
* Jagan lupa like, vote dan rate, terimakasih atas dukungannya *
Naya berhenti dan menoleh, melihat Ares sudah bersiri di sampingnya. Ia masih memakai baju koko dan pecinya.
"Ada apa pak?" Tanya Naya sambil menundukkan pandangannya, dengan gugup.
"Saya mau bicara sama kamu."
"Soal apa ya, Pak?" Naya berkata tanpa melihat pada Ares.
"Kenapa kamu selalu menghindariku?"
Deg! Hati Naya berdegup. Tak menyangka akan ditanya hal seperti itu di saat ini dengan keadaan dan tempat yang tidak pantas rasanya untuk membicarakan hal pribadi. Ahk, laki-laki, kenapa selalu saja tidak peka, si?
"Maaf, Pak. Saya rasa ini bukan waktu yang tepat." kata Naya sambil melangkah, namun.
"Sampai kapan? Apa saya salah apa?"
Naya mengerutkan keningnya saat mendengar Ares bicara. Ini bukan tentang seseorang salah atau tidak. Beberapa hal kadang sulit berubah, beberapa hal tidak mudah dilupakan, beberapa hal juga kadang sulit ditinggalkan, dan beberapa hal juga kadang tidak bisa dimengerti, melainkan hanya butuh disabari. Naya menghela nafas dalam, masih tidak memandang Ares lalu berkata,
"Pak Ares tidak salah ... ?" Naya kembali diam, kalimat yang keluar menggantung di udara.
'Tapi saya yang salah dalam menilai keadaan, jadi maafkan saya'
"Tapi _ _" kata Naya terputus lagi
"Tapi apa? Apa kamu masih belum bisa melupakan suamimu?"
Naya menggelengkan kepalanya. Bukan soal itu juga. Sebab sejak ia mengetahui penyakit suaminya waktu itu, ia sudah belajar mengikhlaskan. Ia benar-benar siap bila suatu saat suaminya itu pergi. Setiap kali Rudian sadar dari pinsan atau dari tidurnya, dan bertanya siapa kamu, atau berkata maafkan aku ..., maka setiap kali itu pula keikhlasannya bertambah. Ia sudah melupakan Rudian, tapi ia belum melupakan rasa sakitnya.
"Pak, saya akan bicara dengan bapak, nanti. Tapi bukan sekarang." kata Naya tegas, dan pergi meninggalkan Ares yang menatap punggung Naya dengan tatapan tidak mengerti. Ia belum siap mengatakan alasannya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan dari balik pintu, dia adalah Rasti, wanita itu tampak menghela nafas dalam.
Hari itu itu Naya menghabiskan waktu bersama keluarga Dinda dengan bermain bersama Yoni dan Raya, mengajarkan beberapa hal juga bernyanyi bersama. Naya sudah meringankan tugas Ares hari itu sebagai pengasuhnya. Rasti melihat semua kejadian dalam rumahnya dengan perasaan terharu dan gembira. Sudah lama sekali suasana seperti ini sirna.
Rasti ingin ber berbincang dengan Naya untuk satu hal dan tujuan tertentu, tapi berulang kali Ares menahan ibunya itu, untuk tidak mengatakan apapun tentang perjodohan dengan Naya, karena ia pikir belum waktunya.
Ia mengajak ibunya itu untuk menikmati saja perkembangan yang ada hingga takdir Allah yang membawa mereka pada ketentuan-Nya, sambil terus berharap agar ada orang, yang tepat untuk menggantikan Nindy sebagai menantunya.
__ADS_1
Dulu, ketika keluarga itu menikahkan Ares dengan Nindi, di rumah itu seperti mendapatkan berkah karena kebaikan hati, dan keluasan pengetahuan agama Nindy lebih baik dari mereka. Mengingat, semua yang ada di rumah itu adalah para mualaf yang memang haus pengetahuan tentang agama.
Ares menjadi mualaf ketika ia berumur sepuluh tahun saat itu orang tuanya menerima Hidayah dari Allah dengan cara yang tidak sengaja. Ya, mereka semua adalah muallaf, kecuali Dinda, yang lahir setelah kedua orang tua Ares sudah memeluk Islam, karena itu Dinda memiliki nama yang baik, yaitu Dinda Fauziyah. Nama Ares yang tidak bisa dirubah dalam akte kelahirannya, tetap Ares Jonathan, meski demikian ia memiliki nama hijrah yang diberikan oleh ustradz yang membimbing mereka yaitu Fanan, yang berarti berbeda-beda.
Begitulah selanjutnya kehidupan mereka jalani sebagai muslim, hingga kemudian Ares menjadi dewasa dan memiliki pekerjaan tetap, Lalu Ares dijodohkan oleh seorang Ustaz yang menjadi pembimbing ataupun pengajar agama pada ayah dan ibunya. Nindi adalah anak dari teman ustad tersebut.
Orang tua Ares mendapatkan hidayah, ketika mereka mengadakan perjalanan ke beberapa negara. Saat itu mereka melihat dan mengetahui beberapa negara yang memiliki agama yang berbeda-beda, kitab yang berbeda-beda, dengan bahasa yang berbeda pula. Tapi satu yang mereka pahami bahwa dalam setiap negara itu ada satu agama yang memiliki kitab dengan bahasa yang sama, yaitu Islam. Suatu ketika mereka sedang makan, dan beristirahat di restoran yang terletak di depan sebuah bangunan, ternyata bangunan itu adalah masjid. Mereka mendengarkan sebuah adzan Dzuhur waktu itu, yang membuat ayah dari Ares menyadari suara panggilan ibadah dari agama itu merupakan suara panggilan yang sama dimanapun mereka berada. Panggilan itu tidak berubah, walaupun negara-negara itu memiliki bahasa yang berbeda.
Inilah keindahan dan kemulyaan Islam yang menunjukkan keagungan aharan yang sempurna. Hingga akhirnya mereka terpanggil untuk mempelajari agama ini lebih baik, dan Allah memberikan hidayah kepadanya untuk memeluk agama Islam sepenuhnya.
Ketika mendapatkan hidayah, dan kedua orangtua ares menjadi seorang muslim, menjadi hal yang tidak mudah bagi mereka, karena kemudian mereka mendapatkan tantangan dan hambatan yang banyak, diantaranya ,diputuskan hubungan keluarga oleh para saudara dan kerabatnya, hingga kedudukan kedua orangtua Ares yang semula menjadi pimpinan sebuah perusahaan keluarga itu dicabut. Lalu mereka merintis kembali usahanya dari bawah dan kembali sukses hingga sekarang mereka menjadi pengusaha pengadaan alat-alat elektonik dan memiliki beberapa kios pedagang di sebuah pasar di kota.
Ares memilih usaha dan pekerjaannya sendiri, ia tidak mau meneruskan usaha ayahnya. Ia ingin mandiri dan tidak mau tergantung dengan orang tuanya, karena itu Ayahnya memberikan pengelolaan perusahaannya itu kepada Dinda, hingga Dinda yang mengelolanya sampai sekarang.
-
Hari itu Naya duduk di sebuah kursi yang ada dirumahnya, ia menikmati waktu bersantainya sendirian. Hari ini sudah kembali di akhir pekan, pekan yang lalu ia berada di rumah sebuah keluarga yang hangat yang menerimanya dengan senang dan gembira. Tapi pekan hari ini ia menikmatinya sendiri, menjaga toko tanpa ditemani siapapun. Ia mendapat kabar kalau Rama kembali ke kampung halamannya untuk melihat ibunya yang sakit, bgitu juga Ida yang pergi untuk menengok ibunya.
'Mengapa mereka kompak sekali sih?'
Untuk mengisi waktu luang, Naya kembali membuka ponselnya dan melihat kembali isi pesannya, dengan Ustadzah Hanifah. Beberapa hari yang lalu ia sempat menanyakan tentang masalahnya menghadapi situasi dirinya ia sempat mengatakan sedikit tentang rasa, takut, khawatir, perasaan sedihnya dan juga perasaan kasihan dan enggan meninggalkan anak-anak itu.
Tentang perasaan takut dan khawatirnya, Ustadzah Hanifah mengatakan bahwa,
"Naya ... hilangkan berprasangka bahwa kamu akan mendapatkan nasib yang sama apabila kelak menikah akan mendapatkan nasib seperti yang sama dengan pria sebelumnya? Bukankah mereka adalah orang yang berbeda? Kenapa kamu tidak berdoa untuk mendapatkan kehiduoan yang lebih baik dengan orang yang lebih baik pula? Jadi hilangkanlah rasa khawatirmu, dan gantilah dengan rasa bersyukur pada-Nya telah dipertemukan dengan keluarga yang menyayangimu seutuhnya."
Tentang kenangan buruk yang selalu ia ingat ketika ia melihat wajah Ares, maka jawaban ustdzah itu adalah,
"Naya, sayang... saya juga pernah menglami hal yang sama, pernah kecewa dengan suami, pernah kecewa dengan keadaan, pernah kecewa dengan apa yang dialami, tapi kemudian saya berpikir...ya, mudah-mudahan, apa yang menjadi pengalaman saya bisa Naya petik untuk kebaikan selanjutnya."
Ustadzah itu pun bercerita bahwa, ketika ia mengalami kekecewaan dan kesedihan, ia menggantikan semua perasaan itu dengan perasaan sebaliknya.
"Ya, agak sulit memang ... " demikian kata ustadah waktu itu.
Ia kembali berkisah, ia sering memberi senyum dan mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja. Ia mengganti kan perasaan kecewanya, dengan mencari kebaikan dari diri suaminya, dengan memikirkan kebaikan-kebaikan yang sudah suaminya lakukan kepadanya, hingga pikiran kebaikan itu menutupi rasa kecewa dan sesihnya.
Begitu juga dengan keadaan, pikirkan keadaan-keadaan yang lebih baik, keadaan yang menyenangkan, keadaan yang membuat kita bersyukur, yang sudah kita alami, hingga mampu menutupi rasa kecewa atau sedih pada takdir yang membuat kita sengsara. Allah kadang memberikan banyak rasa sakit untuk menyadarkan manusia.
"Naya ... Jadi, ketika melihat laki-laki itu pikirkan hal yang baik tentang dirinya, jangan memikirkan kesedihan, setiap kali bertemu dengannya, pikirkanlah bahwa mungkin saat itu Allah sedang menurunkan penolong yang menjadi perpanjangan tangan-Nya. Hilangkan sedikit demi sedikit rasa kesedihan itu ketika melihatnya, dengan mengingat kebaikan yang sudah ia lakukan padamu."
__ADS_1
"Jadi, Nayai sayang, mulai dari sekarang kamu harus berikan senyum yang manis untuk dirimu sendiri, dan katakan bahwa semua akan baik-baik saja terima semua keadaanmu dan maafkan dirimu sendiri."
Ya, kadang manusia itu egois selalu merasa dirinya yang benar dan menilai orang lain telah bersalah pada dirinya, padahal menilai orang lain selalu salah itu adalah sebuah kesalahan. Jadi itulah pentingnya untuk mendinginkan hati, mendamaikan perasaan dengan memaafkan dirinya sendiri.
" Terima kasih ustadzah " Hanya itu yang Naya katakan dalam balasan chatnya waktu itu, yang membuatnya menyadari kesalahan hingga berlinang air mata.
"Assalamualaikum" terdengar suara kecil dari luar pintu.
Naya melihat keluar dari balik warungnya dan ia melihat sesuatu, yang tidak ia sangka ada di hadapannya.
"Raya. Yoni.Kalian disini?" katanya berteriak girang sambil melangkah keluar. Ahk, tentu saja ada papanya, ya kan? Pasti raya yang memberi tahu tempatnya, siapa lagi kalau bukan dia.
" Apakah kami mengganggu?" kata pemilik suara berat itu, begitu Naya berada di di luar rumahnya.
Naya melihat Ares sekelas, lalu menggelengkan kepala, sambil melangkah mendekati Yoni dan memeluknya.
Ia berkata, "apa kabar anak manis, sdah sarapan belum hari ini?" Dan anak kecil itu menggeleng, dan melingkarkan kedua tangan mungil dipundak Naya.
"Cuma Yoyo aja yang ditanya shdah makan apa belum, Aku nggak ditanya sudah makan apa belum?" kata Raya
"Idih kakak. Masa gitu aja cemburu?" kata Naya sambil mencubit kecil hidung Raya.
" Sini masuk..." kata Raya sambil berjalan dan membawa Yoni dalam gendongannya.
Ia mendudukkan Yoni di atas karpet yang terhampar di ruang tamunya, kemudian ia ke belakang untuk mengambil minum untuk mereka. Sementara Naya berada di dapur, Ares melihat sekeliling rumah, dan ia mendapati beberapa wadah kecil, yang terbuat dari tanah liat berisi bunga kenanga. Wadah itu diletakkan di beberapa sudut rumah, bahkan di tengah-tengah karpet pun ada.
Beberapa tanaman bunga sedap malam yang tersebar dengan pot bunga dan di halaman rumahnya menambah suasana berbeda.
Melihat hal itu, Raya membisikkan sesuatu pada Ares, itu adalah sesuatu yang belum ia ceritakan pada Papanya sebelumnya. Tentang kebiasaan Raya yang mirip dengan mamanya. Setelah mendengarkan cerita Raya, Ares pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia duduk bersila sambil menyandarkan tubuh dan melipat kedua tangannya di depan perutnya.
"Pah, apa Papa juga berpikir sama? Yueni bisa dekat dengan Uma, karena ia punya kebiasaan yang sama mama, kalau dekat sama Uma juga baunya mirip sama mama."
" Mungkin itu cuma kebetulan saja." Jawab Ares.
"Ya, bisa jadi. Tapi siapa tahu itu takdir..." kata Raya.
"Ck! anak kecil tahu apa soal takdir." kata Ares.
"Papa, ya makanya kasih tahu dong!" sahut Raya.
__ADS_1
"Kasih tahu apa si...?" tanya Naya tiba-tiba muncul sambil membawa nampan beriasi tiga gelas teh manis.
" Kamu tinggal sendiri di sini? Oh ya. Di mana rumah Rama. Katanya dia juga tinggal di sekitar sini?" tanya Ares.