bukan muhrim, sama saya juga bukan muhrim. Apa bedanya?"


'Kalau sama ojek gak ngundang curiga. Beda kalau sama bapak!'


"Iya si, pak. Tapi..." Naya sedikit ragu.


"Masuk!" kata Ares kini sudah membuka pintu mobilnya. Naya ragu, ia melihat mobil dan jalanan bergantian.


"Ayo, masuk. Suamimu gak akan jemput kamu, kan?" kata Ares lagi.


'Kok, pak Ares bisa tahu, si. Bikin aku jadi mau nangis, sedih saja menyadari kenyataan ini. Katanya obat sakit hati adalah jatuh cinta lagi. Tapi, apa maksudnya?'


Naya masuk ke mobil itu pada akhirnya. Ia duduk di kursi penumpang depan di samping Ares yang mengemudi dengan tenang. Tak ada obrolan apapun yang keluar dari mulut kedua manusia berbeda jenis itu, hingga sampai di depan rumah Naya.


"Terimakasih, pak." kata Naya sebelum turun, dan Ares hanya mengangguk, ekspresi wajah yang datar.


"Naya?" kata Rudian yang berada di atas motornya, ia melihat Naya turun dari mobil yang pernah ia lihat dulu, tak jauh dari dirinya. Rupanya ia akan menjemput Naya karena sudah terlalu malam dari jadwal ship pagi atau ship sorenya.


"Siapa itu?!" tanya Rudian sambil turun dari motornya. Mereka berdiri didepan pintu rumah yang terbuka.


"Bukan siapa-siapa." jawab Naya malas. Sebenarnya ia sudah menduganya, kalau Rudian tahu, pasti akan salah faham.


"Aku tadi sudah mau jemput kamu. Eh gak tahunya sama laki-laki lain."


"Itu gak aku sengaja. Lagi pula kanda tidak usah khawatir, dia bukan siapa-siapa." Naya masuk rumah dan duduk dengan menghempaskan tasnya begitu saja di sofa.


"Kalau bukan siapa-siapa, gak mungkin mau nganterin kamu."


"Sudah aku bilang, gak sengaja."


"Alasan saja kamu."


"Ya, memang itu alasan dan kenyataannya." Naya memejamkan mata bersandar di sofa. Melihat Rudian diam, ia melanjutkan ucapannya.


"Kanda kuatir... atau cemburu? Atau takut aku berpaling dari kanda dan mencintai laki-laki lain?"

__ADS_1


'Coba, gimana rasanya. Apa aku salah kalau mencintai orang lain karena kecewa dengan cinta sebelumnya? Apa cinta bisa disalahkan? Cinta itu gak pernah salah. Yang salah itu orangnya.'


"Kalau dibilangain suami selalu saja bisa jawabnya ya, kamu. Naya!"


__ADS_2