Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 23. Cinta Wanita Biasa


__ADS_3

Naya membuka mata dengan mengumpulakan kesadarannya. Suara keras suaminya seperti suara petir yang menggelegar dalam alam bawah sadarnya.


"Eh, Kanda... pulang?" katanya seraya bangkit dari posisi rebahan di sofa. Ia duduk dan dilihatnya Rudian juga tengah duduk dihadapannya.


"Apa kamu berharap aku tidak pulang? Ya sudah, aku ke rumah Yola lagi kalau begitu" jawab Rudian dengan nada marah dan bersiap untuk beranjak ketika Naya melangkah ke arahnya dan menahannya.


"Jangan, sekarang sudah malam... Tidur di sini saja. Ayo." kata Naya sambil bergelayut dilengan Rudian.


'Apa aku sudah mmirip wanita yang hilang harga dirinya. Padahal sadar suaminya mencintai wanita lain tapi masih saja mengharapkan kemesraan darinya. Inikah yang membuat sebagian wanita tidak rela suaminya menikah lagi, karena lebih sakit rasanya bila bertahan dengan alasan cinta tapi sadar tatapan dan hati suaminya bukan untuk dirinya saja, ahk...'


Rudian mengikuti langkah Naya ke tempat tidur. Mereka berdua duduk di sisi tempat tidur dengan posisi Naya bersandar di bahu Rudian.


"Apa yang mau kanda bicarakan?"


"Apa kamu serius dengan waktu tiga bulan yang kamu katakan pada ibu?"


"Oh, itu..." sahut Nayah melepaskan pelukan tangannya pada lengan suaminya.


"Aku serius" kata Naya lagi sambil menatap Rudian intens.


"Aku tidak setuju"


"Kenapa?"


"Aku sayang sama kamu Naya, aku ingin kita bisa terus bersama sampai mati. Apa kamu bisa menjamin akan hamil selama tiga bulan itu?"


"Aku tidak tahu. Kenapa meragukan Allah? Kalau ada nasib aku bisa terus bersama, kalau tidak ya sudah, kan kanda sudah punya Yola?"


"Naya, aku belum siap pisah sama kamu sekarang."

__ADS_1


"Ya, siap-siap saja selama tiga bulan ini. Siapa tahu.." kata-kata Naya terpotong oleh Rudian yang membekap bibir Naya dengan ciuman. Semakin lama semakin dalam.


Seolah Rudian ingin menghentikan apa saja yang akan keluar dari bibir itu dan Naya yang sudah terbiasa dengan ciuman suaminya tetap saja meleleh karenanya, hingga iapun membalasnya dengan lembut.


Naya yang berinisiatif memulai dengan menanggalkan pakaiannya juga pakaian suaminya, hingga melangsungkan hubungan suami istri dengan pikiran yang masih mengambang.


Rudian merebahkan tubuhnya kesamping Naya setelah selesai, dan tak lama ia pun tertidur. Begitu pula Naya, ikut terbaring di sisi suaminya setelah membersihkan ***********.


"Aku menyayangimu, Nda. sebenarnya sungguh aku tidak ingin semua ini terjadi antara kita, kamu menikah lagi dan aku mungkin akan bercerai darimu setelah tiga bulan. Ada wanita lain diantara kita... mungkin kah kita kembali pada jalan sebelum semua ini terjadi?" kata Naya lirih, sambil mengusap rahang suaminya dan tak terasa air matanya mulai mengalir.


'Sebenarnya hubungan seperti apa ini yang tidak jelas antara kesenangan dan kesedihan. Bahkan ada yang mengatakan kalau hidup wanita yang dipoligami itu seperti diawang-awang. Berpijak pada tanah tidak terbang juga tidak. Semua serba tidak jelas'


Perasan seperti itu sebenarnya karena ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Itulah mungkin yang membuat pahala mereka berbeda disisi Allah bila benar-benar dilakukan dengan kesabaran dan keikhlasan. Sungguh itu tidak mudah bukan?


Masih ada waktu tiga bulan, kuatkah ia? Mata Naya tak juga terpejam, ia jadi memiliki insomnia sejak kejadian ia memergoki Rudian berdua dengan Yola.


Setiap malam pikirkan Naya selalu dibayangi berbagai macam persoalan yang ia duga-duga sendiri dan belum tentu terjadi. Ia merasa khawatir yang berlebihan, merasa diabaikan, dan merasa sendirian.


Naya melaksanakan ibadah rutin subuh, membereskan rumah dan membuat sarapan. Rasa sakit diperutnya sudah berkurang. Tapi Naya tetap minta izin pada bu Nha untuk tidak masuk kerja hari ini dengan alasan kurang enak badan.


"Kamu nangis ya semalam?" tanya Rudian ketika duduk hendak sarapan.


Salah satu yang membuat Naya tetap bertahan adalah karena Rudian sangat baik dan ia bukan laki-laki yang suka kekerasan atau memukul. Kekurangan suaminya itu hanya pada materi saja dan selama ini mereka bisa saling bekerja sama. Naya bukan wanita yang suka menuntut, baginya semua yang ia nikmati ini sudah cukup.


Naya mencintai suaminya dengan cara biasa karena ia hanya lah wanita biasa pula. Meski sedih dan berbagai macam perasaan pesimis hadir tapi ia mencoba sabar.


"Hemm..." jawab Naya malas.


"Lain kali aku harap kamu jangan bahas lagi soal zinah dan kesalahanku pada Yola"

__ADS_1


"Ah, kamu Nda. belum apa-apa sudah belain dia. Memang benar kan yang kalian lakukan itu salah."


"Yang salah itu aku, Nay. Aku khilaf. Yola tulus cinta sama aku."


"Kalau tulus cinta sama Kanda, maka dia tidak akan memberi dosa pada orang yang dicintainya. Dia akan memepertahankan kehormatannya demi cintanya. Bukan malah tergoda setan."


"Iya, kan aku sudah minta maaf."


"Aku juga bilang... minta maaf pada Allah. Aku cuma benci saja dengan perbuatannya, gak suka kanda berbuat maksiat. Karena aku sayang sama kanda. Aku nyesel banget kanda lepas kendali."


"Tapi sekarang sudah terlanjur, Nay. Makanya lebih baik aku nikah kan?"


"Kanda, aku juga tidak suka sama orang yang suka memakai kata terlanjur untuk membuat kesalahan agar dimaklumi. Kanda tahu kenapa dalam agama ada hukum rajam bagi orang yang sudah menikah tapi tetap berzinah?"


"Sudahlah, tidak usah membahas soal hukum di sini. Kamu tahu kan aku bukan orang yang rajin ikut pengajian agama"


"Baik kalau kanda gak tahu, aku kasih tahu, karena mereka sudah mengambil kenikmatan, setitik dari kenikmatan surga dengan cara tidak halal. Terus bagi yang sudah nikah, kenapa masih zinah padahal ada istrinya di rumah...?"


Rudian diam mendengar kata-kata Naya. Ia tampak tidak begitu menikmati makanannya. Padahal sarapan hari itu adalah menu vaforitnya. Nasi goreng dan telur mata sapi.


"Ini jadi pelajaran saja ya Nda. Jangan jadi kebiasaan mengatasnamakan khilaf" kata Naya, menyudahi sarapannya.


"Nanti malam aku tidur di rumah Yola. Jadi aku gak pulang. Jangan nunggu sampai tidur di sofa."


"Sampai tiga bulan ini tidurlah di sini, setidaknya sampai aku hamil. Biar Yola dapat waktu kanda siang hari saja. Seperti waktu belum nikah"


"Waktu belum nikah itu dia belum hamil, Nay. Sekarang dia suka ngidam yang aneh-aneh."


'Ahk, yang benar saja...'

__ADS_1


Setelah Rudian berangkat ke pabrik untuk bekerja, Naya menelpon sahabatnya yang dulu pernah bekerja bareng di pabrik. Ia adalah teman yang paling suka memberi ceramah dan nasehat buat teman-temannya sesama karyawan pabrik. Diantara teman satu bagian dengan Naya, Farahlah yang paling terlihat alim, selain usianya yang terpaut beberapa tahun diatas Naya.


"Halo, Farah. Ini aku, Naya, masih ingat?"


__ADS_2